My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Rahasia Dan Akhir Penantian



"Kak, kita mau kemana sih?"


"Nanti kamu akan tahu" jawab Radit fokus dengan kemudinya.


"Apaan sih pakai rahasiaan segala. Kita kan suami istri, harusnya saling terbuka" protes Jelita merengut.


Radit tersenyum kecil dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Sebentar lagi kita sampai. Ta...


"Hmmm"


"Apapun yang kamu lihat nanti, jangan pergi dan tetap di sisiku. Paham" ujar Radit menekankan kata terakhirnya.


Jelita menatap penuh tanya pada pria di sebelahnya. Ucapan Radit membuat takut. Jika suaminya sudah bicara dengan nada suara seperti itu, berarti ada sesuatu yang serius. Wanita cantik itupun dibuat sangat penasaran namun ia tidak berani bertanya lebih lanjut. Dan membiarkan rasa penasarannya itu memenuhi kepalanya sepanjang perjalanan.


Setelah lebih satu jam lamanya, mobil bermerk itu berhenti di area tanah kosong yang di kedua sisi jalan ditumbuhi pepohonan hijau.


"Di sini kak tempatnya?" tanya Jelita begitu turun dari mobil.


"Iya. Ayo jalan"


Radit dan Jelita melangkah berdampingan menyusuri jalan setapak yang sedikit menanjak. Ditemani nyanyian dedaunan dan ranting pohon yang saling bersahutan, mereka mulai berbincang ringan.


"Kak, sudah lima bulan kita menikah tapi sampai sekarang, aku belum ada tanda-tanda hamil. Padahal berbagai pengobatan sudah aku jalani" ujar Jelita gelisah.


"Sabar, ntar juga dikasih. Aku sering mendengar keluhan, ada yang sudah dua tahun, lima tahun bahkan sepuluh tahun menikah, mereka juga belum dikasih anak. Kita masih banyak waktu. Yang penting kan usaha. " ucap Radit membesarkan hati istrinya.


Jelita tersenyum pahit. "Aku takut banget kak, gak bisa kasih kamu keturunan. Terus siapa yang akan meneruskan kepemimpinan kamu di perusahaan?" sahutnya tambah gelisah setiap mengingat akibat dari ketidaksempurnaannya itu.


Radit tidak menanggapi lagi. Ia hanya tersenyum tipis sambil menutup mata sejenak meresapi hembusan angin.


"Di hari pernikahan, kita sudah berjanji akan selalu setia. Aku pasti akan menepati itu dan kamu harus melakukannya juga. Apapun keadaannya nanti, aku akan selalu menerima kamu" tutur Radit lembut dengan tatapan teduh yang menyejukkan hati. Ia kemudian berhenti melangkah dan menangkup pipi halus sang istri.


"I love you, kak" balas Jelita terharu.


"Love you more" balas Radit membelai wajah wanita di hadapannya.


Keduanyapun berciuman hangat di bawah bentangan birunya langit dan terpaan semilir angin yang menusuk kulit. Sentuhan lembut dan hangat itu membuat pasangan suami istri itu tenggelam sesaat dalam tumpukan daun yang disediakan oleh alam.


Setelah kurang lebih lima belas menit perjalanan, mereka tiba di padang savana yang menghijau. Seketika pupil Jelita melebar dengan sendirinya saat melihat dua makam yang berada tidak jauh dari posisi berdirinya saat ini. Ia maju perlahan ditemani rasa deg-degan yang luar biasa.


"Kak, ini maksudnya apa? Kenapa ada nama papa di nisan itu? Apa papa?" tanyanya tiba-tiba merasa sesak.


Radit menjawab dengan anggukan pelan, membenarkan apa yang dipikirkan istrinya.


Sontak Jelita menutup mulutnya. Ia tersentak tak percaya. Kemudian matanya menoleh pelan-pelan ke batu nisan. Dadanya semakin sesak saat melihat tanggal kematian yang tertera di sana. Ia segera berdiri dan berlari kecil meninggalkan makam. Namun dengan sigap, Radit menarik kuat lengan sang istri.


"Kamu sudah janji tidak akan pergi" ucapnya mengingatkan.


Nafas Jelita memburu. Ia bingung seperti orang linglung. Sekuat hati ia berusaha mengendalikan diri. Tapi tetap saja, airmatanya tidak bisa diajak kompromi.


"Apa papa meninggal karena aku?" tanya Jelita terisak.


"Bukan"


"Bohong. Aku ingat tanggal itu. Itu tanggal saat aku pergi dari rumah. Kak please, ceritain semuanya sama aku" pinta Jelita memelas.


"Apa untungnya kalau kamu tahu? Semuanya sudah terjadi. Ya sudah. Tutup...selesai" ucap Radit tidak ingin membahas cerita lama.


"Kak, aku berhak tahu dong. Kok kamu selalu gini sih? Oh..atau karena aku bukan anak kandung. Jadi aku gak berhak tahu, itu maksudnya?" sahut Jelita emosi.


Radit memicingkan mata lalu menggelengkan kepala. Ia tidak suka masalah itu dibahas lagi.


"Kita sudah janji tidak akan bahas masalah itu lagi. Kenapa sifat keras kepala kamu ini tidak pernah berubah? Kalau saya bilang tidak usah dibahas, itu artinya tidak perlu dibahas. Sekali saja coba dengarkan saya. Bisa kan hargai saya sebagai suami?" ujar Radit meninggikan intonasi bicaranya.


"Kenapa harus selalu aku yang jadi pendengar? Emangnya aku tidak boleh ngomong? Kamu egois kak"


"Cukup" bentak Radit terbawa emosi.


Pundak Jelita refleks terangkat begitu mendengar ucapan lantang sang suami. Ia tak berkutik sedikitpun. Matanya menangkap ada kobaran amarah di bola mata pria yang berdiri di depannya. Beberapa saat ia mematung menyaksikan emosi yang belum tersampaikan di raut muka Radit.


"Terserah" ucapnya berbalik badan lalu pergi.


"Kamu tidak mau berdoa untuk papa?" pekik Radit nyaring.


Langkah Jelita berhenti tiba-tiba.


"Papa sudah lama menunggu kamu. Apa kamu akan pergi begitu saja?"


Jelita kembali menangis. Ia sedang menyalakan dirinya atas kematian Surya meskipun tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi tanggal yang terukir di batu nisan, menjelaskan semuanya. Jelita yakin, kematian Surya ada hubungannya dengan kepergiannya hari itu. Ia kemudian berlari menghampiri Radit yang berdiri tegap di samping makam.


"Maafin aku kak" sesalnya sembari memeluk rapat tubuh kekar pria itu.


Radit membalas dengan dekapan hangat. "Tidak semua yang akan kamu ketahui nanti bisa membuat keadaan membaik. Bisa saja, itu akan menimbulkan luka baru. Dan aku sedang menjaga itu agar kamu tidak terluka" Radit mengeratkan kalungan tangannya di punggung Jelita. "Aku juga minta maaf. Kamu pasti kaget tadi?" sambungnya seraya mengurai diri.


"Dasar lebay" timpal Radit sambil mentowel gemas kening istrinya. "Sekarang kita berdoa untuk papa ya"


Jelita mengangguk setuju. Dan sejak hari itu, ia tidak pernah bertanya lagi perihal penyebab kematian Surya. Mungkin Radit benar, tidak semua kejadian harus ia ketahui.


...***...


"Kak, ayo dong mau ya" bujuk Jelita memelas.


"Buat apa sih ke sana? Buang-buang waktu tahu gak" tolak Radit malas.


Wajah Jelita merengut kecut. Ia menghentakkan kaki sembari berjalan ke arah kasur.


"Ya buat nyambung tali silaturahmi. Lagian kan, Agnes dan Zain udah beberapakali ngundang kita makan malam. Gak enak dong kalau ditolak lagi. Ayolah sayang, sekali ini saja" Jelita tidak menyerah merayu Radit agar mau pergi.


Radit menggelengkan kepala. Ia tetap teguh dengan prinsipnya, tidak akan pergi untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya.


"Oke kalau kamu gak mau. Tapi bisakah kamu pergi demi aku?"


Radit menghela nafas pasrah. Ia selalu tak berkutik jika Jelita sudah meminta seperti itu. Baginya kebahagiaan sang istri, hal yang utama di atas segalanya. "Oke kita pergi"


Senyum Jelita merekah indah seperti bunga yang baru mekar. Ia pun menghampiri Radit dan memeluk suami kesayangannya itu.


"Thank you. Kamu memang suami terbaik" ucapnya bergelayut manja di dada sang suami.


Pukul 19.00 Radit dan Jelita tiba di rumah Zain dan Agnes. Kedatangan mereka langsung disambut ramah si tuan rumah. Acara makan-makan itu di adakan di ruang terbuka tepatnya di halaman belakang. Ada beberapa makanan berkuah yang sudah masak dan sebagian belum, seperti daging, udang, dan menu ringan lainnya.


Sementara Radit dan Zain sedang memanggang daging, para istri tampak sibuk menata makanan di atas meja. Namun tiba-tiba, Agnes merasa tidak enak di bagian perutnya.


"Aahh" Agnes menutup mulutnya saat merasa ada yang akan keluar dari sana.


"Nes, kamu kenapa?"


Agnes tidak sempat menjawab. Ia langsung berlari ke dalam rumah.


"Zain, Agnes sakit ya?" tanya Jelita khawatir.


Zain tersenyum malu-malu. "Gak. Sudah semingguan ini dia mual-mual" jawab Zain tak henti tersenyum.


Mual-mual. Apa Agnes hamil lagi?", batin Jelita.


"Agnes hamil lagi?"


"Iya. Baru 4 minggu" jawab Zain.


Kabar kehamilan Agnes kembali mengejutkan Jelita. Garpu di tangannya pun jatuh ke tanah. Mendadak suhu wajahnya berubah panas. Sementara itu, Radit yang melihat perubahan mimik sang istri merasa ikut terpukul. Ia tahu betul apa yang saat ini sedang Jelita rasakan.


"Kita pulang" ajaknya menarik paksa lengan Jelita.


Sampainya di apartement, keduanya terlibat cekcok. Jelita merasa minder dengan kelemahannya yang belum bisa memberi Radit keturunan. Sedangkan Radit marah merasa bosan dengan pembahasan itu-itu terus.


"Kak, ngapain sih kita pulang? Mereka udah capek-capek nyiapin makanan untuk kita. Kamu itu ya gak ngehargai banget usaha orang" protes Jelita jengkel sembari melangkah ke dalam kamar.


Begitu masuk, Jelita mengunci pintu dari dalam. Di atas kasur, ia meringkuk dan menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa sih harus gue?" tanyanya tidak mengerti dengan kemalangan yang menimpa dirinya. "Kenapa cuma gue yang gak bisa hamil?" sambungnya merana seraya mencengkram ujung selimut.


Di luar kamar tepatnya di pinggir balkon, Radit sedang menengadahkan wajah ke langit. Mata coklatnya menatap nanar cahaya gelap di atas sana.


"Tuhan, aku percaya keajaiban itu ada. Berikan itu kepada kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Terutama Jelita, dia sudah menjalani semua pengobatan. Jadi berhentilah menguji kami. Ini sudah cukup" Radit terduduk lemah di pagar pembatas. Satu kakinya ditekuk dan satunya lagi menjadi tongkat untuk menopang wajah frustasinya. Pada akhirnya ia pun tidak kuat menahan airmata yang selama ini dipendam di depan sang istri.


Hari semakin larut. Jam di dinding sudah menunjukkan angka sebelas.


Tok! Tok! Tok!


"Sayang, buka pintunya"


Radit mengetuk pintu lagi. Namun tetap tidak ada balasan dari dalam. Menit berlalu, Radit tidak bisa menunggu lagi. Ia merogoh kunci cadangan di dalam laci.


Krekkk


"Jelita" teriak Radit histeris saat melihat tubuh sang istri tergeletak di depan kamar mandi.


Ia segera membawa tubuh tak sadarkan diri itu ke rumah sakit. Dalam keadaan panik, di tengah perjalanan, Radit hampir saja menabrak pejalan kaki yang tiba-tiba menyebrang sembarangan.


"Dasar gila, nyebrang gak lihat-lihat dulu" makinya emosi.


Tibanya di rumah sakit 'Harapan Bunda' Jelita langsung diberi pertolongan pertama. Radit menunggu dengan perasaan cemas. Ia berdiri lalu duduk lagi sambil menggoyangkan jari-jarinya. Hal yang selalu ia lakukan saat sedang panik.


20 menit kemudian,


"Dokter, gimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja kan?"


Dokter diam beberapa detik kemudian tersenyum. "Selamat ya pak, istri anda sedang hamil dua minggu"