My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Pengantin Baru



Radit dan Jelita menunjukkan cincin emas putih yang melekat di jari manis mereka. Melihat itu, Laura pun mengerti jika pasangan di depannya sudah terikat dalam komitmen pernikahan. Sontak dada wanita yang tahun ini berumur 47 tahun itu bergemuruh. Ia merasa panas seperti ada yang sengaja memercikkan api di dalam sanubarinya.


"Kami sudah menikah, ma" ungkap Radit.


Plakkk


Tamparan keras melayang bebas menerpa wajah Radit. Tindakan cukup kasar itu meninggalkan bekas tangan di wajahnya. Sementara itu, Jelita refleks menutup rapat mulutnya dengan mata melotot. Emosinya terpancing saat melihat sang suami dipukuli seperti itu.


"Ma, tolong jangan pukulin kak Radit. Dia suamiku" sela Jelita di tengah amarah Laura.


Radit menoleh pada wanita berani yang berdiri di sebelahnya. Ia tersenyum lega mendapat pembelaan dari wanita yang baru beberapa hari ia nikahi.


"Thank you sayang" ucapnya seraya mengecup punggung jemari sang istri.


Radit dan Jelita bergenggaman tangan erat, saling menguatkan.


"Menjijikkan" hardik Laura melengos dengan lirikan ngeri. "Kamu tidak punya hak lagi di rumah ini. Perusahaan, apartement, mobil, semua fasilitas yang kamu gunakan sekarang, bukan milik kamu lagi" tambahnya tegas.


Hah!


Radit menghela nafas pendek lalu menggelengkan kepala sembari tersenyum miring.


"Perlu mama ingat, mama hanya punya aku. Selain aku, siapa yang akan mengurus perusahaan. Jadi mama tidak punya pilihan lain. Lagian hanya aku yang tahu seratus persen tentang perusahan. Mau tidak mau, suka tidak suka, mama harus memilih aku untuk memimpin perusahaan" ujar Radit lugas dan lantang.


Mata Laura mengelas malas sambil menarik nafas pasrah. Semua ucapan putranya benar. Ia memang tidak punya kandidat lain untuk memimpin perusahaan.


"Untuk apartement, memang papa yang beli tapi aku juga ikut membayar cicilannya. Jadi apartement itu juga milikku. Selain rumah ini, kami tidak punya tempat tinggal" Radit mengenggam tangan Jelita kembali. " Apa mama tega membiarkan kami tidur di jalanan?" sambungnya berusaha menahan tawa begitu melihat raut Laura yang tiba-tiba berubah murung.


Aku sangat mengenal mama. Mama tidak akan membiarkan kami kesusahan, ucap Radit dalam hati disertai senyumannya yang sangat tipis.


Jelita yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dari perdebatan ibu dan anak itu hanya bisa menahan senyum. Ia kagum dengan keberanian dan ketegasan sang suami.


"Dan untuk mobil. Mobil itu atas namaku. Jadi mama tidak bisa mengambilnya" sambung Radit menyudahi pembelaannya.


Tidak ada sanggahan dari Laura. Ia terdiam sambil menyilangkan tangan di dada memperlihatkan ekspresi angkuh. Ucapan Radit membuatnya tak bergeming dan tidak bisa berkata-kata. Apa yang harus ia bantah? Karena nyatanya semua harta benda yang dimilikinya saat ini tentu saja akan menurun pada sang putra. Namun di satu sisi, kemarahannya pada Jelita tidak pernah padam. Kematian sang suami secara tragis membuatnya tidak bisa menerima kembali anak yang waktu kecil pernah ia rawat itu.


"Pergi kalian dari sini. Dan untuk kamu Radit, jangan pernah kembali sebelum kamu menceraikan istri kamu" ucap Laura sangat mengerikan.


Sontak Jelita terkejut mendengar kata-kata itu. Hatinya bagai tersayat sembilu. Ia tidak menyangka jika Laura begitu membencinya sampai tega berharap buruk tentang pernikahannya yang baru seumur jagung. Tak terasa airmatanya menitih begitu saja.


Mama sangat tega, batinnya perih.


"Ayo kita pergi" ajak Radit menarik tangan Jelita.


Sampainya di apartement, Jelita langsung membaringkan diri di atas kasur. Ia meringkuk seperti orang kedinginan. Sambil menangis, ia berusaha menahan suaranya agar Radit tidak mendengar.


Sementara itu, Radit pergi ke dapur untuk membuat segelas teh hangat. Ia bukannya tidak tahu jika di dalam kamar, sang istri sedang menangis. Hanya saja, ia ingin memberi waktu pada Jelita untuk meluapkan segala sakit hatinya dengan menangis.


"Sudah selesai nangisnya?" tanya Radit sembari menyodorkan kopi.


"Siapa yang nangis?" sahut Jelita sambil meraih gelas dari tangan Radit. Ia kemudian menyeruput minuman hangat itu.


Radit duduk di tepi ranjang dan membelai lembut kepala sang istri.


"Maafin mama ya. Kamu tahu mama kan? Dia sangat menyayangi kita. Mungkin kita harus bersabar lebih lama lagi. Kamu mau kan?" tuturnya lembut.


Jelita mengangguk pelan. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas memperlihatkan senyum manisnya yang sangat menawan.


"Cantik" puji Radit terpesona sembari memandang intens bibir merah menggoda di hadapannya.


Radit pun mengipas-ngipas dadanya dengan baju yang ia kenakan. Pandangannya beralih ke arah jendela.


"Aishh kenapa di sini dingin sekali"


Jelita tertawa geli melihat tingkah konyol namun menggemaskan sang suami.


"Dingin kok kipas-kipas" sela Jelita sambil merapatkan tubuh pada pria seksi di depannya. "Panaskan maksudnya?" lanjutnya mulai melepaskan kancing baju yang terpasang di raga sang suami.


Radit pun tersenyum devil dengan pupil mata mengecil, seperti sedang membidik sesuatu. "Good wife" pujinya dengan alis tertarik ke atas. Ia menarik dagu oval wanita agresif di hadapannya lalu mengecup bibir itu dengan gerakan memutar.


Pengantin baru itu kembali bercinta panas dengan tempo cepat dan durasi yang lebih lama. Seakan tidak mengenal waktu dan lelah, mereka kembali bersetubuh setelah mendapatkan pelepasan pertama. Hari itupun mereka habiskan hanya di apartement saja dan melakukan aktivitas bercinta intens layaknya pengantin baru pada umumnya.


"Kak, ini sudah malam. Aku lapar" keluh Jelita sembari mengelus perut ratanya.


"Oke, kita mandi dulu"


"Kita makan di luar. Aku sudah memesan meja untuk kita"


"Serius? Kapan pesannya? Kan sepanjang siang tadi, kita melakukan itu" cercanya heran.


Radit yang berdiri di samping kasur sedikit membungkukkan badan "Bersiaplah. Setelah ini masih banyak kejutan" ujarnya sesudah mencium singkat bibir sang istri.


Mendengar suara seksi suaminya membuat Jelita kembali bergairah. Ia mulai berpikir liar, ingin kembali berkeringat karena permainan sang suami.


Ya Tuhan, gue beruntung banget punya suami tampan dan gagah seperti kak Radit, batinnya sambil memandang bangga punggung lebar Radit yang sedang berjalan ke kamar mandi.


"Ayo masuk. Kita mandi bareng" ajak Radit sambil mengedipkan mata kirinya.


Jelita tersipu malu dengan wajah merona merah. "Ayo" sahutnya antusias.


...***...


Radit tidak bisa lama-lama libur bekerja meskipun ia pemimpin perusahaan. Hari ini ia kembali ke kantor dan langsung disibukkan dengan berbagai berkas dan permasalahan kecil yang terjadi selama cutinya beberapa hari.


"Laras, segera kirimkan email kepada pak Rudi" titah Radit.


"Baik pak"


"Satu lagi, telpon pak Dandy. Tanya tentang perkembangan terbaru perusahaan Group A.K.U" lanjutnya seraya fokus mengetik sesuatu.


Di lantai dua, Jelita terlihat takkala sibuk dari Radit. Matanya membidik ke depan komputer memperhatikan angka-angka dan garis menukik ke atas dan ke bawah itu. Satu setengah jam berlalu, Jelita merasa lelah dan sedikit mengantuk, ia bangkit dari kursi dan melangkah ke arah pantry untuk membuat kopi.


"Kak Radit gimana ya? Apa dia juga ngantuk? Gue buatin dia kopi gak ya? Tapi biasanya kopi kak Radit sudah disiapin" di tengah keraguan itu, tiba-tiba tangannya di tarik seseorang ke salah satu sudut yang jarang dilewati orang-orang.


"Susstt" desis Radit menempelkan jari telunjuk di bibir Jelita.


"Kak Radit. Ngapain sih? Nanti dilihat orangnya" ucapnya setengah berbisik.


Radit tetaplah Radit dengan pergerakannya yang sulit ditebak. Tanpa bicara panjang lebar, pria itu mengecup penuh nafsu bibir karyawan juga istrinya itu. Sedangkan Jelita hanya bisa pasrah dan membalas sentuhan lembut sang suami.


"Kak, ini di kantor. Malu kalau dilihat yang lain" ujar Jelita cemas sambil menoleh kanan kiri.


"Kenapa harus malu? Semua orang sudah tahu, kamu istriku" balas Radit tetap santai. Ia kembali mengecup bibir candunya itu.


"Hemm"


Suara deheman sontak membuat Radit dan Jelita langsung sedikit menjauh. Keduanya tersentak begitu tahu orang yang menggangu aktivitas intim mereka tadi.


"Mama" ucap mereka serempak.


"Gak tahu malu. Lakukan itu di tempat lain" teriak Laura kesal.


"Mama kayak gak tahu pengantin baru saja" timpal Radit cengengesan.


Jelita mencubit geram pinggang Radit, memberi isyarat agar suaminya itu diam dan tidak terus membalas ucapan Laura.


"Saya mau bicara"


"Oke. Kita bicara di ruanganku saja, ma. Sayang aku sama mama ke atas dulu ya" ucap Radit sambil mencolek nakal bokong sang istri. Tingkah Radit itupun membuat Jelita hanya bisa geleng-geleng kepala.


Laura berjalan lebih dulu dan Radit mengekor di belakang. Sedangkan Jelita masih berdiri di tempat semula.


"Kamu juga ikut" titah Laura seraya melirik kepada Jelita yang langsung ditanggapi dengan anggukan.


Di ruangan CEO,


"Ada apa, ma? Sepertinya yang akan mama katakan sangat penting sampai langsung ke kantor" Radit memasukkan jari-jarinya di sela jemari Jelita.


"Beri saya cucu. Mungkin dengan begitu saya akan merestui kalian"


Deg!


Jelita refleks menutup mulutnya. Punggungnya seperti dihentakkan ke dinding mendengar permintaan yang sulit ia kabulkan itu. Menyadari kepanikan Jelita, Radit segera mengeratkan genggamannya.


"Kak" Jelita menatap nanar netra sang suami kemudian menggelengkan kepala.


Radit mengangguk pelan. "Bisa" ucapnya yakin.