
Radit merebahkan diri di atas kasur. Ia mengusap wajah lalu memijit area sekitar mata. Helaan nafasnya terdengar berat seperti orang yang sedang memikul beban pikiran. Ia menaruh tangan kirinya di bawah kepala lalu memandang langit kamar yang berwarna putih polos itu. Pikirannya melayang mengingat perkataan Jelita tadi siang.
Cukup lama ia mencerna kata-kata gadis itu. Hingga tak terasa hari semakin gelap. Ia kemudian bangkit dari kasur dengan perasaan gundah memenuhi dada. Cinta lamanya telah kembali. Dan pemilik raga itu berniat tinggal di sisinya lagi. Namun ada satu masalah besar yang membuatnya ragu.
Janji kepada wanita yang telah melahirkannya. Dinding pembatas itu terlalu tinggi. Butuh waktu lama untuk memanjatnya hingga ke puncak. Apakah bisa sampai ke atas sedangkan menyerah adalah sifat alami manusia, termasuk Jelita. Radit tidak yakin gadis itu akan berjuang sampai akhir. Bisa saja di tengah perjalanan, dia menyerah lagi seperti dulu. Dan pada akhirnya yang tersisa hanyalah rasa sakit lagi dan lagi.
Radit mengucek rambut basahnya dengan handuk kecil setelah selesai mandi. Dengan atasan tanpa pakaian dan bawahan yang hanya ditutupi handuk putih, memperlihat tubuh seksinya yang sangat menggoda. Tidak ada perubahan drastis dari segi fisik meskipun telah memasuki umur 32 tahun dan juga tidak ada tanda-tanda penuaan di raut pria tampannya itu. Bahkan kerutan tipis pun tidak ada. Itu bukanlah hal yang mengejutkan mengingat Radit sangat menjaga pola makan dan rajin berolahraga. Dua hal itu membuatnya terlihat selalu fresh dan awet muda.
Disaat Radit ingin memakai baju tidur, tiba-tiba ponselnya berdering. Dahinya berkerut ketika melihat nama si penelpon.
📞 Ada apa telepon malam-malam?
📞 Kangen.
📞 Gak penting.
Sahut Radit ketus.
📞 Kak jangan dimatiin dulu. Gue mau ngomong.
📞 Bicara yang sopan dan panggil saya pak.
📞 Tapi kan ini gak lagi di kantor.
📞 Mau bicara apa?
Jelita mengubah panggilan biasa jadi panggilan video. Ia ingin melihat wajah kakaknya itu.
📞 Uuhh seksi banget.
Puji Jelita saat melihat dada bidang tanpa busana pria di layar ponselnya.
📞 Buruan mau bicara apa?
📞 Gak ada.
📞 Jangan menelpon saya jika tidak ada hal yang penting.
Radit memutuskan sambungan sepihak. Ia kembali berbaring di atas benda empuk itu. Saat ini hatinya bimbang. Kemanapun langkahnya berlabuh, pasti akan ada yang terluka. Entah itu wanita yang melahirkannya atau gadis yang bersemayam di hatinya.
Sementara itu di kontrakan sederhananya, Jelita tampak berdiri di balik jendela sambil memandangi air hujan yang turun membasahi halaman. Kemudian ia mengikis jarak antara dirinya dan jendela. Jelita menjulurkan kepala dan membiarkan wajahnya basah terkena air hujan. Sedikit sakit saat air hujan itu menitih di paras cantiknya.
Kak, dari dulu sampai sekarang, lo tidak pernah hilang dari hati gue. Dari dulu sampai sekarang, gue tetap mencintai lo, kak. Apa lo juga sama seperti gue?, batin Jelita sembari memejamkan mata untuk meresapi air hujan yang menyirami wajahnya.
...***...
Hari ini sesuai agenda, Radit akan menghadiri sebuah acara perkumpulan para pemimpin dari masing-masing pemegang cabang perusahaan yang tersebar di beberapa kota. Ia pun mulai bersiap-siap untuk berangkat ke acara tersebut. Sebelum pukul 02.00 pm ia harus sudah ada di sana karena acara akan di mulai tepat pukul 02.15 pm.
"Laras, sementara saya pergi, tolong jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan saya. Saya tidak suka barang-barang saya disentuh orang lain" ujar Radit lantang.
"Baik pak"
Radit melebarkan kaki ke arah lift. Ia langsung menuju mobil begitu sampai di lantai dasar. Namun seorang gadis yang ada di sekitar mobil hitamnya berhasil membuatnya terkejut.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Radit sambil membuka pintu mobil.
"Nungguin pak Radit"
"Untuk?"
"Saya mau ikut" sahut Jelita sengaja memperlihatkan ekspresi manja.
"Konyol. Kamu pikir saya mau liburan" Radit masuk ke dalam mobil.
Jelita pun ikut masuk. Ia tidak peduli meskipun pria dingin itu akan mengusirnya dengan kasar.
"Keluar" usir Radit tanpa kasihan. Sikap Radit sesuai dugaan gadis itu.
"Kak, please izinin aku ikut." mohonnya dengan wajah memelas.
"Kamu mau keluar sendiri, atau saya yang akan menendang kamu" ancam Radit menatap tajam gadis di sebelahnya.
Jelita menghela nafas kecewa. Dengan perasaan tidak rela, ia pun terpaksa keluar dari mobil mahal itu. Selang detik berikutnya, mobil tersebut hilang meninggalkan area parkir.
Hari berangsur petang, Jelita dan yang lainnya mulai sedang bersiap untuk pulang. Begitu pukul lima kurang, satu persatu karyawan meninggalkan gedung.
"Gue mesti kemana ya? Pulang ke kontrakan? Yang ada gue makin suntuk. Mending telpon kak Radit saja. Ah gak ah, dia pasti gak akan angkat. Manusia nyebelin kepala batu seperti itu, mana mungkin punya rasa iba" ucap Jelita bingung karena belum menemukan tujuan yang pas.
Jelita menapaki trotoar melewati toko-toko yang berjejer. Tak sengaja matanya melihat gerobok dorong yang berada di seberang.
"Kebetulan gue lagi lapar. Tapi kenapa gerobaknya harus di seberang sih?" keluhnya malas menyebrangi jalan. Apalagi jam segini, kendaraan lagi ramai-ramainya.
"Ya sudahlah, effort dikit gak papa. Lagian gue udah lama gak makan ketoprak" tambahnya sembari melirik kiri kanan.
Setelah memastikan jalanan agak sepi, Jelita pun sedikit berlari melintasi aspal. Tapi tidak ada yang tahu jika nasib sial datang. Tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna silver melaju ke arahnya. Ia terkejut dan tidak terpikir untuk menghindar.
"Aahh" teriak Jelita seraya memejamkan mata.
Ha..hah..ha..
"Untung saja mobilnya berhenti" ucapnya bersyukur karena selamat dari tabrakan maut.
Sopir dan penumpang mobil itu keluar serempak menghampiri Jelita.
"Mbak, kamu gak papa?" tanya seorang pria berumur sekitar 50 tahunan.
"Gak...saya gak papa pak" balasnya mendongak.
Deg!
Jantung gadis itu berhenti berdetak beberapa detik begitu melihat sosok pria paruh baya di dekatnya.
"Non Jelita"
Jelita, batin Laura.
Dengan kaki sedikit gemetar, Jelita berusaha untuk berdiri. Hatinya berdebar tak karuan. Di lubuk hati terdalamnya berharap tidak ada orang lain selain pak Sopian. Namun harapannya itu tidak terkabul. Saat ini sosok wanita yang mulai menua namun tetap cantik itu berada tepat di hadapannya. Sedang menyoroti dalam wajahnya.
Cukup lama keduanya diam tertegun, tidak saling menyapa dan hanya memandang.
"Mama"
Plakkk
Tamparan keras mendarat di wajah mulus gadis itu.
"Kamu tidak pantas memanggil saya seperti itu. Ayo pak Sopian kita pergi. Saya muak melihat wanita ini" ucap Laura mengelas tajam.
Setelah mobil yang hampir menabraknya tadi menghilang dari pandangan, Jelita berjalan menepi. Ia duduk di bangku panjang dan mulai menangis. Tidak hanya wajah saja tapi hatinya juga sakit. Tak disangka, ia mendapat sambutan kasar setelah lama tidak bertemu dari wanita yang telah merawatnya sejak kecil.
"Maafin aku, ma. Aku memang pantas dipukul. Aku yang salah. Jadi memang sudah seharusnya mama marah" ucapnya lirih sambil menyeka airmata.
"Pakai ini"
Jelita memutar badan saat menangkap suara tidak asing di telinganya.
"Pak Radit" Jelita meraih sapu tangan dari tangan Radit lalu mengelap pipi basahnya.
"Gak malu, malam-malam gini nangis di tempat umum. Kamu berharap orang-orang yang lewat kasihan sama kamu" ucap Radit tampak acuh dengan kesedihan Jelita.
Gadis itu *******-***** sapu tangan dalam cengkramannya. Ia jengkel, marah, dan kesal. Harusnya di saat seperti ini, ia diberi motivasi agar tetap semangat. Tapi yang dilakukan Radit justru sebaliknya.
"Permisi pak" Jelita melebarkan kaki.
"Sapu tangan saya"
"Sumpah lo nyebelin banget kak. Ambil sapu tangan ini. Gue juga gak mau "
"Saya tidak butuh lagi sapu tangan itu. Ambil saja"
Jelita menatap heran. Mimik wajahnya berubah masam.
"Maksud lo apa sih kak?"
"Saya lapar" ujar Radit seraya berbalik badan kemudian berjalan lebih dulu.
Jelita tersipu malu. Seketika wajah masam tadi berubah rona merah seperti udang rebus.
"Kamu juga lapar kan? Buruan. Kaki saya panjang. Kamu bisa ketinggalan jauh" seru Radit melanjutkan langkahnya.
Jelita berlari kencang dan mensejajarkan langkahnya dengan pria berkaki panjang itu.
"Kak, kita mau makan dimana?" tanyanya antusias.
"Saya bukan kakak kamu" balas Radit dingin namun hal itu membuatnya terlihat semakin berkharisma dan menawan.
"Galak amat sih. Awas saja kalau lo sudah bucin sama gue. Gua akan balas" ucapnya setengah berbisik.
"Itu tidak akan mudah" sambar Radit yakin.
Aishh, dia dengar. Padahal gue ngomongnya pelan banget, batin Jelita dengan wajah cemberut.
"Itu tidak akan mudah! Berarti pak Radit kasih saya kesempatan dong?" ucapnya menyimpulkan sendiri.
"Saya tidak bicara begitu" timpal Radit seraya berbelok arah ke kanan.
Keduanya memasuki sebuah kedai yang menjajakan berbagai menu-menu asia.
"Makanan ini tidak gratis. Saya akan potong dari gaji kamu"
What? Gue bayar sendiri. Gak romantis banget sih. Dasar pelit" gerutu Jelita dalam hati.
"Jangan terlalu serius. Saya bercanda" ujar Radit sembari memasukkan makanan ke dalam mulut.
Lagi-lagi Jelita dibuat malu. Ia pun hanya bisa membalas dengan senyuman simpul menanggapi candaan yang sama sekali tidak lucu itu.
Pipi kamu pasti sakit kan? Maafin mama, batin Radit melirik sejenak gadis di depannya.