
Di apartement, Jelita duduk di pinggir dinding kaca sambil memeluk lututnya. Dari sudut ini, ia dapat melihat pemandangan gedung yang tinggi dan gemerlap cahaya lampu. Malam dan kesendirian adalah dua situasi yang selalu pas jika disandingkan. Khususnya untuk orang yang tidak suka keramaian, sama halnya seperti Jelita. Ia lalu menopang wajah dengan tangan kemudian mengkhayalkan sesuatu yang indah. Sesekali senyum manisnya tersungging di sudut bibir ketika adegan romantis terbayang di kepalanya.
"Hah...andaikan khayalan gue jadi kenyataan, pasti gue jadi wanita yang paling beruntung di muka bumi. Punya suami tampan kayak kak Radit, kaya raya, bucin sama gue, terus CEO pula. Hmm halu memang sangat menyenangkan" ucapnya senyum-senyum sendiri.
Di saat ia ingin kembali berkhayal, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Kak Radit. Tumben nelpon gue malam-malam"
📞 Ya kak.
📞 Kamu dimana?
📞 Di apartement lo kak.
📞 Tunggu saya di sana. Jangan kemana-mana.
Sembari menunggu, Jelita sempatkan waktu membuat kopi kemasan yang tersedia di dalam kulkas. Ia sengaja membuat dua gelas kopi untuk dirinya dan Radit. Dalam situasi cuaca dingin seperti sekarang, sangat cocok jika dinikmati bersama kopi hangat.
"Kak Radit pasti senang, begitu datang ada aroma kopi" ucapnya yakin.
Tok! Tok! Tok!
"Panjang umur. Baru juga di omongi" Jelita melangkah ke arah pintu.
Krekkk
"Kak, kok lo ketuk pintu? Kan lo bisa langsung...
Radit tidak membiarkan Jelita berbicara lebih lama. Ia menyerobot masuk dan langsung memautkan bibirnya di bibir merona sang gadis. Pergerakan Radit yang grasak grusuk dan dominan membuat tubuh Jelita hampir jatuh namun untungnya Radit dengan sigap menangkap tubuh ramping itu.
Meskipun sempat kagok namun Jelita segera bisa menguasi situasi. Ia membalas kecupan panas Radit takkala liar. Hawa sejuk dari pendingin ruangan disertai udara dingin yang masuk dari sela pintu balkon yang sedikit terbuka membuat pautan bibir keduanya semakin brutal. Mendapat serangan sensual yang bertubi-tubi dari sang pria membuat Jelita tak tahan mengeluarkan lenguhan sensualnya. Suara menggoda itu semakin membangkitkan sisi gila kelakian Radit. Ia mengankat tubuh Jelita dan menuntunnya ke kasur tanpa melepaskan cumbuan bibir lekat mereka.
Pelan-pelan Radit membaringkan tubuh ramping itu lalu menindihnya rapat. Belum ada kalimat yang keluar dari mulutnya. Ia masih sangat menikmati bibir candu kesukaannya. Sementara itu, sang gadis yang berada di bawah tidak bisa bergerak kemana-mana. Ia seperti burung yang terkurung di dalam sangkar yang hanya bisa terbang jika diberi ruang oleh penjaganya.
"Aaahh" lenguh Jelita panjang saat bibirnya dibebaskan. Dadanya bergerak naik turun dengan mulut sedikit terbuka. Ia manfaatkan itu dengan menghirup udara segar sebanyak-banyak.
"Kak, ini maksudnya kita...
"Ayo kita berjuang mendapatkan restu mama" sambar Radit dengan nafas tersengal.
Dahi Jelita mengernyit aneh.
"Terus papa gimana?" tanyanya penasaran.
Radit terdiam sebentar. "Papa sudah merestui kita" balasnya tersenyum kecil. Radit belum siap mengatakan yang sebenarnya jika Surya sudah meninggal 4 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan mengenaskan.
Radit tiba-tiba melucuti pakaian atasnya. Sebuah aksi yang membuat Jelita terperangah.
"Kak, lo mau ngapain?"
"Ya lanjut" balas Radit yang semakin membuat Jantung gadis dibawanya berdetak kencang.
"Lanjut apa?" Jelita berusaha menepis hasrat yang bersarang di dadanya. Ia belum mau menyerahkan kehormatannya sekarang.
Radit hanya tersenyum misterius. Dada polosnya perlahan semakin turun dan menempel lengket di dada kembar gadis yang saat ini sedang berkeringat itu. Kecupan hangat dan lembut menghujam kembali. Setiap inci wajah Jelita tak luput dari sapuan bibir pria seksi yang sedang diselimuti hasrat tinggi itu.
"Kak jangan marah" Jelita berusaha mencegah tangan Radit yang ingin melepaskan kancing bajunya.
"Kenapa?" sahut Radit menggebu.
"Hemm lo gak lupa kan kak. Gue pernah bilang mau melakukannya setelah menikah" ucap Jelita dengan raut kecut seperti orang meringis. Ia kemudian menyatukan telapak tangan. "Sorry banget kak" tambahnya sambil menggosok-gosok telapak tangan yang disatukan.
Radit pun tersenyum lebar melihat tingkah lucu gadis di bawahnya.
"Lo pikir gue sebejat itu. Gue gak akan maksa kalau lo gak mau" ujar Radit seraya membelai halus pipi wanitanya.
Jelita merasa lega, rasa tidak enak hatinya lamgsung sirna berganti bahagia yang tidak terkira jumlahnya. Berbekal sisa ilmu taekwondo yang pernah dipelajari, ia membanting tubuh kekar Radit jadi di bawahnya.
"Thank you, kak" ucapnya mencium gemas pipi sang kekasih hati.
Keduanya kembali bercumbu ringan dengan durasi singkat.
"Kak, kok tiba-tiba lo berubah pikiran. Padahal kemarin gak ada tanda-tanda lo mau ngajak gue balikan?" Jelita turun dari atas tubuh berotot itu dan berbaring di sebelahnya.
"4 tahun bukan waktu yang sebentar. Bukankah kita harus kembali agar tidak terlalu banyak kehilangan waktu?" Radit meraih tangan Jelita kemudian memasukkan jemarinya di sela-sela jari lembut itu.
Keesokan harinya, seperti biasa Radit bangun lebih dulu. Sedangkan Jelita, si gadis pemalas masih terlelap. Radit beranjak dari kasur masuk menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, ia pun segera keluar setelah membersihkan diri. Dan tentu saja, Jelita masih tak bergeming dari tempat tidur. Bila sudah tidur, gadis itu seperti ular yang habis menyantap mangsa dalam ukuran besar.
"Bau apa ini? Kok enak banget" ucap Jelita parau sambil mengendus.
Ia berdiri lalu melangkah mengikuti aroma sedap itu berasal.
"Lo masak apa kak?" tanyanya sambil mengalungkan tangan di pinggang Radit dari belakang.
"Masak makanan kesukaaan tuan putri Jelita" jawab Radit tersenyum tipis seraya membalikkan masakannya.
"Romantis banget. Gue jadi makin cinta" timpal Jelita manja.
"Sudah buruan sana mandi. Setelah itu kita sarapan"
20 menit kemudian....
"Gue minta ktp dan kartu identitas lo yang lain" ucap Radit di sela-sela makan.
"Untuk?"
"Minggu depan gue mau nikahin lo"
"Hah" sambar Jelita terkejut.
"Kenapa? Kok kaget? Gak mau nikah sama gue?"
"Ya mau"
"Kenapa kagetnya berlebihan gitu?"
"Ya kagetlah. Tiba-tiba diajak nikah. Kita kan baru balikan kak"
"Gue takut lo berubah pikiran. Jadi gue harus ngikat lo"
"Kak, gue luluhin hati lo itu susah banget loh. Jadi gak mungkin gue ninggalin lo. Lo gak percaya sama gue?" sahut Jelita sewot.
"Percaya tapi belum seratus persen . Dengan lo jadi istri gue, itu artinya lo gak bisa kemana-mana tanpa izin gue"
"iss posesif banget. Lo mau ngekang gue kak? Lo mau ngurung gue di kandang kayak ayam gitu?"
"Itu kalau lo keras kepala. Hah" Radit menghela nafas sembari menyandarkan punggungnya di kursi. "Kenapa gue sebucin ini sama lo?" tanyanya heran sendiri.
Jelita tertawa kecil. Kalimat itu sangat ramah masuk ke telinga. Ia beranjak dan menghampiri Radit yang duduk di seberangnya.
"Gue sayang banget sama lo kak" ungkapnya seraya memeluk Radit dari belakang.
Wajah sang pria berputar 30 derajat lalu mengecup halus bibir ranum berwarna merah muda alami itu. Setelah cumbuan singkat, Radit menarik lengan Jelita dan menuntun sang gadis duduk di pangkuannya.
Tangan Jelita bergerak aktif melingkar ke tengkuk belakang Radit. "Kak, apa setelah menikah, mama akan merestui kita?"
"Entahlah. Tapi mungkin kita harus segera punya anak. Bukankah orangtua akan luluh setelah melihat anak kecil?" tutur Radit.
"Lo mau memanfaatkan anak kita nanti untuk mendapat restu dari mama? Jadi lo mau punya anak karena alasan itu saja?" tanyanya sedikit kecewa.
"Saya mencintai kamu, Jelita. Saya hanya mau punya anak dari kamu" tutur Radit tegas.
"Wuihh jiwa pak Raditnya keluar. Ah gue takut dibentak ni"
"Ngeledek gue?" sahut Radit dengan sorot mata mengelas tajam.
"Gak. Mana berani gue ngeledek pak Radit. Gue takut dipecat" ucap Jelita mengankat tangannya.
Pasangan kekasih itu serempak terkekeh geli. Detik berikutnya, bibir mereka saling bersahut menyalurkan hasrat satu sama lain. Rasa rindu yang telah terpendam begitu lama membuat keduanya tidak ingin melepaskan cumbuan penuh gairah itu. Sentuhan dan belaian lembut merangsang birahi keduanya, terbuai dalam dunia cinta yang berkonsep dewasa.
"Gue mencintai lo kak" ungkap Jelita dengan nafas terengah.
Radit tersenyum tipis kemudian melahap kembali bibir ranum yang sebentar lagi akan menjadi miliknya sepenuhnya. Tangan kekarnya mengankat tubuh ramping Jelita dan membawanya ke kamar. Ia kembali menindih tubuh aduhai itu tanpa sekat. Seperti dua sisi magnet yang saling menarik jika berdekatan, bibir keduanya menempel begitu saja. Posisi dan suasana yang mendukung membuat cumbuan mereka semakin liar dan panas hingga bunyi kecapan yang khas memenuhi ruangan.
"Kak, sebentar lagi. Nakal banget sih" ucapnya geram sambil menepuk pelan kepalan tangan pria di atasnya yang sedang berusaha melucuti pakaian yang dikenakannya.
"Ahh..gue tidak suka sifat keras kepala lo yang satu ini" ucap Radit jengah karena sudah tidak sabar ingin menyetubuhi gadis di bawahnya. Lagi-lagi ia harus meredam hasrat tinggi kelakiannya.