My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Cemburu



"Ta" sapa Laras mengejutkan Jelita yang sedang duduk melamun.


Pundak gadis muda itu bergedik. "Eh mbak Laras. Ada apa mbak?" tanyanya seraya berdiri.


"Kalau lagi berdua gini panggil nama saja. Umur kita kan cuma beda bulan saja" ujar Laras merasa tua jika dipanggil mbak.


"Oh oke" angguk Jelita setuju.


"Malam ini datang ya ke kafe Pestary. Jam tujuh malam. Tahu kan kafe itu?"


"Tahu. Emangnya ada acara apa?" tanya Jelita menelisik.


"Cuman acara makan kecil-kecilan doang sih. Aku kan hari ulang tahun" ucap Laras tersenyum tipis.


"Oh kamu ulang tahun hari ini. Sorry, aku gak tahu. Happy birthday ya. Sukses selalu" Jelita memeluk Laras sejenak.


"Doa yang sama buat kamu" balas Laras tersenyum.


Jelita dan Laras memang tidak terlalu intens berbincang mengingat mereka bekerja di lantai yang berbeda. Namun karena ada project khusus yang diberikan Radit untuk Jelita membuat gadis itu mau tidak mau harus sering naik ke lantai 3 guna memberitahu tentang perkembangan terbaru project khusus itu. Hal itupun membuat Jelita dan Laras sering bertemu. Dan di sela-sela kesibukan, keduanya sering mencuri waktu untuk sekedar bertegur sapa ataupun mengobrol sebentar dengan topik ringan.


Karena merasa sudah cukup akrab, Laras memutuskan mengundang Jelita dan beberapa rekan karib yang lain untuk merayakan bersama hari kelahirannya.


Sesuai janji yang telah disepakati, sekitar jam tujuh kurang Jelita dan yang lain sudah berkumpul di kafe Pestary. Mereka duduk di meja yang telah dipesan sebelumnya. Tak lama kemudian, sang pemilik acara juga datang. Laras menyapa rekan-rekannya itu dengan senyuman anggun dan merekah. Terlihat ia sangat bahagia menyambut hari kelahirannya ini.


"Loh kok kamu duduk di sini, Ras?" tanya Dian yang juga turut diundang.


"Iya, Ras. Harusnya kamu duduk di tengah. Kan kamu yang ulang tahun" timpal Jelita yang kebetulan duduk di samping Laras.


Laras tersenyum misterius. "Ada tamu spesial. Tamu yang sangat spesial. Kursi itu khusus untuknya" ucap Laras tak henti menyebar senyum.


"Pacar?" sambung Dian.


Laras tidak menjawab. Ia hanya tersenyum aneh yang membuat semua orang yang hadir jadi bertanya-tanya. Siapa tamu spesial yang Laras maksud?


Setelah beberapa menit menunggu, para pelayan mulai datang bergantian menghantar makanan. Mereka dengan telaten menata makanan di atas meja. Aroma dan tampilan dari makanan itu sangat menggugah selera dan menggiurkan. Jelita dan yang lain sudah tidak sabar ingin makan secepatnya. Tak lama setelah makanan selesai dihidangkan, semua yang hadir dibuat terperanjat kecuali Laras.


"Itu pak Radit kan?" ucap Haris tak menyangka.


"Kalian semua pasti gak nyangka kan, pak Radit bakalan datang juga. Makanya aku bilang tamu spesial" ucap Laras sangat bangga.


"Kok bisa?" sahut Mifta heran.


"Entahlah! Aku juga kaget pas aku ngomong, pak Radit langsung bilang, dia akan datang" balas Laras yang sebenarnya juga sempat tidak percaya jika CEO nya itu akan benar-benar bergabung dengan yang lain untuk merayakan ulang tahunnya.


"Malam semuanya" sapa Radit tersenyum ramah.


Sementara itu, ekspresi terkejut Jelita sama seperti yang lain. Hanya bedanya, ia dilanda rasa cemburu. Karena Radit yang terkenal dingin dan galak itu, nyatanya mau juga datang ke acara seperti ini. Ini bukanlah acara yang penting dan tidak menghasilkan uang. Jika Radit sampai datang, pasti karena ada sesuatu yang menguntungkannya. Hal itulah yang memercikkan api cemburu di hati Jelita. Apalagi Laras selalu bilang tamu spesial.


Jadi tamu spesial itu, kak Radit. Apa mungkin mereka ada hubungan spesial?, batinnya curiga sambil mencuri pandang pada pria tampan yang duduk memimpin di tengah itu.


Acara makan-makan itu berlangsung damai dan nikmat. Beberapa menu yang menjadi best seller kafe Pestary sudah habis tak bersisa. Semuanya tampak lahap menyantap makanan di piring masing-masing.


"Ta, malam minggu nanti makan-makan kayak gini lagi yuk" ajak Dian di sela-sela makan.


"Hmm sorry aku gak bisa. Aku sudah ada janji"


Sontak Radit langsung melirik Jelita.


"Sama pacar?" sahut Dian.


"Mau tahu aja" balas Jelita ambigu yang semakin membuat Radit penasaran.


*Apa dia sudah punya pacar? Terus maksudnya berjuang bersama itu apa?, batin Radit d*ongkol.


Mendadak Radit hilang selera makan. Setelah selesai makan, ia pun segera pamit pulang dan tidak ikut meriahkan acara berikutnya.


"Maaf saya harus pulang duluan. Saya masih ada urusan lain" ucap Radit langsung pergi.


Padahal saya ke sini karena dia, sambungnya membatin sambil memandang Jelita sekilas.


* 5 jam yang lalu...


Melihat Laras tidak ada di tempatnya, Radit pun turun tangan sendiri untuk menemui Jelita di lantai dua. Sampainya di sana, ia melihat dua gadis muda itu sedang berbincang. Karena penasaran, Radit pun mendekat. Sebenarnya ia tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka namun atas sikap lancangnya kali ini, Radit pun merasa sedikit beruntung. Ia menjadi tahu jika Jelita akan ikut merayakan ulang tahun Laras, asistennya.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak"


"Ada apa Laras?"


"Gini pak, hari ini kan ulang tahun saya. Jadi saya ada acara makan kecil-kecilan. Hmm pak Radit mau tidak ikut gabung dengan...


"Saya akan datang" sambar Radit langsung mengiyakan.*


Jelita berlari kecil ke area parkir. Ia mengedarkan mata begitu tiba dengan nafas tak teratur.


"Kak Radit tunggu" pekiknya nyaring.


"Ada apa?" tanya Radit sambil menutup pintu mobil yang sempat ia buka.


"Gue mau pulang sama lo kak"


"Kenapa? Acaranya kan belum selesai"


"Itu lo tahu. Terus kenapa pulang duluan?" tanya sang gadis menimpali.


"Saya itu berbeda dengan kalian. Setelah pulang kerja, saya harus kerja lagi. Pekerjaan saya banyak" penjelasan Radit seakan menggambarkan jika hidupnya sangat membosankan.


Jelita terdiam beberapa saat dengan tatapan sulit dijabarkan pada pria di hadapannya.


"Kak, mungkin mulai sekarang, lo harus baik-baikin gue" ucap Jelita dengan sorot mata sendu sembari maju beberapa langkah.


"Untuk?"


"Kalau lo terus bersikap begini, mungkin gue akan nyerah buat dapatin lo lagi kak"


Sementara itu, Jelita masih mematung di tempat yang sama.


"Dasar batu. Diancam begitu masih gak mempan juga. Keras kepala banget. Hah...gue harus ngapain lagi ya biar kak Radit luluh? Masa gue harus ketabrak dulu biar dia peduli. Ah...konyol banget kalau gue sampai ngelakuin itu" Jelita menggelengkan kepala frustasi. Entah cara apa lagi yang harus ia lakukan agar Radit mau kembali padanya.


Di dalam perjalanan pulang, Radit membisu merenungkan ucapan Jelita tadi. Entah kenapa hatinya bergetar hebat. Perasaan takut tiba-tiba menyerang batinnya. "Please, jangan menyerah" gumamnya lirih.


...***...


Malam minggu,


Setelah merasa penampilannya sudah rapi, Jelita segera bergegas menuju kafe Mentari. Malam ini ia akan bertemu Zain dan calon istrinya. Sekitar 30 menit perjalanan, Jelita akhirnya sampai di lokasi. Begitu memasuki kafe, ia langsung disambut pelayan di sana lalu menuntunnya naik ke lantai dua. Sesuai arahan, Jelita pun duduk manis di kursi yang sudah disiapkan.


Ia tersenyum senang dengan sudut yang Zain pilih. Area terbuka, tempat seperti ini selalu menjadi spot favoritnya. Karena banyak yang bisa ia lihat bila berada di ruang terbuka.


"Hai Jelita"


Sapaan lembut itu seketika membuat Jelita tersadar dari lamunan. Meskipun lupa-lupa sedikit tapi ia masih ingat suara itu.


"Agnes" ucapnya sambil berbalik badan.


Aahhhh


Kedua sahabat itu berteriak gembira seakan tidak percaya bisa bertemu lagi setelah sekian tahun. Mereka pun saling berpelukan erat untuk melepas rindu.


"Nes, sumpah gue kangen banget sama lo"


"Gue juga, Ta. Lo kemana aja sih? Ngilang tanpa jejak?"


"Lo kayak gak tahu aja apa yang gue alami" sahut Jelita mendelik ngeri.


"Iya gue paham. Tapi seharusnya lo gak boleh ngilang begitu saja. Eh btw lo sudah ketemu Radit belum?"


Jelita mengerutkan dahi karena tib-tibaa Agnes bicara tentang Radit. "Sudah. Gue malah kerja di kantornya" raut ceria Jelita mendadak berubah.


"Kok muka lo jadi sedih?"


"Kak Radit sekarang beda banget, Nes. Hampir tiap hari gue dicuekin. Bahkan kadang juga dibentak. Galak banget dia sekarang, Nes" ujar Jelita memelas kasihan.


"Ya itu wajar. Siapa yang gak marah kalau ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Tapi gue rasa, Radit itu cinta banget sama lo, Ta. Soalnya setelah lo pergi, dia sering banget datang ke rumah gue buat nanyain lo" tutur Agnes.


"Hemm. Jadi tema reunian ini, bahas mantan?" sambar Zain merasa tidak dianggap ada padahal pertemuan ini ia yang merancangnya.


"Sorry sayang?"


What? Sayang.


Jelita melirik Zain dan Agnes secara bergantian. Apa maksudnya Agnes bilang sayang kepada Zain?


"Tunggu dulu, sayang. Ini kalian....


"Iya, kami akan segera menikah" ucap Zain seraya meraih pinggang ramping Agnes.


Calon pengantin itu kemudian berciuman bibir sebentar.


"Aishh sialan kalian" umpat Jelita iri dengan pemandangan mesra di depannya.


Zain dan Agnes terkekeh kecil. Gejolak asmara keduanya membuat mereka lupa jika ada gadis jomblo sedang menatap dengan raut masam.


Reunian itu dilanjutkan dengan acara makan-makan sambil bercerita tentang perjalanan hidup masing-masing.


Sementara itu di sebuah rumah mewah dengan halaman super luas bersama pernik pernik mahal sebagai pelengkap, tampak Radit sedang berbincang serius dengan Laura.


"Ma, aku akan kembali padanya?"


Laura menoleh ke samping, menatap tajam wajah putranya.


"Kamu sudah berjanji tidak akan melakukannya" ucap Laura mengingatkan.


"Aku tidak akan menikah jika tidak dengan Jelita" timpal Radit tegas.


Plakk


Seketika rasa perih menyambar rahang keras pria bertubuh atletis itu.


"Tidak hanya mengkhiati mama tapi kamu juga menyakiti papa jika kamu kembali padanya" ujar Laura menggebu.


Radit menarik nafas lalu membuangnya dengan hentakan keras. Kepalanya menengadah ke langit sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana.


Matanya pun berubah merah seiring bulir airmata yang menghalangi pandangannya. Ia kemudian duduk bersimpuh seperti orang sedang memohon.


"Ma, hari itu aku mendengar semuanya. Bukankah papa sudah merestui kami jadi mama tidak bisa bilang, aku akan menyakiti papa jika kembali padanya. Please ma, aku benar-benar ingin kembali padanya" mohon Radit sungguh-sungguh. Ia menggapai pelan tangan Laura lalu menciumnya dengan penuh kelembutan.


"Kamu dengannya sama saja. Anak tidak tahu diuntung" hardik Laura berlalu. Hatinya sangat sakit dengan permintaan mustahil sang putra. Bagaimana ia bisa menerima Jelita kembali? Sedangkan mengingat namanya saja, langsung membuatnya teringat akan kepergian sang suami secara tragis.


Malam semakin pekat. Jalananpun mulai sepi. Jelita yang sedang diliputi rasa gundah, memberikan alamat yang salah pada sang sopir. Namun ia tidak menyadari kesalahannya tersebut. Mobil berlogo burung warna biru itu berhenti di depan pintu utama gedung mewah.


"Loh kok berhenti di sini pak?"


"Kan neng kasih alamat ini" jawab si sopir dengan tutur kata halus.


Ini kan gedung apartement kak Radit, batinnya sambil turun dari mobil setelah membayar ongkos taksi.


Meskipun ragu, Jelita tetap memasuki gedung dan menaiki lift menuju lantai dimana kamar apartement Radit berada.


"Kak Radit ada di dalam gak ya? Terus kira-kira apartement ini masih punya kak Radit atau sudah dijual? Aku coba masuk saja kali ya. Kalau passwornya belum dirubah berarti masih apartement kak Radit" Jelita menekan angka tanggal lahirnya.


Klikk


Jelita menganga saat password yang ia masukkan ternyata benar.


Jadi kak Radit belum merubah passwordnya. Wah...ternyata dia bucin banget sama gue, batinnya terkekeh senang.