
"Jelita"
Seruan nyaring itu seketika membuyarkan semuanya. Jelita tersentak dan langsung menarik diri, begitupun dengan Radit. Keduanya kelagapan seperti sepasang kekasih yang ketahuan saat akan melakukan perbuatan tak terpuji. Dan jika saja pemilik suara itu datang sedikit terlambat. Maka mungkin saja Radit sudah melahap habis-habisan bibir adiknya itu.
"Zain" ucap Jelita menatap heran.
Jelita memandang aneh pria yang sedang berjalan ke arahnya. Seingatnya pagi tadi di sambungan telepon, ia hanya mengabarkan pada Zain jika rencana jalan-jalan hari ini tidak jadi. Jelita tidak merasa memberitahu kekasihnya itu jika sedang liburan disini. Lalu, kok bisa Zain ke tempat ini? Iya sih ini tempat umum tapi rasanya kan gak mungkin kebetulannya bisa pas seperti ini.
"Zain, kok kamu ada disini?" tanya Jelita.
"Kenapa, kamu gak suka ya aku disini?"
"Bukan gitu. Aku kaget saja, kamu tiba-tiba disini" jelas Jelita tidak ingin Zain salah mengartikan pertanyaannya .
"Mama kamu telpon aku dan memberitahu tempat ini. Dia juga mengundangku ke sini. Gak papa kan aku gabung?"
"Jelas gak papalah. Aku senang banget kamu disini" mimik Jelita langsung berubah ceria. Setidaknya kehadiran Zain disini sedikit mengurangi rasa bersalahnya karena telah membatalkan rencana kencan mereka secara mendadak.
Hmmm
Radit sengaja berdehem karena sepertinya keberadaannya tidak dianggap. Sepasang kekasih itu terus bicara tanpa peduli jika ada orang lain di belakang mereka.
"Mau liburan atau ngobrol?" Radit bangkit perlahan sambil menahan nyeri di area pinggulnya. Sepertinya ketika ia membantu Jelita tadi, tanpa disadari bagian itu menabrak tumpukan batu yang ada di sisi jalan.
"Apaan sih, ganggu aja" balas Jelita ketus. Lo, bisa jalan sendiri kan, kak. Yuk Zain balik ke basecamp" Jelita dan Zain berjalan lebih dulu.
Sedangkan Radit masih berusaha untuk berdiri dengan benar. Jelita memang adik tidak ada ahlak. Sudah ditolongi bukannya terima kasih tapi malah ninggalin.
"Aahh" desis Radit sembari menggigit bibirnya. Dengan posisi berdiri tegap seperti ini, sakit di pinggulnya semakin terasa.
Zain berhenti. Walaupun samar, ia dapat mendengar erangan Radit yang sedang menahan sakit.
"Ta, kak Radit sepertinya sakit. Kita harus bantu dia" ucap Zain peduli.
"Gak usah. Itu dia cuman ekting. Biasa caper" kata Jelita sedikit berbisik.
"Eh gue dengar semuanya. Kuping gue gak budeg" Radit tidak terima tuduhan Jelita. "Lo itu di sekolah diajarin gak cara terima kasih. Gue gini karena bantu lo. Gue lagi gak ekting. Pinggul gue beneran sakit" Radit kembali menggigit erat bibirnya, sekedar ingin menahan rasa sakit. Radit pun duduk di bebatuan karena tidak kuat berdiri.
Melihat keadaan ringisan di wajah Radit membuat Jelita percaya dengan ucapan Zain. Kakaknya itu memang sedang butuh bantuan.
"Lo beneran sakit, kak?" tanya Jelita sambil berjalan mendekat.
"Menurut lo?" tanya Radit balik.
"Sini gue bantu"
"Aku saja Ta yang bantu kak Radit"
"Tidak usah. Lo bawa saja sepeda gue" tolak Radit tanpa basah basih.
Sebenarnya Jelita tidak suka dengan sikap ketus Radit pada Zain. Tapi mau bagaimana lagi? Pertemuan pertama mereka dalam situasi yang kurang baik. Di kepala Radit telah tertanam jika Zain bukanlah pria yang baik. Tidak ada cara lain bagi Zain selain berusaha lebih keras lagi untuk melunakkan hati kakak kekasihnya itu.
Zain tahu betapa pentingnya posisi Radit di hati Jelita. Kekasihnya itu tidak segan-segan membuat mulut orang yang menghina kakaknya berdarah. Siapapun itu jika menganggu Radit maka Jelita tidak akan pikir dua kali untuk memukul orang itu hingga babak belur. Sepenting itulah Radit dalam kehidupan Jelita. Dan Zain sudah pernah merasakan itu. Dimana ia pernah mendapat tonjokan kuat dari Jelita karena pernah meledek Radit pria lemah. Dengan rasa sayang dan cinta sebesar itu tentu saja membuat Zain harus mencari cara jitu agar Radit dapat menerima keberadaannya di sisi Jelita.
"Radit, kamu kenapa?" tanya Laura panik.
"Tanya saja sama putri kesayangan mama" balas Radit sembari duduk.
Radit hanya bisa menghela nafas setelah mendengar kejadian yang ceritakan Jelita. Padahal yang ngajak ribut duluan itu Jelita tapi dalam ceritanya, Jelita tetap tidak mau disalahkan. Ia menganggap Raditlah yang bersalah karena telah memancing emosinya. Tapi, ya sudahlah. Radit tidak ingin memperpanjang masalah. Ia pun legowo menerima tuduhan sang adik. Istilahnya, orang waras ngalah sajalah, haha.
"Zain, sini mancing bareng om" ajak Surya bersahabat.
"Pa, itu kan pancingan aku" hanya ada dua pancingan. Yang satu sudah dipakai Surya dan itu artinya pancingan milik Radit akan dipakai Zain. Radit tidak suka jika barangnya dipakai orang lain. Apalagi ini Zain. Ia semakin tidak rela.
"Sudah kamu istirahat saja. Badan kamu masih sakit kan abis jatuh dari sepeda"
"Bukan aku, pa. Tapi Jelita yang jatuh dari sepeda" sela Radit.
"Sama saja. Zain, cepat ke sini" Surya melambaikan tangan pada Zain.
Radit berdecak kesal. Ini semua karena Jelita. Sebenarnya memancing menjadi salah satu hobbynya. Ia suka berlama-lama menunggu di tepian sungai atau danau hingga umpannya disambar ikan. Banyak orang yang bilang, menunggu itu sangat membosankan tapi tidak bagi Radit. Baginya menunggu itu tidaklah membosankan. Karena jika kita tetap menunggu maka akan ada sesuatu yang datang. Entah itu sesuatu yang kita harapkan atau sesuatu yang tidak terduga sebelumnya.
Yeahhh
Zain dan Surya berteriak kegirangan. Akhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil. Kail keduanya disambar ikan yang berukuran sedang. Jelita pun segera berlari ke arah Zain. Layaknya perayaan lomba, sepasang kekasih itu melompat kegirangan. Zain refleks memeluk Jelita.
Lagi-lagi Radit merasakan ketidakrelaan dengan pemandangan mesra di depan matanya. Melihat sang adik sedekat itu dengan pria lain membuat darahnya berdesir. Radit bingung. Ia tidak mengerti kenapa perasaannya tidak karuan seperti ini?
Gak, Dit. Jelita itu adik lo.
Menjelang petang Surya dan Zain memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Sudah saatnya pulang ke rumah sebelum hari menjadi gelap. Laura menyarankan Jelita untuk pulang bersama Zain. Ia tidak enak hati membiarkan kekasih putrinya itu pulang sendirian. Jelita yang selalu mematuhi perintah kedua orangtuanya itu, tentu saja mengangguk setuju.
...***...
Malam semakin larut. Di kamarnya masing-masing, Radit dan Jelita sama-sama tidak bisa tidur. Mereka uring-uringan seperti ada yang menganggu pikiran keduanya. Namun anehnya Radit dan Jelita tidak tahu apa yang menganggu itu hingga membuat keduanya susah memejamkan mata.
Tok! Tok! Tok!
"Kak, kak Radit"
Mendengar suara Jelita, Radit pun bangun lalu duduk di ujung kasur.
"Kak, lo belum tidur kan?"
Radit tak bergerak dari duduknya. Ia masih memantau suara itu.
"Kak, buka pintunya. Gue tahu lo belum tidur. Soalnya lampu kamar lo belum mati" Jelita selalu ingat kebiasaan Radit, jika lampu kamar kakaknya itu belum mati maka pemiliknya belum tidur.
Radit tersenyum tipis. Ternyata Jelita masih mengingat kebiasaanya.
Dahi Jelita mengernyit sambil memandang ke pentilasi pintu kamar Radit. Jelas-jelas barusan lampunya hidup. Kok sekarang mati!
"Kak, lo sengaja kan matiin lampunya biar gue ngira lo sudah tidur. Hmm gue gak peduli walaupun lo gak ngizinin gue masuk. Gue tetap akan masuk kamar lo"
Krekkk
Jelita mengintip sebentar. Keadaan di kamar Radit gelap gulita. Jelita menjadi ragu untuk masuk ke dalam karena sebenarnya ia takut gelap. Namun tiba-tiba tangannya ditarik begitu cepat. Tubuhnya disandarkan ke dinding. Jelita terkejut, ia ingin berteriak tapi mulutnya sudah dibekap lebih dulu membuatnya tidak bisa bersuara. Tidak lama sebuah korek gas menyala.
"Buka mata lo" ucap Radit.
Dengan detak jantung yang semakin kencang, Jelita membuka matanya perlahan.
"Kak, gue gak suka gelap" dadanya bergerak naik turun. Raut wajahnya cemas. Jika saja tidak ada cahaya dari korek gas, mungkin Jelita sudah pingsan.
"Kak, lo tahu kan dari kecil gue takut gelap. Nyalahin lampunya kak, pelase" lanjutnya memohon.
"Pejamkan mata lo"
"Buat apa?"
"Pejamkan saja. Jari gue mulai panas" Radit merasakan jarinya seperti terbakar karena terlalu lama memegang korek gas yang sedang menyala.
Jelita menghela nafas sejenak kemudian menutup mata rapat-rapat.
Radit menatap paras cantik di hadapannya beberapa saat. Korek gas itu jatuh ke lantai seiring masuknya Jelita ke dalam dekapan Radit.
"Kak....
"Jangan bukan mata lo" Radit menekan seklar lampu. Kamar itu menjadi terang benderang.
Seperti perintah Radit tadi, Jelita tidak membuka matanya sama sekali meskipun lampu sudah menyala. Lengkungan garis bibir memperlihatkan seguras senyuman tipis di wajah Radit.
"Ta"
"Hmmm"
"Lo mau tidur sama gue gak?"
Seandainya lo bukan adik gue, sambungnya dalam hati.
"Ogah. Ngapain gue tidur sama lo. Gue punya kamar sendiri" tolak Jelita lantang.
Radit tertawa kecil. Jelita tetaplah adik kecilnya yang polos. Masih sama seperti dulu.
"Ta"
"Apaan sih. Ta...ta...ta, kayak lirik lagu" balas Jelita risih.
"Itu, tak" sambung Radit membenarkan. "Sekarang lo bisa buka mata"
Jelita membukakan matanya yang sebelah kanan lalu diikuti mata kirinya. Ia ingin mengintip keadaan kamar terlebih dahulu.
"Lampunya sudah nyala? Atau lampunya sudah nyala dari tadi?" tanya Jelita melebarkan pupil matanya.
"Benar semuanya"
"Iih lo nyebelin banget. Sengaja ya ngerjain gue. Rasain ini"
"Aahhh....yeah" Radit duduk dilantai sambil memegang sepasang kakinya yang baru saja diinjak Jelita. "Awas lo ya. Gue balas besok" ancam Radit serius.
"Coba saja kalau bisa. Wekk" ledek Jelita sambil menjulurkan lidahnya sebentar sebelum akhirnya pergi dari kamar Radit.