My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Jangan Menyerah



Kepala Jelita menyelusup lebih dulu untuk mengecek keadaan di dalam kamar. Ruang pribadi itu tampak senyap tak berpenghuni. Gadis itu pun masuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia memandangi langit-langit kamar dalam kesunyian. Diam sejenak coba mencerna isi kepalanya yang ia sendiri tidak tahu kapan akan berhenti berpikir. Tak lama Jelita bangkit dari benda empuk itu. Matanya menelisik dan berputar teratur memperhatikan setiap sudut ruangan tempatnya berpijak saat ini. Ia melangkah perlahan dan meraih sebuah foto yang tertata rapi di atas meja. Di dalam foto itu ada dirinya dan Radit dengan pakaian seragam SMA. Ia tersenyum manis kepada Radit dan tangannya bergelayut manja di pundak sang kakak. Jelita tersenyum getir memandangi foto itu. Alangkah indahnya masa itu. Alangkah bahagianya hari itu. Bisakah moment itu terulang lagi?


Jelita ingat sekali kenangan di foto itu. Hari itu ialah hari kenaikan kelas dan Radit berhasil menjadi juara umum pertama. Semua memberikan ucapan selamat tak terkecuali Jelita. Ia sangat bangga atas prestasi yang telah Radit capai. Moment membahagiakan itupun, mereka simpan dalam sebuah foto yang kini ada di tangan Jelita.


Jelita meletakkan foto itu ke tempatnya. Ia menyalakan TV. Mungkin saja ada acara yang bagus untuk ditonton. Kebetulan saat TV menyala, Jelita langsung disajikan dengan acara reality show di salah satu stasiun TV. Judul acara itu 'Katakan Saja Jika Suka'. Jelita duduk di ujung kasur dan memperhatikan seksama acara yang sedang berlangsung. Semakin lama acara itu semakin menarik perhatiannya. Otaknya pun tidak berhenti berpikir sepanjang acara.


"Sebelum terlambat, ungkapkan saja. Ayo lebih berani. Katakan Saja Jika Suka"


Slogan yang diucapkan host dari acara reality show itupun menandakan berakhirnya acara. Jelita kembali berbaring setelah mematikan TV. Isi dari tontonannya barusan membuat pikirannya tersudut pada satu tujuan. Hatinya goyah atas keputusannya siang tadi. Jelita berusaha memejamkan mata namun keresahan di lubuk hatinya membuatnya harus bersusah payah melakukan itu. Gadis itu bergerak sembarang berharap pikirannya bisa tenang sebentar. Tapi tingkah kecilnya itu justru membuatnya semakin gelisah.


"Ini belum terlalu malam" ucapnya sembari melirik jam tangan.


Jelita menuruni anak tangga terburu-buru. Ia berlari kecil menuju halaman rumah. Matanya mengedar mencari sosok pak Sopian.


"Bi Asmi, pak Sopian mana?" tanya Jelita sigap saat melihat bi Asmi yang sedang menenteng kantong sampah.


"Bibi kurang tahu non, tapi barusan selesai makan. Coba cari di taman belakang, non. Biasanya setelah makan, pak Sopian merokok di sana" ujar bi Asmi.


"Terima kasih bi" Jelita berjalan cepat ke taman di belakang rumah.


Benar saja, pak Sopian ada di sana dan sedang menghisap sebatang rokok, persis seperti yang bi Asmi katakan.


"Pak Sopian"


"Iya non" sahut Sopian sambil berdiri dan membuang puntung rokoknya.


"Maaf pak, aku ganggu jam istirahat pak Sopian" ucap Jelita sungkan.


"Gak papa, non. Ada apa, non?"


"Bisa anterin aku ke apartement kak Radit gak pak?"


"Tentu saja bisa, non"


Mobil berwarna hitam pekat itu melaju menembus jalanan di tengah malam yang dingin. Jelita mengalihkan pandangannya ke luar mobil. Semakin dekat, hatinya semakin berdebar-debar. Jujur sampai saat ini ia masih ragu. Datang kepada Radit. Apakah ini keputusan yang benar? Tapi kalimat terakhir yang diucapkan pembawa acara reality show yang dintontonnya tadi membuatnya tidak tenang. Ia tidak bisa berdiam diri lalu menyesal nantinya karena tidak bisa melawan rasa takut. Bukankah kata terlambat akan sangat menyakiti jiwa pada akhirnya nanti?


...***...


Radit mengerutkan kulit dahi begitu mendengar bunyi bel. Ia melihat waktu di layar ponselnya. Sudah hampir jam sembilan malam. Radit mencoba menebak sambil melangkah ke arah pintu. Kira-kira siapa yang bertamu ke apartementnya semalam ini?


Krekk


"Hai" sapa Jelita begitu pintu terbuka. Tersirat lengkungan di garis bibirnya, menampilkan senyum menawan yang menggoda jiwa.


"Lo, ngapain ke sini?" tanya Radit sinis.


Mata Jelita mendelik tajam. Padahal untuk sampai kesini, ia sampai berperang dengan batinnya sepanjang jalan. Tapi raut dingin serta sambutan Radit membuatnya sedikit kecewa. Jelita kemudian berbalik badan, berjalan menjauh.


"Dasar nyebelin" gerutunya dalam hati.


Jelita menghentakan kaki sambil berjalan namun tak lama langkahnya berhenti.


"Lo gak manggil gue, kak" pekiknya nyaring.


Radit menyilangkan tangan di dada dan bersandar di badan pintu. Alis kanannya tertarik ke atas menampilkan tatapan mengerikan.


"Terakhir gue minta jangan pergi, lo tetap pergi. Sekarang....


"Bukankah harus dimulai dulu sebelum diakhiri? Gue mau memulainya. Lo gimana?" sambar Jelita menggebu.


Radit menyembunyikan senyum mematikannya. Ia berusaha tetap keras meskipun hatinya sudah luluh sejak kedatangan Jelita.


"Boleh saja. Tapi gue tidak mau ada kata akhir"


"Lalu?" timpal Jelita.


"Masuklah"


Jelita mengekor di belakang Radit sambil mengeluh dalam hati. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran pria di depannya. Ekspresi pria itu begitu datar. Sulit menebak isi kepala kakaknya itu.


Hah! Gue gak tahan, batin Jelita.


Jelita menarik lengan Radit dan mendorongnya ke dinding. Bibir padat berisi pria itu berhasil ia kuasai hanya dengan sekali kecupan. Radit tidak merespon, ia hanya diam memperhatikan mata terpejam gadis yang sedang menghisap dan menggigit bibirnya. Bunyi khas dari sentuhan lembut sepasang bibir yang menyatu itu seketika memenuhi ruangan.


"Kenapa lo diam, kak?" tanya Jelita menarik diri. Ia sedikit heran.


Detik berlalu namun Radit belum juga bersuara. Hal itu membuat Jelita resah. Matanya berputar mencari jawaban dari sinar netra pria yang juga sedang menatapnya. Dadanya bergerak naik turun menanti Radit mengucapkan kalimat. Namun tubuh kakaknya itu kaku seperti patung. Hanya bola mata Radit yang bergerak.


"Gue pulang saja" pamit Jelita melengos.


Belum sempat Jelita melangkah, Radit menarik keras pinggang kecil gadis itu dan melahab habis bibir candu memabukkan itu ke dalam mulutnya. Kali ini ia yang menguasai permainan dan tidak memberi sedikitpun cela untuk gadis dalam kungkungannya bergerak. Kembali ruangan dipenuhi suara rintihan penuh gairah. Sesekali Jelita yang sudah tidak berdaya mengerang kesakitan saat bibirnya digigit kuat oleh pria bertubuh kekar dan seksi itu.


"Kak"


Jelita mengambil nafas sejenak.


"Bukankah kita sudah melewati batas?"


"Lo mau kembali?" Radit balik bertanya.


"Katakan sesuatu, kak" pinta Jelita lagi-lagi dihinggapi kebimbangan.


"Gue mencintai lo, Jelita" ungkap Radit berbisik lembut tepat di depat telinga sang gadis.


Sontak Jelita langsung tersipu malu. Pipinya merona layaknya gadis yang sedang jatuh cinta pada umumnya. Pernyataan cinta ini terasa begitu spesial baginya. Entah kenapa, ia sangat bahagia mendengar tiga kata manis yang Radit ucapkan? Padahal ia pernah mendengar ini dari mulut Zain sebelumnya.


Ah, kenapa tiba-tiba panas sekali?, batin Jelita dengan hasrat yang semakin bergejolak.


Radit menyambar leher mulus Jelita dan meninggalkan jejak merah di sana. Suara erangan keluar lantang dari mulut Jelita setiap kali Radit mencumbu penuh penekanan di lehernya yang masih suci itu.


"Kak"


"Apa lagi?" sahut Radit menatap Jelita dalam.


"Gue belum mau melakukannya" ujar Jelita merasa tidak enak hati telah mematikan hasrat pria di hadapannya.


Radit tersenyum tipis. Ia membelai mesra bibir bengkak karena ulahnya itu. Ciuman hangat kembali melesat di sana.


"Kalau begitu gue akan mencium lo sepanjang malam" ucap Radit dengan tatapan dan suara beratnya yang seksi.


"Kalau gue pingsan gimana?" sambung Jelita bercanda agar suasana tidak terlalu panas.


"Lo akan menyesal kalau pingsan" timpal Radit tersenyum devil. Perlahan tangannya melepaskan kancing kemeja yang dikenakan Jelita.


"Iih gue bilang enggak" ucap Jelita menepuk keras tangan Radit. Ia tahu apa yang ada di dalam kepala pria nakal di depannya.


"Ini yang akan terjadi kalau lo pingsan" sambung Radit kembali mengaitkan kancing yang sempat ia lepas.


"Dasar mesum" ledeknya tersenyum seraya mendorong tubuh Radit pelan.


"Masa?"


"Iya"


Keduanya bersahutan kata sambil berlari mengitari ruangan hingga membuat tubuh keduanya berkeringat. Gelak tawa mengiringi aksi kejar-kejaran itu. Seperti anak kecil, kakak adik itu sangat menikmati waktu yang mereka miliki sekarang. Bukannya lupa, mereka sangat tahu akan ada sandungan besar untuk hubungan ini ke depannya. Namun bukannya menikmati waktu adalah hak setiap insan. Dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk terus berjalan dalam hubungan yang tidak jelas muaranya itu.


"Kak, gue haus. Tapi gue capek"


"Tunggu sebentar"


"Jangan lo kasih obat yang macem-macem ya" ucap Jelita menatap curiga.


"Dasar mesum" sahut Radit.


"Dihh gak nyambung" timpal Jelita kecut.


"Kayak judul lagu?" sambung Radit terkekeh geli.


"Mana ada judul lagu begitu. Jadi gak ambilin gue minum?"


"Tunggu disini sebentar tuan putri"


"Terima kasih pangeran" sahut Jelita diiringi senyuman termanisnya.


Andai gue punya mesin penghenti waktu. Gue pasti menghentikan waktu saat ini. Agar gue selalu bersama lo, kak. Gue berharap meskipun gue tidak bisa menghentikan waktu, di kehidupan setelah saat ini, kita tetap bersama seperti sekarang, gumam Jelita lirih.


Radit kembali ke kamar. Air putih di tangannya langsung berpindah tangan.


"Thank you, kak" ucap Jelita setelah mereguh segelas air putih.


Gadis itu mendorong tubuhnya ke belakang. Kemudian menepuk bantal dan guling, memastikan tidak ada debu. Ia berbaring di atas kasur bagian kanan.


"Kesinilah. Gue sudah ngantuk" ucapnya menepuk kasur.


Radit menurut patuh. Ia menarik selimut hingga ke dada untuk melindungi tubuhnya dan gadis di sebelahnya dari pendingin ruangan


"Badan lo hangat banget, kak" ucap Jelita bersandar manja di dada Radit.


"Tidurlah"


"Hmm"


Tak lama keadaan kamar berubah senyap. Radit yang belum tidur hanya membisu memandang wajah polos gadis di sampingnya.


Jelita, jangan pernah menyerah dan tetaplah bersamaku. Kita lewati ini sama-sama. Asal kan kita selalu bersama maka tidak akan terjadi apa-apa. _Radit_