
Sekar benar-benar mewujudkan mimpinya menjadi dokter. Gadis itu sudah lulus SMA dengan. nilai terbaik. Ia langsung mendapat surat rekomendasi dari sebuah universitas ternama dan memberikannya beasiswa.
"Alhamdulillah ya Allah!" seru Tono melihat hasil test masuk gadis itu.
"Untuk awal Ananda Sekar mendapat beasiswa 75% dari nilai kumulatif dan tambahan 25% dari nilai psikotes," terang petugas.
"Jadi Ananda Sekar mendapat 100% beasiswa," lanjutnya.
Sekar terharu. Gadis itu hanya membayar biaya administrasi saja. Ia masuk fakultas kedokteran umum. Gadis itu akan menempuh setidaknya enam tahun agar bisa bergelar dokter.
Tono membawa putrinya pulang. Hari ini keluarga Bastian tidak datang karena baik Bastian dan dua putranya sibuk dengan bisnis mereka yang makin berkembang.
"Assalamualaikum, Bu!" ucap salam keduanya ketika masuk ke rumah.
Tono sudah tau perihal rumah yang ia tempati sekarang. Reynold sendiri yang memberitahu jika rumah itu sudah dibeli dengan ahli waris Sekar.
"Sertifikat ini sudah jadi milik Sekar. Baik dia jadi istri Rey atau tidak," sahut pria itu suatu waktu.
Tono banyak berutang budi dengan keluarga kaya itu. Ia sangat yakin jika kafe usaha putrinya itu ada sangkut pautnya dengan keluarga calon besannya itu.
Sementara itu, Bastian diberi kabar oleh istrinya jika Sekar lulus dengan nilai sempurna. Tentu saja wanita itu tau, Sekar sendiri yang melaporkannya.
"Nak, calon istrimu sudah lulus masuk universitas," ujar pria itu pada putra pertamanya.
"Hah ... apa Pa?" tanya Reynold tak fokus.
"Sekar sudah masuk univ kedokteran," jawab Bastian lagi sambil menatap putranya.
"Oh ... alhamdulilah," sahut Reynold tak acuh.
Bastian diam. Memang Reynold mengikat Sekar dan pria itu berjanji akan menikahi gadis itu setelah masuk semester kedua.
"Rey!" panggil Bastian lagi.
"Pa, please jangan sekarang ya. Lihat ini, semua laporan harus aku periksa," pinta pria itu.
Satu tahun berhubungan, baik Rey dan Sekar tak pernah bertemu. Paling sesekali jika ada pertemuan penting. Reynold memilih kafe calon istrinya itu sebagai tempat pertemuan antar CEO atau sebagai tempat rapat pemegang saham.
Bastian memilih menuruti putranya itu. Tak lama sosok cantik datang dengan membawa tumpukan berkas.
"Tuan, ini laporan yang telah diperiksa oleh Tuan Charlie," ujar gadis itu begitu lembut.
"Oh taruh saja di situ Ghana!" perintah Reynold hanya mengkodekan dagunya tanpa melihat gadis cantik itu.
Ghana meletakkan tumpukan berkas itu, ia berdiri cukup lama menunggu perintah selanjutnya. Bastian tersenyum miring melihat aksi perempuan yang sepertinya hendak menggoda putranya itu. Ia berdiri sambil bersidekap, menunggu reaksi selanjutnya.
Reynold merasa ada yang memperhatikan menengadahkan kepalanya. Ghana masih berdiri di sana, pria itu langsung mengerutkan keningnya.
"Apa yang kau lakukan di situ Ghana?" tanyanya dengan suara tegas.
"Ah ... me-menunggu pe-perintah Tuan!" jawab gadis itu tergagap.
"Apa kau tak punya pekerjaan selain menunggu perintah!" Rey meninggikan suaranya.
"Aku ... aku ...."
"Pakai bahasa formal!" bentak Reynold sambil menggebrak meja.
Gadis itu sampai terjengkit kaget. Kepalanya menunduk dalam.
"Pergi kau, jangan buat sakit mataku!" usir Rey pedas.
Ghana membungkuk hormat. Gadis itu perlahan meninggalkan atasannya dengan mata basah.
Bastian terkekeh, ia pun mendatangi meja putranya dan mengambil sebagian kertas-kertas itu.
"Ah ... gitu kek Pa!" seru pria itu lega.
"Bukannya dari tadi!" lanjutnya mendumal.
Bastian berdecak kesal. Rey mengedipkan matanya, Bastian menggeleng melihat tingkah putranya itu. Tak butuh waktu lama, Bastian tenggelam dalam pekerjaannya.
Sore menjelang, sudah waktunya pulang kantor. Rey bergegas bangkit dan merapikan dirinya. Hampir saja ia melupakan ayah dan juga adiknya.
"Kau mau meninggalkan kami!" teriak Bastian dengan muka marah.
"Maaf Pa," ujar Rey cengengesan.
"Sore Tuan, apa mau pulang?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Ghana.
Tadinya Charlie hendak menyahut gadis cantik itu tetapi, Rey langsung mengaitkan lengannya ke leher adik laki-lakinya itu.
"Bro ... temenin aku beli kalung!" ajaknya tak memperdulikan Ghana.
Bastian hanya tersenyum simpul melihat kesedihan seorang gadis yang berusaha menarik perhatian atasannya itu.
Ghana terdiam, ia seperti dipaku sesaat mendengar perkataan ayah dari atasannya itu. Wajahnya mendadak pucat.
"Jangan berbuat lebih. Aku bisa melemparmu sejauh mungkin," lanjut Bastian setengah mengancam.
Mereka masuk lift khusus. Lift itu hanya bisa dimasuki oleh Rey, Charlie dan Bastian saja. Rey tak memperbolehkan siapapun naik lift khusus itu.
Mereka lalu naik mobil dan pergi ke toko perhiasan. Rey membeli satu set perhiasan untuk perlengkapan mahar gadisnya.
"Papa kira kamu lupa sama tujuanmu," ujar Bastian ketika melihat putranya membeli perhiasan itu.
"Nggak lah Pa, udah habis modal banyak. Masa iya nggak dinikahi!" jawaban Rey membuat Bastian menjewer telinganya.
"Papa!" jeritnya kecil mengaduh.
Charlie mentertawakan kakaknya itu. Rey melotot.
"Aku potong bonusmu!" ancamnya.
"Pa ... coba Pa ... masa sama adik sendiri tega!" tunjuk Charlie tak mau kalah.
"Jangan bicara seperti itu! Papa nggak suka. Jika memang tak ada cinta, lepaskan. Biar Papa carikan penggantinya," tekan Bastian tegas.
"Ih ... jangan Pa!" rengek Reynold.
Charlie hampir menyahuti jika ia ingin menggantikan kakaknya itu. Pemuda itu tak mau memperkeruh suasana. Ia memilih tertawa walau hatinya menangis.
Mereka menjemput Brenda terlebih dahulu. Gadis itu masuk kuliah siang dan pulang sore hari. Lalu menjemput Rita yang sudah bersiap dari tadi.
"Lama amat sih!" omelnya pelan.
"Macet Ma. Jemput princess dulu," sahut Charlie.
Brenda hanya cemberut. Gadis itu diapit oleh kedua orang tuanya. Charlie duduk di sebelah kakaknya yang mengemudi.
Dua puluh menit mereka sampai di rumah Tono. Mereka disambut dengan senyum lebar. Sekar keluar dengan balutan kebaya cantik berwarna pink.
"Loh mau kemana?" tanya Rita dengan tatapan memuja.
"Ini malam perpisahan dengan teman-teman," jawab gadis itu dengan senyum indahnya.
"Aku ikut!" teriak Brenda, Reynold dan Charlie bersamaan.
"Apaan sih kalian!" sungut Rey kesal.
"Aku mau ikut, Kak," rengek Brenda.
"Aku juga, siapa tau ketemu jodoh!" sahut Charlie.
Sekar tertawa melihat tingkah kakak beradik itu. Akhirnya ketiganya pun pergi. Kali ini Charlie yang menyetir. Tadinya Rey mau duduk di sisi Sekar. Tetapi diserobot langsung oleh Brenda.
"Nanti duduk berduaannya pas di pelaminan!" cibir gadis itu meledek.
Rey berdecak. Akhirnya hanya butuh lima belas menit mereka sampai di GOR SMA Bhakti. Sekar duduk berderet dengan Rey, Charlie dan Brenda.
Di rumah, Bastian dan Rita membicarakan pernikahan kedua anak mereka.
"Kami ingin yang sederhana namun berkesan besan," ujar Tinah halus.
"Iya, kami paham. Kita sewa gedung, karena banyak kolega dan kerabat yang diundang. Nenek mereka juga masih hidup. Jadi pastinya akan sedikit ribet," jelas Rita lagi.
"Oh Nyonya besar apa tau jika calon istri dari cucu kesayangannya adalah putri seorang pembantu?" tanya Tono tiba-tiba.
"Sudah besan. Ibu dari dulu tak pernah membedakan status. Selama cucunya nyaman dan cocok, buat a menyerahkan semua keputusan pada Rey," jelas Bastian menenangkan suami istri itu.
"Ooeek!"
"Ah, dedek nangis," ujar Tinah.
Seorang bayi laki-laki berusia dua bulan hadir di tengah-tengah mereka. Tak ada kendala ketika Adarma lahir ke dunia.
"Assalamualaikum ganteng," sapa Rita mengecup bayi tampan itu.
Darma menggeliat dan memonyongkan bibirnya lucu. Semua terhibur dengan kehadiran bayi itu.
Sementara itu, di pojok ruang Re dan lainnya terbebas dari belenggu yang mengikat mereka. Tetapi tangis bayi membuat penging telinga mereka.
"Aarrggh! bunyi apa itu!"
bersambung.
next?