My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Hasrat Tertunda Radit



"Kalian sudah pulang? Kemana saja? Mama telepon, HP kalian gak aktif terus" cecar Laura menghampiri kedua anaknya.


Radit dan Jelita saling berpandangan. Mata keduanya melirik sekilas ponsel masing-masing. Sampai saat ini, ponsel mereka masih dalam keadaan mati.


"Emm, HP jelita abis batre, ma" ujar Jelita sedikit gugup.


"Kamu, Dit?" sambung Laura.


"Sama ma. HP aku juga mati. Lupa bawah casan" jawab Radit ikutan berbohong seperti yang dilakukan gadis yang berdiri di sebelahnya. Padahal sebenarnya mereka sengaja mematikan ponsel agar tidak ada yang menganggu acara kencang buta mereka dari pagi hingga menjelang petang tadi.


Laura menatap curiga. Wanita yang mempunyai aura elegant itu tidak sepenuhnya percaya. Namun ia tidak mau menelisik terlalu jauh. Laura tahu Radit dan Jelita sejak kecil sangat dekat. Mereka tidak terpisahkan. Kalaupun saat ini putra putrinya itu menyimpan satu rahasia, itu bukanlah hal yang harus dipertanyakan. Itu wajar mengingat kedua anaknya itu sudah sama-sama dewasa.


"Ya sudah, kalian mandi dulu. Setelah itu turun, kita makan malam sama-sama" ucap Laura sembari melangkah ke arah dapur untuk membantu bi Asmi menyiapkan makanan.


Jelita berlalu lebih dulu menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Papa mana ma?" tanya Radit sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.


"Di ruang kerjanya. Biasa, akhir bulan gini, papa kamu selalu sibuk"


"Kalau gitu aku temuin papa dulu" ucap Radit setelah mereguh habis air di dalam gelas.


"Jangan. Papa kamu gak suka diganggu kalau lagi kerja. Kamu bisa kena semprot nanti. Dan bisa-bisa mama kena getahnya juga karena gak larang kamu masuk" ujar Laura khawatir. Ia tahu betul sifat buruk suaminya itu.


Radit mengangguk mengerti. Ia pun menaiki anak tangga menuju tempat favoritnya, tentu saja kamar pribadinya. Tidak butuh waktu lama, ia sudah tiba di depan kamar. Radit menekan handle pintu namun saat pintu baru terbuka sedikit, ia melihat Jelita keluar kamar.


"Cepat banget sudah mau turun. Sudah mandi?" tanya Radit menghampiri.


"Lo gak lihat rambut gue basah, kak" ucap Jelita tanpa melihat lawan bicaranya. Tangannya sibuk mengibas rambut panjangnya yang masih setengah basah.


Ketika rambut Jelita tersibak ke belakang, seketika leher jenjang dan mulusnya terpampang bebas tanpa ada rambut yang menutupi. Hal itu membuat darah Radit berdesir. Matanya tak lepas memandang bagian menggiurkan itu. Ditambah bibir merah alami milik gadis di hadapannya semakin membuat sisi kelakiannya merontah. Hasratnya terpacu ingin menyentuh wanitanya lagi dan lagi.


Radit tidak berhasil menguasi diri. Bibirnya menempel begitu saja di bibir Jelita. Sontak mata gadis itu membulat sempurna. Tak ingin Radit semakin bringas, Jelita pun mendorong tubuh Radit sedikit menjauh.


"Kak, lo gak boleh cium gue di sini. Ini di rumah. Kalau mama, papa lihat gimana?" Jelita terlihat syok dengan ciuman Radit yang tidak melihat tempat dan waktu.


"Kita di atas dan mereka di bawah. Mereka tidak akan melihat kita" ucap Radit santai sambil senyum tertahan.


"Kalau tiba-tiba mama, papa datang gimana? Gini deh, kita bikin aturan saja. Pokoknya kalau lagi rumah, gak ada yang namanya ciuman" ujar Jelita membuat aturan sepihak.


"Ciuman bibir saja kan yang gak boleh?" Radit melesatkan kecupan menekan di leher yang membuatnya tergiur tadi.


Sontak Jelita mengepal buku-buku tangannya. Rasanya ia ingin sekali mempelintir mulut kakaknya itu. Namun niatnya itu urung terlaksana. Sejujurnya dia juga menikmati sentuhan itu. Ia pun selalu terbuai dan larut dalam rasa nikmat setiap bagian tubuhnya mendapati sentuhan dari pria yang dicintainya itu.


"Kak, gak boleh begini. Gue takut banget mama, papa lihat" ucapnya gelisah sambil mundur satu langkah. Ia antisipasi kalau saja nanti Radit ingin mencumbunya lagi, ia bisa langsung kabur.


Radit melangkah maju perlahan. Sementara itu, Jelita terus mundur hingga langkahnya menemui titik buntu karena tidak ada lagi jalan di belakangnya. Punggungnya kini sudah mentok dan menempel di dinding.


"Kita bisa berciuman di kamar" ucap Radit sensual sambil menempelkan sepasang tangannya di dinding dan membuat Jelita tidak bisa kemana-mana. Gadis itu tersudut, ia harus bekerja keras menyingkirkan tangan Radit jika ingin kabur. Namun sepertinya itu akan menjadi sia-sia belaka. Tenaga pria itu terlalu kuat untuk dilawan.


Jelita memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. Tidak ada jalan keluar baginya selain meladenin kakak resehnya itu.


"Kak, lo harus ingat tempat kalau mau nyentuh gue. Mau di kamar sekalipun, tetap saja gak boleh. Kalau tiba-tiba mama masuk gimana?" tutur Jelita sangat khawatir jika apa yang diucapkanya sampai terjadi.


"Kalau begitu kunci saja kamarnya" sahut Radit sangat tenang. Bibirnya yang padat berisi itu menari menggapai setiap inci leher mulus tersebut.


"Ahh" desis Jelita sekejab. Suara seksi membangkitkan birahinya itu keluar begitu saja dari bibirnya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa pria itu menundukkannya begitu mudah.


Ini gila! Jelita berusaha menolak namun rasa nikmat itu membuatnya tidak ingin berhenti. Sementara itu bibir Radit menyapu bersih bagian bibir, wajah, hingga lehernya yang tidak terlewatkan sedikitpun. Tubuh Jelita menggelinjang liar. Ia tidak berdaya saat pinggang rampingnya dihentak begitu keras ke dinding oleh pria yang membelenggunya. Berganti detik, seketika mata Jelita melotot bulat saat bagian dadanya yang membusung dijamah tangan pria yang sedang mengecup bibirnya.


"Kak, hentikan" pandangan Jelita tertuju ke arah tangga. Ia takut sekali kalau saja mama atau papanya tiba-tiba datang.


"Harusnya malam itu, lo tidak melarang gue untuk bertindak lebih jauh" ucap Radit teringat malam panas yang pernah mereka lalui di apartement pribadinya.


Jelita mengankat pundaknya lalu menurunkannya lagi sambil membuang nafas berat. Harus pakai cara apa untuk menghentikan pria bebal di hadapannya? Radit benar-benar sulit dikendalikan.


Baiklah, tidak ada cara lain, batin Jelita menyusun rencana.


"Gue tahu apa yang mau lo lakuin. Kalau mau nendang gue jangan di bagian itu" kata Radit sambil mengedipkan nakal salah satu mata coklatnya.


Ucapan pria di depannya seketika membuat pipi Jelita merona merah. Gadis itu antara malu dan kesal. Hatinya sedang berbunga-bunga dengan sikap Radit yang begitu menginginkannya. Bukankah memiliki cinta dari pria yang dicintai ialah kebahagiaan yang sebenarnya!


"Uhh reseh banget sih lo, kak. Nyebelin tahu gak" Jelita menarik geram telinga Radit hingga pria itu meringis kesakitan. Si pria memohon ampun agar segera dilepaskan.


"Rasain lo. Awas kalau lo cium gue lagi pas di rumah. Gue akan bikin punya lo itu mati kutu" ancam Jelita dengan pancaran mata menyeramkan. "Lo gak lupa kan kalau gue ini pernah ikut taekwondo" lanjutnya sangat percaya diri dengan kemampuan bela dirinya.


"Wuiihh ngeri. Takut gue" sahut Radit cengengesan.


Ya Tuhan. Kenapa dia tetap ganteng sih walaupun lagi cengengesan gini? Mana badannya seksi banget lagi, batin Jelita yang sebenarnya juga menginginkan pria di hadapannya saat ini.


...***...


"Dit, gimana hubungan kamu sama Nayla?"


Pertanyaan Surya sontak membuat Radit dan Jelita berhenti sesaat mengunyah makanan. Kakak adik itu saling bertatapan sekilas kemudian kembali memandang ke depan.


Jelita yang tadinya sangat bersemangat melahap menu sarapan yang dimasak bi Asmi, kini selera makannya hilang seketika. Makanan yang sedang ada di mulutnyapun, ia telan dengan susah payah. Padahal sudah satu minggu ini, papanya tidak lagi membahas perjodohan itu. Kenapa sekarang harus dibahas lagi?


"Pa, kayaknya aku sama Nayla tidak cocok" ujar Radit.


"Masa? Tapi papa Nayla telepon papa semalam, katanya Nayla tertarik sama kamu. Dia bilang kamu pria yang baik dan sopan. Ia sudah siap kalau ada jenjang yang lebih serius nantinya" tutur Surya setelah menyeruput teh hangat.


Hah!


Radit menghela nafas malas.


"Pa, come on. Ini bukan zamannya jodoh-jodohan gitu. Aku bisa memilih sendiri wanita yang akan aku nikahi nanti. Lagian saat ini, aku belum mikir ke arah sana. Aku sibuk pa dengan pekerjaanku sekarang" jelas Radit menolak secara halus.


Mendengar perkataan tegas pria di sebelahnya membuat Jelita berteriak dalam hati. Ia kagum sekaligus lega dengan penolakan yang Radit sampaikan.


Aahhh...lo kok keren banget sih kak, puji Jelita membatin.


"Hmm...ada yang lagi senyum-senyum ni" gumam Radit setengah berbisik.


"Apaan sih, kak?" balas Jelita mengecilkan volume suara hingga nyaris tak terdengar .


Surya pun menutup pembicaraan soal perjodohan Radit dan Nayla. Jawaban putranya sudah sangat jelas. Ia tidak perlu bicara panjang lebar lagi. Namun jauh di lubuk hatinya, Surya sangat ingin putra kesayangannya berjodoh dengan putri dari teman karibnya sedari remaja itu. Selain mempererat hubungan silaturahmi, penyatuan Radit dan Nayla nantinya akan semakin memperkuat hubungan bisnis di antara dirinya dan papa Nayla. Yah, tapi apa mau dikata. Seperti kata Radit, ini bukan lagi zamannya jodoh-jodohan dan setiap insan berhak menentukan pilihan mereka dalam mencari pasangan hidup. Walaupun pada akhirnya nanti, Tuhan lah yang menentukan hasil akhir.


Di kampus, Jelita tampak termenung setelah mata kuliah kedua usai. Ia teringat dengan percakapan tadi pagi. Walaupun Radit sudah menolak tapi perjodohan itu masih saja menganggu pikirannya. Bisa saja ide papanya itu kembali dibicarakan suatu hari nanti. Dan bisa saja karena keadaan, Radit akan menerima perjodohan itu. Apa saja bisa terjadi mengingat tidak ada kepastian dalam hubungannya dengan Radit saat ini, pikir Jelita gelisah.


"Hai" sapa Zain tiba-tiba yang membuat Jelita terkejut. "Ngelamunin apa?" tanyanya sambil duduk berhadapan dengan sang kekasih.


Wajah Zain yang maju tiba-tiba membuat Jelita spontan menarik wajahnya ke belakang. Hampir saja bibirnya menempel di bibir Zain jika ia tidak cepat-cepat mundur. Entah Zain melakukan itu dengan sengaja atau Jelita yang terlalu menaruh curiga hingga membuatnya begitu menjaga jarak.


"Ops sorry" ucap Zain membenarkan posisi duduknya.


"Gak papa" balas Jelita tersenyum tipis.


"Kenapa wajah kamu murung banget? Ada apa? Cerita sama aku" Zain mencerca kekasihnya itu beberapa pertanyaan.


"Zain, aku suntuk banget. Kita ke danau yuk? Kamu kelasnya sudah selesai kan?"


"Sudah. Kamu?"


"Aku ada satu kelas lagi. Tapi kelasnya mulai jam dua. Kita punya waktu dua jam. Gimana, kamu mau gak?" tanyanya sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sampainya di danau, Jelita mulai mencari batu kecil yang akan dilemparnya ke dalam danau. Ini sudah menjadi kebiasaannya saat berkunjung ke sini. Ada mitos yang mengatakan jika berdoa sebelum melempar batu ke dalam danau dan jika batu itu melaju jauh maka doa yang kita panjatkan akan terkabul. Jelita tidak sepenuhnya percaya namun ia tetap melakukan itu dan berharap doanya beneran dikabulkan Tuhan.


Gue harap, ada jalan untuk gue dan kak Radit bisa terus sama-sama, pinta Jelita sebelum melempar batu.


Jelita tersentak begitu melihat Zain ada di sebelahnya. Pria itu selalu hadir tiba-tiba. Matanya mengerling menatap pria berperawakan tinggi itu. Ia selalu merasa bersalah pada Zain. Bagaimana tidak! Bersama Zain ia datang ke danau ini tapi yang ada dalam pikirannya justru pria lain. Bahkan ia berdoa untuk pria lain itu.


Zain, maafin gue, batin Jelita dengan tatapan sendu.