My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Gue Aneh



Jelita membuka matanya perlahan lalu menguap lebar. Ia bangun sebentar untuk menyingkap horden sebelum akhirnya kembali berbaring di atas kasur. Hari minggu memang hari yang sangat menyenangkan. Bisa bangun siang, tidak harus mandi pagi, intinya bebas karena tidak terikat aktivitas apapun. Sekitar sepuluh menit berlalu dan dengan mata sedikit terpejam, Jelita pun keluar dari selimut tebalnya. Ia mengikuti langkah kecilnya menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering dan harus dialiri sesuatu.


"Kalau jalan melek" Radit menyentil kening Jelita.


Sontak Jelita melebarkan pupilnya. Ia berdecak kesal. Pagi-pagi sudah melihat manusia paling nyebelin seantero jagad raya ini. Merusak mood saja.


"Kak, bisa gak sih kalau negur itu dengan cara lembut? Sakit ni kening gue"


Radit menghela nafas. Adiknya ini terlalu berlebihan. Padahal sentilannya tidak keras.


"Lo mau caper ya? Mentang-mentang disini ada mama"


Sebenarnya Jelita tidak tahu kalau di dapur ada mamanya juga. Seketika pikiran liciknya muncul begitu saja.


"Aww kepala gue sakit banget. Ma, kak Radit kasar banget. Ini kening Jelita sampai merah ni dipukul kak Radit" Jelita menghampiri Laura yang sedang sibuk memotong sayur. "Coba lihat ma kening Jelita, merah kan?"


Laura melihat kening putrinya sekilas.


"Tadi katanya kepala kamu yang sakit. Tapi kok kening kamu yang merah. Lagian kening kamu gak merah sama sekali" tanggapan Laura membuat rencana Jelita gagal telak.


Radit tersenyum seringai. Ia sangat puas melihat Jelita mati kutu. Lagian pagi-pagi sudah mau bikin onar. Padahal ia hanya tidak ingin adiknya itu menabrak sesuatu. Bukannya mendapat ucapan terima kasih, malah dirinya dituduh main kasar.


"Iihh mama selalu belain kak Radit" keluh Jelita dongkol.


"Mama bukannya belain kakak kamu. Tapi mama lihat semuanya. Maksud kakakmu itu baik. Kalau jalan itu memang harus melek biar gak nabrak" tutur Laura dengan intonasi halus.


"Ni minum. Lo haus kan?"


"Thank's" ucap Jelita mengambil alih segelas air putih dari tangan Radit. Dalam sekejab air putih itu lenyap ke dalam perutnya.


Radit duduk di sebelah Jelita.


"Ma, kok tumben mama masak pagi-pagi?" tanya Jelita heran.


"Kan mama memang selalu masak pagi-pagi begini"


"Iya sih. Tapi kan ini hari minggu. Biasanya kalau hari minggu, mama kan jogging sama papa? Dan itu mama masaknya banyak banget" timpal Jelita semakin heran.


"Iya, mama sengaja masak banyak. Ini persiapan buat holiday kita hari ini"


Refleks dahi Jelita berkerut.


Holiday!


Kenapa ia tidak diberitahu sebelumnya?


Radit memperhatikan perubahan raut wajah gadis di sebelahnya.


"Maksudnya kita mau liburan hari ini?" tanya Jelita memastikan. "Kok mendadak, ma?"


"Gak mendadak juga sih. Mama sama papa sudah rencanain ini sebelum kakak kamu pulang kesini. Dua hari kemarin, mama juga sudah beritahu kakak kamu"


Jelita mengalihkan pandangannya pada Radit sebentar. Kenapa Radit tidak memberitahunya jika hari ini mau liburan? Padahal ia selalu menceritakan apapun pada kakaknya itu kecuali untuk urusan perasaan. Lalu kenapa Radit tidak melakukan hal yang sama?


"Kenapa? Kamu kok kayak gak senang gitu? Kamu sudah ada janji?" sambung Laura.


Jelita mematung. Sebenarnya ia memang sudah ada janji sama Zain. Rencananya hari ini mereka mau pergi ke wahana permainan, nonton, dan makan malam bersama.


"Rabu nanti, mama sama papa mau pergi ke luar kota. Kamu ingat kan Erik anaknya Bastian, kakak mama? Nah dia mau menikah. Jadi mama sama papa mau ke sana...


"Terus apa hubungannya kita liburan hari ini?" sahut Jelita memotong ucapan mamanya.


Di sisi lain, Radit semakin intens memandang Jelita. Segurat rasa kecewa tersirat di wajahnya.


"Loh kok masih nanya? Ya kan semenjak kakak kamu pulang ke Indonesia, kita sekalipun belum pernah liburan berempat. Kamu gak kasian sama Radit, di rumah terus"


"Ya kan liburannya bisa dilakuin setelah papa sama mama pulang....


"Sudahlah ma, liburannya tidak jadi saja. Mama lupa, putri mama ini sudah gede. Dia mau jalan sama pacarnya" sambung Radit sembari berdiri.


"Dihh apaan sih. Kok lo sewot banget. Makanya punya pacar biar gak repot ngurusin...


"Terserah lo" Radit berlalu meninggalkan dapur dan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tidak semangat lagi bicara tentang liburan hari ini.


Jelita tercengang dengan sikap Radit. Ada apa dengan kakaknya itu? Kenapa sekarang perasaannya sensitif sekali?


"Tu kan, Ta. Itu Radit marah. Dia kecewa karena kamu nolak untuk ikut liburan" sebagai seorang ibu, Laura peka dengan apa yang dirasakan anaknya.


"Ma, kapan Jelita nolak. Jelita kan belum bilang 'enggak'. Kak Radit saja yang ngambekan" sangkal Jelita sembari memutar-mutar gelas di tangannya. Ia jadi kepikiran dengan Radit.


Lagi-lagi Jelita tak berkutik. Suka tidak suka, sekarang ia harus membujuk kakak nyebelinnya itu agar mau ikut liburan.


Tok! Tok! Tok!


"Kak. Kak Radit" panggil Jelita berlagu.


Jelita sudah menduganya. Radit tidak akan menjawab.


"Baiklah karena lo gak mau bukain pintu, gue langsung masuk saja" Jelita menekan gagang pintu namun ternyata Radit sudah menekan gagang pintu lebih dulu. Dan sudah pasti, Jelita langsung tersungkur ke kamar.


"Aww"


Radit tersenyum sinis.


"Lo ngapain tiduran di lantai?" tanyanya tidak merasa bersalah.


Jelita menyingkirkan rambut tergerainya ke belakang. Matanya membidik tajam kepada Radit. Marah? Tentu saja. Tapi saat ini Jelita harus meredam kemarahannya itu. Ia harus membujuk Radit untuk ikut liburan.


"Lo ngapain ke kamar gue?" lanjutnya sambil merebahkan diri di kasur.


"Gue disuruh mama bujuk lo. Kak, lo mau ya ikut liburan. Gue juga ikut kok"


Radit bangun dan duduk di ujung kasur.


"Halah, lo mau ikut liburan karena terpaksa kan? Lo bujuk gue juga karena disuruh mama. Otak lo itu emang setengah ya. Gak ada inisiatif sendiri. Disuruh baru gerak"


"Kok lo kasar ngomongnya?" Jelita mendekati Radit.


"Ya lo emang harus dikasarin biar paham" sahut Radit semakin ketus.


Jelita menyingkirkan anak rambut yang membuat keningnya gatal. Ia kemudian memutar kepalanya. Dan menyatukan kesepuluh jarinya lalu menariknya ke atas hingga menimbulkan bunyi khas. Apa yang dilakukan Jelita sekarang seperti orang yang sedang bersiap untuk menyerang.


Yeahhh


Jelita berteriak kencang. Dalam hitungan detik, ia sudah berada di atas tubuh Radit. Jari lentiknya menarik kuat pipi Radit lalu mengguncang kepala kakaknya itu seperti mainan anak-anak.


"Lo ya keterlaluan banget. Gue sekolah tinggi-tinggi dan lo dengan entengnya bilang gue gak ada otak. Ahhh" jerit Jelita nyaring di depan telinga Radit.


Radit berusaha menepis tangan Jelita dari wajahnya. Namun posisinya yang ada di bawah membuatnya tidak dapat berbuat banyak.


"Yang gue bilang benar kan? Otak lo memang setengah. Gue bilangnya otak lo setengah bukan gak ada otak" ucap Radit terputus-putus sambil menahan sakit di pipinya.


Jelita semakin kesal. Ternyata Radit masih mempertahankan sikap angkuhnya.


"Minta maaf gak lo? Atau gue gak akan berhenti narik kuping lo" kini gantian kuping Radit yang menjadi santapan kemarahan Jelita.


Aahh....awww...aahh


Kuping Radit benar-benar sakit.


"Ok...ok...gue nyerah. Gue akan minta maaf tapi lepasin gue dulu" Radit mengankat setengah tangannya, tanda ia menyerah.


Pelan-pelan meskipun masih ragu, Jelita mengendurkan tekanan punggungnya di bagian bawah perut Radit. Ia juga sudah melepas kuping Radit. Namun tiba-tiba tubuhnya diputar seperti permainan roller coster. Kini Jelita yang ada di bawah Radit.


"Rasa kan ini?" Radit melakukan hal yang sama. Memainkan kepala Jelita seperti balon. Tak lupa, ia juga menarik kuat pipi kenyal adiknya itu.


Jelita meringis kesakitan seperti yang Radit rasakan beberapa saat yang lalu. Ia tidak menaruh belas kasih meskipun gadis di bawahnya sudah mengankat tangan. Setelah beberapa menit, Radit kemudian jatuh terkulai di atas tubuh Jelita. Wajah berkeringatnya masuk ke ceruk leher gadis yang ia beri sebutan bonak itu alias bocah nakal. Nafas keduanya tersengal, ngos-ngosan seperti pelari yang baru saja mencapai finish. Tanpa disadari kelakukan konyol mereka barusan, cukup banyak membuang kalori dan tenaga.


"Lo mau ikut liburan kan, kak?"


"Asalkan pacar lo gak ikut" sahut Radit masih mengatur nafasnya.


"Kenapa sih kak, lo gak suka sama Zain?"


"Lo sudah tahu alasannya"


"Zain sebenarnya baik kak...


"Sekarang lo pilih, mau pergi sama dia atau sama gue?" Radit menarik wajahnya. Ia menatap dalam gadis di bawahnya.


"Sama lo" jawab Jelita tanpa ragu.


Tampak segurat lengkungan tipis di bibir Radit. Senyuman yang sangat tipis. Bahkan harus diperhatikan benar-benar jika ingin melihat senyuman misterius itu. Radit mendaratkan kecupan hangat di kening Jelita.


Jelita memejamkan mata seakan ingin meresapi sentuhan lembut itu. Ada rasa nyaman yang belum ia dapatkan sebelumnya.


Radit benar. Gue memang aneh. Kenapa gue menikmati moment ini?