
Menjelang petang, langit mendadak gelap tak ada cahaya matahari sama sekali. Tak lama gemuruh dari langit menggelegar mengagetkan orang-orang di bawahnya. Hujan pun turun sangat lebat. Cuaca yang tiba-tiba berubah membuat sebagian karyawan yang terjebak di dalam gedung sontak panik. Ini sudah waktunya bagi mereka pulang ke rumah namun hujan tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Mau tidak mau, mereka harus bersabar lebih lama lagi.
Namun bagi yang membawa kendaraan beroda empat, hujan lebat bukanlah kendala besar. Beberapa dari mereka pun bisa pulang tepat waktu.
Jelita akhirnya bangkit dari duduknya setelah hampir setengah jam menunggu hujan reda. Ia berdiri menghadap dinding kaca dan memandangi hujan. Ada perasaan damai saat melihat rintik hujan itu.
"Kak, apa sesusah ini bertemu dengan lo? Padahal kita ada di gedung yang sama. Sudah 2 hari gue disini tapi kita tidak pernah bicara berdua. Ada banyak yang mau gue tanyain kak" ucapnya sendu sembari memeluk diri sendiri, berlindung dari hawa dingin yang menerpa kulit.
Mendekati jam tujuh malam, hujan mulai reda namun rintik hujan di luar sana masih terlalu besar. Orang-orang akan basah kuyub jika nekad menerobos. Jelita mulai cemas dengan cuaca yang sangat tidak bersahabat itu. Ia tahu jalanan Jakarta di malam hari tidaklah baik untuk anak gadis sepertinya. Namun jika terus menunggu sampai hujan benar-benar reda maka malam semakin larut.
"Lebih baik gue pulang saja sekarang. Gue takut dijegal preman di jalan" Jelita meraih tas kecilnya kemudian berjalan menuju pintu utama gedung.
Sampainya di lantai bawah, gadis itu tidak sengaja berpapasan dengan Radit yang ternyata juga baru mau pulang. Namun lagi-lagi Jelita dibuat keheranan. Radit jelas sekali berusaha menghindarinya. Melihat atasannya itu berjalan menuju pintu keluar masuk gedung, Jelita pun sedikit berlari mengekori pria itu dari belakang.
"Kak" panggil Jelita saat Radit akan masuk ke dalam mobil.
Radit menoleh sekilas seraya menutup pintu mobil yang sudah sempat ia buka.
"Kamu bicara dengan saya?"
"Kak, lo kenapa sih?" tanyanya mendekat.
Radit tersenyum sinis lalu menggelengkan kepala.
"Yang sopan kalau bicara. Pakai saya kamu. Saya atasan kamu. Kak? Maksud kamu kakak? Sejak kapan saya jadi kakak kamu? Saya tidak punya adik" cerca Radit ketus disertai raut dinginnya.
Ucapan pria di depannya membuat Jelita tersentak. Benarkah Radit tidak mengenalnya? Atau ia sudah salah mengenal orang?
"Lo bohong kak" Jelita menghilangkan jarak dirinya dengan pria tersebut.
Radit tertegun sesaat kemudian ia masuk ke dalam mobil mewahnya. Sementara itu, tanpa rasa malu Jelita ikut masuk ke dalam mobil sang CEO.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Radit geram seraya bergeser ke samping saat gadis itu memaksa duduk di tempatnya.
"Gue butuh tumpangan kak. Itu sudah malam. Gue takut pulang sendirian" ujar Jelita tidak peduli jika dicap gadis tidak tahu malu.
"Keluar. Dan stop panggil saya kakak. Kalau tidak, besok kamu jangan masuk kerja lagi" ancam Radit serius dengan sorot mata menyala.
"Iya maaf. Lagian gue memang tidak punya kakak. Tapi kali saja, kasih gue tumpangan" wajah ceria gadis itu mendadak murung.
Jelita duduk kalem sambil mengalihkan pandangan keluar mobil.
"Jalan pak" ucapnya bertingkah seakan mobil hitam itu miliknya.
"Ini mobil saya" timpal Radit sewot. "Jalan pak"
"Iya gue tahu"
"Berhenti bicara pakai gue, lo, kita tidak pernah seakrab itu" ucap Radit memperingati untuk yang kedua kalinya.
Jelita menatap Radit dengan tatapan dalam menelisik. Gadis itu seakan ingin mencari jawaban di bola mata coklat pria di sebelahnya untuk memuaskan rasa penasaran yang menyelimutinya hatinya sejak dua hari yang lalu.
"Saya dengar pak Radit sudah menikah ya?"
"Saya tidak perlu menjawab pertanyaan kamu" balas Radit tanpa melihat lawan bicaranya.
Jelita menunduk lalu menghela nafas panjang.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya berubah?" tanyanya lagi. Ia tidak peduli meskipun Radit tetap tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Saya juga tidak perlu menjawab pertanyaan kamu yang satu ini" sahut Radit tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Baiklah" balas Jelita menyerah. Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya hal pribadi. Ia akan mencoba lagi di lain waktu.
Jelita menatap nanar mobil hitam itu. Dan hanya bisa menghela nafas berulang kali saat mobil yang ia tumpangi tadi menghilang ditelan pekatnya malam. Ia sebenarnya ingin berbicara lebih lama. Tapi apa daya, ia tidak punya kuasa untuk menahan pria itu tetap bersamanya.
Sementara itu, mobil yang membawa Radit melintasi malam semakin melaju jauh. CEO muda yang duduk di bangku penumpang itu, tampak termenung seraya memandang gemerlap lampu penerang jalan.
Ingatannya mengenang kembali tragedi pilu 4 tahun yang lalu. Tragedi yang merubah semuanya termasuk kehidupan dan pribadinya saat ini. Radit yang dulu sudah tidak ada lagi. Yang tersisa sekarang hanyalah Radit dengan segala wibawanya sebagai CEO muda yang berhasil dalam dunia bisnis. Bos muda yang dikenal semua orang sebagai pribadi yang dingin dan terkadang tidak berperasaan.
Dia yang sudah menghancurkan semua Dit, batin Radit bicara dengan dirinya sendiri.
...***...
📞 Laras, suruh Jelita ke ruangan saya.
Tok! Tok! Tok!
Jelita menurut patuh. Kilatan mata Radit membuatnya ngeri. Sepertinya ia sudah melakukan kesalahan, pikirnya.
Sementara Jelita menuggu dengan perasaan cemas, Radit tampak sibuk membolak balikkan lembar putih di atas meja.
"Ini kamu yang buat kan?" tanya Radit seraya mengankat lembar putih itu.
"Iya pak. Ada apa ya pak?" tanyanya gugup.
"Kamu tanya kenapa? Katanya kamu paling kompeten di bidang ini. Lalu ini apa?" Radit mengeraskan intonasi bicaranya sambil melempar berkas sembarang.
Hal itu membuat Jelita terkejut. Seumur-umur baru kali ini Radit membentaknya.
"Maaf pak. Tolong jelaskan dimana kesalahan saya?" tanya Jelita memberanikan diri meskipun ia tahu pertanyaannya sangat lancang. Tapi ia harus tahu letak kesalahan dari pekerjaannya agar bisa memperbaikinya nanti.
"Semuanya tidak jelas. Gambar, warna, bentuk, semuanya membuat saya muak. Dan juga grafiknya. Dimana letak....
Radit mengusap wajahnya. Berkas yang ia terima sangat memancing amarah untuk diperhatikan lama-lama.
"Perbaiki yang saya coret. Saya minta hari ini juga diselesaikan. Saya tidak peduli kamu lembur sampai malam atau bahkan tidak pulang. Saya mau berkas itu ada di meja saya sebelum jam duabelas malam" pinta pria itu menuntut.
"Baik pak" Jelita memungut berkas yang berserakan di lantai lalu pergi sambil menggerutu dalam hati.
Sudah lewat pukul dua sore, Jelita masih tidak beranjak sama sekali dari bangku kerjanya. Matanya melototi layar komputer dengan otak yang berpikir tanpa henti.
"Gue lapar. Tapi kalau makan, berarti gue kehilangan waktu kurang lebih 15 menit. Ah nanti sajalah. Kalau sudah selesai, baru gue makan" ucapnya kembali fokus ke layar komputer.
Menit pun berganti. Pekerjaan Jelita belum juga selesai. Bahkan di saat satu persatu rekannya mulai berhamburan keluar gedung, ia masih terpaku dengan benda menyala di hadapannya.
Sementara itu, Radit yang tidak sengaja melewati area meja kerja Jelita, berhenti sebentar untuk memperhatikan karyawan barunya itu dari jauh.
"Sejak kapan dia menjadi penurut?" gumam Radit heran. Padahal pekerjaannya sudah benar. Lalu apa yang mau dia perbaiki" lanjutnya. Setelah itu, ia melebarkan kaki meninggalkan gedung.
Pukul enam sore, akhirnya Jelita bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun buru-buru naik ke ruangan Radit yang ada lantai tiga untuk menyerahkan berkas.
"Mbak Jelita mau kemana?" tanya Laras yang sedang bersiap-siap mau pulang.
"Mau masuk. Mau kasih ini ke pak Radit"
"Pak Radit dari jam lima tadi sudah pulang" timpal Laras dengan tatapan kasihan.
Jelita terkulai lesu. Gadis itu menempelkan wajah lelahnya di atas meja. Ia bimbang, apakah langsung pulang saja atau menunggu Radit kembali ke kantor. Tapi kalau berkas tidak diserahkan sebelum jam duabelas, Radit akan memarahinya habis-habisan lagi. Tak terasa gadis itu terlelap dengan posisi duduk.
Pukul 19.30,
Jelita membuka mata perlahan begitu mendengar meja kerjanya diketuk.
"Antarkan berkasnya ke ruangan saya" Radit langsung meninggalkan Jelita yang masih mengumpulkan nyawa.
Jelita merengut tidak suka. Radit benar-benar tak berperasaan.
Tok! Tok! Tok!
"Ini pak" Jelita menyodorkan berkas yang sudah ia perbaiki kepada Radit.
"Sekarang kamu boleh pulang"
"Gak di cek dulu pak?" tanya Jelita merasa aneh.
Radit tidak menjawab dan hanya menatap dingin pada gadis di depannya. "Keluar" usirnya kasar.
Jelita menuju meja kerjanya dengan langkah gontai. Perutnya yang belum diisi apapun dari siang membuat tubuhnya lemah tak bertenaga.
"Gue gak kuat jalan. Sebaiknya malam ini gue tidur di mes saja" Jelita pun menuju mes yang disediakan perusahaan untuk menampung karyawan yang mengambil lembur.
Sampainya di sana, ia segera merebahkan diri di kasur setelah mereguh segelas air putih guna mengganjal perut kosongnya. Tak butuh waktu lama, gadis itupun terlelap.
"Gue tidak tahu apa yang lo alami selama 4 tahun belakangan. Tapi mungkin saja yang terjadi sama gue lebih berat dari yang lo alami. Atau mungkin, lo lebih menderita? Dan sekarang kita bertemu lagi. Gue harap ini bukan takdir. Karena sebelumnya, gue percaya takdir tapi hasilnya sangat menyakitkan" batin Radit menatap sendu gadis di seberangnya.
Radit membenarkan posisi bantal agar tidurnya jadi lebih nyaman. Malam ini ia pun tidur di mes menempati kasur yang hanya berjarak satu meter dari gadis yang sedang terlelap itu. Gadis muda yang telah merubah hidup dan pandangannya tentang cinta.