
Jelita merenung sambil memandang hujan. Berdiri dan bersandar di tiang penopang gedung kampus, Jelita terlihat bosan. Arloji yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 14.30 pm. Tepat pilihannya, menunggu memang pekerjaan yang sangat membosankan. Sudah satu jam lebih ia menunggu namun Radit tak kunjung datang. Satu lagi yang membuat Jelita sangat jengkel, Radit selalu susah dihubungi. Tidak pernah memberi kabar jika terlambat menjemput.
"Apa gue pesan taksi online saja ya? Tapi gue takut, sekarangkan lagi marak berita penumpang taksi online terutama cewek yang dilecehin sama supir" Jelita teringat dengan artikel yang ia baca tadi pagi. Terkadang kepalanya pusing sendiri jika memikirkan nasib cewek yang dilecehkan itu.
"Kak Radit kemana sih? Kok sekarang sering telat jemputnya. Awas ntar gue aduin sama papa. Eh tapi kasian, ntar dia dimarahin sama papa" lanjutnya bimbang sendiri.
Jelita mencoba menelpon Radit lagi tapi tetap tidak ada hasil. Hanya ada balasan dari operator telepon yang mengatakan jika panggilan sedang dialihkan. Jelita tidak mengerti kenapa Radit mengalihkan panggilan telepon. Emangnya sesibuk apa sih, Radit si pengangguran itu? Entahlah, Jelita tidak tahu karena kakaknya itu tidak pernah cerita lagi setelah terakhir Radit curhat tentang kebimbangannya dalam menentukan pilihan untuk pekerjaan yang akan diambil.
"Ta, kamu belum balik?"
"Eh Zain. Iya ni kak Radit belum jemput" Jelita sedikit terkejut karena tiba-tiba Zain ada di sebelahnya. Mungkin karena ia terlalu fokus memperhatikan rintik hujan yang turun jadi tidak menyadari kehadiran Radit di sisinya.
"Gimana kalau aku saja yang ngantar kamu pulang?" tawar Zain.
Jelita diam sejenak. Ia sebenarnya tidak keberatan jika pulang bersama Zain. Tapi masalahnya Radit tidak menyukai Zain. Manusia nyebelin itu pasti akan memarahinya habis-habisan. Itu yang membuat Jelita ragu. Tapi ia juga tidak bisa menunggu tanpa kepastian gini. Radit tidak ada kabar sama sekali. Bagaimana jika ternyata memang dia lupa menjemput?
Ya sudahlah, Radit urusan nanti. Yang penting sekarang gue pulang dulu, pikir Jelita.
Jelita tersenyum sekilas pada Zain lalu mengangguk pelan.
"Ta, gimana kalau kita makan malam dulu?"
"Aku mau sih Zain. Tapi kalau kak Radit tahu gimana? Kamu tahu kan, kak Radit gak suka sama kamu"
Zain menghela nafas. Matanya mengelas malas.
"Ta, kamu sudah besar loh. Apa semua tindakan kamu harus izin dulu sama kak Radit? Sebelum kak Radit balik kesini, kamu bisa melakukan semuanya sendiri. Terus kenapa sekarang apa-apa harus kak Radit? Kamu mau jalan sama aku saja, harus izin dulu sama kak Radit" kata Zain mengeluarkan uneg-unegnya.
"Zain, kenapa kamu jadi nyalahin kak Radit sih?"
"Aku gak nyalahin kak Radit. Tapi coba kamu pikir, sejak ada kak Radit, hubungan kita menjauh. Kita jadi gak bebas buat ketemuan. Bisa gak sih kamu ambil keputusan sendiri tanpa harus melibatkan kak Radit?" sahut Zain.
Jelita mengusap wajahnya. Ia lalu menurunkan kaca mobil. Menghempaskan pundaknya ke jok mobil dan menutup mata meresapi terpaan angin malam yang menyapu kulit wajahnya.
"Ya sudah, ayok makan malam"
"Kalau kepaksa gak usah" balas Zain cepat.
"Ya sudah kalau gitu" sahut Jelita polos.
"Hah! Ya sudah. Cuman gitu doang?"
"Ya terus gimana? Ya kalau kamu lapar mau makan, ayok"
Zain menepikan mobilnya ke pinggiran jalan. Ia memainkan jari-jarinya geram. Entah ini disebut apa? Terlalu polos, menggemaskan, atau tulalit. Yang pasti Zain sangat greget dengan sifat kekasihnya itu.
"Itu artinya kamu kepaksa kan makan malam sama aku?"
"Gak Zain sayang"
Sontak Zain menganga tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. Jarang-jarang gadis di sebelahnya bicara semanis itu.
"Apa, barusan kamu bilang apa?" tanya Zain ingin memastikan jika kupingnya masih normal.
" Gak Zain sayang"
"Ulangi lagi" pinta Zain belum puas.
Seperti bunga yang disirami hujan, senyum sepasang kekasih itu mekar lebar. Tatapan penuh api cinta Zain bisa membakar hati wanita manapun yang melihatnya. Dan Jelita lah wanita yang beruntung bisa mendapatkan cinta sebesar itu dari laki-laki tulus seperti Zain.
"Loh, ini kan jalan ke rumah aku. Katanya mau makan?" tanya Jelita heran.
"Aku sudah kenyang"
"Hmm pasti karena aku bilang sayang kan?"
"Kok tua"
"Kok tahu" balas Jelita membenarkan.
Keduanya pun tertawa lepas. Plesetan itu sudah sangat pasaran tapi tetap saja lucu jika diucapkan tanpa terencana.
"Thank's ya Zain. Dahh, kamu hati-hati nyetirnya. Jangan ngebut"
"Hmm. Kamu masuk duluan. Baru aku jalan"
Jelita kembali tersenyum simpul. Entah kenapa hari ini Zain sangat menyenangkan. Lucu, suka bercanda juga.
"Kemana saja gue selama ini? Kenapa baru sekarang gue melihat sisi Zain yang ini? Apa karena selama ini gue tidak terlalu menganggap ketulusannya? Tapi kenapa gue merasa, masih ada ruang kosong di hati gue?, tanya Jelita dalam hati. "Cinta Zain tidak membuat gue penuh" lanjutnya bergumam.
Jelita....
Zain menarik lengan Jelita tiba-tiba hingga raga sang kekasih menempel di tubuhnya.
"Zain"
"Sussttt" desis Zain meletakkan jari telunjuknya di bibir mungil Jelita.
"Hari itu kamu yang mencuri duluan ciuman pertama kita. Sekarang apa aku boleh mengambilnya kembali?" tanya Zain seraya menangkup wajah Jelita.
Mulut Jelita seketika menjadi keluh. Pikirannya mengawan. Bukannya fokus dengan pria di depannya tapi ia justru memikirkan Radit yang sekarang tidak jelas rimbanya.
"Zain, ini sudah malam" tolak Jelita halus.
Zain tersenyum getir. Ia sadar permintaannya ditolak. Tapi mau gimana lagi? Meskipun ia sangat ingin melahap bibir kekasihnya itu tapi kali ini Zain tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak ingin memaksa. Ia ingin semuanya terjadi karena memang Jelita mau tanpa paksaan.
...***...
Kepulangan Jelita hanya disambut bi Asmi saja. Tidak ada mamanya yang biasa menyambut dirinya dengan senyuman hangat.
"Bi, mama papa mana? Kok sepi banget" tanya Jelita heran. Tidak biasanya rumah sesepi ini.
"Loh neng Jelita gak tahu?"
"Apa bi?"
"Ibu dan pak Surya kan berangkat ke Semarang hari ini"
"Hah! Bukannya besok bi?"
"Bibi juga gak tahu, non. Coba nanti tanya deng Radit saja karena dia tadi yang mengantar bapak dan ibu ke bandara"
Jelita mengangguk mengerti. Pantas saja Radit tidak menjemputnya. Jelita kembali mendial nama Radit di ponselnya. Tapi responnya tetap sama. Ia masih tidak bisa bicara dengan kakaknya itu. Hingga malam menyapa semakin larut, Radit masih belum pulang juga.
Rindu itu menggelayut di sanubarinya. Seharian ini ia tidak melihat wajah Radit. Benar kata orang, jika berdekatan sering bertengkar maka di saat sedang jauh maka barulah merasa kehilangan. Hal itu sedang Jelita rasakan.
"Bi, Jelita sudah pulang?" tanya Radit pertama kali saat menginjakkan kaki di rumah.
"Sudah deng"
"Dia sudah makan?"
"Sudah"
Radit menaiki anak tangga menuju lantai dua. Kemudian masuk ke kamar Jelita. Ia berjalan mengendap dan sangat hati-hati agar tidak membangunkan pemilik kamar yang sedang tidur nyenyak. Ia lalu berjongkok di tepian kasur sambil menatap wajah polos gadis itu.
"Maaf ya, gue gak ngabarin lo hari ini. Maaf juga, gue gak jemput lo hari ini. Tapi gue tahu lo akan pulang dengan aman" tanpa sepengetahuan Jelita, sebenarnya tadi siang Radit menelpon Zain untuk mengantar adik kesayangannya ini pulang. Radit percaya, Zain akan mengantar adiknya pulang dengan selamat.
Radit mengecup lembut kening Jelita sebelum pergi meninggalkan kamar. Namun saat ia baru melebarkan kaki satu langkah, tangannya digenggam seseorang. Tentu saja orang itu Jelita.
"Kak, lo kok jahat banget. Gak kasih tahu gue kalau papa mama pergi hari ini"
Radit kembali berjongkok.
"Gue tahu, lo hari ini ada tiga kelas. Sayang kalau lo harus bolos cuman buat nganterin papa sama mama ke bandara" tutur Radit.
"Ya tapi setidaknya lo kasih tahu gue"
"Iya, gue minta maaf"
Jelita bergerak ke sisi kasur yang lain. Kemudian menepuk bagian kasur yang kosong.
"Sini, lo capek kan" ucapnya sambil menepuk kasur.
Radit melucuti sweaternya juga melepaskan kaos kaki. Setelah itu masuk ke dalam selimut yang sama dengan Jelita.
"Kak, lo jangan ge er ya" Jelita mengalungkan tangannya di perut Radit.
"Apa?"
"Seharian ini gak lihat lo, gue jadi kangen banget sama lo"
Pengakuan Jelita terdengar tulus tanpa ada maksud udang di balik bakwan. Tapi Radit masih saja curiga mengingat selama ini adiknya itu selalu punya cara untuk membuat harinya sial.
"Lo ngerencanain apa lagi?"
"Maksudnya?"
"Biasanya kalau manis begini, lo sedang rencanain sesuatu buat bikin gue kesal" ucap Radit sembari menyingkirkan lengan Jelita dari perutnya.
Jelita kembali mengalungkan tangannya di perut rata Radit. Tidak hanya tangan, kini wajah Jelita menempel manja di dada bidang sang kakak.
"Otak lo kotor banget sih kak. Gue serius, gue kangen sama lo" Jelita mengankat kepalanya dan memandang Radit intens.
"Gue ulangi pertanyaan gue yang kemarin"
Jelita memutar bola matanya. Ia coba mengingat tapi pertanyaan yang mana. Maksud Radit pertanyaan yang mana?
"Apa? Gue gak ingat" ucap Jelita tidak ingat sama sekali.
"Lo mau tidur sama gue?"
Seandainya lo bukan adik gue, sambung Radit membatin.