My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Kamu Tidak Berubah



* 4 tahun silam....


Jelita tidak dapat menyembunyikan kesedihannya saat tahu pria yang ia cintai, sekali lagi akan pergi jauh meninggalkan Indonesia. Namun ia tidak bisa berbuat apa- apa dan hanya bisa menyembunyikan tangisan pilunya di balik bantal. Ia meraung dalam kesunyian tanpa suara.


Dengan mata sembab, ia berjalan pelan menuju balkon. Dari tempat itu, kepalanya menengadah ke langit saat sebuah pesawat melintas menembus awan. Matanya berputar mengikuti arah pesawat sebelum akhirnya besi terbang itu menghilang dari pandangan.


"Selamat tinggal kak Radit. Gue harap lo selalu bahagia. Maaf, gue hanya bisa nyakiti lo, kak. Sekarang gue akan melakukan hal yang sama" gumam gadis itu menitihkan air mata perih.


Keesokan harinya, 4 jam sebelum ijab kabul. Jelita memasukkan beberapa pakaian dan sebuah frame foto ke dalam koper. Tekadnya sudah bulat. Ia akan meninggalkan segalanya. Karena tidak mungkin baginya menikah dengan pria lain.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jelita Aliska Wiratan....


"Pa" panggil Laura disertai ekspresi panik.


Sontak ijab kabul itu terhenti. Zain termasuk Surya dan para tamu yang hadir menoleh ke arah Laura yang tampak begitu cantik dengan setelan kebaya modern.


"Ada apa ma?" sahut Surya curiga.


"Jelita tidak ada di kamar pa"


Di tempat lain tepatnya di pinggiran jalan yang tidak jauh dari rumah mewah itu, Jelita sedang memasukkan koper berukuran sedang ke dalam bagasi mobil. Matanya memandang sendu sambil berderai airmata saat mobil berwarna perak itu mulai berjalan melewati rumah besar yang penuh dengan sejuta kenangan dimana ia mendapatkan cinta dan kasih sayang tak terbatas di dalam sana.


"Pa, ma, maafin Jelita. Maaf sudah menghancurkan harapan kalian. Tapi hanya ini yang bisa Jelita lakukan untuk pria yang aku cintai. Selamat tinggal ma, pa" gumamnya dalam hati sambil menyeka air mata.


Gadis itu menyandarkan kepala di jok mobil dengan tatapan nanar.


"Kak Radit, maafin gue. Maaf karena tidak bisa mempertahankan cinta kita. Tapi jika takdir mempertemukan kita lagi, gue janji akan memperjuangkan lo kak. Gue gak akan buat lo kecewa lagi. Saat waktu itu tiba, gue pastikan tidak akan ada yang menghalangi gue untuk lari ke pelukan lo kak. Dan gue harap, gue masih punya kesempatan untuk melakukan itu" lanjutnya membatin lirih.


Mobil itu semakin menjauh meninggalkan kawasan elit dimana beberapa rumah mewah berjejer di sana. Di dalam kendaraan roda empat yang sedang berjalan itu, mata sang gadis terpejam rapat bersama gemuruh di dada yang masih menggebu. Ada rasa lega juga bersalah di benaknya. Kini ia akan memulai kehidupan baru tanpa keluarga dan tanpa cinta dari pria yang sangat mencintainya.*


Rintik hujan yang turun semakin intens membuat tanaman yang tadinya layu karena sinar matahari, kini segar kembali. Jelita menyeduh kopi hangatnya sambil memandang ke luar gedung dari balik dinding kaca.


"Gue pikir pertemuan kita akan membawa lo kembali kak. Tapi gue salah, lo sekarang jauh kak. Bahkan terlalu jauh hingga gue tidak bisa menjangkaunya. Lo sudah menjadi milik orang lain kak. Jika gue berharap kita bersama seperti dulu, bukankah itu salah?" gumamnya tersenyum getir sembari menghabiskan sisa kopi.


"Apa perusahaan ini menggaji karyawannya untuk menikmati kopi saja?"


Suara lantang dan berat itu seketika mengalihkan pandangan Jelita. Ia pun berbalik dan tersenyum tipis begitu melihat sosok pria di depannya.


"Maaf pak, tapi ini masih jam istirahat" sela Jelita seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kamu mau ngajarin saya lagi?" timpal Radit.


"Mana berani saya melakukan itu. Ada apa pak? Tumben pak Radit nyamperin saya? Biasanya mbak Laras yang menyampaikan pesan pak Radit buat saya" ucap Jelita sembari berjalan mendekati pria itu.


"Banyak omong. Ikuti saya" titah Radit dingin.


Sampainya di lantai dasar gedung, Radit melanjutkan langkah menuju mobil. Sementara itu, Jelita yang mengekor di belakang sang CEO terlihat kebingunan. Apalagi saat pria itu memintanya untuk masuk ke dalam mobil. Ia pun hanya bisa menurut patuh tanpa berani bertanya.


"Pak, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Jelita tanpa melihat pria di sebelahnya.


Radit tidak menanggapi. Ia diam seribu bahasa. Kurang lebih satu jam perjalanan, mobil itu berhenti di daerah hijau yang ditumbuhi banyak pohon rindang yang menjulang ke langit.


Jelita mengerutkan dahi. Ia semakin tidak mengerti. Kenapa Radit membawanya kesini?


"Ini tempat apa pak?" tanyanya ane memandang tempat yang ia pijaki saat ini. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan dan rerumputan hijau.


"Disini saya akan bangun gedung baru, khusus untuk produksi. Ini termasuk project besar. Alasan saya membawa kamu kesini karena saya akan menyerahkan project ini sepenuhnya kepada kamu. Kamu harus bekerja keras. Karena jika kamu gagal maka taruhannya pekerjaan kamu. Kamu akan dipecat secara tidak hormat dan tanpa pesangon" tutur Radit tanpa melirik lawan bicaranya. Mata coklat pria itu fokus memandang hamparan rerumputan hijau di depan mata.


Sedangkan gadis di sebelahnya tampak terkejut dengan mata membelalak.


"Pak Radit sengaja kan menyerahkan project ini kepada saya karena pak Radit tahu saya akan gagal. Sebesar itu niat pak Radit ingin menyingkirkan saya?" sela Jelita melempar tatapan tajam ke arah Radit.


"Jika kamu merasa akan gagal, itu artinya kamu memang tidak pantas bekerja di perusahaan saya. Itu artinya yang saya pikirkan tentang kemampuan kamu sejak awal, benar" timpal Radit kasar. Ia masih enggan melihat gadis di sampingnya.


"Kenapa pak Radit selalu melibatkan masa lalu dalam mengambil keputusan untuk saya?"


"Ini masih jam kerja. Jadi saya tidak akan menjawab pertanyaan itu" sahut Radit tetap konsisten dengan mimik datar dan suara berat.


Gadis itu tersenyum memaksa seraya mengarahkan pandangan ke tempat lain. Ingin rasanya ia menangis untuk meluapkan kekesalannya. Tapi mungkin tangisannya tidak akan ampuh lagi untuk meluluhkan hati pria dingin itu.


"Berikan saja project ini untuk orang lain. Pak Radit tidak perlu repot-repot merancang rencana untuk memecat saya. Mulai sekarang saya berhenti bekerja" Jelita tercekat membuat ucapannya terhenti sesaat. "Selamat usaha pak Radit sudah berhasil. Maaf, 4 tahun yang lalu, saya tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Sekarang saya akan berpamitan langsung" ucapannya kembali terhenti. Jelita mengigit kuat bibirnya agar airmata yang sudah di ujung pelupuk mata tidak menitih.


"Selamat tinggal, Radit"


Jelita berbalik badan sambil menyeka airmata. Kakinya melangkah perlahan bersama rasa sakit yang bergelayut di dada.


"Kamu tidak pernah berubah" pekik Radit nyaring.


Seketika langkah gadis itu berhenti.


"4 tahun yang lalu dan sekarang, kamu sama saja. Dulu kamu menyerah dan meninggalkan saya. Sekarang juga" timpal pria itu lantang.


Bagai ditampar bolak balik, Jelita tidak sanggup lagi menyembunyikan airmatanya di depan sang pujaan hati.


"Dulu dan sekarang itu berbeda. Dulu Radit milik Jelita. Tapi sekarang....., Jelita menelan salivanya sambil menutup mata. "Hah...sudahlah. Ini masih jam kerja. Saya balik kantor duluan pak untuk membereskan barang-barang saya" lanjutnya mencoba untuk tetap tegar.


Radit tersenyum marah sambil menggelengkan kepala. Kemudian berjalan cepat dan menarik paksa tangan Jelita.


"Pak lepasin saya"


"Ternyata otak kamu itu masih setengah, bodoh" hardik Radit dengan sinar mata menyala.


"Pak Radit menghina saya?"


"Iya"


"Brengsek"


Bugg


Dengan keras, Jelita menendang alat vital Radit yang sangat berharga itu. Sontak Radit mengerang kesakitan sambil memegang bagian bawahnya. Tubuhnya terhuyun ke tanah.


Melihat ringisan sakit di wajah Radit membuat Jelita iba dan merasa bersalah. Sepertinya ia terlalu keras menendang alat yang sangat penting itu.


"Pak Radit maaf. Kekerasan ya?"


Hah!


Radit coba mencerna kalimat terakhir sang gadis. Apa itu kekerasan? Kata-kata itu agak rancu dan bisa membuat orang salah mengartikan.


"Sini saya bantu pak. Pak Radit bisa berdiri kan?"


"Bisalah. Saya masih normal" sahut Radit nyeleneh.


Mata Jelita mengelas malas. "Maksud saya bukan itu yang berdiri pak. Ayo berdiri"


"Caranya?" tanya Radit bercanda.


"Pak, saya serius" sela Jelita mulai resah. "Harusnya saya tadi langsung pergi saja. Mau dibantuin gak?"


"Gak usah. Saya bisa jalan sendiri. Lagian kamu bukan karyawan saya lagi. Saya tidak suka dibantu orang asing" ucap Radit sambil menyingkirkan daun kering di pinggulnya.


"Saya tidak jadi berhenti" balas sang gadis sembari berjalan lebih dulu untuk menyembunyikan rona di wajahnya.


"Dasar plin plan" gumam Radit diiringi senyum tipis misterius.