
Setelah menyelesaikan semua pelajaran hari ini, Jelita langsung bergegas meninggalkan kampus. Ia harus segera pulang ke rumah karena tadi pagi mamanya sempat mengingatkannya agar pulang cepat jika urusannya di kampus sudah selesai. Sambil menenteng beberapa buku di tangan, Jelita melangkah menyusuri lorong menuju gerbang kampus. Namun saat sudah setengah perjalanan, ia melihat sosok insan berlainan jenis berjalan berlawanan arah dengannya.
Zain, Agnes, batin Jelita.
Dahinya berkerut. Aneh rasanya melihat mereka berjalan berdampingan seperti itu. Sejak kapan Zain dan Agnes jadi sedekat itu? Jelita memperlambat lajunya saat dua orang itu semakin dekat padanya. Tiba-tiba Jelita menjadi deg degan, gugup, dan sedikit was-was. Hubungannya dengan Zain berakhir dengan cara yang kurang baik. Sementara itu pertemanannya dengan Agnes memburuk sejak pengakuannya hari itu. Jelita sudah berusaha keras mendekati Agnes agar mau berteman dengannya lagi namun gadis sederhana itu selalu menghindar dengan segala cara. Jelita tidak mengerti, kenapa Agnes berubah tiba-tiba. Jika Agnes marah dengan kelakukannya memutuskan Zain karena pria lain, haruskah selama ini? Bukan Zain yang tersakiti lalu kenapa Agnes bersikap seolah-olah dia juga disakiti.
"Hai Zain. Hai Nes" sapa Jelita begitu berpapasan dengan mereka.
Agnes melengos. Sedangkan Zain diam seribu bahasa seperti biasanya. Suasana canggung ini selalu terjadi saat ketiga anak manusia itu bertemu.
"Hemm gue balik duluan ya" pamit Jelita melewati Zain.
"Begitu cepat kamu menjadi orang asing. Kamu bilang gue. Aku kangen banget sama kamu, Ta" tutur Zain dalam hati. Matanya menatap nanar kepergian pujaan hatinya itu.
"Zain, lo gak papa kan?" tanya Agnes membuyarkan lamunan pria berbadan tegap itu.
Zain memijit area sekitar alisnya. "Gue gak papa. Kita langsung ke kantin saja" ucapnya.
Di tempat lain di sebuah gedung menjulang tinggi, Radit terlihat sedang sibuk menatap layar komputernya. Sesekali ia melepaskan kacamata lalu mengurut kening mulusnya itu. Rasa lelah bergelayut di ujung kepalanya. Terlalu banyak yang harus ia kerjakan. Dan semuanya harus diselesaikan bulan ini juga, mengingat satu bulan lagi sudah memasuki tahun baru. Itu artinya berkas-berkas yang lama harus segera diarsipkan ke gudang. Namun sebelum itu ia harus mengecek berkas terlebih dahulu agar tidak terdapat selisih antara keuangan dan pendapat yang masuk.
"Hah! Gue mending istirahat sebentar" ucapnya sambil berlalu meninggalkan meja kerja yang membosankan itu.
Radit melangkah menuju pantry untuk membuat kopi instant di sana. Setelah itu ia pergi ke tingkat gedung paling atas. Selang kurang lebih satu menit dengan menaiki lift, ia pun sampai di rooftop. Dari tempat ini angin bertiup lumayan kencang hingga membuat rambutnya menari mengikuti arah mata angin. Sambil menyeruput kopi hangatnya, bayangan Jelita yang sedang tersenyum manis melintas begitu saja di kepalanya.
"Dia ada dimana-mana" ucap Radit tersenyum tipis.
Disaat kopinya sudah hampir habis, tiba-tiba ponsel Radit berdering.
"Jelita. Pas banget gue lagi mikirin dia"
📞 Iya, ada apa sayang?
📞 Dih, lo kenapa sih kak? Geli gue dengarnya.
Jelita berdecak heran di ujung telepon. Sedangkan Radit tersenyum semakin lebar.
📞 Ada apa?
📞 Kak, lo dimana sih? Gue di dekat meja kerja lo ni. Mama nyuruh antar makan siang buat lo.
Radit mematikan sambungan sepihak. Ia langsung turun ke lantai dua.
"Bisa gak sih bilang dulu kalau mau matiin telpon" protes Jelita tidak suka atas sikap Radit yang mematikan telpon sepihak.
"Sorry, gue gak mau lo nunggu terlalu lama. Mama atau lo yang masak?" Radit meraih tas kecil dari tangan gadis di hadapannya.
Jelita terdiam sesaat. Wajahnya sedikit ditekuk. Ia marah pada dirinya sendiri karena sampai sekarang kemampuan masaknya masih di situ-situ saja. Selain masak mie instan, telur ceplok, dan rebus air, gadis itu tidak bisa masak apa-apa.
"Udah gak usah sedih. Ntar gue ajarin masak" ucap Radit coba membesarkan hati gadis pujaannya itu.
"Beneran kak?" tanya gadis itu antusias karena ia tahu masakan Radit enak-enak. Ia pun merasa heran, darimana kakaknya itu memiliki kemampuan memasak yang luar biasa itu. Sedangkan seingatnya Radit tidak pernah belajar memasak dengan mamanya di rumah.
"Iya. Lo temanin gue makan" ajak Radit berjalan lebih dulu ke arah lift.
Di rooftop dengan pemandangan gedung pencakar langit, Radit mulai melahap makanannya. Ia tampak sangat menikmati makanan yang tersaji di depan mata. Ada telur dadar, brokoli rebus, dan saos sambal. Semua itu menu favoritnya di rumah.
"Lo gak makan?" tanya Radit di sela makan siangnya.
"Gue sudah makan di kampus" sahut Jelita sembari berjalan pelan ke tepian pagar pembatas.
Seketika rambutnya panjang melayang-layang tertiup angin. Hari ini cuaca memang cukup bersahabat, tidak mendung juga tidak panas. Namun angin bertiup lumayan kencang sedari pagi. Ditambah lagi ini di atas gedung paling tinggi, tentu saja hembusan angin semakin tidak terkendali.
"Kak, apa sebaiknya kita jujur saja sama mama, papa?"
"Tentang?"
"Kita"
Radit merapikan kotak bekal setelah tak ada sisa nasi di sana. Ia mereguh seperempat botol air mineral untuk mengaliri tenggorokannya agar makanan yang ia telan tadi cepat turun.
"Lo sudah siap?" tanya Radit yang menangkap keraguan di bola mata Jelita.
Gadis itu tertunduk tak bersuara. Sebenarnya ia belum siap. Hanya saja rasa bersalah yang menghantuinya membuatnya selalu ingin berkata jujur kepada sepasang suami istri itu.
Jelita menggelengkan kepala. "Enggak"
"Terus?"
"Gue takut kak. Gue takut mama sama papa tahu dari orang lain. Mereka pasti kecewa banget sama kita terutama sama gue. Gue kan bukan...
"Jangan bicara yang akan bikin gue marah. Kita sudah sepakat sama mama dan papa untuk tidak membahas tentang siapa lo" ujar Radit serius.
"Iya, gue minta maaf" sesal Jelita yang hampir keceplosan menjelaskan siapa dirinya. "Tapi kak, memangnya disini boleh ya?"
"Boleh apanya?"
"Lo barusan cium gue" raut muka Jelita sudah bersemu merah. Ia tersenyum malu.
Sikap salah tingkah gadis di depannya membuat Radit tidak dapat menahan tawa. Pundaknya bergetar seiring tawanya yang tak terelakkan.
"Lo kok ketawa? Memangnya ada yang lucu?" gadis itu cemberut tidak suka.
"Tunggu gue di apartement. Kodenya tanggal lahir lo" ucap Radit setengah berbisik.
Sontak saja wajah Jelita semakin merona merah seperti udang rebus. Radit menggunakan tanggal lahirnya sebagai kode pintu apartement. Siapa yang tidak akan berbunga-bunga dispesialkan seperti itu. Ini sangat romantis bahkan terlalu romantis.
...***...
Krekk
Tepat pukul tujuh kurang sepuluh menit, Radit tiba di apartementnya. Ia langsung menanggalkan jas juga dasi yang melingkar di lehernya sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Tidak ada ada tanda-tanda orang lain disini selain dirinya.
"Dia tidak kesini" gumam Radit lirih. Ia sedikit kecewa padahal ia tadinya berharap Jelita menyambut kepulangannya.
Namun samar-samar Radit mendengar suara dari arah dapur. Senyumnya yang tadi sempat hilang, kini merekah kembali begitu melihat gadis bertubuh sintal itu sedang mengaduk sesuatu di dapur.
"Gue pikir lo gak kesini" ucap Radit mendekat dan langsung memeluk gadis itu dari arah belakang.
"Kan lo sudah janji mau ajarin gue masak" sahut Jelita memutar kepalanya 30 derajat. Bibirnyapun langsung disambar bibir pria manja yang sedang memeluknya.
"Yeah"
"Kenapa?" tanya Radit bingung dengan reaksi wanitanya itu. Bukankah mereka sudah sering berciuman!
"Ajarin gue masak dulu" rengek Jelita dengan bibir manyun dan eskpresi manja menggemaskan.
Radit mengangkat tubuh ramping sang gadis. Kemudian melahap bibir merah muda itu layaknya telur dadar yang menjadi makanan favoritnya. Sepasang kekasih itupun berciuman panas saling meluapkan hasrat masing-masing.
Setelah beberapa saat. "Baiklah. Itu lo lagi masak apa?" tanya Radit sambil menarik lengan bajunya sampai sikut.
"Sup telur"
Kening pria itu refleks berkerut.
"Gue baru dengar ada nama makanan sup telur" ucap Radit merasa aneh.
"Tadinya gue mau masak sup ayam. Tapi karena lo suka banget sama telur, jadi ayamnya gue ganti telur"
"Kenapa harus sup?" sambung Radit sambil melirik masakan Jelita di kompor.
"Karena gue tahu bumbunya. Cuman bawang merah, bawah putih, terus lada. Gampang banget kan?"
"Lo tahu darimana kalau bumbu sup begitu?" tanya Radit semakin dalam.
"Dari internet. Kak, lo sebenarnya jadi gak sih ngajarin gue masak? Nanya mulu kayak polisi" timpal gadis itu cemberut.
Dua anak muda yang sedang dimabuk cinta itu saling berbalas senyum seraya tangan tetap fokus meracik makanan. Jelita yang tidak tahu apa-apa dengan dunia masak memasak, terlihat sangat telaten dan seksama memperhatikan tahap demi tahan proses masak yang sedang Radit lakukan.
"Kak, lo bisa masak darimana sih? Kok bisa masakan lo enak-enak?" tanya Jelita penasaran.
"Selama tinggal di New York, gue punya teman dan dia bekerja sebagai chef di sebuah restoran di sana. Gue suka merhatiin dia kalau lagi masak" jelas Radit singkat.
"Ohh gitu. Lo keliatan makin seksi loh kak kalau lagi masak gini" puji Jelita dengan kedipan menggoda.
Sontak Radit pun tersenyum kecil.
"Gak usah mancing-mancing"
"Mancing kan di air. Kalau di kasur beda lagi" timpal Jelita yang membuat pria di sampingnya seketika berhenti melakukan aktivitas.
"Lalu?" sahut Radit menghadap sang gadis.
"Apa?"
Senyum keduanya mengembang lebar. Radit menarik kuat pinggang ramping Jelita lalu mengankat gadis itu ke dalam kamar dengan posisi bridal.