
"Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang melapisi rahim tumbuh di luar rahim. Efeknya sakit berlebihan saat menstruasi, darah yang keluar juga terlalu banyak, dan yang paling fatal akan sulit mempunyai anak"
Bagai tersambar petir di siang bolong yang terik, Jelita hanya bisa bengong dengan airmata membasahi kulit wajahnya. Ia keluar dari ruangan dokter dengan rasa sakit yang luar biasa. Langkahnya gontai tidak terarah. Batinnya benar-benar terpukul saat tahu jika dirinya akan sulit mempunyai keturunan.
...***...
Setelah keluar dari rumah sakit, Jelita menghabiskan waktu senggangnnya dengan melamun. Waktu 3 hari yang diberikan perusahaan pasca sakitnya tidak membuatnya lantas ingin bersenang-senang. Ia justru lebih sering berdiri di pinggir jendela dengan pikiran melayang-layang seperti lembaran kertas yang tersapu angin.
"Kak Radit" Jelita selalu menangis pilu setiap menyebutkan nama itu. Dadanya masih terlalu sesak saat mengingat penyakit yang bersarang di tubuhnya. Penyakit mengerikan yang kemungkinan membuatnya tidak bisa memberikan keturunan untuk pria yang akan menjadi suaminya nanti.
Di ruangannya, Radit terlihat cemas dengan wajah suntuk sambil memandang layar ponselnya. Entah sudah berapa kali ia menelpon Jelita tapi tidak ada satupun panggilannya dijawab. Radit pun menjadi khawatir karena sejak keluar dari rumah sakit, Jelita menjadi sangat pendiam dan sering murung dengan raut sedih seperti sedang menahan airmata.
Apa Jelita baik-baik saja? Semenjak keluar dari rumah sakit, dia lebih banyak diam. Dia biasanya banyak bicara, batin Radit gelisah sembari memijit pelan keningnya.
Tidak ingin dihantui rasa cemas terus menerus, Radit meninggalkan ruangannya. Ia dengan tidak sabar menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai untuk melepas rindu pada sang kekasih. Selain itu ia juga sangat khawatir dengan kondisi Jelita yang tinggal sendirian di kontrakan.
Tok! Tok! Tok!
"Kak Radit. Jam segini kok sudah datang?" Jelita melirik suasana di luar yang terlihat masih terang.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Radit sambil menyodorkan kantong putih.
"Semakin membaik. Apa ini kak?" tanyanya sembari mengambil kantong dari tangan Radit.
"Makanan sehat"
Mata Jelita mengelas malas. "Ngeledek ya?"
"Lo gak makan mie lagi kan?" sahut Radit menyelidik.
"Gak. Gue gak akan makan makanan seperti itu lagi. Gue janji sama lo kak, mulai sekarang gue hanya akan makan makanan yang lo pilih saja" ucap Jelita tersenyum lembut. "Kak"
"Hmmm"
Jelita duduk di sebelah Radit.
"Gue kayaknya belum siap nikah deh kak"
Radit langsung berdiri dan keluar dari kontrakan itu.
"Kak Radit mau kemana?" tanyanya seraya menarik tangan pria kekar itu.
Hahh...
Wajah Radit tertunduk setelah membuang nafas panjang. Amarahnya sedang bergejolak sekarang. Dan saat ini ia berusaha meredam itu.
"Kak dengerin gue dulu. Gue gak nolak lo kak. Tapi gue belum...
"Sekarang apa lagi masalahnya? Semuanya sudah siap. 80% sudah rampung. Apa semuanya harus dibatalkan?" Radit berusaha keras mengendalikan diri agar emosinya tidak meledak.
Mendengar itu, Jelita hanya tertegun. Ia tidak menyangka jika niat Radit untuk mempersuntingnya sudah sejauh itu. Ia tidak tahu apa-apa jika semuanya sudah hampir selesai. Sejak Radit mengutarakan niat untuk menikah, ia pikir itu tidak serius. Dan kalaupun benar itu terjadi, mungkin tidak secepat ini, pikir Jelita.
"Kak...hahh" Jelita menghela nafas berat. "Gue bukan wanita yang sempurna untuk lo, kak" tambahnya menatap nanar pria tampan itu.
Seketika dahi Radit berkerut, pupil matanya mengecil. Ia tidak mengerti maksud ucapan gadis di depannya.
"Gue gak bisa kasih tahu lo sekarang kak. Gue masih butuh waktu"
"Kalau begitu pernikahan kita akan dilakukan sesuai rencana awal" balas Radit tegas.
Sang gadis menggapai tangan keras Radit dan mengenggamnya erat-erat.
"Kak, gue benar-benar gak bisa kasih tahu lo sekarang alasannya. Kalau gue bicara sekarang, gue pasti nangis kak" mata Jelita berbinar-binar. Sangat jelas ia sedang berusaha keras menahan airmata yang sudah di ujung mata itu.
Melihat airmata yang perlahan menitih dari pelupuk mata indah kekasihnya itu membuat Radit tidak tahan. Ia pun menarik tubuh yang terlihat rapuh itu ke dalam dekapan hangatnya. Seketika tangisan Jelita akhirnya pecah. Tangisan pilu menyayat hati yang akan membuat siapapun menaruh iba.
Gue mendengar semuanya. Seharusnya lo cerita sama gue. Dan berbagi kesedihan lo sama gue. Tapi kenapa lo memendam semuanya sendiri?, batin Radit lirih sambil mengeratkan dekapannya.
Kak Radit, gue gak bisa kasih keturunan untuk lo, kak. Gue harus gimana? Gue gak mau kehilangan lo lagi kak. Gue takut lo ninggalin gue, sambung Jelita membatin perih.
Hari-hari berikutnya, selain disibukkan dengan pekerjaan di kantor, Jelita juga aktif mencari obat penyubur. Mulai obat yang disarankan dokter sampai obat herbal dari artikel yang ia baca, semuanya ia telan tanpa pikir panjang. Ia ingin penyakit itu hilang sebelum menerima pinangan Radit. Bagaimanapun, selain cinta, tujuan menikah ialah ingin punya anak. Cinta tulus Radit tidak lantas membuatnya besar kepala lalu tidak melakukan apa-apa. Jelita bertekad akan terus berusaha sampai diagnosa dokter itu berubah.
Pukul 12.00 siang setelah makan, Jelita tidak pernah lupa untuk minum obat yang dianjurkan dokter. Tak lupa ia selalu mengecek keadaan sekitarnya sebelum meminum obat itu. Ia takut Radit tiba-tiba muncul karena pria itu selalu ada dimana-mana. Dan hari ini ketakutannya itu terjadi. Radit sedang memperhatikannya dari arah belakang. Sudah lama, sejak ia melangkah ke tingkatan lantai paling tinggi tersebut.
"Hemm...obat apa itu?" tanya Radit mendekat.
Jelita tersentak. Ia menjadi kikuk dan salah tingkah, persis seperti orang yang ketahuan mencuri di dalam rumah sendiri. Seraya menguasai diri, ia secara halus menyembunyikan sisa obat ke dalam saku blazer.
"Kak Radit, sejak kapan lo di situ?" tanyanya gugup.
"Jawab. Obat apa itu?"
Mendadak tangan Jelita gemetar. Ia sangat tidak siap jika Radit tahu tentang kondisinya sekarang. Saat pria di depannya bergerak semakin dekat, Jelita bergerak mundur untuk menghindar. Tatapan Radit yang tajam seperti anak panah membuatnya bergedik ngeri. Hal yang kemudian membuatnya semakin tidak bisa berkata apa-apa.
"Kak, gue turun duluan. Gue mau balik kerja" ucapnya bermaksud meninggalkan rooftop.
Namun tarikan Radit terlalu kuat hingga menggiringnya kembali ke tempat tadi. Radit kemudian merebut paksa obat di dalam saku blazer yang dikenakan Jelita.
"Kak, lo apa-apaan sih?" Jelita berusaha merebut kembali obatnya. Tapi usahanya itu sia-sia, posisi tangan Radit yang ditarik ke atas, terlalu tinggi untuk digapai.
"Sudah cukup" ucap Radit seraya melempar obat itu sembarang hingga berceceran di lantai.
Jelita terkejut, matanya melotot. Ia kemudian duduk bersimpuh untuk memungut obat-obat itu.
"Hentikan" cegah Radit marah dan mencengkram kuat pergelangan tangan Jelita.
Sang gadis memberontak keras. "Kak lepasin tangan gue. Lo gak tahu, obat itu penting banget buat gue"
Pria memakai kemeja putih motif garis-garis itu tak bergeming. Matanya menyoroti dalam raut menyedihkan gadis cantik di hadapannya. Di satu sisi, Jelita mulai menangis. Sorot penuh cinta kekasihnya itu membuat Jelita sangat tersiksa. Ia merasa kasihan pada pria yang sangat dicintainya itu.
"Ayo kita menikah. Tidak punya anak, tidak apa-apa" ucap Radit dengan netra berbinar.
Deg!
Lagi-lagi Jelita merasa disambar petir di siang bolong. Ia menatap sang pria dengan pertanyaan besar yang bergelayut di ujung kepalanya.
"Maksud lo apa sih kak?" tanyanya sambil menyeka airmata pilu.