
Di kontrakan sederhananya, tampak Jelita sibuk memperhatikan barisan angka yang ada di dalam laptop. Ada garis berwarna merah, hijau, dan biru dalam grafik yang sedang ia pelajari. Lengkungan garis yang saling melilit dan menukik membuatnya sedikit kesulitan. Walaupun mengalami kesulitan namun bukan berarti ia tidak kompeten seperti yang Radit katakan. Bukankah ini wajar mengingat ia pun baru beberapa minggu bekerja jadi masih ada sistem perusahaan yang tidak dimengerti. Kritik kasar dari Radit membuat Jelita terpacu untuk menunjukkan kemampuannya. Ia bekerja extra keras agar bisa mempelajari semuanya lebih cepat.
Hingga pukul dua pagi, Jelita masih belum beranjak dari layar laptop. Punggungnya seakan terpaku dikursi membuatnya tidak bisa bergerak kemana-mana.
Hoamm
Mendekati jam tiga dinihari, kantuk gadis itu semakin menjadi. Ia pun segera mematikan laptop lalu berbaring telentang di atas kasur. Matanya memandang langit polos di atas sana. Perlahan netra sang gadis tertutup sedikit dan tak lama ia tertidur lelap.
Sementara itu di kasurnya yang berukuran jumbo, Radit terlihat gelisah dalam tidurnya. Keningnya berkeringat hingga anak rambut pria itu basah. Wajahnya meringis seperti orang yang sedang menahan sakit. Tampak jelas tidur pria itu tidak damai.
"Pa" mata Radit terbuka lebar. Nafasnya terengah dan dada bidang itu bergerak naik turun dengan cepat.
Setelah menguasai diri, Radit pun bangun dan melangkah menuju balkon. Hawa dingin langsung menerpa kulitnya. Ia menengadahkan kepala ke langit. Di atas sana tampak sinar bulan mulai meredup dan gemerlap bintang sudah tidak ada lagi menandakan pagi akan segera tiba.
Angin yang bertiup terasa semakin dingin. Radit menutup pintu balkon dan duduk di tepian kasur. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas untuk mengecek apakah ada pesan yang masuk. Biasanya jam segini, Laras asistennya sudah mengirim pesan yang berisi jadwalnya hari ini.
Seketika Radit memicingkan matanya begitu ponselnya menyala. Ada panggilan dari nomor tanpa nama. Namun hal itu tidak membuatnya penasaran sama sekali. Ia pun meletakkan ponsel di tempat semula setelah membaca pesan dari Laras. Ia berbaring dan berusaha tidur kembali namun anehnya matanya enggan terpejam lagi. Ada rasa gelisah yang hinggap di dadanya. Entah itu darimana?
Karena waktu baru menunjukkan pukul enam kurang, Radit pun mengganti baju tidurnya dengan pakaian sporty. Ia berlari mengelilingi halaman rumah yang cukup luas itu, berharap rasa gelisahnya sirna. Namun hingga matahari menyinsing, keadaan masih sama saja. Justru pikirannya justru semakin bercabang seperti ranting pohon rindang.
Radit menyudahi olahraga ringannya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Guyuran air seketika menyejukkan pikirannya yang kacau. Ia memejamkan mata meresapi rasa nyaman itu. Tapi tiba-tiba kenangannya bersama Jelita yang sedang diguyuri air melintas begitu saja. Radit langsung mematikan shower dan mengusap wajahnya kasar.
"Shitt...sial" umpatnya kesal seraya memukul dinding kamar mandi.
...***...
Brugg
Sebuah berkas dengan lembaran yang cukup tebal mendarat kasar di atas meja kerja Radit. Sontak pria muda penuh wibawa itu mendongak.
Siapa yang sudah lancang masuk ke ruangannya tanpa izin dan melempar berkas kepadanya?
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya menatap tajam pada gadis yang berdiri di depannya.
"Apa maksud pak Radit kasih berkas ini kepada saya?" tanya Jelita menuntut penjelasan.
"Apa perlu saya jelaskan?" timpal Radit cuek.
"Ini bukan bagian saya pak. Bukan tugas saya. Kenapa pak Radit menyuruh saya melakukan sesuatu yang bukan menjadi tugas saya?" protes sang gadis.
"Kamu tidak lupa kan siapa saya? Saya bisa memerintah apapun kepada siapapun" ujar Radit sangat berkuasa.
Jelita menyisihkan rambutnya ke belakang sembari menghela nafas kesal.
"Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu kita? Pak Radit sengaja kan mau membuat saya tidak betah berada di sini? Bukankah pak Radit sendiri yang bilang untuk tidak mencampurkan masalah pribadi dengan urusan kantor. Lalu kenapa....
Pranggg
Lembaran tebal itu melayang menghantam meja kaca yang berada tidak jauh di belakang Jelita. Dalam sekejap meja itu menjadi serpihan kaca dan tak berbentuk lagi.
Mata gadis itu refleks tertutup dan pundaknya sedikit terangkat. Sikap kasar Radit membuatnya tercengang tidak percaya. Dimana pria lembut yang ia kenal dulu? Kenapa Radit sangat berubah?
"Berhenti bicara yang tidak penting. Lakukan saja apa yang saya suruh jika kamu tidak ingin dipecat" titah Radit tegas sambil menggertakkan giginya dengan tatapan tajam.
Gadis itu tertegun mematung. Ia memandang intens wajah dingin di hadapannya.
"Brengsek" makinya sambil berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.
Makian itu samar namun Radit masih bisa mendengar kata kasar dari mulut bawahannya itu. Tapi bukan Radit si pria dingin namanya jika merasa terganggu, ia tidak terganggu sama sekali dan tetap fokus dengan pekerjaannya saat ini.
Sementara itu di pantry, Jelita sedang membuat kopi instan rasa caffucino kesukaannya. Ia mengaduk minuman itu dengan tatapan kosong. Tiba-tiba kepalanya berdenging. Namun itu tidak berlangsung lama. Kondisinya normal kembali. Benar-benar, kelakuan Radit membuatnya jiwa pemberontaknya merontah-rontah.
Sambil menenteng kopi instannya, Jelita melebarkan kaki menuju meja kerja tapi di tengah jalan, kepalanya kembali berdenging. Kali ini disertai rasa sakit dan pusing. Jelita berusaha mengendalikan diri dengan memicit pelan keningnya. Sayang rasa yang sangat menganggu itu tak kunjung reda dan justru semakin menjadi. Kini ia merasa kepalanya sedang berputar-putar.
Bruggg
Tubuh gadis itu ambruk dan kopi yang belum sempat diseduh itu berceceran di lantai.
Di ruangannya, Radit mulai resah. Jelita belum juga menyerahkan berkas yang ia suruh untuk diperbaiki tadi pagi. Padahal sekarang sudah hampir jam lima sore. Sebentar lagi karyawan akan pulang. Ia pun keluar dari ruangan nyamannya iti.
"Laras, tolong suruh Jelita ke ruangan saya"
Radit tersentak. Matanya terbelalak. Seketika mimik datarnya berubah panik.
"Kirim alamat rumah sakitnya kepada saya" pintanya singkat.
Radit mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh dan beberapa kali memotong laju mobil di depannya. Tidak butuh waktu lama, ia telah sampai di halaman rumah sakit.
Sampainya di depan kamar dimana Jelita dirawat, Radit mencoba mengintip sebentar dari kaca kecil yang terpasang di tengah pintu.
Krekkk
Kakinya melangkah pelan dengan perasaan tidak karuan, lebih tepatnya merasa bersalah. Ia berjalan semakin dekat. Matanya menyoroti wajah gadis yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
"Jangan membuat gue lemah dengan sakit seperti ini" ucap Radit lirih.
Suasana kamar menjadi hening. Radit membisu sembari memandang lekat wajah pucat sang gadis dalam diam.
Setelah hampir enam jam lamanya, Jelita perlahan membuka mata. Ia mengedarkan pandangan memperhatikan tembok putih yang mengelilingi dirinya.
"Kok gue kayak dengar suara kak Radit ya?" ucap Jelita parau. "Astaga sudah jam tiga sore. Terus gimana dengan berkas itu? Gue harus telepon kak Radit sebelum dia mecat gue besok" sambungnya khawatir sambil melirik benda komunikasi di atas nakas. Entah siapa yang meletakkan ponselnya di situ. Ia akan mencari tahunya nanti untuk mengucapkan terima kasih.
Jelita mulai menscroll panggilan keluar untuk mencari nomor Radit yang belum sempat ia beri nama.
"Nah ini nomornya. Untung gue ingat" ucapnya seraya mendial nomor tersebut.
📞 Siapa ini.
📞 Sore pak Radit. Ini saya Jelita. Pak saya mau minta maaf soal berkas itu. Sepertinya saya tidak bisa menyerahkannya hari ini. Soalnya saya....
Krekkk
Sambungan itu tiba-tiba terputus. Jelita mengalihkan mata ke arah pintu. Matanya melotot sempurna saat melihat pria yang berdiri di ambang pintu.
"Jadi ini nomor kamu. Kenapa semalam menelpon saya?" tanya Radit sembari masuk dan duduk di sofa.
"Lo kesini kak? Hmm maksud saya pak Radit" Jelita buru-buru meralat ucapannya sebelum pria galak itu marah.
"Kalau ada orang nanya itu dijawab bukan balik nanya" timpal Radit sambil membenarkan posisi duduknya.
Mata gadis itu mendelik. Ia baru sadar ada sofa mewah di kamarnya. Jelita kembali mengedarkan mata. Lagi-lagi ia baru sadar, ternyata kamar yang ia tempati lumayan besar. Bukan hanya sofa tapi ada kulkas mini juga.
Ini pasti kamar VVIP. Pasti mahal banget. Terus gue bayar tagihannya gimana?, tanya Jelita dalam hati.
"Seluruh tagihan rumah sakit kamu, perusahaan yang bayar. Setelah itu kamu bisa pingsan lagi untuk menikmati fasilitas mewah seperti ini dari perusahaan, lagi" tutur Radit menekan kata lagi di ujung kalimatnya.
Jelita sempat tersenyum sesaat namun kembali cemberut begitu mendengar ucapan Radit yang terakhir. Sedikit menyebalkan. Tapi meskipun sekarang galak, kakaknya itu masih peka dengan apa yang sedang ia pikirkan. Kepekaan pria itu masih tajam terutama untuk apa yang sedang Jelita khawatirkan.
"Permisi bu Jelita" sapa seorang suster sambil membawa nampang panjang berbahan stenlis.
"Makanan yan sus? Kebetulan saya lagi lapar sus" ucap Jelita sembari mengelus perutnya yang mulai terasa keroncongan.
"Silakan dimakan ya bu" ucap suster tersenyum ramah sebelum meninggalkan kamar.
Mata Jelita melirik pria yang duduk di sana dengan senyuman penuh arti. Ia mempunyai ide brilian yang mungkin saja dapat meluluhkan hati batu pria itu.
"Kak, suapin dong" pinta sang gadis sengaja memanjakan suara mezzo-nya.
"Gak usah manja. Makan sendiri. Punya tangan kan?" tolak Radit yang sedang fokus mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Jelita menarik dan melepaskan nafas dongkol. Sepertinya ucapan bu Retno tidak salah. Radit memang tak berperasaan, pikirnya.
Jelita mencari tombol kontrol untuk menaikan ranjang agar dapat makan dengan nyaman. Namun tangan pendeknya sedikit kesulitan menggapai tombol itu. Melihat Jelita yang sedang kesusahan, Radit pun mendekat dan duduk di tepian ranjang sembari menekan tombol kontrol tersebut. Perlahan ranjang bergerak naik membuat wajah keduanya semakin dekat. Tinggal beberapa senti lagi, tiba-tiba ranjang berhenti bergerak.
"Segini cukup?" tanya Radit menatap intim wajah gadis di hadapannya.
"Kurang, dikit lagi" jawab Jelita dengan senyum dikulum.
"Makanlah" Radit beranjak. Segurat senyuman yang sangat tipis sempat tersemai di wajahnya sebelum duduk kembali di sofa.