My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Hancurnya Pertemanan



Jelita segera memasukkan beberapa buku ke dalam tas ranselnya yang berukuran sedang. Matanya sekilas melirik ke arah Agnes yang juga sedang melakukan hal yang sama sepertinya. Ia ingin bicara empat mata dengan temannya itu. Sudah cukup Agnes mendiamkannya selama seminggu ini. Pasti ada alasan kenapa Agnes tiba-tiba berubah?


"Nes, tunggu. Kita harus bicara" cegah Jelita menggapai lengan gadis sederhana itu.


"Lo mau bicara apa lagi sih?" sahut Agnes sinis.


"Salah gue apa, Nes? Kenapa lo jauhin gue?"


"Lo masih nanya salah lo apa?" sambar Agnes mengelas malas. " Gue gak bisa ya berteman dengan orang tukang selingkuh kayak lo. Zain pria yang baik. Tega banget lo nyakitin dia" ucap Agnes menghardik kasar.


"Gue gak nyakitin lo kan? Terus kenapa lo berasa korban banget disini? Dan lo gak bisa segampang itu bilang gue tukang selingkuh kalau lo sendiri gak tahu kejadiannya" bantah Jelita menolak keras pernyataan gadis di hadapannya.


Agnes melengos sinis. Tangannya menyilang di dada seakan ingin menantang gadis berparas cantik yang berdiri berhadapan dengannya.


"Gue muak sama lo, Ta. Sejak dulu lo sok polos...


"Maksud lo apa sih Nes?" sambar Jelita heran.


"Lo pikirin sendiri. Gak usah bicara sama gue lagi. Gue sudah muak sama lo" Agnes melebarkan kaki melewati Jelita namun pertanyaan gadis di belakangnya membuat langkahnya terhenti seketika.


"Bukannya lo yang sok polos. Gue tahu lo suka sama Zain" seru Jelita lantang.


Mata Agnes terbelalak. Ekspresi wajah merasa paling benarnya tadi seketika sirna. Ia pun menoleh perlahan dengan deguban jantung tak karuan. Bibirnya terasa keluh hingga membuatnya sulit bicara.


"Gue tahu lo suka sama Zain, jauh sebelum gue jadian sama Zain. Hanya saja...


"Terus lo memilih diam dan membiarkan gue sakit hati melihat kemesraan kalian. Tega lo, Ta" timpal Agnes mulai berkaca-kaca.


Melihat teman karibnya menitihkan airmata membuat Jelita tidak mampu menahan airmata yang sedari tadi ia tahan. Bulir bening di pelupuk matanya mengalir begitu saja . Gadis itu melangkah perlahan menghampiri teman seperjuangannya itu.


"Gue sudah menolak Zain berulang kali sebelum menerimanya. Karena gue tahu perasaan lo sama Zain. Tapi dia terus datang. Gue gak bisa nolak dia terus-terusan, Nes. Gue gak bisa sekejam itu. Tolong mengerti posisi gue, Nes" jelas Jelita pelan-pelan sambil menyentuh bahu gadis yang sedang menangis di depannya.


Agnes langsung menyingkirkan kasar tangan Jelita. Tatapannya membara layaknya kobaran api yang siap melahap benda apa saja di sekitarnya.


"Gue selalu ngertiin lo. Termasuk ngertiin sikap sok polos lo itu. Tapi apa lo pernah ngertiin gue. Lo tahu gue muak setiap kali lo minta gue kirimin lo lembar jawaban. Gue muak menjawab semua pertanyaan lo tentang pelajaran di kampus. Gue muak setiap kali melihat lo senyum-senyum sama Zain. Lo dengar gue? Gue muak melihat semua yang lo lakuin, Ta" ujar Agnes menggebu. Tangisannya kian menjadi takkala mengingat betapa menyedihkannya ia selama ini. Dua tahun lamanya ia memendam rasa kepada pacar sahabatnya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan lagi, temannya itu tahu perasaannya.


"Jadi seperti itu lo nganggap pertemanan kita selama ini, Nes?" tanya Jelita menatap nanar. "Kalau lo keberatan, seharusnya lo protes. Kenapa baru mengunkitnya semuanya sekarang? Dan Kenapa lo gak ngungkapin perasaan lo sama Zain?" lanjutnya menuntut penjelasan.


Gadis berpenampilan sederhana itu membisu. Wajahnya tertunduk sambil sesekali menyeka airmata. Ia malu mengatakan jika keadaan ekonomi keluarganyalah yang menjadi batu sandungan kenapa ia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada lelaki yang ia sukai itu.


Gue minder sama lo, Ta. Lo punya segalanya. Wajah yang cantik, keluarga yang harmonis, dan lo punya lelaki yang sangat mencintai lo. Jadi mana mungkin gue berani mendekati Zain yang levelnya berbeda sama gue Ta, batin Agnes pilu.


"Gue kecewa sama lo, Nes. Gue pikir lo tulus nganggep gue teman lo. Seandainya lo lebih berani ngungkapin perasaan lo, mungkin gue sama Zain gak akan pernah pacaran. Itu karena gue tulus menganggap lo teman" Jelita akhirnya pergi meninggalkan temannya itu dengan perasaan yang bergemuruh di dada. Ia sangat kecewa dengan cara Agnes menilai pertemanan mereka selama ini.


Sedangkan Agnes tetap membisu sampai detik ini. Ia pun juga merasa kecewa. Namun kecewanya bukan karena Jelita melainkan karena perkataannya yang telah menyakiti hati teman karibnya itu hingga membuat nasib pertemanan mereka di ambang kehancuran.


Sementara itu di sudut kampus di balik tiang besar tanpa Jelita dan Agnes sadari, ada seorang pria yang telah memperhatikan pertengkaran mereka. Pria itu yang menjadi objek utama kenapa mereka sampai bertengkar hebat seperti ini.


Jadi selama ini kamu menganggap perasaanku apa, Ta? Pernahkah kamu mencintaiku?, batin Zain perih.


...***...


Di sebuah salah satu Restoran mewah yang terletak di tengah ibukota. Terlihat Radit dan surya duduk berseberangan menghadap meja bundar. Anak dan ayah itu sedang menunggu menu yang mereka pesan tiba.


"Pa, memang papa mau bicara apa? Kenapa harus disini?" tanya Radit heran.


"Sabar, nanti juga kamu tahu" balas Surya terkesan cuek dengan rasa penasaran putranya itu.


5 Menit kemudian,


"Nah itu mereka datang" ucap Surya sambil menoleh ke arah gadis cantik bersama pria paruh baya sedang berjalan ke arah mereka.


"Maksudnya apa pa?"


"Sudah diam dulu"


"Siang om" sapa Nayla tersenyum manis. "Siang, Dit" tambahnya ramah.


"Surya, kamu apa kabar?" tanya Anton menyalami tangan rekan bisnisnya itu.


"Baik. Silakan duduk"


Tak lama setelahnya, dua pelayan datang dan menaruh berbagai makanan di atas meja. Makanan itu terlihat sangat menggiurkan namun sayang selera makan Radit sudah hilang. Ia tahu maksud papanya mengundang Nayla makan bersama seperti ini. Apa lagi kalau bukan karena keinginan Surya yang kekeh ingin menjodohkan Radit dan Nayla.


Radit sangat tidak nyaman dengam situasi ini. Rasanya ingin sekali ia kabur dari acara makan siang membosankan ini. Ia pun tidak terlalu menggubris saat Surya terus memuji kelebihan Nayla. Radit tahu, itu hanya strategi papanya agar ia luluh dan menerima perjodohan itu.


"Gimana Dit menurut kamu? Nayla gadis yang hebat kan? Jarang loh zaman sekarang, ada gadis yang pintar masak terus lulusan terbaik di salah satu universitas ternama pula" puji Surya berusaha menggoyahkan keteguhan hati Radit.


"Iya pa" jawab Radit seadanya.


Di sela obrolan yang menurut Radit berat itu, tiba-tiba ponselnya berdering.


📞 Hallo, Ta.


"Siapa Dit?" tanya Surya.


"Jelita, pa"


📞 Tunggu di situ. Lo jangan kemana-mana.


"Nayla, om, maaf aku harus pergi sekarang. Ada urusan penting. Pa, aku pamit ya"


Radit berlari cepat meninggalkan makanannya yang belum habis. Sementara itu kening Nayla tampak masih kencang dengan pertanyaan besar di kepalanya.


"Jelita itu siapa om? Pacar Radit ya?" tanya gadis berkulit putih itu penasaran.


"Bukan. Jelita itu adiknya Radit. Dia memang begitu kalau sudah menyangkut soal Jelita. Apapun akan ditinggalkannya. Kamu gak papa kan kalau Radit pergi duluan?" tanya Surya ingin memastikan kekhawatirannya. Ia harap Nayla tidak mundur dari perjodohan karena sikap Radit barusan.


"Gak papa om. Aku juga kalau ada apa-apa dengan orang yang aku sayang, pasti akan pergi seperti itu juga" sahut Nayla pengertian dan selalu tenang dalam menghadapi situasi apapun.


Sampainya di lokasi yang Jelita sebutkan di sambungan telepon tadi, Radit mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis yang berhasil menaklukkan hatinya itu. Ia berlari ke sisi yang lain namun Jelita masih tidak terlihat dimanapun.


"Dorr" ucap Jelita nyaring dan tentu saja mengagetkan Radit.


Dengan cekatan, Radit menarik tangan gadis yang ada di belakangnya. Dan langsung memeluk erat kekasihnya itu.


"Kak, lo kenapa?" tanya Jelita bingung saat Radit semakin mengeratkan tangan melingkari tubuhnya.


Radit tidak menanggapi. Pikirannya larut dalam ketakutan yang tiba-tiba menyergap benaknya.


"Gue sayang banget sama lo, Ta" ungkap Radit dengan suara sedikit bergetar.


"Kak, apa terjadi sesuatu?" tanya Jelita curiga. Ini pertama kalinya ia melihat pria yang selalu terlihat kuat di matanya itu, tampak begitu rapuh.


Radit masih tidak menanggapi pertanyaan Jelita. Ia hanya diam sambil menatap dalam sepasang mata indah milik gadis di hadapannya. Tangannya bergerak perlahan meraih bibir yang telah dipolesi lipstik warna merah muda.


Ditemani semilir angin alam yang menerpa kulit, sepasang kekasih itu saling membalas cumbuan di bawah langit yang tidak terlalu terik. Permainan mulut yang semakin intens membuat keduanya terbuai dan larut dalam kenikmatan masing-masing.


Sementata itu, di tempat lain yang tersembunyi tidak jauh dari posisi sepasang kekasih yang sedang bercumbu itu, tampak ada seorang pria yang sedang membidik kamera ke arah objek incarannya. Pria yang memakai topi hitam itu terlihat tersenyum seringai karena puas telah mendapatkan moment yang ia inginkan.