My Ghost Friends

My Ghost Friends
OUT OF LABIRIN



Sekar bernapas lega. Semua teman berhasil ditemukan dalam waktu singkat. Tinggal satu lagi, Danar belum ketemu.


"Danar!" teriaknya memanggil teman sebangku sekaligus pacarnya itu.


"Danar kamu di mana?!" teriaknya lagi.


Sekar terus menyisiri lorong labirin. Beberapa kali, Sekar menemukan jalan buntu yang harus membuatnya kembali berputar arah. Semua teman astralnya hanya menatap Sekar yang mondar-mandir.


"Sekar," panggil Ndere.


"Diamlah Ndere, kau mengacaukan semuanya!" desis Re.


Ndere tersudutkan semua anak buahnya. Mahkluk itu memang sangat ingin Sekar masuk lingkungan mereka.


"Aku hanya ingin cepat saja!" sahut makhluk menyeramkan itu.


Mereka mengikuti langkah Sekar. Bau tubuh gadis itu memang sangat mengundang para makhluk gaib untuk berinteraksi dengan Sekar.


"Danar!" pekik Sekar mulai kelelahan.


Gadis itupun duduk di sebuah batu besar, ia memijit pelan kakinya yang bengkak dan memerah. Entah ia rasakan apa pada tubuhnya, gadis itu tak peduli, yang ia tahu jika dirinya benar-benar lelah.


Helaan nafasnya yang terengah begitu terdengar, sungguh Sekar ingin sekali berbaring dan dipeluk oleh ibunya.


"Bu ... Ibu," panggilnya lirih.


Sementara di kamar Tinah, wanita itu tengah terlelap karena dokter memberinya obat penenang.


"Mbok hanya shock Nyonya," jelas dokter ketika usai memeriksanya.


"Biar saya yang menebus resepnya Nyonya," pinta Tono tak enak hati pada majikannya yang baik hati itu.


Rita menatap pria yang usianya dua tahun lebih muda darinya itu. Ia mengangguk dan memberikan resep itu.


"Jangan lama-lama ya Pak. Kasihan si mbok," ujarnya.


Tono mengangguk, ia pun berlalu pergi ke apotik. Bastian datang setelah Tono pergi, pria itu langsung menanyakan apa yang terjadi. Rita segera memberitahukanmya.


"Jadi Sekar memiliki kelebihan bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib?" tanya Bastian takjub.


"Benar sayang. Aku tidak tau apa yang menarik dari gadis itu, hingga para makhluk halus kini menyandera sukmanya di sebuah tempat," jelas Rita.


"Ya sudah, kita doakan mereka ya. Papa harap kejadian ini hanya kita saja yang tau," ujar pria itu.


"Tenang Pa, aku sudah meyakinkan hanya aku saja yang tau soal ini," ujar Rita yakin.


Memang kini mereka berada di kamar Tinah. Ruangan itu ditutup rapat hanya jendela yang terbuka hingga membuat kamar itu terang akibat sinar matahari.


Sementara di sekolah, jam istirahat pertama usai. Tak ada yang curiga dengan ketenangan yang ada di kelas dua A. Memang jika dalam mode serius kelas dua A begitu tenang mendengarkan penjelasan. Bahkan semua orang tidak sadar jika di kelas itu benar-benar tenang tidak ada suara.


Kembali ke labirin, Sekar masih mencari satu lagi temannya, Danar. Sedang remaja itu kini sedang duduk di tanah dengan napas satu-satu. Ia juga sangat kelelahan, tak ditemukannya jalan keluar. Danar hanya berputar di situ-situ saja.


"Kenapa semuanya buntu?" tanyanya bergumam.


Sekelebat raut cantik menatapnya dengan raut kecewa. Remaja itu menghela napas panjang. Ia memang berseteru dengan sang ibu karena melarangnya berpacaran.


"Sekar gadis pintar dan baik Bu. Kami berpacaran hanya untuk menyemangati, terlebih Sekar butuh perlindungan Danar," ujarnya bermonolog.


"Bu, maafin Danar ya ... hiks ... janji deh, Danar nurut sama ibu," lanjutnya sambil terisak.


Perlahan Danar menekuk kakinya. Ia menangis diantara lipatan kaki itu. Seribu penyesalan akibat suaranya jauh lebih keras dibanding suara ibunya.


"Maafin Danar Bu," ujarnya lagi. "Danar cape ... Danar mau pulang ... hiks ... hiks!"


Sementara di rumah sederhana. Seorang ibu menangis dalam sujudnya. Usai salam dua tangannya ia tengadahkan ke atas. Air matanya mengalir seiring doa meminta pengampunan dan perlindungan.


"Maafkan hambaMu yang keras hati ini ya Allah .. maafkan hamba yang bersumpah kasar pada putraku Ya Allah!" pinta sang wanita tulus.


"Beri perlindungan pada Danar, aku masih ingin memanjakannya ... hiks ... hiks!"


Kembali ke labirin, Sekar kembali menapaki kakinya di tanah. Mukanya yang mengernyit menandakan betapa ia kesakitan menggerakkan kakinya.


"Andai kau menurut Sekar," ujar Ndere masih menghasut Sekar.


"Kau tak akan sesakit itu, semua temanmu pun kembali," lanjutnya.


"Diamlah Ndere. Bahkan kau saja juga tersesat di jalan yang kau ciptakan!" sindir Sekar.


"Danar!" pekiknya lagi.


"Hiks!"


"Danar!" pekiknya.


Danar yang tengah terisak, terkejut ada yang memanggil namanya dengan suara samar-samar.


"Siapa itu!" teriak Danar.


Sekar di lorong lain hanya beda satu lorong. Jika saja Ndere tak menebalkan halimun atau penyekat antara Danar dan Sekar, keduanya pasti lekas bertemu.


'Aku tak akan memudahkanmu keluar dari sini Sekar!' Ndere bermonolog dalam hatinya.


"Ya Allah ... mana Danar!" pekik Sekar yang membuat sekat menipis.


Ndere marah luar biasa. Dengan kekuatan terakhirnya, ia menjejak bumi yang ia pijak agar bergetar hebat. Semua tubuh terguncang, anak-anak berteriak ketakutan. Ahmad terus membaca doa keselamatan.


"Danar ... kau di mana!" pekik Sekar sekali lagi.


Danar kini dengan jelas mendengar suara Sekar. Remaja itu pun berdiri. Ia juga meneriaki nama teman sekaligus pacarnya itu.


"Sekar ... aku di sini!" pekik Danar.


Sekar mendengar pekikan Danar dari balik tembok tumbuhan lebat di depannya. Jika harus berputar mencari jalan, ia yakin akan tersesat dan malah menjauh dari sana.


"Satu-satunya jalan adalah menerobos tumbuhan lebat ini!" tekad gadis itu.


"Danar ... apa kau di sebelah situ?!" teriak Sekar.


"Iya Sekar ... kamu di mana?" tanya Danar masih mencari keberadaan Sekar.


"Kamu diam saja di sana Danar ... aku yang akan mendatangimu!" teriak Sekar.


"Kamu aja yang diam Sekar! Biar aku yang mendatangimu!" tolak Danar keras kepala.


Sekar sangat paham akan Danar bagaimana. Gadis itu tak mau ambil pusing.


"Bismillahirrahmanirrahim!" ujarnya pelan.


Gadis itu pun menerobos tumbuhan lebat di depannya. Sekar tak peduli bagaimana ranting-ranting pohon itu kembali menggores kulitnya. Ia terus melangkah menerobos pepohonan lebat itu.


Setelah dua puluh menit ia berjuang menerobos. Akhirnya ia keluar dengan darah yang menetes di lengan, dahi dan kakinya.


"Danar!" panggilnya lagi.


"Sekar? Astagfirullah!"


Keduanya saling berpelukan dan menangis. Danar mengusap air mata gadis itu.


"Alhamdulillah ... ayo kita pulang Dan!" ajak Sekar.


Ndere masih berulah, mahkluk itu menghalangi jalan keduanya dengan jurang yang dalam dengan banyak hewan melata di bawahnya.


"Pak Ahmad! Tolong kami!" pekik Sekar.


Gadis itu sudah kelelahan setengah mati. Ahmad yang mendengar pekikan Sekar langsung berdzikir. Pria itu menunduk pasrah dan berserah pada sang maha pencipta. Jarak di antara mereka perlahan memendek.


"Bapak!" pekik Danar ketika melihat guru agamanya.


Sekar tersenyum, akhirnya mereka pun berkumpul saling berpelukan. Kini mereka bingung harus apa.


"Mari kembali berdoa dan minta ampun sama Allah," ajak Ahmad.


Krriiing! Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Semua guru keluar dari kelasnya masing-masing di susul semua murid.


Reynold yang berjanji menjemput Sekar telah berdiri di depan pintu kelas gadis itu. Baru hendak mengetuk, pintu itu terbuka lebar.


Tampak wajah Ahmad yang kacau dan semua anak yang habis menangis. Sekar ada digendongan Ahmad dalam keadaan mengenaskan.


"Sekar?" tanya Reynold.


"Panjang ceritanya Nak. Tapi sebaiknya, bawa dia ke rumah sakit!" pinta Ahmad langsung.


Kini Reynold menggendong Sekar dan membawanya ke rumah sakit. Sementara Ahmad mendampingi semua muridnya untuk meminta maaf pada orang tuanya.


Bersambung.


Ah ... akhirnya.


Next?