My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Mau Punya Anak Berapa?



Setelah kelas pertama selesai, Zain dan Jelita pergi ke salah satu kedai untuk makan siang. Begitu sampai keduanyapun langsung memesan menu. Sembari menunggu mereka berbincang ringan dan sesekali disertai lelucon hingga membuat Jelita tertawa terbahak-bahak. Gadis itu tidak menyangka Zain yang dikenal sebagai pria yang tenang dan sedikit pendiam ternyata mempunyai jiwa pelawak juga.


Tak lama makanan pun datang. Mereka mulai menyantap makan siang yang tampak menggiurkan itu. Di sela makan siangnya, Jelita terus melirik Zain. Saat ini ia gugup setengah mati. Ada niat tersirat kenapa ia menerima ajakan Zain untuk makan siang bersama. Sebenarnya Jelita ingin memutuskan hubungannya dengan pria itu. Ia tidak ingin memberi Zain harapan semakin tinggi. Namun Jelita masih ragu dengan niatnya itu. Adakah cara memutuskan hubungan tanpa harus menyakiti hati?


"Kok makanannya gak dimakan?" tanya Zain membuyarkan lamunan gadis yang duduk di seberangnya.


"Oh...hem iya ini baru mau makan" ucap Jelita kikuk.


Sepasang kekasih itu tak lagi bicara dan terlihat begitu menikmati menu yang disajikan. Setelah membayar bill, Zain segera melangkah ke area lapangan kosong dimana mobilnya terparkir. Di sana juga Jelita sudah menunggunya.


"Sorry ya kalau kamu nunggunya lama. Tadi aku ke toilet dulu" ucap Zain sembari membuka pintu mobil dan mempersilakan Jelita masuk lebih dulu.


"Gak papa" balas Jelita menyungggingkan senyuman kecil.


Di perjalanan, Jelita kembali mengumpulkan keberanian. Kali ini ia bertekad untuk segera menyelesaikan hubungannya dengan Zain. Tapi saat mulutnya baru terbuka sedikit, Jelita lagi-lagi dihinggapi keraguan. Ia tidak punya alasan, kenapa meminta putus? Aneh bukan! Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba minta putus. Semuanya baik-baik saja, tidak ada pertengkaran kecil apalagi besar. Lalu medadak bilang putus. Zain pasti akan mencerca dengan sejuta pertanyaan.


Jelita mengalihkan pandangannya pada gerobak yang bergerak di tepian jalan. Ada tulisan Es Gogo di gerobak lusuh itu. Jelita membidikkan mata, mungkin saja ia salah baca.


"Eh iya, itu Es Gogo. Sudah lama sekali gak makan es itu" kata Jelita antusias. Pandangannya teralihkan sepenuhnya pada gerobak yang berada di pinggir jalan.


"Kamu mau beli?" tanya Zain.


"Mau banget"


"Ya sudah kamu tunggu disini. Aku beliin" Zain memarkirkan mobilnya ke tepian jalan.


"Hem...Zain, aku saja yang beli. Kamu tunggu disini"


"Jangan, biar aku saja" sahut Zain tidak setuju.


"Gak mau" bantah Jelita menggelengkan kepala. Sementara itu bibirnya mengerucut ke depan. "Aku saja yang turun. Aku sekalian mau traktir kamu. Kan selama ini kamu terus yang bayar kalau kita makan. Please, kali ini aku aja ya" ucapnya sambil menyatukan kedua telapak tangan seperti orang yang sedang memohon.


"Ya sudah, tapi kamu hati-hati nyebrangnya"


Begitu pintu mobil terbuka, Jelita langsung turun. Matanya melihat kiri-kanan. Setelah memastikan tidak ada mobil yang melintas, gadis muda itu menyebrangi jalan tanpa hambatan.


"Pak, es gogonya dua potong ya" pinta Jelita sambil mengankat jari telunjuk dan tengahnya.


"Yang berapa'an mbak?" tanya si penjual.


"Yang lima ribuan. Rasa alpukat ya pak" jawabnya.


Si penjual tampak cekatan menyiapkan pesanan pembelinya. Tidak sampai satu menit, dua potong es gogo sudah ada di genggaman Jelita. Setelah membayar, gadis itu langsung menggigit es gogo miliknya.


"Ah enak sekali" Jelita terlihat sangat menikmati potongan es yang telah diolesi coklat itu. Es dingin itu merupakan salah satu jajanan favoritnya saat mengecam pendidikan semasa SMA beberapa tahun silam.


Jelita sering menikmati jajanan ringan ini bersama Radit kakaknya selepas pulang sekolah. Saking sukanya, gadis manja itu bisa menghabiskan 5 potong es dalam sekejap.


"Oh iya gue hampir lupa, Zain lagi nunggu gue" Jelita tersadar saat melihat Zain sedang berdiri di sisi mobil tepat di seberangnya. "Mendingan gue langsung balik sebelum es ini cair" lanjutnya mengambil ancang-ancang ingin menyebrang.


Jika tadi ia sangat hati-hati dengan memperhatikan mobil yang lewat sebelum menyebrang, kali ini Jelita cukup ceroboh. Ia menyebrang begitu saja di saat kendaraan lumayan ramai.


"Jelita awas" teriak Zain nyaring.


Brugggg


Dua potong Es Gogo itu berserakan di aspal. Jelita berusaha bangun dan mendapati lengan kanannya tergores.


"Aww" ringisnya merasa pedih di area lengannya.


Jelita mengusap matanya sambil menggelengkan kepala. Matanya menatap aneh saat melihat kumpulan orang yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini. Samar-samar ia melihat sepatu berwarna putih dengan aksen biru dalam kerumunan itu.


"Itu kan sepatu Zain" ucapnya ragu sambil membidik mata.


Mata gadis itu membelalak ketika beberapa orang dari kerumunan itu menjauh.


"Zain" jerit Jelita histeris.


Gadis itu menghambur kepada kekasihnya itu.


"Zain bangun" teriaknya gemetar. "Pak, tolong angkat dia ke dalam mobil" pinta Jelita dengan mata berkaca-kaca.


Begitu sampai di rumah sakit terdekat, tubuh Zain langsung di bawah ke salah satu ruangan untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sekitar lima belas menit lamanya, Jelita belum juga mendapatkan kabar tentang kondisi terkini pacarnya itu. Hal yang membuatnya semakin ketakutan. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Zain, Jelita akan menyalahkan dirinya seumur hidup. Biar bagaimanapun kecelakaan ini disebabkan oleh tingkahnya yang tidak hati-hati.


Dalam keadaan panik, tiba-tiba ponselnya berdering.


📞 Hallo kak.


📞 Lo dimana?


Panggilan terputus. Radit segera bergegas keluar dari gedung. Dan langsung tancap gas menuju rumah sakit.


"Jelita, lo gak papa?" tanya Radit yang baru saja sampai. Ia mengecek semua bagian tubuh gadis itu untuk memastikan bagian mana yang terluka.


"Gue gak papa kak tapi Zain, dia sedang dirawat di dalam. Kak...


Jelita tercekat. Ucapannya terputus. Matanya mengeluarkan airmata deras.


Seketika sekujur tubuh Radit terasa tersayat saat gadis di hadapannya menangis pilu karena pria lain. Hatinya seakan hancur lebur. Belum pernah ia melihat Jelita menangis seseduh ini. Bahkan saat tahu, jika ia bukan anak kandung dari Surya dan Laura, gadis itu tidak menangis terisak seperti ini.


"Semuanya akan baik-baik saja" ucap Radit meraih Jelita ke dalam dekapannya.


"Gue takut banget kak, Zain kenapa-kenapa" timpalnya mengeratkan tangan di tubuh Radit.


Jelita terus menangis. Bahkan ucapan Radit seperti angin lalu. Nasehat pria kekar itu tetap tidak bisa membuat sang gadis lebih tenang. Melihat sikap Jelita membuat tulang-tulang Radit lemas seketika. Entah bagaimana menggambarkan perasaannya saat ini.


"Gue pergi sebentar" pamit Radit menguraikan pelukannya dari gadis itu.


"Lo mau pergi kemana kak?" tanya Jelita dengan tatapan aneh.


Radit tidak menjawab. Ia tertegun dengan tatapan sendu. Sementara itu, Jelita terus memperhatikan raut wajah pria di hadapannya. Ia menangkap sesuatu di sana. Perlahan tubuh pria berotot itu semakin menjauh dan menghilang di balik dinding rumah sakit.


...***...


Pukul 22.20, Jelita duduk dengan kedua lutut ditekuk. Keningnya menempel di sana. Ia mulai mengantuk dan ingin segera tidur. Namun seseorang yang ia tunggu belum juga datang. Hal itu tidak membuatnya goyah. Ia tetap menunggu meskipun tubuhnya sangat lelah.


Dan akhirnya tepat pukul sebelas malam, samar-samar dari kejauhan, Jelita mendengar derap sepatu. Ia yakin, itu pria yang ditunggunya.


"Kak Radit pulang juga" sapa Jelita begitu melihat Radit dari jarak satu meter tidak jauh dengan posisi duduknya sekarang.


Radit tidak menanggapi. Ia melangkah masuk ke dalam apartement dengan ekspresi datar. Jelita pun mengekor dari belakang.


"Katanya tadi pergi sebentar tapi malah gak balik-balik" gerutu Jelita protes.


Radit masih tidak menggubris. Ia melucuti kemejanya hingga memperlihatkan perut kotak-kotak yang tentu saja mampu membuat gadis manapun tergoda.


"Lo kecewa sama gue, kak?" tanya Jelita sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Radit dari belakang.


Hah!


Radit menghela nafas sejenak. Bola matanya mengedar sembarang.


"Lo cinta sama dia?" tanya Radit sambil menghempaskan tangan gadis itu dari badannya. Ia melebarkan kaki ke arah balkon.


"Enggak" jawab Jelita cepat seraya mengikuti langkah pria di depannya.


Radit tersenyum getir. Ia menggeser pintu balkon lalu berdiri di sana. Angin malam yang menerpa tidak menghalanginya untuk menikmati pekatnya malam dengan bagian tubuh atas terbuka.


"Tolong percaya sama gue kak" mohon Jelita sambil menyelimuti Radit dengan kain tebal. Ia tidak ingin kakaknya itu menggigil kedinginan. "Gue hanya merasa bersalah padanya" lanjutnya sembari memeluk Radit kembali.


"Terus kenapa lo menangis berlebihan seperti itu?"


"Tadinya gue mau mutusin Zain. Tapi gue ceroboh karena gak lihat-lihat dulu pas mau nyebrang. Zain datang nolongin gue. Kak, lo tahu kan kalau gue lagi merasa bersalah, gue pasti nangisnya begitu. Please percaya sama gue, kak" tutur Jelita resah.


Tanpa Jelita sadari, saat ini Radit sedang tersenyum lebar. Tak lama pria itu menarik senyumnya lalu menampilkan ekspresi dinginnya lagi sebelum berbalik.


"Mending lo pulang, gue mau tidur"


"Anterin" sahut Jelita memanjakan suaranya.


What? Anterin. Berarti dia mau pulang. Dasar tidak peka. Harusnya dia berusaha lebih keras lagi buat bikin gue luluh, batin Radit dongkol.


"Pulang saja sendiri. Telepon saja pak Sopian untuk jemput lo kesini" Radit merebahkan diri di atas kasur empuknya. Ia menarik selimut sampai leher. Lalu memejamkan mata dan pura-pura tidur.


Jelita menghentakkan kaki dengan bibir manyun dan raut masam atas sikap acuh sang kakak. Gadis itu pun menyelusup masuk ke dalam selimut yang sama dengan Radit.


"Lo ngapain disini? Sana tidur di luar. Jangan ganggu gue" usir Radit dengan mata terpejam.


"Gak mau" tolak Jelita manja sambil memeluk tubuh kekar itu. "Kak" lanjutnya seraya menarik lengan panjang Radit dan menjadikannya bantal sebagai alas kepalanya.


"Hemm"


"Lo mau punya anak berapa dari gue?"


Hah!


Radit ternganga. Matanya langsung terbuka lebar.