My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Memulai Sebelum Mengakhiri



Pikiran Jelita tidak berada di tempatnya. Meskipun saat ini raganya sedang bersama Zain tapi tidak dengan hatinya. Gadis itu memikirkan pria lain yang membuatnya dihantui rasa bersalah. Ia bukannya tidak berusaha untuk mengerahkan segala fokus pikirannya kepada Zain terutama saat sedang jalan bersama seperti ini. Tapi usaha itu selalu menemui jalan buntu. Semakin hari perasaannya pada pria tampan di sampingnya terus memudar seperti tulisan yang terkena air.


"Gimana bagus kan film nya?" tanya Zain sesaat setelah keluar dari bioskop.


"Iya, bagus banget. Aku suka ceritanya" ucap Jelita sambil tersenyum tipis. "Sekarang kita mau kemana?" lanjutnya.


"Aku ngikut kamu saja. Pokoknya hari ini, kemanapun kamu mau pergi, aku akan turutin" sahut Zain lembut.


Jelita menyoroti sepasang netra pria itu. Zain pria yang sangat baik bahkan terlalu baik. Sejak awal berkenalan sampai menjadi sepasang kekasih, Jelita belum menemukan sifat buruk pria itu. Zain selalu menuruti kemauannya, selalu mengalah, dan kalau marah tidak pernah lama.


Kenapa kamu sebaik ini, Zain? Tidak mungkin aku mengakhiri hubungan kita. Sedangkan kamu tidak pernah ada salah padaku, batin Jelita bimbang.


"Hai, kok melamun? Mikirin apa?" tanya Zain sambil menyentil dagu Jelita.


Pundak Jelita bergedik. "Ah gak...gak mikirin apa-apa. Hmm gimana kalau kita ke lantai 3 saja. Aku mau main capitan boneka. Siapa tahu kali ini aku beruntung" Jelita berharap kali ini keberuntungan benar-benar berpihak padanya.


Mungkin bukan hanya dirinya yang setiap kali bermain capitan boneka selalu berakhir kegagalan. Meskipun selalu gagal Jelita tidak pernah melewatkan permainan menyebalkan itu setiap berkunjung ke mall manapun. Bahkan saking teguhnya, ia hanya memainkan permainan itu saja. Jelita sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyerah sebelum mendapatkan minimal satu boneka dari permainan itu.


"Hah! Semoga kali ini dapat" Jelita menghela nafas sejenak sembari menggosok tangannya.


Jemari kecilnya memasukkan dua koin ke dalam lubang yang terletak di ujung tabung berdinding kaca itu. Setelah mengarahkan capitan tepat di atas boneka yang diincarnya, Jelita pun menekan tombol yang tersedia badan capitan.


"Yahh gagal lagi" keluhnya kesal. Ia kembali memasukkan dua koin namun sayangnya gagal lagi dan lagi.


Jelita menatap nanar sisa koin yang ada di telapak tangannya. Tinggal dua koin saja. Zain yang sejak awal hanya berdiri tegap di sisi kekasihnya itupun merasa kasihan.


"Boleh aku coba?" tanya Zain menawarkan jasa.


Gadis itu diam tertegun beberapa detik. Ia sebenarnya masih mau main terus. Tapi tidak ada salahnya memberi Zain kesempatan. Mungkin kekasihnya itu memiliki keberuntungan yang tidak ia miliki.


"Boleh, tapi harus dapat ya. Soalnya ini kesempatan terakhir" Jelita berkata seakan ia tidak bisa membeli koin lagi.


Zain memasukkan koin. Ia mengelus tangannya dulu sebelum menggerakkan benda loncong di bawahnya. Jelita yang begitu tajam memperhatikan pergerakan capit merasakan deg degan yang luar biasa.


What!


Mulut Jelita ternganga. Ia tidak menyangka, Zain berhasil hanya dalam sekali percobaan.


"Aaahh berhasil" teriak Jelita sambil melompat kegirangan.


Zain mengambil boneka dari lubang yang tersedia.


"Ini, untuk kamu"


"Aku sudah tahu kok, boneka ini untuk aku. Thank you" ucap Jelita sambil meraih boneka berbulu halus itu dan memeluknya erat.


"Thank you saja ni?" alis kanan Zain tertarik ke atas. Ia menginginkan sesuatu, bukan sekedar ucapan terima kasih.


"Pulang yuk" ajak Jelita mengabaikan pertanyaan pria di hadapannya.


Zain tertegun sesaat. Ia bingung, mungkinkah Jelita tidak mendengar ucapan barusan atau memang gadis itu sengaja mengabaikannya? Entahlah! Zain berlari kecil mengejar Jelita yang sudah berjalan mendahuluinya.


...***...


Jelita menurunkan kaca mobil dan membiarkan angin malam menyapu wajah lusuhnya. Sesekali matanya terpejam meresapi semilir angin yang menerpa kulit. Sesekali pula Jelita melirik Zain yang sedang fokus mengendalikan kemudi. Lalu matanya kembali memandang lampu-lampu penerang jalan. Hatinya menjadi bimbang, pikirannya resah.


Berada di sisi Zain tidak akan membuatnya menjadi anak yang berkhianat kepada orangtua. Semua akan baik-baik dan dan berjalan normal semestinya. Namun pada akhirnya pilihanya itu akan menyakiti dirinya sendiri. Karena hati dan pikirannya bukan untuk Zain.


Jika memilih putus dan berlari memeluk Radit maka keutuhan keluarganya akan hancur berantakan. Tanpa perlu ditanya, orangtuanya akan menentang habis-habisan hubungannya dengan Radit. Nama baik papanya akan tercoreng. Orang akan memandang hina dan mencaci tanpa tahu yang sebenarnya. Merajut kasih dengan Radit bukanlah pilihan yang tepat, pikir Jelita ragu.


"Thank's ya Zain bonekanya. Ternyata kamu sangat berbakat" puji Jelita mengacungkan jempol.


"Maksudnya berbakat?" tanya Zain tidak begitu paham.


"Kamu berbakat main capitan boneka" ledek Jelita bercanda sambil tersenyum simpul.


Zain tertawa kecil lalu tersenyum manis. Pipi bolong pria itu tersibak membuatnya semakin mempesona saat tersenyum. Itu merupakan salah satu daya tarik terbesar Zain yang membuat gadis-gadis di kampus ingin sekali menjadi pacarnya. Namun sayangnya sejak melihat Jelita untuk pertama kali atau lebih tepatnya saat orientasi mahasiswa baru, hati Zain sudah terpaut untuk Jelita seseorang. Kecantikan serta pribadi Jelita berhasil menawan pria bermata indah itu, yang sebelumnya terkenal dengan kepribadian dingin dan kaku.


"Itu bukan bakat tapi beruntung. Mungkin karena aku terlalu sayang sama kamu jadi aku sedikit diberi keberuntungan" ucap Zain merayu.


"Apaan sih? Gombal banget. Udah ya aku masuk. Kamu hati-hati nyetirnya. Jangan ngebut-ngebut" Jelita berbalik setelah melambaikan tangan.


Namun tiba-tiba Zain berlari lalu memberikan pelukan hangat pada gadis pujaannya itu.


"Susst" desis Zain sambil menempelkan wajahnya di pundak Jelita. "Sebentar saja" sambungnya memejamkan mata.


Zain mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Jelita. Kini tubuh keduanya menempel lekat tanpa sekat.


"Zain, aku ngantuk" ujar Jelita berbohong. Ia merasa tidak nyaman dengan keintiman ini.


Zain pun memutar raga ramping itu. Tangannya menyelusup di kedua sisi tengkuk sang gadis.


"Zain, sorry aku gak bisa" tolak Jelita tegas saat kekasihnya itu mau mengecup bibirnya. Ia menarik diri, mundur satu langkah.


Raut muka Zain seketika berubah kecut. Batinya terguncang hebat atas penolakan keras gadis di hadapannya. Bahkan kekasihnya itu terlihat begitu tertekan. Hal yang membuat Zain sedikit terpukul. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Jelita terus saja menolaknya?


Ini bukan karena kamu tidak suka. Ada seseorang yang membuat kamu menghindar. Jika benar, aku harap bukan dia orangnya, batin Zain curiga.


...***...


Radit duduk termenung menghadap jendela. Di dalam ruangan kotak yang sunyi ini, pikirannya menerawang jauh. Hatinya bagai tersayat sembilu saat Jelita tetap memilih pergi bersama Zain.


* 7 jam yang lalu


" Gue serius. Jangan pergi...Jelita" seru Radit berharap permintaannya dituruti.


Langkah gadis itu berhenti tepat di ambang pintu. Pintu yang sempat terbuka sedikit kembali tertutup rapat.


"Kak, gue gak mau pergi. Tapi gue gak bisa melawan papa. Ini tidak akan berhasil, kak. Karena sejak awal, ini sudah salah" tutur Jelita lirih dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Jadi perasaan kamu salah?"


"Kak, lo tahu kan bukan itu maksud gue? Mungkin mulai sekarang, kita harus kembali seperti dulu. Perasaan gue untuk...


Jelita tercekat. Ucapannya terputus. Bibirnya bergetar bersama matanya yang mengatup. Hatinya saat ini sedang terombang ambing seperti ombak di lautan. Sulit sekali berada dalam situasi sepelik ini. Ada hati yang harus ia jaga dan ada hati yang akan ia sakiti dalam waktu bersamaan. Apapun keputusannya, pasti salah satu ada yang tersakiti.


"Gue gak bisa kak menyakiti hati mama dan papa. Gue minta maaf. Tolong kembalilah ke apartement" pinta Jelita setengah hati.*


Radit bangkit dari duduknya dan berbaring di atas benda empuk yang terbuat dari kapuk itu.


"Lo tidak bisa menyerah secepat ini, Jelita. Kita bahkan belum memulainya" gumam Radit sembari memandang langit-langit kamar.


Radit mengerutkan keningnya begitu mendengar bunyi bel. Ia melihat waktu di layar ponsel. Sudah hampir jam sembilan malam. Radit mencoba menebak sambil melangkah ke arah pintu. Kira-kira siapa yang bertamu ke apartementnya?


Krekk


"Hai" sapa seorang gadis begitu pintu terbuka.


"Lo, ngapain ke sini?"


"Bukankah harus dimulai dulu sebelum diakhiri? Gue mau memulainya"


Radit tersenyum miring.


"Boleh saja. Tapi gue tidak mau ada kata akhir"


"Lalu?" sahut gadis itu.


"Masuklah"


Gadis itu mengekor di belakang Radit. Ia mengeluh dalam hati. Kenapa pria di depannya sangat lambat bertindak?


Hah! Gue gak tahan, batin si gadis.


Wanita itu menarik lengan Radit dan mendorongnya ke dinding. Seperti orang kelaparan, si gadis melahap habis bibir Radit ke dalam mulutnya yang berbentuk mungil itu.


Ibarat kucing yang diberi ikan segar, Radit pun tidak tinggal diam. Ia tidak membiarkan gadis itu menguasai permainan. Radit berulang kali menggigit bibir si gadis hingga menciptakan suara desis dan lenguhan yang menggairahkan, membuat hasratnya kian terpacu.


"Gue belum mau melakukannya" ujar si gadis.


"Kalau begitu gue akan mencium lo sepanjang malam" ucap Radit dengan tatapan seksi menggoda.


"Ayo lakukan" ajak si gadis penuh semangat.


Radit menarik kasar leher mulus itu. Ia memberi hentakan pelan setiap kali mengecup bibir merah sang gadis. Gigi rapatnya sesekali mengigit telinga merah si gadis hingga membuat suara erangan menyeruak memenuhi ruangan.