My Ghost Friends

My Ghost Friends
MENYEMBUHKAN SEKAR



Sekar dirawat secara intensif. Banyak alat-alat medis menempel di dada gadis itu dan oksigen yang menempel di hidungnya.


Bunyi monitor terdengar. Seluruh tubuh gadis itu terdapat ruam dan banyak goresan panjang. Beberapa malah mendapat jahitan akibat luka robek. Sungguh kondisi Sekar sangat mengenaskan.


Tono dan Tinah menangis melihat bagaimana kondisi Sekar. Rita, Bastian dan dua putranya menenangkan sepasang suami istri itu.


"Sekar mengalami guncangan kejiwaan yang hebat dan penyiksaan fisik. Namun, kekuatan pasien sangat luar biasa, tak ada jaringan vital yang rusak. Hanya saja shock yang berlebihan hingga mengguncang kejiwaannya," terang dokter menjelaskan.


"Berapa lama Sekar akan seperti ini Dok?" tanya Reynold.


"Tergantung ketahanan fisik dan juga kejiwaannya. Tapi jika dilihat perkembangannya, ia akan baik-baik saja," jawab dokter lagi.


"Sebaiknya Bapak sama Ibu pulang," ujar Reynold.


"Saya mau menjaga putri saya Tuan muda," ujar Tono.


Rita menyuruh putranya itu untuk pulang dan membiarkan Tono menjaga Sekar.


Pria itu duduk di pinggir ranjang. Tangannya menggenggam tangan sang putri dan menciumnya buku tangan Sekar yang banyak luka sobek.


"Putriku ... minta sama Allah agar mereka tak lagi mengganggumu sayang," ujar Tono lirih.


"Bapak nggak tega melihatmu seperti ini. Lebih baik Bapak yang menggantikan kamu Nak," lanjutnya lagi.


Tangan Sekar menggenggam erat tangan ayahnya. Gadis itu gelisah, bunyi monitor menandakan jika Sekar tidak baik-baik saja.


"Dokter tolong!" pekik Tono panik.


Para dokter berdatangan dan memberi penanganan. Tono menangis melihat betapa anak gadisnya kini bertarung melawan maut.


"Pak, kami mohon jangan katakan apapun perihal peristiwa yang terjadi pada pasien. Beri dia dukungan, jangan membebaninya apapun!" perintah dokter tegas.


"Baik Dok, maaf," ujar Tono menunduk.


Tono menatap putrinya yang kembali tenang. Pria itu mengecup perlahan kening sang putri yang banyak luka goresan.


"Sembuhlah Nak ... semua temanmu pasti menunggumu," ujar Tono.


Hari mulai malam, Tono menunaikan shalat isya, pria itu terus meminta kesembuhan putrinya. Sekar tidur dengan lelapnya.


Pagi menjelang, Tinah datang membawa baju ganti dan makanan untuk suaminya. Wanita itu diantar supir.


"Ibu naik apa ke sini?" tanya Tono.


"Diantar supir Pak. Tuan dan Nyonya baik banget," ujar wanita itu.


"Kita tak akan bisa membalas budi baik mereka Bu," ujar Tono.


"Iya Pak, mereka baik semua. Kita nurutin tuan dan nyonya aja ya Pak. Ibu yakin, itu pasti demi kebaikan putri kita juga," ucap Tinah.


Tono mengangguk setuju. Rita memang melarangnya pulang kampung karena dia mengetahui keadaan Sekar yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas salam pasutri.


Ahmad datang sendiri, ia duduk bersama dua orang tua Sekar dan menceritakan apa yang terjadi.


"Jadi semua teman Sekar juga ikut tersandera Pak?" tanya Tono tak percaya.


"Benar Pak, jika saja Sekar abai dan memilih bersama teman-teman astralnya. Saya yakin kami semua tak selamat," jawab Ahmad.


"Anak-anak mengaku sebelum pergi ke sekolah, mereka berseteru dengan ayah atau ibu mereka. Jadi semua berpikiran kalut," jelas Ahmad lagi.


"Kelas dua A memang spesial Pak. Mereka ada yang badung, bengal, nakalnya anak-anak remaja. Tetapi jika belajar, mereka semua serius dan patuh. Tak ada nilai yang mengecewakan," lanjut Ahmad memuji semua muridnya.


"Beruntung, kami telah melewati ujian semester, jadi anak-anak tak wajib hadir di sekolah. Jadi hari ini semua anak yang masuk labirin beristirahat di rumah," lanjutnya lagi.


"Terima kasih Pak udah.mau bantuin Sekar ... tanpa Bapak, mungkin Sekar kesulitan," ujar Tono menyalami Ahmad.


"Sebagai guru, saya adalah orang tua ketika anak-anak berada dalam kelas bersama saya. Jadi kewajiban saya untuk menolong atau membantu anak-anak saya," ujar Ahmad.


Pria itu berdoa dan mengusap semua luka yang ada di muka, tangan dan kaki Sekar.


Sepulangnya Ahmad, Rita datang bersama suami dan dua putranya. Luka dan memar di tubuh Sekar perlahan mulai sembuh dan hilang.


"Kenapa lukanya cepat hilang dan sembuh?" tanya Charlie bingung.


"Tadi, guru agamanya menjenguk," jawab Tono.


"Sebenarnya Sekar kenapa sih Pak. Kenapa dia seperti habis dikeroyok orang sekampung?" tanya Charlie begitu penasaran.


Tono melihat istrinya. Rita mengajak dua orang itu duduk.


"Ceritakan saja Pak, jangan ditutup-tutupi," pinta wanita itu lembut.


Akhirnya Tono menceritakan apa yang dikisahkan oleh Ahmad tadi. Semua menatap pria itu tak percaya.


"Jadi Sekar bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib?" tanya Charlie mendesis.


"Iya Tuan muda," jawab Tono menundukkan kepala.


"Oh my Godness!'


"Hei ... istighfar!" peringat Bastian.


"Eh ... astagfirullah!" ralat Charlie.


"Jujur aku juga bisa melihat beberapa teman Sekar," sahut Reynold. "Bahkan diantara mereka menggangguku beberapa kali."


"Subhanallah!' seru Tono dan Tinah terkejut.


"Apa mungkin teman-teman Sekar itu tak suka jika Tuan muda terlalu dekat dengan Sekar?" tanya Tono.


"Bisa jadi begitu," jawab Reynold.


Tono kembali menunggui putrinya, keadaan gadis itu makin membaik setelah beberapa luka dan memar di tubuhnya menghilang tanpa bekas.


"Bu ...," panggilnya lirih.


"Nak, kamu sudah sadar?" tanya Tono dengan wajah lega.


Pria itu kembali memanggil dokter yang menangani Sekar.


"Sekar sudah lebih baik. Kami akan mencabut alat-alat ini karena pasien tak butuh lagi," jelas dokter.


Para perawat langsung mencabut alat peraba denyut jantung dan oksigen. Hanya selang infus saja yang masih menusuk di lengan kanan gadis itu.


"Pak ... Sekar mau pulang Pak," rengeknya.


"Sabar ya Nak. Kamu harus dipulihkan dulu, lihat kakimu masih bengkak," ujar Tono menangkan putrinya.


"Mandi air garam juga nanti sembuh Pak," ujar Sekar merajuk.


"Nurut ya Nak. Nyonya udah baik banget sama kita. Dia pasti marah jika kita pulang tidak sesuai anjuran dokter," ujar Tono meminta putrinya pengertian.


Sekar akhirnya menurut, gadis itu meminta ayahnya tidur di sisinya. Gadis itu takut jika Ndere dan teman-temannya datang untuk mengajaknya pergi.


"Ya Allah ... andai hamba berilmu lebih soal agama. Pasti hamba akan melindungi putri hamba dengan semua doa-doa terbaik," sesal pria itu sedih.


Tono menyalakan murotal dari ponselnya. Sekar begitu tenang dalam pelukan ayahnya. Sementara itu banyak pasang mata memerah menatap temannya yang terbaring.


"Sekar ...," panggil mereka lirih.


"Pak," Sekar mengeratkan pelukannya.


"Ya Allah ... lindungi putriku. Hanya pada-Mu hamba berserah Ya Allah!" pinta Tono dalam doanya.


Satu persatu makhluk-makhluk halus itu pergi. Rumah sakit memang terang tetapi hawa orang-orang sekarat sangat mereka senangi.


Setan-setan menari pada manusia sakaratul maut. Mereka menghasut agar manusia itu menjadi pengikut mereka. setan memang lebih kejam kepada anak Adam ketika ada di ujung kematian. Untuk memastikan kematiannya berada dalam kondisi yang tidak taat, tidak beriman, dan melakukan hal buruk.


bersambung.


Next?