My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Lo Maunya Apa?



Radit menarik paksa tangan Jelita hingga duduk di pangkuannya. Tangannya menahan punggung Jelita agar tidak jatuh.


"Terus mau lo apa? Hmm" tanya Radit dengan suara ngebassnya yang menggoda.


"Gue gak mau apa-apa" ucap Jelita gagap. "Gue cuman mau nanya, kenapa lo cium gue?" sambungnya gugup setengah mati.


Jelita semakin tidak mengerti dengan perasaannya. Bahkan saat bersama Zain, ia tidak segugup ini. Ia masih bisa bicara walaupun tidak banyak tapi kali ini, dirinya benar-benar kehabisan kata.


Apalagi saat ini bola mata Radit begitu intens menatapnya. Hal itu semakin membuat Jelita berdebar tak karuan.


"Gue lapar" karena Radit tak kunjung bicara, Jelita pun berdiri dari pangkuan Radit.


Namun belum juga ia berjalan, pinggangnya ditarik kuat oleh tangan kekar itu lagi. Jelita kembali dalam pangkuan Radit.


"Lo mau kemana?" tanya Radit menyipitkan sorot matanya.


Deg! Deg! Deg!


Tidak perlu ditanya lagi. Tentu saja saat ini Jelita deg-degan luar biasa. Ia hanya bisa menundukkan wajah tanpa mengeluarkan suara. Pancaran sinar matanya menggambarkan segalanya. Matanya yang mengarah ke bawah, tentu saja dapat melihat bagian atas tubuh Radit yang tidak bungkus kain apapun. Perlahan dengan bantuan hasrat yang menuntunnya, tangan halus Jelita mulai meraba dada Radit yang bidang itu. Seketika darah si pemilik dada seksi itu berdesir hebat. Jika Radit tidak menutup mulutnya cepat, maka suara desis nan seksi akan lolos dari bibirnya seiring belaian jemari Jelita yang semakin intens di dadanya.


Radit kakak lo, Jelita.


Jelita segera berdiri setelah mendapatkan bisikan gaib itu. Sedikit berlari, ia meninggalkan kamar Radit dengan perasaan frustasi.


Gak...gak, ini gila. Gue sudah gila...gue sudah gila. Mending sekarang gue tidur. Besok gue ada kuliah pagi. Ya...lo harus tidur sekarang, Ta, batin Jelita berperang dengan akal sehatnya.


Keesokan harinya di saat Radit masih tertidur pulas, Jelita tampak sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Ia sengaja berangkat ke kampus lebih awal agar tidak bertemu sang kakak. Meskipun mata kuliah baru akan dimulai jam sembilan tapi menunggu jam masuk kuliah lebih baik daripada bertemu Radit untuk saat ini, pikir Jelita.


Jelita terlalu malu setiap kali mengingat kejadian semalam. Jelas sekali semalam ia menggoda kakaknya itu. Belaian lembut dan manja di dada Radit yang dilakukannya semalam, itu bukan belaian seorang adik. Tapi belaian seorang wanita dewasa kepada pria dewasa. Tindakan kotornya itu membuat Jelita menuduh dirinya sendiri sebagai gadis penggoda.


Ini sudah terlalu melewati batas. Jika tidak dihentikan sekarang maka bisa saja pembatas itu akan runtuh dan pasti akan membuat semuanya menjadi berantakan. Jelita tidak yakin sampai kapan ia bisa menghindari Radit dengan cara ini tapi inilah satu-satunya cara untuk mencegah perasaan tak beradab itu sirna. Mengurangi intensitas bertemu adalah cara jitu untuk membuang perasaan tak senonoh yang bersarang di hatinya saat ini. Ya, cara pintas itu Jelita dapatkan dari artikel yang ia baca semalam.


"Bi, tolong panggilin Jelita"


"Non Jelita sudah berangkat kuliah deng" balas bi Asmi.


Sepagi ini. Bukannya hari ini dia masuk jam sembilan, batin Radit. Terbersit rasa curiga di benaknya tapi ia tidak terlalu memikirkannya.


Mungkin saja Jelita ada urusan lain, pikir Radit tetap berpikir positif.


Mendekati jam dua sore, Radit sudah duduk di bangku taman kampus Liberty. Sesekali ia membalas dengan senyuman kepada para gadis yang menyapanya. Radit melirik arloji di tangannya. Jarum pendek ada di angka 02.05 pm, itu artinya sebentar lagi Jelita selesai kuliah. Tiba-tiba Radit tersenyum miris. Ini konyol. Pantas saja Jelita menyebut dirinya pengangguran. Kerjaannya saat ini cuman antar jemput sang adik. Bukan sekedar pengangguran tapi lebih ke bodyguard. Pundak Radit bergoyang sesaat. Ia tertawa kecil.


"Hah, Dit. Sepertinya lo harus segera bekerja. Pantas saja lo dibilang pengangguran, kerjaan lo gak jelas gini. Jelita benar, Dit. Lo pengangguran" ucap Radit meledek dirinya sendiri.


Ditempat lain setelah keluar dari toilet, Agnes mengecek penampilannya terlebih dahulu. Apakah semuanya sudah ok atau ia harus masuk kembali ke toilet untuk membenarkan penampilannya yang salah.


"Ok, sudah rapi" sudah jadi kebiasaan Agnes setiap mau pulang, ia terlebih dahulu tancap wajah di toilet. Ia ingin wajahnya terlihat selalu fresh agar sedap dipandang. Memang sih sebagian cewek itu kalau sudah mau pulang ke rumah, biasanya tidak peduli dengan penampilan mereka tapi tidak bagi Agnes, ia ingin selalu terlihat sempurna walaupun dengan alas bedak seadanya.


Agnes melenggang menuju kelas. Ia yakin Jelita sedang menunggunya. Tidak mungkin kawan akrabnya itu meninggalkannya. Di perjalanan menuju kelas, Agnes tidak sengaja melihat Radit. Sebenarnya Agnes ingin menyapa tapi itu urung dilakukan karena tidak ingin membuat Jelita semakin lama menunggu.


"Tu kan benar nungguin. Lo emang terbaik, Ta" puji Agnes sembari berjalan mendekati Jelita yang sedang berdiri di dekat pintu. "Ta"


"Lo lama banget sih, Nes. Udah lama tapi lo nya gini-gini aja" canda Jelita jenaka.


"Sialan lo, Ta. Eh tapi gue lihat kakak lo di taman"


Hah!


Jelita melongo.


Ia belum siap bertemu Radit.


"Nes, gue balik duluan ya" Jelita menghilang dengan jurus langkah seribunya.


"Ta, tunggu. Terus gue gimana?"


Agnes akhirnya pulang sendiri dengan perasaan dongkol. Baru kali ini Jelita meninggalkannya begitu saja. Ia mengikuti langkah kecilnya menuju gerbang kampus.


"Tunggu"


Langkah Agnes terhenti. Ia coba mencari sumber suara barusan. Di belakangnya ada seorang pria tampan dengan perawakan tinggi dan tegap. Body pria itu seperti model yang sering ia lihat di majalah pria dewasa.


"Itu kan kakaknya Jelita" Agnes membidik matanya untuk memastikan penglihatannya.


"Iya. Kamu pasti kak Radit ya?"


"Iya. Jelitanya mana? Kalian sekelas kan?"


"Loh! Aku pikir, Jelita lari tadi karena mau ketemu kak Radit. Dia sudah pulang duluan kak" ujar Agnes bingung sendiri.


Radit mengedarkan mata lalu membuang nafas sejenak. Benar dugaannya. Jelita sedang menghindarinya.


Hari itu, Radit dan Jelita tidak bertemu sama sekali. Tinggal dalam satu atap yang sama tidak lantas membuat keduanya akan bertemu. Setelah pulang kuliah, Jelita mengurung dirinya di kamar. Dan Radit, ia tahu maksud adiknya itu. Karena itu ia membiarkan saja Jelita yang sedang berusaha menghindarinya. Memaksa Jelita untuk keluar dari kamarnya, hanya akan membuat amarah gadis muda itu meledak.


Keesokan harinya, masih dengan wajah lusuh dan rambut berantakan, Jelita akhirnya keluar dari kamar sambil membawah gelas kosong.


"Baru bangun?"


"Astaga"


Pranggg


Gelas itu jatuh ke lantai menjadi serpihan kristal.


"Awas kena kaki lo" Radit menarik tangan Jelita agar berpindah ke sebelahnya. "Lemah banget sih, pegang gelas saja gak bisa"


"Apaan sih lo. Masih pagi sudah ngajak ribut. Lo yang lemah" hina Jelita balik dengan muka masam.


Radit berjongkok untuk membersihkan pecahan gelas.


"Aishhh" desis Radit sambil menggoyangkan jarinya yang terkena pecahan gelas. Dalam hitungan detik, darah segar mengalir dari jarinya.


Refleks Jelita menutup mulutnya saat melihat jari Radit yang terluka.


"Kak, tangan lo berdarah. Ayo ke kamar gue, biar gue obatin"


Radit duduk di kasur Jelita sembari menunggu adiknya itu mengambil kotak P3K.


"Lo kok ceroboh banget sih, kak. Kenapa gak hati-hati sih? Sok banget bilang gue lemah, lo aja teledor gini" segurat rasa khawatir terlihat jelas di wajah Jelita.


Tangan Jelita telaten membersihkan sisa darah di jemari sang kakak.


"Aahh" desis Radit.


"Sorry kak. Kena ya?"


"Pelan-pelan bisa gak sih ngobatinnya? Bisa gak kalau bantu itu gak usah pakai ngomel?"


"Iya maaf"


Sepasang netra Radit tidak bosan memandang wajah polos tanpa make up gadis di hadapannya. Alis yang melengkung indah, bulu mata panjang, hidung mancung, dan bibir seksi menggoda, keindahan yang tidak akan pernah membuat bosan untuk dipandang lama-lama.


Lo cantik banget, Ta. puji Radit dalam hati.


Jelita bukannya tidak tahu jika Radit sedang menatapnya. Hanya saja ia tidak berani menatap balik wajah itu.


"Nah sudah selesai. Lo sekarang keluar dari kamar gue. Gue mau mandi" ucap Jelita sembari meletakkan kotak P3K ke dalam lemari.


"Sampai kapan lo mau menghindari gue?"


Jelita diam sejenak.


"Gue gak menghindari lo"


"Terus kenapa kemarin lo pulang duluan? Gue ketemu teman lo, Agnes. Jadi lo gak bisa bikin alasan lo gak tahu gue di kampus"


"Gue lagi pengen pulang sendiri saja. Lagian kan gak harus gue sama lo terus?" balas Jelita pelan. Ia masih berdiri membelakangi Radit.


"Tapi mama papa percayain lo sama gue. Jadi kalau lo mau pergi kemanapun harus sama gue?"


"Kak, mau lo apa sih?" Jelita berbalik.


Layaknya singa yang akan menyerang mangsanya. Radit bangkit dari kasur kemudian mendorong tubuh Jelita ke dinding.


"Lo yang maunya apa?" Radit mengertakkan giginya dengan ekspresi dingin.