
Udara sejuk nan asri khas daerah pedesaan menyambut pagi Radit dan Jelita. Keduanya terkekeh ceria sambil melangkah menyusuri jalan setapak melewati beberapa pepohonan hijau yang menjulang tinggi. Sesekali mereka saling memandang dengan senyuman penuh arti. Raut muka pasangan kekasih itu begitu ringan seperti anak manusia yang baru terlahir ke dunia yang tidak mempunyai beban sama sekali.
"Kak, mampir yuk ke warung itu. Gue lapar. Mungkin saja di sana ada makanan" ucap Jelita seraya menunjuk warung sederhana dengan atap daun kelapa yang berada sekitar empat meter dari posisinya saat ini.
Benar saja, seperti harapan gadis belia itu, di warung sederhana ini ada macam-macam gorengan yang tersedia. Ada juga menu lontong sayur dan nasi uduk. Gorengan yang masih panas membuat Jelita tidak sabar untuk melahapnya.
"Aww panas" Jelita meletakkan kembali gorengan ke dalam wadah.
"Pelan-pelan, masih panas. Gorengannya masih banyak, jangan takut kehabisan" ucap Radit mengomel sembari meniup jari Jelita yang terkena panas gorengan tadi.
Perlakuan manis pria di sisinya saat ini membuat rasa cinta Jelita semakin besar. Setiap hari hatinya selalu berdebar saat melihat ataupun mendapatkan sentuhan kecil dari sang pria. Mungkin pernyataan yang mengatakan jika kita bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama itu benar adanya. Itu sedang terjadi pada Jelita.
Makanan sederhana, tempat sederhana, keinginan sederhana, dan kisah cinta sederhana, mungkin ini sangat pas untuk menggambarkan kebersamaan sepasang kekasih muda yang sedang bersahutan canda dan tawa itu. Mereka terlihat sangat menikmati menu yang tersaji di depan mata. Macam-macam gorengan, mereka cicipi satu persatu dan semua rasa tidak ada yang mengecewakan. Sepertinya penjual sangat menjaga cita rasa masakan agar pembeli puas.
"Hmm ini romantis banget" ucap Jelita setengah berbisik dengan senyum tipisnya yang tidak pernah lepas.
"Siapa?"
"Kuping lo peka banget sih kak. Padahal gue udah pelan banget ngomongnya" sahut Jelita heran.
"Lo gak ngomong saja, gue tahu apa yang lagi lo pikirin" timpal Radit.
"Masa? Coba tebak apa yang gue pikirin sekarang?" tantang Jelita penasaran.
"Apa sebaiknya kita pulang hari ini?" tanya Radit dengan tatapan serius.
Jelita melongo dengan mulut sedikit terbuka. Apakah Radit memiliki indera keenam?
"Wahh...kok lo benar sih kak" ucap gadis itu takjub. Memang ia ingin pulang ke rumah sekarang.
"Lo yakin mau pulang?" tanya Radit ulang.
"Gue khawatir sama papa dan mama, kak. Kita pulang saja ya" jawab Jelita lirih.
"Baiklah, kita pulang" angguk Radit setuju.
Di sepanjang perjalanan, Radit dan Jelita tidak banyak bicara. Keduanya lebih sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kak, maafin gue, batin Jelita seraya menatap pria di sebelahnya.
Tatapan gadis itu beralih ke pemandangan di luar mobil. Pikirannya kembali mengenang percakapan antara dirinya dan Laura juga Zain semalam melalui sambungan telepon.
Menjelang tengah hari tepatnya pukul 13.45, mobil hitam itu berhenti tepat di pekarangan rumah mewah bernuansa klasik modern. Radit dan Jelita turun dari mobil kemudian berjalan beriringan memasuki rumah mewah tersebut. Rumah dimana keduanya menghabiskan waktu bersama hingga puluhan tahun lamanya.
Pijakan kaki pertama mereka di ruang tamu disambut beberapa orang yang tampak berpakaian rapi. Radit menatap heran. Keningnya mengernyit refleks.
Apa yang terjadi disini? Kenapa ada Zain?, batin Radit bertanya-tanya.
Radit menoleh pada gadis yang berdiri dengan tatapan kosong di sebelahnya. Seketika hati dan jiwanya tidak tenang. Jelita terlihat tidak terkejut sama sekali.
"Kalian sudah pulang. Kemarilah" sapa Surya sambil melambaikan tangan. Pria itu terlihat tenang seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa.
Putra putrinya itu menurut patuh. Jelita memilih duduk di sebelah Zain. Sementara itu, Radit tidak punya pilihan lain selain duduk di tengah, antara papa dan mamanya.
"Baiklah bisa kita mulai sekarang? Kita langsung tentukan saja hari pertunangan Zain dan Jelita"
Deg!
Bagai tersambar petir di tengah hujan yang deras, mata Radit melotot tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. Zain dan Jelita akan bertunangan?
Seketika Radit merasa sesak di seluruh ruang dadanya. Pikiran dan hatinya bergejolak layaknya kobaran api yang melahap perumahan padat. Begitu cepat menyambar ke seluruh bagian tubuhnya.
Sementara itu, Jelita sama sekali tidak berani menegakkan kepala. Ia terus tertunduk tidak berdaya. Keputusannya ini terlalu kejam terutama untuk pria yang duduk di seberang sana.
Apa yang lo lakukan?, tanya Radit membatin sambil menatap nanar kepada Jelita.
"Pa, Jelita mau pertunangannya dipercepat. Dan untuk pernikahan, kalau bisa juga dipercepat. Itu lebih baik" pinta Jelita dengan suara bergetar.
Radit tersenyum getir. "Jadi lo sudah merencanakan semuanya" ucapnya.
Setelah pertemuan keluarga itu, Jelita langsung masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu rapat-rapat agar tidak seorangpun masuk. Tubuh kecilnya meringkuk di atas kasur dengan sorot mata mengarah ke arah balkon yang berhadapan lurus dengan tempat tidurnya. Tidak ada yang terpikirkan olehnya saat ini. Semuanya terlihat rata dan kosong. Lalu tiba-tiba saja, airmatanya meleleh begitu saja melewati pelupuk matanya.
Maafin gue, kak. Ini satu-satunya cara yang bisa gue lakuin untuk balas budi. Keluarga ini sudah memberi gue banyak hal kak, yang mungkin tidak bisa gue dapatin jika gue tidak disini. Gue tidak bisa menjadi orang egois dengan menyakiti mama dan papa. Sekarang sudah saatnya kita bangun dari mimpi. Lalu kembali menjadi kakak adik seperti saat kita kecil dulu. Maafin gue kak, batin Jelita menyayat hati.
Rasa lelah di sekujur tubuh gadis itu membuatnya terlelap begitu cepat dengan posisi meringkuk tanpa selimut.
...***...
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
"Iya sebentar" sahut gadis itu setelah mencuci muka kusutnya.
Krekkk
"Ada apa bi?" tanya Jelita sambil menyingkirkan anak rambut yang menghalangi penglihatannya.
"Di suruh ibu turun ke bawah non. Katanya ada yang mau diomongi" ujar bi Asmi.
"Iya bi. Bilang sama mama tunggu sebentar, Jelita mau mandi dulu"
Bi Asmi mengangguk patuh. Kakinya melangkah perlahan menuruni tangga.
"Hmm bi, kak Radit mana ya?" seru Jelita sembari melihat pintu kamar yang masih tertutup rapat itu.
"Bibi kurang tahu non. Tapi semalam bibi lihat deng Radit keluar dan sampai pagi ini belum pulang"
Perasaan gadis itu menjadi tidak tenang. Ia pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam sana, Jelita mempercepat aktivitas mandinya. Ia ingin mencari Radit ke apartement. Mungkin pria itu ada di sana.
"Jelita, kamu mau kemana?" cegah Laura saat melihat langkah sang putri yang terburu-buru.
"Mencari kak Radit ma. Kata bi Asmi, kak Radit gak pulang semalam" sahutnya dengan wajahnya sedikit ketakutan.
Laura menghela nafas panjang.
"Jangan membuat semuanya semakin rumit" ucap Laura sambil mendekati sang putri.
"Tidak cukup kalian membuat kami kecewa. Hancur hati papa dan mama dengan sikap kalian begini" Laura tidak bisa menahan kesedihannya. Tampak butiran airmata yang menutupi pandangan wanita paruh baya itu.
Melihat raut sedih wanita yang mulai menua itu, membuat hati Jelita bagai tersayat sembilu. Bibirnya bergetar menahan airmata yang sudah goyah di pelupuk mata.
"Maafin Jelita ma" sesalnya mulai menangis.
"Kalian kabur setelah membuat kekacauan lalu kembali seakan tidak terjadi apa-apa...
"Gak gitu ma" potong Jelita.
"Papa disini sendirian mengatasi kekacauan yang sudah kalian buat" Laura berhenti sejenak. Tenggorokannya tercekat, dadanya teramat sesak saat ini. "Kalian berdua sudah membuat suami mama menangis. Seumur hidup mama, belum pernah melihat dia menangis. Kemarin dia mengurung diri di ruang kerjanya sepanjang hari. Dia menangis sambil menatap foto kalian berdua" ucapan Laura kembali terpotong seiring tangisannya yang semakin menjadi.
Sementara itu, Jelita hanya membisu mendengar pengakuan wanita di hadapannya dengan berurai airmata.
"Kenapa kalian melakukan ini?" teriak Laura meninggikan volume suaranya.
"Ma, andai Jelita bisa memilih. Jelita juga tidak ingin memiliki perasaan lebih sama kak Radit. Jelita juga...
"Cukup" sela Laura lantang. "Mama tidak mau mendengar apapun lagi. Persiapkan diri kamu. Satu minggu lagi, kamu akan bertunangan dan satu minggu setelahnya, kamu akan menikah dengan Zain. Kamu yang ingin pernikahan ini dipercepat kan? Jangan coba-coba untuk kabur. Mama tidak pernah kan minta sesuatu sama kamu. Kali ini mama mohon, jaga nama baik keluarga ini terutama nama baik papa kamu. Jangan buat papa kamu tidak bisa menegakkan kepalanya di depan banyak orang" tutur Laura tegas dan menuntut.
Gadis itu mengangguk pelan. Ia tidak punya kekuatan apapun untuk menolak.
"Mama tidak perlu takut. Jelita akan mengikuti kemauan mama dan papa. Tapi apa boleh Jelita bertanya satu hal sama mama?"
"Katakan?"
"Saat mama jatuh cinta sama papa. Apa mama akan menyangka jika pria itu papa? Itu yang terjadi sama Jelita sekarang, ma" ucap gadis itu pilu kemudian berbalik badan.
"Kamu mau kemana?" seru Laura saat melihat sang putri berjalan ke arah pintu.
"Jelita mau keluar sebentar. Mama tidak perlu khawatir, Jelita pergi bukan untuk mencari kak Radit"
Gadis itu berjalan seorang diri menyusuri trotoar jalan. Tatapannya sayup dan matanya tampak sembab. Ia mengikuti langkah kaki kecilnya tanpa tujuan. Pikirannya mengawan jauh memikirkan nasib tragis percintaannya. Dua minggu dari sekarang, ia akan bersanding dengan pria yang tidak ia cintai. Hal paling menyedihkan apa lagi selain ini?
Menit ke menit berlalu. Matanya yang semula tidak terlalu memperhatikan para pejalan kaki di sekitarnya, kini membidik sosok pria yang berlawanan arah dengannya berjarak sekitar dua meter.
"Kak Radit" gumamnya seraya melebarkan pupil memastikan penglihatannya tidak salah.
Sontak Jelita jadi kikuk seperti orang kebingunan setelah memastiskan pria itu memang Radit. Ia panik sambil mengedarkan mata mencari tempat persembunyian sebelum Radit melihatnya.
"Hah" hela Jelita lega begitu berhasil bersembunyi.
Gadis muda itu belum siap untuk menjelaskan kepada Radit tentang keputusan sepihaknya yang setuju untuk bertunangan dengan Zain. Lagian juga, ia sudah berjanji pada mamanya pagi tadi untuk menemui Radit saat ini.
Selang beberapa menit, Jelita pun keluar dari persembunyiannya. Namun di luar dugaan, belum juga ia melangkah, pria itu tiba-tiba ada di hadapannya.
"Kak Radit" ucapnya terkejut.
"Apa lo akan terus menghindar?"