My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Terkurung



Sore itu langit kembali mendung. Jika sesuai prediksi BMKG maka tidak lama lagi akan turun hujan. Benar saja tak lama awan hitam datang menutupi langit. Itu artinya hujan akan benar-benar turun. Para pekerja satu persatu bergegas meninggalkan kantor. Dan kebetulan memang sudah waktunya pulang. Mereka pun tidak khawatir akan di dalil melanggar aturan perusahaan mengingat waktu sudah berada di angka yang pas.


Hari berangsur malam. Di saat sebagian orang telah tertidur pulas di atas kasur, namun itu tidak berlaku bagi sebagian yang lainnya. Di sebuah aula hotel, seorang gadis terlihat kebingunan berada di tengah keramaian. Baru kali ini ia menghadiri event yang sangat besar dimana para pebisnis hebat dan pemegang saham berada dalam satu tempat yang sama. Gadis itu mengedarkan mata berputar mencari partner yang mengundangnya kesini.


"Kak Radit mana ya? Apa dia belum datang? Ini sudah jam tujuh" ucap Jelita gelisah sambil melirik petunjuk waktu di layar ponselnya. "Sebentar lagi acaranya mulai. Apa gue telepon saja ya? Tapi katanya jangan menelpon. Aduh gimana dong? Gue bingung" lanjutnya panik karena tidak kenal satupun dari sekian banyaknya tamu yang hadir.


"Hai Ta" sapa seorang wanita dari arah belakang.


Gadis bepakaian serba hitam dengan atasan blazer dan bawahan kulot itu berbalik badan.


"Bu Retno" ucapnya kaget. "Bu Retno disini juga? Hah...untung ada bu Retno. Saya kayak orang gila bu di sini, sendirian" sambungnya lega.


"Kok gitu. Kamu ke sini sama siapa?"


"Saya ke sini sendiri bu tapi Pak Radit yang ngundang saya. Kami gak barengan perginya" balas Jelita tidak fokus memandang wajah lawan bicaranya. Matanya masih berusaha mencari sosok sang CEO yang entah ada dimana.


"Wah..sepertinya kalian sudah akrab. Ini acara besar loh. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini. Harus pakai undangan khusus" sela Retno kaget sekaligus kagum dengan kemajuan mantan partner kerjanya itu.


Ucapan Retno cukup membuat Jelita tercengang. Ia tidak tahu jika acara yang sedang ia hadiri ini merupakan acara besar yang ternyata tidak sembarangan orang bisa diundang. Jelita pun tersenyum bangga dalam hati. Bukankah ini artinya ia masih spesial di hati mantan kekasihnya itu?


Saat waktu hampir mencapai angka delapan, samar dari kejauhan Jelita melihat sosok yang ia tunggu-tunggu.


Itu kak Radit. Akhirnya dia datang juga, batinya sambil menghela nafas lega.


"Bu Retno, saya tinggalin sebentar gak papa ya? Saya mau nyamperin pak Radit di sana" ucap Jelita sembari mengacungkan telunjuk ke arah podium.


"Yakin mau nyamperin pak Radit?"


"Maksudnya?" sahut Jelita aneh.


"Itu coba lihat. Pak Radit lagi ngobrol sama orang-orang hebat itu. Mau kamu disemprot abis-abisan sama dia? Pak Radit galak kan?"


Jelita tertegun sambil mengangguk dengan bibir manyun.


"Sudah kamu tunggu di sini saja. Biarkan dia sama mereka dulu. Lagian saya juga gak ada teman. Temanin saya di sini" pinta Retno sambil melambaikan tangan kepada pelayan.


Begitu si pelayan tiba, Retno mengambil dua gelas minuman yang memang disediakan penyelenggara acara untuk para tamu.


"Ini minum"


"Apa ini bu? Minuman alkohol ya?" tanya Jelita memicingkan mata dan dahi berkerut.


"Tenang saja. Ini kadar alkoholnya dikit kok. Lagian cuman setengah gelas, jadi kamu gak mungkin mabuk" ujar Retno sebelum mereguh minuman ke dalam mulut.


Walaupun sedikit ragu, minuman itu akhirnya lolos mengaliri tenggorokan Jelita tanpa sisa. Ia menggelengkan kepala lalu melebarkan pupil mata. Rasa minuman itu agak kecut namun manis. Entah kenapa, mata gadis itu jadi segar seperti orang yang baru selesai mandi.


Waktu terus berjalan. Sesuai jadwal, pukul 08.15 pm, acara itupun dimulai. Pembawa acara mulai memperkenalkan satu persatu para tamu penting yang hadir di acara itu. Termasuk Radit, tamu yang terpilih dan diberi gelar pebisnis paling muda yang berhasil mempengaruhi pasar saham.


Jelita yang menonton dari jarak tiga meter terlihat sangat kagum atas prestasi gemilang pria tampan yang sedang melempar senyum menawan di atas podium.


Lo keren banget kak, pujinya membatin.


Sorak tepuk tangan serempak memenuhi ruangan setelah Radit menyampaikan kata sambutan singkat. Matanya sempat melirik gadis cantik di bawah sana. Namun itu tidak berlangsung lama. Ia tidak ingin tatapannya di salah artinya oleh gadis tersebut.


"Kak Radit gak lihat gue" keluh Jelita murung. "Padahal gue udah dandan cantik banget ini" lanjutnya memuji diri sendiri sambil membenarkan blazer.


"Nah itu kak Radit" Jelita mengankat tangan dengan mulutnya sedikit terbuka. Ia ingin berseru nyaring agar Radit mendengar panggilannya. Namun sayang langkah pria itu terlalu lebar. Sosok Radit kembali samar jika dipandang dari kejauhan.


Jelita pun berjalan cepat dan diam-diam mengikuti langkah Radit hingga ke lantai dua menggunakan tangga darurat.


"Kenapa dia gak naik lift saja?" tanyanya heran.


Langkah Jelita yang pendek membuatnya kehilangan jejak Radit saat tiba di lantai dua. Yang ada di hadapannya, hanyalah lorong panjang yang masing-masing sisi berjejer pintu kamar.


"Kak Radit mana ya? Kok cepat banget ngilangnya. Apa dia mesan salah satu kamar di sini ya?" tanyanya bingung sambil berjalan melintasi lorong.


Suasana di lantai dua ini tampak sepi. Bulu kuduk gadis itu merinding. Ia mulai dihinggapi rasa takut. Hampir tiba di ujung lorong, Jelita akhirnya memutuskan untuk kembali.


"Sudahlah gue balik saja. Mungkin kak Radit sudah turun ke bawah. Atau gue telepon saja ya? Kan cuman mau bilang pamit doang. Dia pasti gak marah kok" Jelita meraih ponsel dari mini bagnya. Setelah mendial nama Radit, ia berjalan pelan ke arah lift.


Namun saat berada di tengah-tengah lorong, tangannya di tarik ke sebuah kamar. Ponselnya pun terjatuh. Tubuhnya dihentakkam ke dinding dan kedua tangannya dicengkram kuat. Kini ia terkurung oleh himpitan orang yang menariknya paksa.


"Kamu mengikuti saya?"


Jelita membuka matanya perlahan saat mendengar suara yang tidak asing itu.


"Pak Radit" ucapnya tampak syok.


"Jawab saya" tuntut pria itu dengan tatapan tajam.


"Iya pak" tangan Jelita terlihat gemetar. Entah karena takut atau cengkraman Radit yang terlalu kuat.


"Kenapa?"


"Hmm saya mau pamit pulang pak. Saya takut pak Radit marah kalau saya langsung pulang" jawabnya gugup.


Tak ada lagi suara dari mulut dua insan berlainan jenis itu. Netra mereka bersahutan melihat pantulan wajah diri sendiri dalam bola mata lawan. Dalam keheningan, kenangan mesra saat bersama muncul tiba-tiba menari di kepala masing-masing.


"Pak"


"Susstt" desis Radit sambil membelai bibir merah menyala milik gadis di hadapannya.


Wajah Radit semakin dekat membuat sang gadis spontan menahan nafas. Gemuruh di dadanya menggebu. Ada rasa bimbang juga ragu saat sedikit lagi bibir padat berisi itu menyentuh bibirnya.


"Pak saya mau pulang" pamitnya seraya mendorong pelan dada Radit. Ia menyisir rambutnya ke belakang telinga sambil menelan saliva.


Setelah berhasil menguasai gejolak di dadanya, Jelita melangkah ke arah pintu.


"Pak Radit sudah menikah. Jadi jangan membuat saya bingung"


Krekkk


Setelah gadisnya menghilang, Radit langsung duduk terkulai di lantai. Punggungnya bersandar di dinding seraya menengadahkan kepala. Ia termenung dengan sorot mata tak berbicara.


Berjanjilah sama mama, kamu tidak akan kembali kepadanya jika kalian nanti bertemu.


Berselang menit, ringisan menyayat hati memenuhi ruangan. Radit memukul lantai berulang kali setiap permintaan mamanya terkenang dan berlarian di kepalanya. Sampai kapan janji itu akan membuatnya terkurung di dalam sangkar tak berpintu? Dan terus menghalanginya bergerak bebas.