My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Pertarungan Sepeda



Semua persiapan untuk liburan minggu ini sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Makanan berat, makanan ringan, alat pancing, dan sepasang sepeda juga sudah terikat erat di atas mobil. Sekarang waktunya berangkat.


Let's go!


Liburan kali ini, Radit yang mengambil kendali lajunya mobil. Jika sebelumnya selalu Surya tapi berhubung Radit sudah mempunyai SIM, Surya pun mempercayai Radit untuk mengemudi. Dan agar bisa menikmati perjalanan sambil bergelayut mesra di pundak sang suami, Laura meminta Jelita untuk duduk di samping Radit. Sedangkan ia dan Surya duduk di bangku penumpang. Lantunan lagu-lagu lawas yang di request langsung oleh sepasang suami istri yang duduk di bangku belakang, menemani perjalanan liburan mereka.


Hah!


Desah Jelita pendek.


"Kenapa lo? Dari tadi gelisah banget"


"Siapa yang gelisah. Gue ngantuk. Ma, Pa ganti dong lagunya" musik yang sedang berjalan, betul-betul bukan selera Jelita. Ia besar di zaman modern yang serba canggih. Tentu saja ia lebih menyukai lagu-lagu dari band atau penyanyi solo zaman sekarang.


Namun berbeda dengan Jelita. Radit tampak tidak ada masalah sama sekali dengan lantunan lagu yang sedang menyala sekarang. Ia terlihat menikmati alunan itu. Selera Radit membuat Jelita tidak mengerti. Padahal kakaknya itu lama tinggal di New York. Ia pikir Radit lebih menyukai lagu dari penyanyi muda seperti Justin Bieber atau Selena Gomez. Tapi ternyata, ya sudahlah. Mulut komat kamit Radit yang sedang bersenandung mengikuti lirik lagu lawas itu telah menjawab semuanya. Selera musik Radit sama saja seperti orangtuanya, suka lagu-lagu lawas.


"Ganti ya ma lagunya?"


"Jangan diganti dong. Papa juga suka kan lagu ini?" tanya Laura sambil mengelus lengan suaminya.


Jelita semakin jengkel. Tampaknya perjalanan masih jauh. Ia coba memejamkan mata namun tidak bisa. Sebenarnya lagu lawas itu tidak terlalu menganggunya tapi entah kenapa saat ini, ia merasa begitu gelisah. Mungkin itu yang membuatnya beranggapan genre lagu yang sedang diputar menganggunya.


"Ma, Pa, ganti ya lagunya. Radit bosan"


"Ya sudah ganti saja" sahut Laura.


Jelita tercengang. Kenapa begitu mudah mamanya setuju saat Radit yang meminta? Sedangkan saat ia yang mengusulkan, mamanya itu dengan tegas menolak.


Tak lama dari itu, genre musik berubah. Sebuah lagu dari Melly Goeslow berjudul 'Ku Bahagia' mengaung. Itu lagu dengan beat yang cepat. Lagu yang ceria dan sangat anak muda. Namun Jelita tidak semangat lagi. Ada rasa geram di dadanya saat ini. Sejak Radit kembali, Jelita merasa dirinya dilupakan. Sikap mamanya barusan semakin memperkuat prasangkanya. Mamanya lebih menuruti ucapan Radit daripada dirinya. Menyebalkan!


"Ta, lo kenapa? Ini kan lagu kesukaan lo. Kok lo gak happy" Radit dapat melihat segurat sedih di wajah Jelita meskipun adiknya itu berusaha menyembunyikan.


"Gak papa" sahut Jelita tidak melihat lawan bicaranya. Matanya fokus memandang pemandangan hijau di luar mobil.


Seperti perkiraan sebelumnya. Sekitar 2 jam lamanya, mereka sampai juga di sebuah tempat asri yang ditumbuhi pepohonan rindang. Ada juga sebuah danau yang akan Surya dan Radit pakai sebagai wadah untuk memancing. Mereka pun bekerja sama menuruni barang-barang dari mobil. Kegiatan itu diiringi canda tawa dan kebahagian yang tak terhingga besarnya. Sebuah keluarga yang sangat harmonis dan penuh kasih sayang, saling bekerjasama.


"Ma, Jelita mau main sepeda dulu ya" Jelita terlihat sangat antusias. Sudah lama ia tidak bermain sepeda di tempat ini. Ya, ini bukan yang pertama kalinya bagi mereka berlibur disini.


"Mama sih ok saja. Tapi kamu izin dulu sama papa kamu"


"Pa, Jelita main sepeda ya?"


"Boleh tapi ditemani Radit ya"


Hah!


Manusia nyebelin itu lagi.


Saat ini yang tertanam di kepala Jelita hanyalah Radit si manusia yang paling reseh sedunia. Sejak pulang dari New York, Jelita belum melihat sisi baik dari kakaknya itu.


Radit si jahil.


Radit si reseh.


Radit si nyebelin.


Tiga julukan tidak baik itu saja yang Jelita tahu tentang kakaknya.


"Gak usah pa. Jelita mau main sepeda sendiri"


"Sudah gak usah banyak bacot. Tenang pa, Radit pasti jagain putri kesayangan papa ini" ucap Radit sembari mengedipkan matanya lalu tersenyum devil pada Jelita.


Wajah Jelita menyeringai jijik. Jika saja tidak ada orangtuanya maka ia sudah mencongkel mata Radit keluar dari tempatnya.


Radit dan Jelita mulai mengkayuh sepeda. Tentu saja perjalanan mereka tidak berlangsung damai. Sembari menunggangi sepeda masing-masing, mulut mereka tidak berhenti mengomel.


"Dasar pengangguran" hina Jelita melototi kakaknya sekilas.


"Dasar cewek aneh" balas Radit tak mau kalah.


Jelita memperlambat laju sepedanya.


"Lo bilang gue aneh lagi. Maksud lo bilang gue aneh apa sih? Emang gue aneh apanya?"


"Cewek aneh. Lemah" ledek Radit semakin semangat.


"Eh gue bukan cewek lemah ya"


"Kalau begitu kalahin gue" Radit menambah intensitas kayuhannya.


Jelita pun melakukan hal yang sama. Ia tidak ingin kalah dan akan membuktikan pada manusia reseh itu jika dirinya bukanlah cewek yang lemah. Perseteruan kakak adik itu kembali memanas. Sesekali mereka saling menyikut agar bisa menjatuhkan satu sama lain. Namun jalanan yang mereka lewati sudah tidak asing. Radit dan Jelita sudah hafal betul setiap tanjakan ataupun tikungan yang ada. Kelakukan mereka yang saling ingin menjatuhkan belum membuahkan hasil. Namun masing-masing tidak menyerah.


"Woww" ucap Jelita refleks saat melihat bebatuan kecil di depannya. Hampir saja ia menabrak batu itu jika saja ia tidak cekatan menghindar.


Jelita menarik rem sepedanya untuk memperlambat laju. Ia ingin melihat, apakah Radit tertinggal jauh di belakangnya. Ternyata jarak Radit lumayan jauh darinya. Segurat senyum penuh kemenangan mengembang lebar di wajahnya. Padahal tanpa Jelita sadari, sebenarnya Radit sengaja memperlambat kayuhannya agar Jelita bisa menang. Tiba-tiba mimik Jelita berubah drastis.


"Kenapa ni? Kok gak mau berhenti" Jelita menarik penuh rem sepedanya.


Seketika Jelita menjadi manusia yang paling panik. Rem sepedanya rusak. Padahal sekarang ia sedang berada di jalanan menurun.


"Kak, rem gue blong. Gue gak bisa berhenti. Kak" teriak Jelita histeris.


Radit pun mempercepat intensitas kayuhannya.


"Ta, lo tenang jangan panik"


"Lo gila ya. Gimana gue bisa tenang. Rem gue blong. Buruan bantuin gue" Jelita menjerit seperti orang gila.


"Lo gak usah ngomel. Ini gue juga lagi mikir caranya bantuin lo" sahut Radit tersulut emosi.


"Gak usah mikir. Bantuin gue berhentiin sepeda ini"


"Lo lancat, Ta"


"Hah! Lo berharap gue patah tulang apa? Gue disuruh lompat. Gila lo ya" Jelita mengatakan apa saja yang ada di kepalanya. Ia tidak peduli meskipun Radit akan membalasnya habis-habisan nanti.


Sepeda Jelita semakin tidak terkendali. Jalanan menurun ini cukup panjang.


"Kak Radit bantuan gue. Lo gak guna banget sih jadi kakak"


"Ogah gue bantu lo"


"Loh kok ogah sih. Cepetan bantuin gue" mohon Jelita berteriak.


"Kalau gue bantuin lo. Lo mau kasih gue apa?"


"Lo boleh minta apa saja dari gue" sahut Jelita tanpa berpikir panjang.


"Ok"


Radit mengkayuh sepedanya sekuat tenaga. Terlihat di bawah sana adalah perbatasan jalanan menurun dan jalanan datar. Sepeda Radit mendahului Jelita. Kemudian ia menghentikan sepedanya tepat di perbatasan jalanan itu.


Aaaahhh


Brukkk


Sepeda Jelita menghantam tubuh Radit.


"Oowhh pinggang gue" ringis Radit memegang perut bagian bawahnya. Kemudian Radit menelentangkan tubuhnya di tanah.


"Kak, lo gak papa?"


"Iya gue gak papa. Gak papa banget malah" mata Radit mengelas sinis. Sudah jelas-jelas dia yang menabrak tapi bertanya seperti itu.


"Lo kok marah-marah mulu sih. Gue kan khawatir sama lo. Lo bisa berdiri gak? Kalau gak bisa gue bantu"


Radit berusaha berdiri namun tubuhnya tidak seimbang. Jika saja tidak ada Jelita, mungkin ia sudah jatuh.


"Ayo gue bantu lo jalan"


"Gak usah" Radit menyingkirkan lengan Jelita dari pinggangnya.


"Gak usah jual mahal deh. Disini cuman ada kita berdua. Kalau bukan gue, siapa yang bantu lo" Jelita menarik paksa tangan Radit.


"Ta"


"Apa?" Jelita memutar kepalanya 30 derajat. Gerakan yang tiba-tiba membuat hidung mancung kakak adik itu bersentuhan.


Keduanya tidak ada yang menarik diri. Dan membiarkan hidung itu tetap menyatu. Keintiman yang tanpa sekat itu membuat Jelita bisa merasakan hembusan nafas Radit, begitupun sebaliknya.


"Ta, gue...


Bagaikan desiran angin yang menyejukkan kalbu, Jelita menanti Radit bicara lagi. Pelan-pelan Radit mulai merendahkan kepala lalu memiringkannya ke kanan. Nafas keduanya semakin memburu.


"Jelita"


Suara yang tidak asing.


"Zain"