My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Hari Untuk Kita



Tok! Tok! Tok!


Pintu kamarnya yang diketuk berulang seketika membuyarkan lamunan Zain. Ia mengalihkan pandangan ke arah pintu. Tampak seorang gadis dengan penampilan sederhana menerobos masuk.


"Hai" sapa Agnes canggung.


"Agnes. Kemarilah" sambut Zain ramah. Ia kemudian duduk di tepian ranjang. "Siapa yang kasih tahu lo, gue di rumah sakit?"


Agnes tidak langsung menjawab. Sembari menaruh kantong buah di atas nakas, otaknya coba memilah jawaban yang tepat terlebih dahulu. Mungkin saja Zain tidak suka jika ia menyebutkan nama Jelita.


"Dari Jelita?" tebak Zain.


Agnes tercekat. Tiba-tiba ia merasa haus.


"Boleh gue minum dulu?" tanya Agnes sopan.


Zain mengangguk pelan.


Setengah botol air mineral berukuran sedang itu lolos mengaliri tenggorokan Agnes yang kering.


"Zain, sorry kalau gue lancang. Tapi Jelita bilang kalian putus. Benar itu?" tanya Agnes gugup setengah mati.


Zain tidak menanggapi pertanyaan gadis di depannya. Ia menarik ingatannya ke belakang, beberapa hari yang lalu.


*"Kita putus saja"


Deg!


"Aku salah apa?" tanya Zain dengan intonasi berat dan tatapan dingin.


"Gue yang salah" jawab Jelita ambigu.


"Lo mencintai pria lain?" timpal Zain menduga.


Hah! Jelita menghela nafas berat. Matanya mulai berbinar basah. Dadanya semakin sesak dengan wajah terus ditekuk. Melihat kebisuan gadis itu membuat Zain semakin yakin. Sejak beberapa bulan yang lalu, ia sudah curiga jika kekasihnya telah beralih hati.


"Maafin aku Zain. Aku juga tidak tahu kenapa ini terjadi" Jelita berhenti sejenak untuk menyeka airmatanya.


"Pergi dari sini" usir Zain kasar.


"Zain"


"Aku bilang pergi dari sini"


"Aku gak akan pergi sebelum kamu....


"Aku gak akan memaafkan kamu. Jika kamu tidak mau pergi maka aku yang akan pergi" ucap Zain tegas. Terlihat matanya mengelas tajam. Tidak ada lagi tatapan hangat seperti dulu untuk gadis yang sedang berdiri di sisi ranjangnya saat ini*


"Zain, kok bengong?" Agnes melambaikan tangan di depan wajah pria berparas menawan itu.


"Oh sorry, Nes. Tadi lo tanya apa?"


"Gue tanya, lo beneran putus sama Jelita?"


"Sepertinya begitu. Kamu bawah apa?" tanya Zain mengganti topik pembicaraan.


"Buah. Gue gak tahu lo suka buah apa. Jadi gue banyak beli macam-macam buah" ucap Agnes tersenyum memaksa untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


Zain beranjak dari duduknya menghampiri nakas dimana Agnes meletakkan kantong buah.


"Gue suka anggur"


Mulut Agnes menganga. Ia memarahi dirinya sendiri dalam hati. Dari berbagai jenis buah yang ia beli, tidak ada anggur di kantong itu.


"Sial. Gue lupa lagi beli anggur" ucap Agnes setengah berbisik.


"Gue bercanda. Dibandingkan anggur, gue lebih suka jeruk" sambung Zain tersenyum meledek sembari mengupas kulit jeruk. "Thanks, Nes"


Lagi-lagi Zain teringat kebersamaannya dengan Jelita saat mulutnya sedang mengunyah buah jeruk. Kala itu ia sempat deman tinggi karena kehujanan setelah mengantar Jelita pulang. Zain ingat sekali kenangan mesra itu dimana Jelita sangat telaten mengurus dirinya. Salah satunya mengupas kulit jeruk untuknya.


"Hemm, bengong lagi" gumam Agnes samar.


"Sorry, Nes" sahut Radit.


"Telinga lo oke juga ya. Padahal gue pelan banget ngomongnya"


"Cuman badan gue yang sakit. Telinga gue masih aman" timpal Radit tersenyum tipis.


Dua insan berlainan jenis itu saling menatap sejenak dengan segurat senyum di lengkungan bibir masing-masing.


"Zain sorry, kancing baju lo kebuka" Agnes merapat untuk membenarkan baju yang dikenakan Zain.


Deg! Deg! Deg!


Jantungnya gadis sederhana itu seketika berdetak kencang seakan siap melompat dari tempatnya. Entah ini aji mumpung atau memang sudah takdir. Setelah lama memendam rasa, hari ini akhirnya ia bisa sedekat ini dengan pria pujaannya itu.


"Sudah puas lihat muka gue?"


"Emmh sorry Zain" kata Agnes tersipu malu dengan rona merah di wajahnya. Ia pun segera menarik diri sedikit menjauh.


...***...


"Di atas tanah ini, gue akan bangun sebuah rumah sederhana"


"Untuk?"


"Untuk kita" sahut Radit.


Seketika mata Jelita tertuju kepada pria di sebelahnya. Bola matanya berbinar haru, tidak menyangka kekasihnya itu akan memikirkan masa depan mereka sejauh ini. Tidak ada kata selain bahagia untuk menggambarkan rasa yang bersarang di lubuk hati terdalamnya saat ini.


"Kak"


"Hmm"


"Lo cinta banget ya sama gue?"


Radit pun tersenyum geli. Gadis ini memang selalu ceplas ceplos tanpa berpikir dulu sebelum bicara.


"Kok lo ketawa?" tanya Jelita heran.


"Lucu"


"Apanya yang lucu? Gue serius loh kak nanya gitu" bibir gadis itu mengerucut ke depan membuat wajahnya tampak sangat menggemaskan.


"Lucu banget sih" ucap Radit tidak tahan untuk menarik pipi kenyal Jelita.


"Aww sakit kak. Pelan-pelan kenapa sih?" Jelita mengelus pipi merahnya yang terdapat cubitan Radit barusan.


"Apanya yang pelan-pelan?" tanya Radit sengaja memancing pembicaraan ke arah yang lain.


Hah!


Jelita menghela nafas pendek. Kemudian menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul.


"Kak, udah deh. Bisa gak sih otak lo itu kalau lagi sama gue jangan mesum mulu" Jelita berjalan maju mendekati pohon rindang untuk melindungi kulitnya dari sinar matahari.


Radit pun mengikuti dari belakang. Ia tidak mau kepanasan sendiri di tengah tanah kosong yang sebentar lagi akan berdiri sebuah rumah sederhana, untuk ia tempati bersama Jelita nanti.


"Kak, seharusnya sebelum kesini, kita makan dulu. Gue lapar" ujar Jelita sambil mengelus perut ratanya.


"Tadi di jalan gue tawarin makan, lo gak mau"


"Tadi gue belum lapar. Sekarang gue baru lapar. Lo gak bisa dong kak, samain waktu sekarang dengan tadi" sahut Jelita tidak mau disalahkan.


"Yah...lo benar" balas Radit malas berdebat. "Jadi kita pulang sekarang ni?"


"Iya tapi gendong" pinta Jelita manja dengan muka melasnya.


"Tuhan kasih lo kaki buat jalan" tolak Radit halus.


"Kak, gendong. Lo makin ganteng deh kak kalau lagi baik sama gue" bujuk Jelita manyun.


Hah! Ekspresi manja itu membuat Radit tidak kuat. Pertahanannya runtuh dan ia menyerah lebih cepat. Lagian komitmennya untuk membahagiakan wanitanya itu harus ia tepati. Tubuh Jelita yang ramping juga tidak akan membuat bebannya terlalu berat.


"Lama ah" Jelita langsung menghambur naik ke punggung Radit.


Sepasang kekasih yang telah menyatu dalam urusan hati itu mulai menyusuri jalan setapak. Obrolan ringan menemani perjalanan mereka menuju mobil yang terparkir di ujung sana.


"Kak, gimana kalau kita ketahuan sama mama, papa?" kekhawatiran itu selalu bergelayut di ujung kepala Jelita.


Radit diam sejenak tidak langsung menjawab. Ia juga tidak tahu bagaimana reaksi suami istri itu jika mengetahui hubungannya dengan Jelita nanti. Tanpa bercerita dengan kekasihnya itu, Radit pun memendam kecemasan yang sama. Namun ia tidak mau membebankan pikiran Jelita dengan segala macam ketakutannya. Radit pun yakin, Jelita merasakan hal yang sama dengannya.


"Gue juga gak tahu" jawab Radit seadanya.


"Kak, turunin gue. Lo pasti capek kan?"


"Gue belum capek. Hah...tapi sepertinya gue butuh asupan" sela Radit membuang nafas.


"Ini kan maksudnya?" Jelita mengecup hangat pipi pria yang sedang menggendongnya itu.


"Good" puji Radit dengan senyuman mengembang di wajah tampannya. "Tapi masih kurang"


Bunyi khas dari kecupan Jelita di pipi Radit menghiasi perjalanan mereka yang tinggal beberapa menit lagi. Tak ketinggalan gelak tawa menggema membuat perjalanan melelahkan itu menjadi tidak membosankan.


"Lo mau makan apa?" tanya Radit.


"Makan nasi saja kak. Gue lapar banget"


"Baiklah. Lo kencangin seatbeltnya, gue mau ngebut"


"Kak, gak usah...


Belum sempat Jelita menyelesaikan ucapannya, mobil yang berada lama kendali Radit itu melaju dengan kecepatan hampir penuh.


"Gila lo ya kak, ngebut banget" protes Jelita terlihat syok.


"Buruan turun, katanya lapar"


Radit dan Jelita berjalan beriringan memasuki sebuah kedai sederhana dengan konsep bangunan bertema alam. Keduanya langsung memesan menu setelah mendapatkan meja. Sementara itu di sudut yang lain, terlihat ada seorang yang memegang kamera sedang seksama memperhatikan Radit dan Jelita.