
Sampainya di mobil, Jelita menghentakan punggung ke kursi dengan perasaan jengkel yang teramat dalam. Maksud hati ingin membela sang kakak tapi ia malah tuduh mengacaukan segalanya. Dasar manusia tidak tahu terima kasih. Siapa lagi kalau bukan, Radit. Ingin rasanya ia mengacak-acak muka si Radit agar kekesalannya tersalurkan. Tapi itu tidak mungkin dilakukan mengingat tadi sedang berada di kantor papanya. Bisa makin runyam nanti kalau ada keributan.
Dan kenapa Radit merahasiakan indentitasnya? Kenapa ia menyulitkan diri sendiri dengan menyembunyikan status sosialnya? Bukankah kalau orang-orang tahu dia anak pemilik perusahaan maka dia akan dihormati? Jika begitu, bukankah akan lebih mudah baginya dalam bekerja tanpa ada sikut menyikut. Hah, Entahlah! Jelita tidak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya itu.
"Ta, kamu kenapa? Kusut banget tu muka?" tanya Zain.
Jelita tersentak. Saking emosinya ia lupa jika Zain ada di sebelahnya.
"Ah Zain. Maaf aku lupa kalau ada kamu" ucap Jelita merasa tidak enak hati.
"Gak papa. Kamu kenapa?" tanya Zain sabar.
"Kak Radit nyebelin banget sumpah. Dia itu selalu salah paham atas apa yang aku lakuin buat dia. Padahal niat aku baik, mau bantu dia keluar dari masalah. Eh malah aku yang kena semprot. Nyebelin banget kan?" jelas Jelita menggebu-gebu.
Zain tidak menanggapi. Pikirannya sedang mencerna semuanya. Mulai dari intonasi suara sampai mimik muka gadis di sampingnya. Ia menangkap sesuatu yang berbeda. Namun Zain belum bisa menyimpulkan segala dugaannya sekarang. Ia akan menunggu waktu yang tepat sampai menemukan bukti yang tepat untuk menguatkan kecurigaannya itu.
"Zain, kok lo diam?" tanya Jelita aneh. Biasanya Zain selalu memberinya petuah untuk menenangkannya.
Kilatan mata Zain membuat Jelita kikuk. Ia bingung mengartikan tatapan itu. Apa mungkin Zain tidak suka dengan kebawelannya?
"Kamu itu terlalu bergantung dengan kak Radit. Apa-apa kak Radit" ucap Zain lembut.
Jelita mengernyitkan dahi. Ia semakin bingung.
"Kok kamu ngomongnya gitu lagi? Jangan bilang kamu cemburu sama kak Radit. Zain, kak Radit itu kakak aku. Kamu gak usah khawatir. Aku....
"Tidak perlu dibahas. Sekarang aku antar kamu pulang" sambar Zain sedikit kecewa. Selama ini ia sudah sangat sabar mendengar cerita Jelita tentang Radit. Hampir di setiap pertemuan, yang menjadi topik utama kekasihnya itu, Radit. Sebenarnya Zain tidak keberatan tapi jika tiap bertemu selalu membahas hal yang sama, ia bosan juga.
Zain bertanya pada dirinya sendiri, dimana posisinya di hati Jelita? Apakah ruangnya lebih besar atau lebih kecil dari Radit. Apakah dalam sehari Jelita memikirkannya lebih banyak daripada memikirkan Radit? Atau justru tidak sama sekali. Terkadang pertanyaan-pertanyaan itu sedikit menggangunya. Bahkan ia sering sekali sibuk dengan pikiran-pikiran itu daripada menyelesaikan tugas kuliahnya yang menumpuk.
Sepanjang perjalanan pulang bahkan setelah makan malam pun muka Zain tetap tidak berubah, dingin seperti es batu. Jelita tidak tahu apa yang menyebabkan pacarnya itu mendadak menjadi pendiam. Yang pasti perubahan Zain itu terjadi saat ia menceritakan sifat reseh Radit tadi siang.
"Thank you, Zain"
"Hmm" dehem Zain seadanya.
Jelita yang tadinya ingin segera turun dari mobil, kini menunda niatnya itu.
"Zain, kamu kenapa sih? Kalau kamu marah, bilang. Marah balik sama aku. Aku gak papa kok dimarahin" tutur Jelita membujuk.
"Jelita, boleh aku minta satu hal?"
"Apa?"
"Aku bukannya tidak suka dengan kak Radit tapi bisakah saat kita bersama, kamu tidak bahas kak Radit. Cukup bahas tentang kita saja. Kamu mau kan?" tanya Zain sambil menganggukkan kepalanya sekilas.
Jelita semakin tidak mengerti, ada apa dengan dua pria yang ada dalam kehidupannya saat ini, Radit dan Zain. Kemarin Radit yang dengan terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya pada Zain. Dan sekarang Zain juga ikut-ikutan. Kalau mereka dinikahkan kayaknya bakalan langgeng, pikir Jelita jenaka.
"Oke. Aku akan coba untuk gak bahas kak Radit saat kita bersama" ucap Jelita setuju karena tidak ingin memperpanjang masalah. Saat ini lebih baik ia mengalah. Masalahnya dengan Radit sudah cukup membuang energinya. Jika ditambah Zain, mungkin ia tidak bisa tidur malam ini.
Jelita memejamkan matanya rapat begitu Zain mengecup keningnya lembut. Namun tetap dengan penolakan yang sama saat Zain berusaha menyentuh bibir ranumnya lagi.
Sorry Zain. Tapi gue gak tahu kenapa? Tubuh gue kayak menarik diri dengan sendirinya setiap kali lo mau cium gue, batin Jelita bingung.
...***...
Begitu menginjakkan kaki pertama, Jelita langsung mengedarkan mata ke setiap sudut rumah. Aneh sekali! Jelita menyalakan ponselnya untuk melihat waktu. Baru jam tujuh malam. Tapi kenapa rumah sangat sepi. Jelita melangkah ke arah meja makan. Di sana tidak ada siapapun padahal biasanya jam segini kedua orangtuanya sedang makan malam.
"Bi Asmi" panggil Jelita saat melihat wanita paruh baya itu melintas.
"Iya non. Ada apa?" tanya bi Asmi mendekat.
"Papa sama mama mana ya bi? Kok rumah sepi banget? Biasanya jam segini waktunya makan malam" ujar Jelita heran.
"Oh bapak dan ibu lagi ngobrol non di taman belakang sama deng Radit"
Mulut Jelita sedikit terbuka. Ia terkejut mendengar Radit ada di rumah. Semenjak bekerja kakaknya itu memang jarang sekali pulang ke rumah. Kalau pun pulang biasanya di hari sabtu atau minggu saja. Karena memang di dua hari itu, Radit libur bekerja.
"Oh makasi ya bi" Jelita mengikuti langkah kecilnya ke taman belakang.
Semakin mendekati taman, Jelita semakin memperlambat langkahnya. Samar-samar ia mendengar percakapan Surya, Laura, dan Radit dari kejauhan. Kakinya berhenti di balik dinding pembatas taman dan rumah. Namun sayangnya dari posisi ini, Jelita tidak dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka.
"Pa ma, ini sudah saatnya Jelita tahu semuanya. Dia harus tahu kalau dia bukan anak kandung mama dan papa" ujar Radit.
"Radit" sela Laura mendelik.
Jelita semakin penasaran apa yang sedang dibicarakan orang-orang terkasihnya itu. Tampaknya itu bukan obrolan biasa. Tapi sayangnya ia tidak berani mendekat setelah melihat wajah-wajah tegang itu.
"Pa, ma, kak Radit" sapa Jelita akhirnya keluar dari persembunyiannya.
Sontak kehadiran Jelita yang tiba-tiba membuat Surya, Laura, juga Radit terkejut. Mereka kelabakan dan salah tingkah. Apakah Jelita mendengar semuanya?
"Ikut gue" ajak Radit menarik lengan Jelita.
"Kak lepasin tangan gue" pinta Jelita begitu tiba di depan pintu kamar Radit.
"Apa yang lo dengar?" tanya Radit deg degan.
"Apanya? Obrolan kak Radit sama papa mama tadi?"
Radit mengganguk pelan.
"Gue gak dengar apa-apa. Kan jaraknya jauh. Kuping gue gak sepeka itu kali"
Radit memperhatikan intens sorot mata Jelita. Ia sudah mengenal sang adik dari kecil. Jika Jelita berbohong sedikit saja maka ia bisa tahu dengan mudah.
Sepertinya Jelita memang tidak dengar apa-apa, gumam Radit.
"Lo ngapain kak ke sini? Tumben" sambungnya karena Radit tak kunjung bicara.
"Gue mau ketemu lo" balas Radit seraya masuk ke kamarnya.
"Buat apa?" tanya Jelita sambil mengikuti langkah Radit.
Radit duduk di ujung kasur. Matanya melirik Jelita sekilas sebelum mengirim pesan kepada mamanya untuk memberitahu jika Jelita tidak mendengar percakapan mereka tadi.
"Lo masih marah sama gue?" tanya Radit meletakkan ponselnya di kasur setelah memastikan pesan terkirim.
"Masih sedikit" jawab Jelita rancu berjalan ke arah balkon. Radit mengikuti dari belakang.
Sejenak Jelita menengadahkan wajah ke langit untuk melihat kemerlip bintang di atas sana. Setelah itu ia berbalik namun ternyata Radit berdiri tepat di belakangnya. Untung ada pagar pembatas. Jika tidak ia sudah jatuh karena terkejut. Dengan tatapan dalam, Radit meletakkan kedua tangannya di pagar pembatas dan membuat Jelita berada dalam kurungannya.
"Apa yang lo pikirin? Gue lihat lo selalu gelisah?" tanya Radit penasaran.
Deg! Deg! Deg!
Dengan jarak hanya beberapa senti, tentu saja membuat jantung Jelita berdebar tak karuan. Hembusan nafas itu, aroma tubuh itu menyengat sampai ke ulu hatinya. Jelita melihat ke arah lain untuk membuang rasa gugupnya. Namun pipinya yang merona tidak mampu menyembunyikan debaran rasa yang bersemayam itu.
"Kak, boleh gue jujur?"
"Katakan?" sahut Radit dengan suara berat.
"Gue deg degan kalau kita sedekat ini" ungkap Jelita jujur.
"Lalu?"
"Lalu...lalu...tahu ah. Lo nyebelin" Jelita mendorong Radit menjauh.
Gak gak, Ta. Radit kakak lo. Ingat itu. Lo gak boleh punya perasaan lebih. Perasaan lo itu hanya untuk Zain, pacar lo" Jelita berperang dengan batinnya.
"Lo masih ingat kan janji lo pas gue nyelamatin lo kemarin?"
Jelita memutar bola matanya. Tapi berhubung otaknya saat ini sedang tak karuan maka ia tidak tahu janji mana yang Radit maksud.
"Dasar pelupa" ucap Radit mentoyor kening Jelita.
"Apaan sih? Kasih tahu saja kenapa. Gak usah pakai tebak-tebakan segala. Otak gue lagi malas mikir ni" ujar Jelita jadi penasaran.
"Nanti sajalah. Sekarang bukan waktu yang tepat. Gue balik"
"Lo mau balik kemana sih kak? Ini kan rumah lo, rumah kita. Kenapa lo mesti tinggal di apartement sih?" ini pertanyaan yang sampai sekarang belum ia temukan jawabannya.
Radit menarik pinggang Jelita dan memutar badan ramping itu lalu mendorongnya ke dinding. Saking kuatnya dorongan itu, hampir saja mulut Jelita menyentuh dinding.
"Kak"
Radit menghentakkan diri sendiri, menempel ke punggung Jelita. Ia menghimpit gadis itu.
Jika gue tetap disini, gue takut tidak bisa mengendalikan perasaan gue sama lo, Ta. Gue takut lepas kontrol seperti saat ini, batin Radit.