
Jelita sedang mengaduk sup sambil melamun. Karena keteledorannya itu, ujung jarinya tidak sengaja mengenai panci panas di atas kompor.
"Aww panas" jeritnya refleks sambil mengipas-ngipas dan meniup tangan. Ia kemudian menggoyangkan lengannya sembarang agar rasa panas itu berkurang. Namun malang baginya, karena terlalu keras mengayun, tangannya tidak sengaja menyenggol panci. Seketika sup yang sedang mendidih di dalam panci tumpah dan mengenai kakinya.
"Aaah" teriaknya nyaring.
Radit yang sedang mengecek beberapa berkas di kamar langsung berlari keluar.
"Sayang kamu kenapa?" tanyanya panik.
Jelita menunduk sambil menggerakkan bagian jari kakinya yang terlihat agak melepuh.
"Kakiku panas banget" ucapnya meringis.
"Ya ampun. Kenapa bisa gini?" Radit mengankat tubuh sang istri dan membawanya ke kamar.
"Tunggu di sini, aku ambil air dingin" tambahnya setelah membaringkan tubuh Jelita di atas kasur.
Tak lama, Radit kembali. Ia dengan telaten mengompres kaki Jelita yang terkena kuah sup. Sementara itu, Jelita menahan tangisannya seraya memandang lekat wajah sang suami.
"Kak, gimana kalau ternyata aku tidak bisa memberi kamu anak?" tanyanya sambil menyeka airmata yang sudah berada ujung mata. "Bagaimana kalau nanti mama tahu, aku tidak bisa memberinya cucu?" sambungnya merasa sesak.
Radit tak menanggapi. Ia memilih diam dan fokus mengompres kaki wanitanya itu.
"Kak, kalau kamu mau ninggali aku, aku akan terima. Banyak wanita sempurna di luaran sana" Jelita menutup mulut dengan jari-jari lentiknya agar suara tangisannya tidak menganggu pria yang sedang mengobati kakinya itu.
Radit berdiri lalu melempar handuk kecil putih itu ke lantai.
"Mau sampai kapan masalah ini dibahas? Hah" tanyanya dengan raut kesal dan tatapan seram. "Sudah berapa lama kita menikah? Baru seminggu kan? Apa tidak ada pembahasan lain selain anak, anak, anak?" timpalnya jengkel.
"Tapi mama mau cucu dari kita kak. Dan aku gak bisa kasih" sahut Jelita melawan.
"Ini rumah tangga siapa? Kita kan? Apa harus memikirkan keinginan orang lain untuk membuat kita bahagia?" sahut Radit.
"Mama bukan orang lain kak. Kita gak boleh egois kak. Kita juga harus mikirin mama"
"Lalu aku? Apa kamu memikirkan aku?" sambung Radit geram.
"Tentu saja aku mikirin kamu, kak. Setiap hari malah...
"Masa?" sambar Radit.
"Maksud kamu apa kak?" sahut Jelita dengan tatapan aneh.
"Kalau kamu mikirin aku, seharusnya kamu berhenti membahas hal yang tidak aku suka"
"Gak bisa gitu dong kak. Kamu juga harus dengerin aku. Aku berhak dong ngomong tentang yang aku mau. Aku juga...
"Jawab...jawab saja terus. Keras kepala" mata Radit mengelas tajam. Kemudian pergi meninggalkan kamar.
Jelita mengankat pundaknya kemudian menghela nafas lelah. Ia bersandar di headboard kasur dengan wajah tertunduk.
"Hah...kenapa gue kepancing sih? Harusnya gue gak ngelawan tadi. Duhh Jelita kenapa sih mulut lo gak bisa diam" ujarnya seraya menepuk mulut. Ia menyesalkan sifat pembangkangnya tadi.
Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Jelita pun kembali ke kamar setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam di balkon. Wajahnya murung lagi begitu melihat kasur kosong di tengah kamar.
"Sudah jam sepuluh tapi kak Radit belum masuk kamar. Kasian kalau dibiarin tidur di luar" Jelita mengikuti langkah kakinya ke arah ruang TV.
Di atas sofa terlihat Radit sedang tidur. Tangannya menyilang di dada, mungkin untuk melindungi diri dari dinginnya pendingin ruangan.
"Kak, bangun. Ayo pindah ke kamar" ajak Jelita sambil menggugah punggung sang suami.
"Hmm...malas" tolak Radit menggeliat kecil.
"Kak, jangan malas dong. Aku takut tidur sendiri" katanya kembali menggugah punggung berotot itu.
Radit membuka matanya sedikit kemudian mengatup lagi. "Bukankah selama ini kamu tidur sendiri?" tanyanya bangun dan bersandar di sofa dengan mata masih terpejam.
"Dulu dan sekarang kan beda. Sekarang aku punya suami. Masa tidur sendiri terus" ujarnya dengan ekspresi memelas. "Janji deh, aku gak akan bahas itu lagi" tambahnya sambil mengankat jari telunjuk dan tengah bersamaan.
Radit pun tersenyum simpul. Ia lalu menarik tangan sang istri untuk duduk di pangkuannya.
"Maaf" balas Jelita seadanya. "Buat anak lagi yuk" ajaknya sambil memainkan telunjuk di area pelipis pria seksi itu. Gerakan kecil yang membuat kelakian Radit tersulut.
Radit menghujam tatapan menggoda pada wanita dalam pangkuannya. Tangan kerasnya mulai bergerak liar meraba dada sang istri yang sedikit terbuka. "Tentu saja" ucapnya mengankat bridal raga ramping itu ke dalam kamar.
Kasur berukuran jumbo itu kembali menjadi saksi dari pergelutan panas tuannya. Cumbuan brutal yang saling berbalas menimbulkan bunyi khas dan memenuhi seisi ruangan. Permainan bercinta dan hasrat seirama membawa sepasang suami istri itu tenggelam dalam lautan birahi yang tak terhingga kenikmatannya.
2 bulan kemudian,
Hari ini, di saat waktu masih terlalu pagi, Radit dan Jelita tampak telah siap dengan setelan baju mewah berwarna senada. Keduanya akan menghadiri pesta pernikahan Zain dan Agnes.
"Sayang, penampilan aku gimana?" tanya Jelita antusias seraya menarik ujung renda gaunnya.
"Cantik" jawab Radit tanpa melihat wanita yang dipujinya itu. Ia sedang fokus menatap sesuatu di layar ponsel.
Jelita merasa sedikit kesal. Ia menghampiri Radit kemudian menangkup paksa wajah sang suami agar berhadapan dengannya.
"Lihat dulu, baru komentar. Gimana penampilanku?" tanyanya sekali lagi.
Radit menganga, terpesona dengan kecantikan sang istri. "Cantik sekali" pujinya kagum.
"Bagus. Ayo kita berangkat" timpal Jelita sembari meraih mini bag di atas nakas.
Begitu tiba di gedung acara, mereka berpisah. Masing-masing ada yang masuk ke kamar Agnes dan ke kamar Zain.
"Agnes" teriak Jelita ceria sambil memeluk sahabatnya itu.
"Jelita, gue pikir lo gak datang"
"Gila lo ya, mana mungkin gue gak datang di hari spesial lo ini" sahut Jelita menepuk pelan pundak teman karibnya itu.
"Thank you, Ta. Lo memang teman terbaik gue dari dulu sampai sekarang" balas Agnes menimpali.
"Permisi mbak" sela perias pengantin dengan sopan.
"Oh iya, maaf mbak. Silakan dilanjutin meriasnya" Jelita mundur lalu duduk di tepi kasur.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk"
"Hai Zain" sapa Radit.
"Thank's Dit sudah datang" balas Zain tersenyum tipis.
"Santai saja. Jangan terlalu tegang" ucap Radit memberi nasehat saat melihat wajah Zain yang sedikit pucat.
"Lo juga pernah merasakan ini kan? Jadi biarkan gue menikmati moment ini" sahut Zain berusaha keras mengendalikan rasa gugupnya.
Radit mengangguk mengerti. Zain benar, setiap calon pengantin terutama pria yang akan mengucapkan kalimat ijab kabul pasti merasakan tegang yang luar biasa. Mungkin, ia memang harus memberi Zain ruang untuk menikmati sendiri moment satu kali seumur hidup ini.
"Saya terima nikah dan kawinnya Agnes binti Burhan dengan mas kawin tersebut tunai" ucap Zain lantang dalam satu nafas.
Para tamu kompak mengatakan sah...
Prosesi sakral itu berlansung khidmat dan lancar. Kini Zain dan Agnes telah resmi menjadi pasangan suami istri. Di tengah kebahagiaan pengantin baru itu, Radit dan Jelita yang duduk di bangku undangan saling menatap sambil bergenggaman tangan.
"Terima kasih kak" ucapnya tersenyum manis.
"Untuk?" sahut Radit.
"Semuanya"
Radit membalas dengan anggukan pelan dan segurat senyum mempesona. Netra keduanya kembali melihat ke arah pengantin tanpa melepaskan genggaman erat itu.
Pov Jelita,
Setelah 3 tahun pernikahan...