
Senyum mengembang di wajah Radit dan Jelita. Keduanya saling melempar senyum yang menggambarkan perasaan mereka saat ini. Hari ini setelah melewati beberapa kesulitan, akhirnya Radit mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil kinerjanya di depan para petinggi perusahaan. Pria yang memiliki IQ di atas rata-rata itu akan menjabarkan secara gamblang ide luar biasanya mengenai, bagaimana cara mengamankan laba di saat angka penjualan tidak stabil atau menurun?
Ini moment yang sudah lama Radit nantikan. Ia sangat tidak sabar untuk melakukan gebrakan baru.
"Lo yakin kak mau pakai dasi ini? Dasi ini murah dan kurang pas dipakai untuk moment sepenting ini" ucap Jelita sembari membenarkan posisi dasi di leher Radit.
"Itu karena dasi ini dari lo. Gue sengaja menyimpannya untuk dipakai di waktu yang pas. Dan sekarang sudah saatnya" sahut Radit menampilkan segurat senyuman tipis di wajah tampannya yang tampak sangat fresh dan penuh semangat.
Setelah dasi terpasang rapi, Radit menangkup wajah Jelita dan mengecup hangat kening wanitanya itu. Mata sang gadis terpejam meresapi sentuhan lembut tersebut. Namun tidak seperti Radit yang begitu bersemangat. Raut muka Jelita terlihat murung dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
"Ada apa? Kayaknya lo gak terlalu happy. Apa yang lo pikirin?" tanya Radit penasaran melihat ekspresi gadis di depannya.
"Gue happy kok kak. Gak tau kenapa, gue khawatir aja. Gue merasa akan terjadi sesuatu" ujarnya cemas.
Radit menangkup dagu Jelita.
"Hai, yang belum terjadi jangan dipikirin. Semuanya akan baik-baik saja. Dan setelah rapatnya selesai, gue akan bicara sama papa dan mama" ucap Radit sambil meraih Jelita dalam dekapannya.
"Gue takut banget kak. Papa, mama pasti marah banget sama kita. Mereka tidak akan setuju" timpal gadis itu terlanjur khawatir.
"Sekalipun alam tidak merestui hubungan kita. Gue tidak akan membiarkan mereka memisahkan kita" ucap Radit mengeratkan kalungan tangannya di tubuh sang kekasih.
Untuk beberapa menit, sepasang kekasih itu hanyut dalam pelukan yang menghangatkan kalbu. Keduanya membisu dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Ada rasa cinta yang begitu besar dan ketakutan yang tidak kala besar. Dua rasa yang sangat bertolak belakang namun selalu berdekatan menghantui hubungan cinta kakak adik tersebut.
"Radit, Jelita ayo turun" pekik suara dari bawah.
Seruan nyaring Laura menguraikan pelukan dua anak manusia yang ada di kamar lantai dua itu. Dekapan yang terlepas itu seakan memaksa keduanya untuk kembali ke realita sesungguhnya dimana hubungan mereka hanya sekedar kakak adik belaka.
"Oke, sudah rapi kan?" tanya Radit seraya mengecek lagi penampilannya di cermin.
Jelita mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan satu mata, menandakan jika penampilan pria di hadapan sudah sempurna.
Tepat pukul 13.15 setelah makan siang, semua petinggi perusahaan mulai berkumpul di ruang rapat. Radit berjalan ke depan dengan perasaan gugup tak terelakkan. Meskipun sudah sangat memahami materi yang sebentar lagi akan ia jabarkan, tapi tetap saja rasa deg degan itu ada. Sama halnya saat ia melakukan sidang untuk mendapatkan gelar sarjana di New York tahun kemarin.
Matanya melirik sejenak kepada para seniornya. Ini cukup menegangkan namun juga tantangan baginya.
Hah!
Radit menghela nafas dalam. Ia mengumpulkan semua kekuatannya sebelum memulai presentasi.
"Selamat siang semuanya" sapa Radit basa-basi terlebih dahulu.
Kurang lebih satu jam lamanya, Radit menjabarkan ide briliantnya di hadapan para petinggi. Beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan yang cukup menyulitkan. Namun untungnya, Radit yang memang sudah terasah dan sangat menguasai materi, tidak mempunyai kendala bearti. Mulutnya menjawab pertanyaan itu dengan lancar dan lugas.
"Baik semuanya. Apa kita putuskan sekarang?" simpul Surya yang juga ikut hadir dalam rapat.
Para petinggi mulai berdiskusi. Di tengah diskusi yang tampak alot itu, tiba-tiba lampu mati. Keadaan ruang rapat seketika gelap gulita. Namun itu tidak berlangsung lama, lampu hidup kembali. Keadaan menjadi terang seperti semula.
Tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi. Mata para petinggi melotot ke arah layar besar yang sedang menampilkan foto sepasang kekasih yang sedang berciuman. Radit yang merasa heran dengan tatapan orang-orang di sekitarnyapun membalikkan badan.
Mulut pria itu menganga tidak percaya. Yang ada di foto itu ialah dirinya dan Jelita. Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang sudah diam-diam mengambil fotonya? Lalu siapa yang sudah meretas laptopnya?
"Jelita" Radit langsung keluar meninggalkan ruang rapat.
Mobil hitam bermerk itu melaju dengan kecepatan penuh menembus jalanan yang tidak terlalu ramai. Sembari fokus dengan kemudinya, Radit tetap berusaha menghubungi Jelita. Dan setelah beberapa kali panggilan, akhirnya Jelita menjawab panggilan tersebut.
📞 Hallo kak.
📞 Ta, tunggu gue di depan kampus.
📞 Gue masih ada satu kelas lagi kak.
📞 Papa sudah tahu hubungan kita. Jadi keluar sekarang. Sebentar lagi gue sampai.
Selang beberapa menit, mobil itu berhenti tepat di depan seorang gadis yang sedang menunggu dengan perasaan cemas.
"Kak, gimana cara papa bisa tahu?"
Radit pun mulai menjelaskan bagaimana kronolis terbongkarnya hubungan mereka di depan Surya dan para petinggi perusahaan. Jelita merasa kebas di area matanya. Terasa panas di sana. Sesuatu yang sangat ia takuti telah terjadi. Tak terasa airmatanya mengalir sangat mudah meskipun sekuat hati ia berusaha menahannya.
Di sepanjang perjalanan yang tidak bertujuan itu, baik ponsel Radit maupun Jelita terus berdering.
"Mama telepon lagi kak. Gimana kak?" tanya Jelita bingung harus menjawab atau tidak.
Belum sempat Radit menjawab, ponselnya juga berdering.
"Papa juga telepon" ucap Radit.
"Ta, lo percaya kan sama gue?" tambahnya sambil mematikan ponsel.
Jelita mengangguk pelan. Ia pun juga mematikan ponsel seperti yang Radit lakukan.
Mendekati malam, mobil hitam itu masih melaju, semakin menjauh dari keramaian ibukota. Tepatnya di daerah pinggiran kota, akhirnya sang tuan mobil menemukan tujuan.
Pintu terbuka menampilkan seorang wanita paruh baya yang berumur kisaran 40 tahun ke atas.
"Maaf bu, apa kami bisa mendapatkan penginapan?" tanya Radit diiringi segurat senyuman tipis di lengkungan bibirnya. "Tadi saya lihat tulisan di depan, katanya disini ada penginapan" lanjutnya.
Wanita itu memperhatikan Radit dan Jelita dari ujung kaki hingga ujung kepala. Keningnya mengernyit saat tak sengaja melihat jari-jari kedua tamunya yang terlihat masih polos.
"Kalian belum menikah?" tanyanya.
"Belum bu" jawab Jelita jujur.
"Kebetulan saya hanya punya satu kamar lagi. Tapi sayangnya kalian bukan suami istri. Begini saja, kamu tidur di penginapan. Dan gadis ini tidur bersama saya" tutur wanita itu memberi solusi.
Radit dan Jelita saling memandang sejenak. Kemudian keduanya mengangguk setuju. Daripada harus menelusuri jalanan lagi, lebih baik ambil kamar yang sudah ada. Apalagi hari semakin malam. Keduanya juga sudah lelah duduk di dalam mobil hampir lima jam lamanya.
Setelah membersihkan diri, Radit meraih ponselnya untuk menelpon Jelita. Namun sayangnya di daerah pinggiran kota begini tentu saja sulit mendapatkan signal. Pria itupun keluar dari kamar dan melangkah perlahan ke bibir pantai. Kebetulan tempatnya menginap berdekatan dengan pantai.
Sampainya di sana, Radit terkejut mendapati sosok gadis yang sedang berdiri di bawah pohon kelapa tanpa alas kaki.
"Sedang apa disini?" tanyanya sambil memeluk tubuh gadis itu dari arah belakang.
"Kak, lo kesini juga?"
"Jangan berbalik" cegah Radit saat gadis itu baru memutar badan sedikit.
"Apa yang lo rasain sekarang kak?"
"Tentang?"
"Papa, mama pasti kecewa banget sama kita kak. Mereka juga pasti cemas dengan keberadaan kita. Apa tidak sebaiknya kita kembali saja kak? Gue khawatir kak dengan kesehatan papa" Jelita memutar kepalanya 30 derajat untuk melihat wajah pria yang bergelayut di pundaknya.
"Gue juga khawatir. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk pulang. Tunggu sampai besok. Jika keadaan sudah baik, kita akan pulang. Sekarang lupakan sebentar masalah kita. Bukankah kita harus menikmati malam ini?" ujar Radit lembut. Kaki panjangnya menuntun gadis dalam dekapannya itu maju beberapa langkah agar semakin dekat ke bibir pantai.
Sementara itu sang gadis menurut patuh membiarkan tubuhnya dituntun ke tempat yang diinginkan pria di belakangnya. Senyumnya tersemai manis menghiasi paras cantiknya.
"Lo lihat bulan di atas?"
"Lihatlah. Kan gue gak buta kak"
"Yeah, jawab yang manis kenapa. Ini gue rencananya mau merayu" sela Radit jengkel.
"Oh gitu, bilang dong" sahut Jelita datar. "Ayo coba rayu gue"
Radit membuang nafas dongkol sambil mengurai pelukan dari sang gadis.
"Sudahlah, tidak jadi"
"Yah, kok gak jadi. Ayo dong rayu gue" rengek Jelita manja sembari menggugah lengan kekar pria itu.
"Gak. Gue sudah gak mood" tolak Radit dengan mata mengelas malas.
"Issh gitu doang ngambek. Lo semakin ganteng deh kak kalau lagi cemberut gini" rayu Jelita menggoda.
Radit pun tersenyum miring.
"Gak mempan. Gue gak mempan dirayu begitu"
"Terus mempannya di apain?"
Radit diam sesaat dengan alis kanan menukik ke atas hingga memperlihatkan tatapan devil yang begitu menggoda. Hal itu membuat aura seksi Radit semakin terpancar.
"Kok lo diam kak?" tanya Jelita gugup dengan tatapan intens Radit yang mengarah ke wajahnya.
"Mungkin cara ini mempan" ucap Radit sambil mengetuk telunjuk di bibirnya.
"Ciss dasar. Gue ngantuk mau tidur. Ini juga sudah malam"
Jelita melebarkan kaki melewati pria nakal itu namun tentunya ia tidak dapat semudah itu kabur. Hanya dengan satu tarikan kuat, tubuhnya kembali dalam dekapan pria bertubuh tegap itu.
"Kak, turunin gue" pinta Jelita tersentak kaget saat tubuh langsingnya diangkat dengan sangat mudah.
Tawa sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu menyeruak memecah keheningan malam. Semilir angin yang berhembus kencang seakan bukanlah penghalang bagi keduanya untuk tetap berlama-lama menghabisi waktu di tengah malam yang semakin larut. Dengan penerangan lampu pantai seadanya, mereka pun mengulangi permainan semasa kanak-kanak dulu yaitu membuat istana pasir.
Kak, saat ini gue bahagia banget. Dan itu karena lo. Gue harap, kita selalu sama-sama seperti sekarang, batin Jelita.
Jelita, apapun yang akan terjadi nanti, hanya satu yang harus lo lakukan. Tetaplah di sisiku, gumam Radit dalam hati.
Netra keduanya bertemu lama saling memandang dalam senyap dan dinginnya angin malam. Senyum yang mengembang di wajah masing-masing menandakan jika dalam benak keduanya memiliki harapan yang sama. Harapan ingin menyatu untuk selamanya.
Tapi, entahlah!
Apakah keinginan sederhana itu akan terwujud atau hanya akan jadi kenangan di masa depan?