
Barang-barang sudah dipacking dengan rapi. Tidak banyak yang Radit bawah. Hanya beberapa buku tentang manajemen bisnis, pakaian, dan barang-barang kecil lainnya. Radit sengaja tidak terlalu banyak membawah barang karena tidak mau repot menatanya di apartement nanti. Apalagi di apartement ia hanya tinggal sendiri. Pasti akan sangat merepotkan jika semua barang miliknya dipindahkan semua ke tempat tinggalnya sekarang.
Saat ini sudah pukul empat sore. Surya, Laura, dan Radit mulai bersiap untuk pergi ke apartement yang akan Radit tempati. Mereka duduk di ruang keluarga sambil bercengkrama ringan sementara menunggu Jelita pulang kuliah.
Di sela menunggu itu, ponsel Laura bergetar menandakan ada pesan masuk.
Ma, Jelita lagi jalan sama Zain. Jadi gak usah nunggu Jelita. Nanti Jelita mampir ke apartement kak Radit.
Laura menghela nafas.
"Ada apa, ma?" tanya Surya.
"Kelakukan putri papa ni. Sudah tahu Radit mau pindah ke apartement hari ini. Dia malah jalan sama Zain. Ni Dit, baca pesan dari adik kamu" Laura ingin menunjukkan pesan itu kepada Radit.
"Tidak perlu, ma. Oke, kita langsung pergi saja" Radit berdiri sambil mengencangkan bajunya yang lecek.
Entah bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini. Yang jelas, Radit sedikit kecewa dengan sikap Jelita. Ia selalu menaruh semua tentang Jelita di atas segalanya bahkan saat menolong Jelita dari kecelakaan sepeda minggu lalu, Radit tidak peduli dengan resiko tubuhnya yang akan terluka nantinya. Baginya memastikan tubuh adiknya itu tidak tergores sedikitpun adalah hal yang utama. Tapi nyatanya....
Radit tersenyum getir.
Mungkin bagi sang adik, dirinya bukanlah yang utama. Hal itu jelas karena Jelita lebih memilih jalan dengan Zain daripada ikut mengurus kepindahannya ke apartement, pikir Radit.
Di tempat lain yang tidak terlalu banyak orang, Jelita duduk sendiri di atas kursi panjang. Kepalanya menengadah ke langit dengan mata terpejam. Semilir angin menusuk kulitnya tanpa permisi. Dedaunan dari pohon di atasnya terlihat menari indah. Ini senja yang sangat menenangkan kalbu. Semuanya indah dan memanjakan mata.
Tapi nyatanya keindahan dan kenikmatan itu tidak serta merta membuat hatinya tenang. Gejolak rasa itu tetap bersemayam di hatinya. Jelita tidak mengerti kenapa dirinya serapuh ini seperti tidak ada semangat hidup. Tepatnya kemarin saat Radit memutuskan untuk tinggal sendiri, seketika gairahnya ikut menyendiri. Jelita tahu ini terlalu berlebihan mengingat Radit hanya pindah rumah bukan pindah warga negara. Itu artinya ia masih bisa bertemu kakaknya itu kapan pun. Tapi entah mengapa Jelita merasa saat ini antara dirinya dan Radit ada jarak yang sangat jauh.
"Hah...gue pusing. Belum apa-apa, gue udah kangen sama lo, kak. Gue mau ketemu sama lo. Tapi lo kan lagi marah sama gue. Kalau gue nyamperin lo sekarang, lo pasti ngusir gue" katanya bimbang.
Setelah menata barang-barangnya, Radit merebahkan diri di atas kasur. Suasana di kamar ini begitu senyap. Ia bahkan bisa mendengar helaan nafasnya sendiri. Radit meraih ponselnya lalu mengecek apakah ada panggilan atau pesan yang masuk. Memang ada beberapa pesan tapi itu bukan dari orang yang sedang ia tunggu.
"Gue kangen sama lo, Ta" ucap Radit lirih.
...***...
Pagi ini Radit bangun dengan suasana yang berbeda. Jika sebelumnya ada sang mama yang selalu menyiapkan sarapan, kali ini Radit harus memasak untuk dirinya sendiri. Tapi itu bukan masalah besar baginya. Di New York, Radit sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri. Mulai dari mencuci pakaian, memasak, bahkan menyentrika baju, ia lakukan sendiri saat mengenyam pendidikan di negeri orang.
Satu yang sangat terasa atas kesendiriannya sekarang. Kini ia hanya makan sendiri tanpa kedua orangtuanya dan tentu saja tanpa Jelita. Selesai sarapan, Radit bersiap-siap untuk bekerja. Ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan milik Surya, papanya sendiri.
"Radit, ini meja kerja kamu. Meskipun kamu anak dari pemilik perusahaan tapi saya akan tetap memperlakukan kamu seperti karyawan yang lainnya" ucap pria berumur sekitar 30 tahun ke atas.
"Baik pak. Saya juga tidak mau diperlakukan khusus. Jadi jangan sungkan kepada saya. Jika saya ada salah, tolong ditegur pak" balas Radit tersenyum ramah.
"Baiklah. Selamat bekerja. Jika ada yang tidak kamu mengerti, silakan ke ruangan saya"
"Terima kasih pak Toni" Radit menyodorkan tangan kemudian disambut hangat oleh atasannya itu.
Semenjak Radit pindah, Jelita belum sekalipun mengunjungi sang kakak, begitu pun sebaliknya. Sebagai karyawan baru yang nantinya akan meneruskan kepemimpinan Surya di perusahaan, Radit harus bekerja extra dan bergerak lebih cepat dari yang lain. Ia harus mempelajari setiap seluk beluk manajemen maupun sistem perusahaan. Segala kesibukan itu membuat Radit tidak punya waktu luang untuk berkunjung ke rumah orangtuanya. Bahkan saat sang mama memintanya secara khusus untuk ke rumah sebentar saja, Radit tetap tidak datang. Tentu saja dengan alasan kesibukan yang menjadi andalannya.
"Ta, kamu kenapa sayang? Muka kamu pucat" tanya Laura sambil menyentuh kening putrinya.
"Kayaknya Jelita gak enak badan deh, ma" ucapnya setelah meneguk segelas air putih.
"Iya, badan kamu panas. Apa kita perlu ke dokter?"
"Gak usahlah, ma. Panas gini doang. Dibawah tidur juga sembuh"
"Hari ini kamu gak ada kelas?" tanya Laura menimpali.
"Gak ada, ma. Hari ini Jelita mau di kamar saja sambil ngerjain tugas kuliah. Jadi mama jangan ganggu ya. Soalnya tugas ini susah banget. Dari kemarin Jelita ngerjain gak kelar-kelar. Hah! Coba ada kak Radit. Dia pasti bisa bantuin Jelita" Jelita menghela nafas dengan pandangan sendu.
Setelah itu Jelita kembali ke kamarnya. Di ruangan kotak yang cukup besar itu, Jelita mulai sibuk menatap layar laptopnya. Ia mencari berbagai sumber referensi untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Cukup sulit tapi menyerah bukanlah pilihan yang tepat. Jika berhenti sekarang maka ia tidak akan bisa wisuda tepat waktu.
Tidak terasa siang telah berubah malam. Jelita bangkit dari kursi dan melebarkan kaki ke arah balkon. Matanya terpejam sesaat meresapi angin malam yang menyapu wajahnya.
"Lapar"
Jelita menuruni tangga menuju ruang makan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ia bertanya-tanya, apakah papa mamanya tidak makan malam? Tapi ya sudahlah, nanti saja nanyanya. Sekarang waktunya mengisi perut.
Setelah makan, Jelita berjalan-jalan sebentar di halaman rumah untuk menurunkan makanan yang ia makan tadi. Sekitar 15 menit lamanya, Jelita kembali ke kamar dan langsung tidur.
Di saat Jelita sudah benar-benar tertidur nyenyak, tiba-tiba datang seseorang menyelusup ke dalam selimutnya. Orang itu mengalungkan tangannya di pinggang ramping Jelita lalu tidur bersama.
Keesokan harinya, Jelita dibuat terkejut saat melihat sosok pria yang tidur di sebelahnya. Ia mengucek-ucek mata, barangkali salah lihat.
"Kak Radit. Gue mimpi gak sih?" Jelita mengucek matanya lagi kemudian ia menyentuh pipi sang kakak. "Iya asli, ini kak Radit" ucapnya yakin.
"Tapi kok dia ada disini? Kapan datangnya?" lanjutnya masih bingung.
Jelita menyingkap selimut, ingin beranjak dari kasur namun tubuhnya ditarik kembali ke atas benda empuk itu.
"Lo mau kemana?" tanya Radit parau.
"Kak, lo sudah bangun?"
"Hmm"
"Jam berapa lo kesini?" tanya Jelita penasaran.
"Sekitar jam sebelas"
"Terus lo ngapain kesini?"
"Mama telpon, katanya lo sakit"
"Oh gitu. Jadi kalau gue gak sakit, lo gak ke sini?" sahut Jelita.
"Banyak nanya lo ya" sahut Radit.
Jelita menelentangkan tubuhnya dengan benar. Matanya memandang langit kamar sejenak.
"Gue kangen banget sama lo, kak" ujar Jelita lembut.
"Gue tahu. Kenapa lo gak ngunjungi gue?"
"Lo juga kalau gue gak sakit, gak bakalan ke sini" balas Jelita.
"Kata siapa?"
"Kata gue lah. Kenyataannya emang gitu kan" ucap Jelita sewot.
Radit tersenyum tipis.
"Lo gak kangen kak sama gue? Lo gak mau lihat gue? Gue mau lihat mata lo kak" sambungnya sembari memiringkan badan.
Radit pun membuka matanya perlahan. Dua pasang mata indah mereka bertemu dalam diam. Saling menatap dalam kesunyian pagi dan membiarkan pendingin ruangan menerpa kulit. Tanpa suara hanya dengan pandangan, keduanya seakan ingin mengungkapkan rasa rindu yang bergelayut di hati.
"Traktir gue dong kak. Lo kan sudah kerja, pasti gaji lo gede" ucap Jelita mencairkan suasana yang canggung.
Radit menyentil kening Jelita.
"Emang lo itu gak ada otaknya ya. Gue baru kerja seminggu. Mana ada gajian secepat itu. Lagian gaji gue sama kayak karyawan yang lain" Radit menendang selimut ke ujung kasur kemudian berdiri. "Hari ini lo ada acara apa?"
"Gak ada" jawab Jelita cepat.
"Buruan bangun. Gue mau ajak lo jalan. Keliatannya lo sudah sehat" melihat mulut bawel Jelita, Radit yakin adiknya itu sudah sehat sepenuhnya.
Jelita merenung sejenak sambil meraba keningnya. Ia tidak percaya dengan ucapan Radit.
Eh iya. Gue gak panas lagi. Masa sih gue sembuh karena Radit disini. Ah gak mungkin. Kesannya kok lebay banget. Gue sembuh, ya karena tubuh gue kuat, gumam Jelita menyangkal dugaannya sendiri.
"Hmm malah bengong. Mau gak lo jalan sama gue? Woyy" tanya Radit meninggikan intonasi bicaranya hingga membuyarkan lamunan Jelita.
Jelita tersentak. Matanya membidik tajam.
"Ya ya mau. Memangnya kita mau kemana sih kak?"
"Gak usah banyak nanya. Ntar lo juga tahu" sahut Radit sembari berjalan keluar kamar.
20 menit kemudian,
Radit berdiri di depan cermin dan merapikan rambut basahnya. Selayaknya laki-laki pada umumnya, tidak ada polesan di wajahnya. Radit hanya memakai minyak rambut saja agar nanti saat di ruangan terbuka rambutnya tidak mudah berantakan.
Tok! Tok! Tok!
"Ta, lo sudah siap belum?"
"Sebentar lagi kak" sahut suara dari dalam.
Hampir 10 menit lamanya Jelita masih belum keluarga juga. Hemm begitulah cewek. Sebentar mereka itu paling lama 30 menit.
"Ta, buruan keluar. Kata lo sebentar"
"Tunggu sebentar lagi, kak. Ini susah banget masangnya. Kak lo masuk deh"
Setelah mendapat izin dari pemilik kamar, Radit pun masuk ke dalam. Ternyata Jelita sedang kesusahan menarik resleting yang ada di bagian belakang punggungnya.
"Kak, tolong tarik dong resletingnya" pinta Jelita.
Radit mendekat dengan hati berdebar. Ia dapat melihat dengan jelas punggung mulus Jelita dari posisi ini.
"Lo gak pakai baju dalam?" tanya Radit sebelum menarik resleting.
"Oh iya lupa. Ya sudahlah, sudah terlanjur. Buruan tarik"
"Ta, lo gak ada malu-malunya ya. Gue cowok....
"Ya terus kenapa? Lo nafsu lihat punggung gue? Gue kan adik lo"
Lo bukan adik gue, batin Radit.
Radit memutar badan Jelita. Meskipun sedang berhadapan namun Radit masih bisa melihat punggung mulus yang terbuka itu dari pancaran cermin yang ada di belakang Jelita.
"Tetap saja gue cowok" ucap Radit maju satu langkah membuat jarak keduanya hampir tidak ada.
"Jangan pernah minta tolong untuk yang satu ini kepada pria manapun" lanjutnya sambil menarik resleting hanya dengan satu tarikan cepat. Hal itu membuat dada Jelita refleks menempel ke dada bidang Radit.