My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Radit Dan Zain



Seketika raut muka Jelita berubah kecut begitu melihat motor gede yang terparkir di halaman rumah. Ia melirik ke arah garasi, tidak ada satu pun mobil di sana. Mimik Jelita semakin kecut saat bola matanya teralihkan kembali ke motor yang kini sudah ditunggangi Radit.


"Buruan naik" titah Radit sambil memakai helm.


"Lo antar gue kuliah pake motor?" tanya Jelita, dahinya mengernyit.


"Iyalah, pakai apa lagi" sahut Radit sambil menarik gas motornya untuk mengecek.


"Mobil lo mana?"


"Mobil gue lagi diservis. Udah buruan naik, gak usah banyak nanya. Gue bisa telat ke kantor gara-gara lo"


Jelita mengurut keningnya yang kencang lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah kapan terakhir kali ia bepergian naik motor? Jelita tidak ingat pasti karena sudah terlalu lama. Yang teringat jelas dalam ingatannya, terakhir kali ia naik motor membuat rambutnya berantakan dan keras seperti sapu lidi. Jelita ingat sekali, sampainya di rumah, ia mengamuk-ngamuk kepadanya mamanya. Makhlum saja masa itu, Jelita adalah gadis kecil yang beranjak remaja jadi belum pandai merawat diri. Mendapati rambutnya kaku seperti sapu lidi membuat Jelita panik karena tidak tahu bagaimana cara membuat rambutnya indah lagi.


"Kak, daripada ntar lo telat masuk kantor, mending gak usah antar gue deh. Gue naik taksi saja" tolak Jelita halus.


Kedua sudut bibir Radit tertarik ke atas. Ia paham betul, Jelita bukan sedang menaruh perhatian padanya. Tapi karena adiknya itu takut angin akan merusak penampilannya jika naik motor terutama rambutnya yang tergerai itu.


Radit berinisiatif memakaikan sendiri helm berwarna biru langit itu ke kepala Jelita. Tubuh Jelita terhuyun lebih dekat kepada Radit saat pengait helm itu ditarik kuat.


Deg!


Tiba-tiba jantung Jelita berdetak begitu kencang. Matanya berpapasan dengan netra pria di depannya. Jelita membisu tidak mampu berkata-kata. Apalagi saat ini sepasang mata Radit sangat intens menatapnya.


Terlihat segurat senyuman teramat tipis bahkan nyaris tak terlihat di wajah Radit. Hanya sekilas seperti angin lewat. Senyuman singkat yang membuat darah Jelita berdesir ngilu.


Ya Tuhan. Kenapa kak Radit ganteng banget sih? Kenapa pula gue jadi deg-degan gini?, batin Jelita.


"Sudah belum sih? Lama banget" keluhnya seraya menyingkirkan tangan Radit dari bawah dagunya. "Sini gue pakai sendiri" sambungnya sambil membenarkan kaitan helm yang belum terpasang erat.


Radit menarik gas kanan setelah Jelita duduk di belakangnya. Untuk beberapa detik, motor itu tak kunjung melaju. Hal itu membuat Jelita bingung. Apalagi yang Radit tunggu?


"Kak, ayo jalan" ucap Jelita sembari menepuk pundak sang kakak.


"Lo gak mau pegangan? Gue mau ngebut" saran Radit memperingati.


Jelita memutar kepalanya 30 derajat lalu tangannya berpegangan ke ujung motor di belakang.


"Sudah" ucap Jelita polos dan tidak mengerti maksud Radit yang sebenarnya.


Lagi-lagi Radit tersenyum simpul dengan bibir dikulum. Pria itu sengaja menarik gas penuh hingga kedua tangan Jelita refleks melingkar di area pinggangnya. Senyum kemenangan menyeringai di wajah Radit. Tak lama motor gede itu melaju melintasi jalanan aspal yang tampak masih basah karena rintik hujan semalam.


...***...


Setelah mengantar Jelita ke kampus, Radit langsung bergegas menuju kantor. Untung saja hari ini ia pakai motor jika tidak, ia pasti sudah telat sampai ke kantor tepat waktu. Bisa-bisa ia dapat SP untuk yang kedua kalinya.


"Radit, kamu coba cek file ini. Cocokkan dengan data bulan yang lalu" suruh Aruji salah satu senior Radit di kantor. " Nama foldernya manajemen 2" lanjutnya sambil menaruh USB di atas meja kerja Radit. Setelahnya Aruji meninggalkan kantor karena ada pertemuan di luar.


"Nasib jadi anak bawang. Baru juga datang, sudah dikasih kerjaan tambahan. Mana kerjaan gue sendiri belum kelar lagi. Hmm" keluh Radit sembari menyalakan komputernya.


Jelita mengedarkan mata ke segala penjuru kantin. Tampak setiap meja sudah ada pemiliknya masing-masing. Jelita yang sedang menenteng nampang dengan semangkuk mie ayam di atasnya menjadi bingung. Ia harus makan dimana? Tidak ada meja kosong.


"Hah! Harusnya gue cari meja dulu tadi, baru pesan makanan" Jelita masih berdiri di tempatnya.


"Ta, sini" sapa Agnes seraya melambaikan tangan. Dengan mudah Jelita menemukan orang yang memanggilnya. Tidak susah mengenali sosok temannya itu meskipun dalam keramaian.


Jelita memicingkan mata. Untuk apa Agnes memanggilnya jika dia saja tidak dapat meja. Agnes, temannya itu sama saja seperti dirinya saat ini, sedang berdiri dengan tatapan bingung di sudut kantin layaknya anak yang kehilangan ibu.


"Kenapa sih, Nes?" tanya Jelita menghampiri.


"Kita makan di taman belakang saja yuk"


"Ya sudahlah, mau gimana lagi. Keliatannya mereka walaupun sudah selesai makan, tidak akan pergi" ujar Jelita manyun sambil mengalihkan pandangan sejenak pada para mahasiswa yang sedang menyantap makan siang di kantin.


"Bener tu. Yuk ah, lagian cuman 5 langkah juga nyampe ke taman"


"Kayak judul lagu" sahut Jelita bercanda.


"Kok tempe" timpal Agnes terkekeh.


Dua teman karib itu pun saling berpandangan lalu tertawa nyaring yang tentu saja menarik perhatian mahasiswa yang lain. Tak ingin wajah mereka dikenali, Jelita dan Agnes segera kabur menuju taman. Di taman yang tidak terlalu diurus itu, mereka mengisi perut dengan menu masing-masing dan tentu saja disertai obrolan ringan, baik itu tentang pelajaran, dosen killer, ataupun tentang asmara.


"Ta, gue suka sama seseorang" ungkap Agnes.


Sontak Jelita tersedak. Ia kaget karena selama berteman dengan Agnes, baru kali ini temannya itu bicara tentang perasaan. Selama ini Agnes selalu cuek dengan yang nama rasa kepada lawan jenis.


"Minum dulu" Agnes memberikan botol air mineral pada Jelita.


"Maksud lo suka sama cowok kan?" tanya Jelita memastikan.


"Wahh" Agnes menarik lengan bajunya sampai sikut. Kemudian melemparkan rambut tergerainya ke belakang. Jelita yang melihat tingkah Agnes hanya memperhatikan dengan tatapan aneh.


"Lo kenapa sih, Nes?"


"Haha" Agnes tertawa memaksa. "Lo tanya gue kenapa? Ta, lo sadar gak barusan lo ngomong apa?"


"Sadarlah. Lo pikir gue gila apa? Gue nanya lo kenapa bertingkah aneh gitu"


"Bukan yang itu Jelita cantik" sahut Agnes geram. Ia ingin sekali mencubit pipi temannya itu hingga merah.


"Makasi. Gue tahu kok gue cantik" sambung Jelita dengan mimik menggemaskan tapi sangat menyebalkan bagi Agnes.


"Barusan lo nanya gue suka cowok apa enggak. Ta, lo gak serius nanya gitu kan? Gue masih normal kali. Jelas gue suka cowok. Gila lo ya" hardik Agnes menggelengkan kepala.


"Ya baguslah kalau lo suka cowok. Kirain lo suka sama gue. Abisnya selain sama gue, lo gak pernah jalan sama siapapun" timpal Jelita dengan gestur santai menyebalkan.


Agnes memejamkan mata sejenak sambil menghela nafas. Kemudian kembali duduk dan menghabis makanannya yang tersisa.


"Gue bercanda kali. Serius banget" ucap Jelita menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Ya gue tahu. Tapi Ta, mungkin gak sih cowok-cowok ngangap gue lesbi? Seperti kata lo, gue cuman jalan sama lo doang. Kemana-mana gue selalu sama lo. Kayaknya cowok-cowok takut deh deketin gue. Wah kayaknya gue harus jaga jarak sama lo" kata Agnes berpikir keras.


Bahu Jelita bergedik tak nyaman.


"Lo ngomong apa sih, Nes. Jangan bikin gue jijik deh. Makanya lo turunin dikit deh gengsi lo itu. Jangan terlalu jual mahal. Coba lo duluan yang deketin cowok. Tapi ingat ya cuman deketin doang. Kalau ngajak jadian, tetap harus cowok duluan" ucap Jelita memberi saran tegas di ujung kalimatnya.


Agnes mengangguk setuju. Ucapan Jelita ada benarnya. Mungkin memang sudah saatnya, ia sedikit agresif kepada lawan jenis.


"Hmmm" dehem seorang pria hadir di tengah obrolan kawan sejati itu.


Zain, ucap Agnes dalam hati.


"Hai"


"Hai, Zain" sahut Jelita tersenyum manis.


"Ta, kamu gak ada kelas lagi kan?" tanya Zain.


"Iya"


"Jalan yuk?"


Jelita menoleh pada Agnes sebelum memberikan jawaban. Ia merasa tidak enak kalau harus meninggalkan Agnes sendiri.


"Oh gue gak papa kok. Kalian jalan saja. Lo gak usah natap gue kasian gitu, Ta. Nyebelin tahu gak liatnya" gerutu Agnes melototi Jelita.


"Lo emang teman terbaik gue, Nes. Makanya cari pacar ya biar gak sendirian mulu" Jelita meraih tangan Zain dan langsung kabur sebelum ia dicerca kata-kata berisi amarah oleh Agnes.


"Ta, sumpah lo nyebelin banget ya. Gue sumpahin kalian putus terus gue jadian sama Zain" Agnes tertawa geli dengan ucapannya sendiri. Jika Jelita di sampingnya, ia tentu saja tidak akan berani bicara seperti itu.


...***...


Pukul 19.30, mobil Zain baru saja tiba di halaman rumah Jelita.


"Thank's ya" ucap Zain tersenyum simpul.


"Buat?"


"Karena sudah nyempatin waktu jalan sama aku hari ini" jelas Zain.


"Apaan, sih? Kok kamu jadi canggung gini?" tanya Jelita sambil mengacak rambut kekasihnya itu.


Zain meraih jemari Jelita dari atas kepalanya. Lalu menempelkan jari-jari lentik itu ke dada berototnya. Matanya memandang dalam gadis belia menawan di hadapannya.


"Ta, aku sayang banget sama kamu" ungkap Zain lembut.


"Aku tahu" sahut Jelita menganggukkan kepala.


"Setelah wisuda, aku akan melamar kamu. Kita akan menikah. Dan selama waktu itu, aku mohon jangan pernah ninggalin aku" ucap Zain berharap penuh harapan.


Tiba-tiba Jelita merasa dadanya didorong sesuatu. Ia tersentak. Bukan karena sakit tapi ada rasa bersalah yang menggelayut di ujung kepalanya. Jelita merasa hatinya belum sepenuhnya untuk Zain. Seakan ada ruang kosong yang sengaja tidak diisi, itu yang Jelita rasakan.


"Baiklah. Good night. Kamu hati-hati ya nyetirnya. Jangan ngebut-ngebut" ucap Jelita mengelus pipi Zain sebentar lalu masuk ke dalam rumah.


Jelita, sebenarnya kamu mencintai aku atau tidak? Saat aku bicara tentang lamaran, wajah kamu langsung tertekan, batin Zain.