My First Love Doctors

My First Love Doctors
105. Berduka



Malam itu hujan turun begitu lebat, dingin nya menusuk sampai menembus tulang.


pukul tiga dini hari, ana yang tertidur sambil menyandar di ranjang di bangun kan oleh elusan pelan dari ayah.


"eem ayah kenapa? butuh sesuatu" tanya nya.


"minum" ujar ayah sangat lirih namun ana dapat mengerti.


ana pun mengambil kan minum teh hangat untuk ayah nya.


"ini yah ayo minum pelan ya" ujar nya sambil membantu ayah untuk minum.


"lagi" pinta ayah.


"ayah mau minum lagi?" ucap ana yang menurut nya agak aneh, karena ayah nya baru saja minum segelas namun masih minta lagi.


tak mau ambil pusing ana langsung membuat kan minum lagi untuk ayah nya.


"yah ini minum nya" ucap ana namun sang ayah sudah terlelap dengan kedua tangan yang berada di atas perut nya.


"Ayah tidur? kenapa tidur nya aneh" gumam ana, perlahan ana menyentuh tangan ayah nya yang sudah agak dingin ia menekan pergelangan tangan nya.


merasa ada yang tidak beres ana segera menekan tombol darurat yang berada di bawah ranjang untuk memanggil dokter.


tak lama kemudian dokter datang, ana sudah sangat kacau fikiran nya tidak tenang.


dokter langsung sibuk memeriksa kondisi ayah setelah beberapa saat mereka angkat tangan.


"gimana dok keadaan ayah saya? kenapa ayah gak mau bangun?" tanya ana.


"maafkan kami nona tapi takdir berkehendak lain pasien meninggal dunia,,," tutur dokter.


seketika pandangan ana menjadi gelap ana tak sadarkan diri.


pihak rumah sakit pun langsung mengabari keluarga pasien untuk menindaklanjuti pemakaman.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


sayup-sayup terdengar orang membaca Alquran bersama-sama.


Perlahan ana pun membuka mata kepala nya sangat pusing, kemudian ia mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


seketika ana bangkit dari ranjang dan berlari keluar kamar ia menangis histeris saat melihat tubuh ayah nya sudah si kafani.


ibu yang melihat ana pun langsung menghampiri dan memeluk Putri nya itu.


"sabar sayang, ini sudah yang terbaik untuk ayah Allah lebih menyayangi nya sekarang ayah sudah tidak sakit lagi" ujar ibu.


"maafin Ade yang gak bisa jaga ayah Bu, sampai malaikat maut membawa ayah pergi dari Ade hiks hiks maafin Ade yah" ujar ana.


"suuud gak boleh gitu ya, ayah sayang banget sama adek ayah pasti sedih lihat Ade nangis kaya gini,,, yang kuat ya jangan bikin ibu ikut sedih juga hiks" mendengar ibu nya ikut menangis ana pun memeluk ibu nya.


🌱🌱🌱


Di belahan bumi lain.


"apaa??? baik ma kakak langsung pulang sekarang kebetulan Kakak masih di Singapura kakak titip ana ya mah tolong jangan biarkan dia sendirian,,,iya mah terimakasih ".


ia pun langsung bergegas ke bandara.


penerbangan yang harus nya ke negara sakura harus ia ganti untuk kembali ke Soekarno Hatta.


alhasil ia harus menunggu satu jam untuk penerbangan paling cepat menuju Jakarta.


☘️☘️☘️☘️


langit begitu mendung seolah sedang ikut berduka, seperti memahami perasaan ana yang sangat kehilangan.


iringan sholawat begitu mengema sampai ke liang lahat.


saat jenazah di masuk kan ke dalam kubur, bayangan ayah begitu terngiang di fikiran ana.


"ayah, stop jangan ayah jagan di masukin" ujar nya sambil meronta dan harus di Pegang oleh kak Gilang dan bang Riyan.


tak lama kemudian ana tak sadarkan diri lagi, dan kak Gilang membawa ana untuk pulang karena pemakaman belum selesai.


.


.


.


.


ayah cinta pertama bagi anak perempuan nya, sosok yang bahu nya begitu kuat, sosok pelindung bagi keluarga nya;)