My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Tidak Akan Menyerah



"Kak, bisakah lo meluk gue sebentar?"


Radit membisu tidak mengiyakan juga tidak menolak. Ia hanya menatap intens wajah lelah sang gadis.


"Tunggu di sini" ucapnya seraya kembali masuk ke dalam gedung.


Sementara itu Jelita tertegun tidak mengerti, kenapa ia disuruh menunggu di tempatnya sekarang. Ia hanya butuh satu pelukan saja tapi malah disuruh menunggu tanpa alasan jelas.


Sekitar lima menit, sebuah mobil hitam bermerk berhenti tepat di sisi pembatas antara gedung dan jalan dimana Jelita berdiri di situ. Kaca mobil itu sengaja diturunkan oleh orang di dalamnya dan menampilkan wajah pria dengan mimik datar.


"Kak Radit"


"Masuklah" titah Radit tak memandang sang gadis.


Ditemani sisa rintik hujan juga jalanan basah, mobil melaju melewati jalan utama menuju kontrakan Jelita. Tak ada obrolan ringan apalagi obrolan berat. Suasana di dalam mobil begitu senyap seperti kuburan. Jelita pun tidak berani bersuara karena sebelumnya Radit sudah memperingatkan agar jangan berisik selama perjalanan. Radit juga mengatakan jika kebaikannya saat ini, hanya bentuk rasa kasihan dari atasan untuk bawahan. Tidak ada sesuatu yang lebih.


"Terima kasih kak" ucap Jelita lembut setelah mobil berhenti di halaman kontrakannya.


Ia segera turun setelah menunggu beberapa saat namun tidak ada tanggapan dari pria di sebelahnya. Namun tak disangka, Radit juga ikut turun.


"Kok lo turun kak? Tumben. Biasanya langsung kabur?" tanyanya heran.


Seperti biasa, pria itu tidak membalas. Tetap konsisten dengan ekspresi dingin yang mengerikan. Tapi kali ini ada yang berbeda. Radit meraih punggung Jelita dan membawa gadis itu dalam dekapan hangatnya. Sontak Jelita melotot tidak percaya.


"Berapa lama?" tanya Radit datar.


"Kalau bisa selamanya" sahut Jelita tersenyum senang seraya mengalungkan lengannya di pinggang berotot sang kakak.


"5 menit" sela Radit.


"6 menit" sahut Jelita menawar.


"Baiklah. Tetap diam seperti ini. Jangan bicara apa-apa" timpal Radit memberi syarat.


Si gadis tentu saja menurut patuh. Ini pelukan pertama dari Radit setelah 4 tahun berlalu. Gadis itu bersyukur telah mendapatkan kenyamanannya kembali. Meskipun ini cuman sebentar tapi setidaknya cukup untuk mengobati rasa rindu yang menggunung hingga dadanya tidak muat lagi menampung gejolak rasa itu.


"Kak, apa ini tandanya kita sudah balikan?" meskipun sudah di warning sejak awal namun Jelita tidak tahan untuk menanyakan hal ini.


Hah!


Sulit sekali membuat Radit bicara. Pria itu tetap tidak bersuara seakan mulutnya telah direkatkan oleh lem yang sangat paten.


"Sudah 6 menit" ucap Radit mengurai diri. "Masuklah, istirahat. Hari-hari kamu ke depannya akan semakin sulit. Jadi jangan memikirkan hal yang tidak mungkin. Termasuk pertanyaan kamu tadi" Radit masuk ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan Jelita yang terlihat sedang kebingunan.


"Jadi jawabannya apa? Sudah balikan atau belum? Terus maksudnya gak mungkin apa? Beliin gue makanan, nganterin gue pulang, balas ciuman gue, meluk gue, terus apanya yang gak mungkin? Awas saja lo Radit, gue akan bikin lo bucin sebucin-bucinnya. Lo pikir gue akan nyerah? Gak akan" ucapnya penuh semangat dan yakin jika suatu hari nanti, Radit si pria dingin bin galak akan luluh dan mencintainya lagi.


...***...


Menjelang siang, Radit semakin terdesak untuk segera menyudahi pekerjaannya. Hari ini ia ada pertemuan dengan pihak Group A.K.U yang menemuinya seminggu yang lalu untuk membahas ulang rencana kerjasama mereka.


"Laras setelah ini, saya tidak ada jadwal di luar lagi kan?" tanya Radit ingin memastikan. Karena setelah itu, ia tidak akan kembali ke kantor lagi.


"Tidak ada apa" balas Laras yakin.


Tak ingin pihak sana menunggunya terlalu lama, Radit pun segera pergi meninggalkan kantor menuju lokasi yang telah dipilih sebelumnya.


"Terima kasih banyak pak Radit. Dengan pak Radit ada di pihak kami, saya yakin Group A.K.U yang baru dirintis ini akan berkembang pesat" ujar perwakilan dari perusahaan tersebut.


"Sama-sama. Bekerjalah dengan baik agar saya tidak menyesal telah menanamkan saham saya di sini" Radit menyambut uluran tangan pria bertubuh tambun di depannya.


Setelah itu, sang CEO langsung pergi. Mobilnya melaju dengan kecepatan di atas standar. Alarm pengingat muncul di layar ponselnya membuatnya semakin ingin cepat sampai ke lokasi pemakaman. Hari ini adalah hari dimana tragedi na'as itu terjadi. Kecelakan maut yang telah merenggut nyawa papanya, tepatnya 4 tahun lalu.


"Maaf ma, aku telat" ucap Radit begitu sampai di area pemakaman elit.


"Kamu itu ya selalu telat"


Ibu dan anak itu segera melantunkan doa di sisi makam. Rutinitas spiritual itu selalu mereka lakukan setiap tahunnya tepat di tanggal Surya meninggal. Bukan sesuatu yang wajib namun bagi mereka mengunjungi Surya di tanggal ia pergi untuk selamanya merupakan moment penting. Moment yang bisa mengobati kangen dan luka mereka.


"Kamu tidak cerita kan sama...


"Gak ma. Gak akan pernah" sambar Radit mengerti arah pembicaraan Laura.


Tentu saja di moment ini, Radit tidak pernah terlewatkan mengingat kejadian itu lagi.


*4 tahun yang lalu...


Hari itu tinggal selangkah lagi, Radit akan meninggalkan Indonesia. Namun saat berada tepat di depan pintu pesawat, ia mengurungkan niatnya. Radit bergerak mundur kemudian berlari kencang. Dan memutuskan tinggal di apartement sembari menunggu acara pernikahan Jelita dan Zain besok. Di dalam kamar, Radit menyusun rencana untuk membawa Jelita kabur sebelum akad nikah dimulai.


Keesokan harinya, suasana di rumah Surya mulai ramai. Para tamu satu persatu berdatangan memenuhi halaman rumah mewah itu. Panitia dan petugas yang dipercaya mamandu kelancaran acara terlihat sibuk hilir mudik mengecek segala kelengkapan pernikahan.


Tak lama pengantin pria pun datang. Zain duduk di bangku yang telah disediakan khusus untuk pengantin. Pak penghulu pun juga sudah siap dengan segala berkasnya.


Sementara itu, Radit secara diam-diam mengendap masuk ke kamar Jelita dari pintu belakang. Ia memakai masker hitam agar wajahnya tidak dikenali orang rumah. Tibanya di kamar, ia tidak melihat Jelita di sudut manapun.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jelita Aliska Wiratan...


Sontak para tamu menoleh ke arah Laura.


"Ada apa ma?" tanya Surya curiga ada yang tidak beres.


"Jelita tidak ada di kamar" jawab Laura dengan mata berbinar basah.


Radit yang bersembunyi di balik tirai pun ikut terkejut. Perlahan ia keluar dari persembunyian.


"Pa, papa mau kemana?" tanya Laura.


"Papa harus cari Jelita, ma"


"Cari kemana?"


"Kemana saja. Jelita itu putri kita ma. Papa tidak bisa membiarkan dia sendirian di luar sana. Ahh" Surya menekan dada kirinya. Ia merasa sedikit sesak namun sekarang bukan saatnya mengeluh sakit.


"Pa, dada papa kenapa? Mending papa istirahat dulu. Suruh orang papa saja cari Jelita" pinta Laura khawatir.


"Gak papa ma" Surya segera bergegas ke ruang bagasi, tak mengindahkan saran sang istri.


Saking paniknya, Surya menolak tawaran dari Sopian dan menyetir mobil sendiri.


"Ma, papa kemana?" tanya Radit tiba-tiba datang.


"Radit. Kamu kok di sini? Kamu gak jadi pergi ke New York?" sahut Laura terkejut.


"Bukan saatnya menanyakan itu ma. Aku akan kejar papa" Radit pun berlari menuju bagasi.


Mobil Surya dan Radit berjalan beriringan dengan jarak hampir 2 meter. Radit terus memantau laju mobil di depannya. Ia khawatir karena mobil itu berjalan terlalu cepat. Berulang kali ia menekan bel panjang agar Surya berhenti namun tak digubris.


Mata Surya yang tidak fokus ke depan membuat kecelakaan itu tak terelakkan. Sebuah mobil truk putih melintas dari arah berbeda. Truk itu tampak oleng dan bergerak tak beraturan hingga menabrak pembatas jalan. Surya berusaha menghindar namun tiba-tiba dadanya kembali sesak. Ia kehilangan kendali kemudi.


Truk itupun menghantam mobil Surya dengan sangat keras hingga terpental beberapa meter. Mobil Surya juga sempat berputar-putar seperti bola sebelum akhirnya berhenti dengan posisi terbalik.


Tubuh Surya yang bersimbah darah segera di bawah ke ruang UGD namun sayang setelah beberapa saat, Surya dinyatakan meninggal. Bahkan dokter mengatakan jika nyawa Surya sudah tidak ada sejak perjalanan menuju rumah sakit.


Laura yang mendengar kabar mengerikan itu langsung pingsan. Sedangkan Radit hanya bisa menangis meratapi kepergian papanya yang begitu tiba-tiba. Kini hanya penyesalan yang bersarang di dadanya. Jika saja ia bisa mengontrol perasaannya, kejadian memilukan ini, mungkin saja tidak terjadi. Keluarganya akan tetap utuh, tidak hancur seperti sekarang.*


Di perjalanan pulang seusai mengunjungi makam, Radit tak sengaja melihat Jelita sedang mengobrol dengan seorang pria di depan sebuah toko.


"Zain, beneran kamu gak dendam kan sama aku?" tanya Jelita lagi meskipun Zain sudah berulang kali menjawab tidak.


"Gak. Aku mengerti posisi kamu. Lagian jikapun pernikahan kita terjadi, aku yakin kamu tidak akan bahagia karena aku tahu kamu mencintai pria lain. Memang butuh waktu untuk bangkit tapi sekarang semuanya sudah membaik. Dan sebentar lagi aku akan menikah, Jelita" ucap Zain yang berhasil membuat Jelita menganga.


"Hah! Nikah? Sama siapa?" tanya Jelita antusias.


"Kamu akan terkejut kalau tahu. Gimana kalau kita bertemu lagi di kafe Mentari, malam minggu nanti. Aku akan bawa calon istriku" ucap Zain tersenyum tipis memperlihatkan lesung pipinya yang dalam.


"Oke. Eh, emang kafe Mentari masih ada?"


"Masih. Sekarang aku ownernya" jawab Zain.


"Serius. Keren banget. Hmm kayaknya cuman aku deh yang masih segini-gini aja. Kak Radit sekarang punya perusahaan. Kamu punya kafe. Sedangkan aku masih jadi karyawan biasa" tutur Jelita mengasihani diri sendiri. "Eh Agnes gimana ya?"


Zain hanya mengankat pundaknya sebentar, pertanda ia juga tidak tahu.


"Kamu tidak mau menemui dia?" Zain mengarahkan sorot matanya ke arah pohon dimana Radit bersembunyi.


"Siapa?" sahut Jelita sambil berbalik badan.


Melihat Jelita berbalik, Raditpun segera menarik diri ke balik pohon. Bisa jatuh harga dirinya jika ketahuan mengintip.


"Ternyata Jelita masih berhubungan dengan Zain" gumam Radit menyandarkan kepala ke batang pohon.


Dorrrrr


Suara sopran Jelita berhasil mengejutkan Radit.


"Lo ngapain kak di sini? Ngintipin gue sama Zain ya?"


"Kamu pikir saya tidak punya kerjaan, hah? Buat apa saya melakukan hal konyol begitu?" sangkal Radit mengelak.


"Halah...gak mau ngaku. Terus ngapain kak Radit berdiri di sini?" Jelita terus menggoda Radit agar mengaku.


"Memangnya ada tulisan tidak boleh berdiri di sini. Gak usah GR ya. Kamu itu tidak sepenting itu. Jadi buat apa saya perhatiin kamu" Radit masih kekeh tidak ingin bicara jujur.


"Hmm ya udah deh gak papa kalau kak Radit tetap mau bohong. Gue tahu, kak Radit pasti cemburu kan?" ucap Jelita tersenyum merayu sambil mentowel dada bidang pria di depannya.


"Aishh kamu ngapain sentuh-sentuh dada saya. Agresif banget jadi cewek. Lagian siapa yang cemburu? Jelas lebih ganteng saya. Ngapain cemburu" ujar Radit seraya menarik jas hitamnya agar terlihat lebih rapi.


Jelita tersenyum simpul. Matanya berbinar haru. Ini Radit yang ia kenal dulu. Radit yang sedikit sombong tapi tetap menggemaskan. Radit yang hidungnya selalu merah saat sedang berbohong.


"Hidung lo merah kak" Jelita berjinjit lalu menempelkan hidungnya di hidung merah itu. "Itu artinya lo cemburu" tambahnya tertawa kecil.