My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Di Luar Ekspektasi



"Sayang tolong ambilin laptop papa ya" pinta Surya sambil menunjuk ke arah nakas dimana laptopnya berada.


"Pa, papa kan baru keluar dari rumah sakit. Masa langsung mau kerja"


"Siapa yang mau kerja. Papa cuman mau ngecek-ngecek kerjaan doang" bantah Surya.


"Sama saja pa. Pokoknya sesuai saran dokter, papa harus istirahat total selama tiga hari. Udah deh lupain dulu urusan kantor. Suruh orang lain yang ngerjain. Kan ada kak Radit juga. Papa minta bantu saja sama kak Radit. Sekarang papa tidur. Setelah dua jam, Jelita akan bangunin papa buat minum obat. Papa gak boleh nolak dan harus nurut" ucapnya tegas sambil membantu Surya berbaring.


Surya pun hanya bisa pasrah menuruti perintah putrinya. Ucapan Jelita ada benarnya. Ia harus sadar diri jika dirinya mulai menua. Sudah saatnya untuk lebih extra memperhatikan kesehatan daripada mengedepankan pekerjaan. Daya tahan tubuhnya tidak sekuat saat muda dulu. Jika tidak hati-hati maka ia bisa tumbang kapan saja seperti dua hari yang lalu.


Sementara itu Radit yang sedari tadi memperhatikan Jelita di ambang pintu, tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Pemandangan di depan matanya sangat menyejukkan kalbu. Ia bahagia melihat perhatian penuh yang Jelita berikan untuk pria yang sedang berbaring di sana.


"Kak, lo gak ada kerjaan lain ya selain ngintilin gue?" tanya Jelita keluar kamar setelah memastikan Surya tertidur. Ia menutup pintu agar pembicaraannya dengan Radit tidak menganggu pria yang sedang tidur di dalam sana.


"Lo sadar gue di sini?" tanya Radit balik sambil menyilangkan tangan di dada.


"Kalau ada yang nanya tu dijawab" ucap Jelita seraya menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ketus amat" sahut Radit mengekor di belakang.


Krekk


"Kak, lo ngapain sih ikut masuk?" raut muka gadis itu tampak masam.


Tanpa menjawab pertanyaan sang gadis, Radit langsung memeluk tubuh rapuh itu. Ia membenamkan wajah cantik gadis muda itu ke dalam dekapannya.


"Kak, lepasin gue. Ingat kesepakatan kita. Kalau di rumah, harus bersikap seperti biasa" ucapnya mengingatkan sambil menepuk pundak Radit.


"Gue sudah mengunci pintunya. Tidak akan ada yang masuk" Radit membelai lembut rambut panjang kekasihnya itu.


Tubuh lo hangat banget kak, batin Jelita merasa nyaman ada dalam dekapan Radit.


"Bukankah hari ini terlalu berat?" tanya Radit lembut.


"Lo lihat gue nangis?"


"Gue lihat semuanya" sahut Radit setengah berbisik.


"Terima kasih kak. Lo gak larang gue nangis" timpalnya sambil mengecup pundak tempatnya bersandar saat ini.


"Lo mau pergi sama gue?" sambung Radit tanpa mengurai pelukannya.


"Kemana?"


"Nanti lo akan tahu. Tapi tidak untuk sekarang. Gue masih punya urusan yang harus diselesaikan" ujar pria itu menarik diri dan menatap intens gadis di hadapannya.


"Kak, gue mau...ini" Jelita menangkup wajah Radit dan menariknya perlahan.


"Ingat aturan kita, tidak boleh berciuman di rumah" ucap Radit menahan pundak Jelita. Segurat senyum misterius menghiasi wajah tampannya.


Seketika wajah Jelita bersemu merah sambil tersenyum simpul. Ia menyentuh wajahnya yang tiba-tiba saja terasa panas.


"Sebentar saja"


"Tidak boleh" timpal Radit sembari menggelengkan kepala.


"Nempel doang"


"Tetap saja tidak boleh" sambung Radit pura-pura menolak. Ia sengaja mengulur waktu untuk menggoda gadis muda itu.


"Ayolah" bibir Jelita mengerucut manja.


"No"


"Yes" timpal Jelita sudah tidak sabar.


"No...no...no" tolak Radit berulang.


Gadis itu membuang nafas keras. Kemudian melebarkan kaki ke arah pintu.


Krekkk


"Keluarlah" usirnya kesal.


Radit memutar lidahnya di dalam mulut. Lalu membasahi bibir dengan daging tanpa tulang itu. Langkah kecilnya menghampiri gadis yang berdiri di dekat pintu.


Bruggg


Pintu tertutup kembali hanya dengan satu dorongan saja. Setelahnya, Radit mendorong tubuh Jelita ke dinding lalu menghimpitnya hingga tak berjarak.


"Gue sudah bilang jangan mancing-mancing" ucapnya dengan suara berat, memperlihatkan sisi seksi yang sangat menggoda.


"Kita tidak punya banyak waktu, kak" kata Jelita mengingatkan dengan tatapan bergairah.


"Dasar" sambung Radit tersenyum tipis.


Langsung saja tanpa bicara panjang lebar lagi, bibir candu itu masuk sepenuhnya ke dalam mulutnya. Radit mengulum daging kenyal itu layaknya permen lolipop yang sering ia hisap semasa kanak-kanak. Sementara itu, Jelita yang berada dalam belenggu terlihat sangat menikmati sentuhan yang dilayangkan pria berparas menawan dengan bentuk tubuh seksi yang sedang memeluk kencang pinggang rampingnya.


"Sebentar saja kan?" Radit tiba-tiba menarik diri.


"Hmm oke" ucap Jelita manyun. "Keluarlah. Gue gerah, mau mandi"


"Payah, baru segitu sudah gerah" sambar Radit dengan tatapan remeh dan senyuman devil.


Jelita mengusap wajah meronanya sesaat setelah Radit pergi. "Kayaknya gue kena virus bucin" ucapnya senyum-senyum sendiri.


Sudah masuk larut malam, Radit masih belum tidur juga. Matanya terlihat masih segar melototi layar laptop yang sedang menyala. Telunjuknyapun begitu lihai menari di atas touch mouse. Tak lama mimik pria itu menjadi sangat serius begitu mendapatkan sesuatu yang ia cari di internet.


"Di sini terlalu ramai"


Radit menekan simbol back untuk kembali ke halaman awal.


"Di sini juga masih lumayan ramai"


Radit masih belum menyerah mencari.


"Gak...gak di sini terlalu sepi"


Pria itu memijit area sekitar matanya. Karena merasa lelah, ia pun berbaring di atas kasur setelah memastikan laptopnya mati. Retinanya betah memandang langit kamar polos di atas sana. Kini pikirannya melayang mengingat tangisan pilu Jelita saat di rumah sakit kemarin. Tangisan yang membuatnya mempunyai ide gila itu.


Gue gak tahu, ini baik atau tidak. Tapi jika keadaan semakin memburuk. Gue akan bawa lo pergi dari sini, batin Radit.


...***...


"What? Lo putus sama Zain?" tanya Agnes terkejut.


"Iya"


"Tapi kenapa? Gue lihat kalian baik-baik saja. Bukannya Zain itu sabar banget sama lo, Ta. Kok bisa kalian putus?" cerca Agnes tidak habis pikir.


"Gue yang salah, Nes"


"Lo selingkuh?" sambar gadis berparas ayu itu serius.


Jelita memijit pelipisnya sambil memejamkan. Ia bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada teman karibnya itu. Lebih tepatnya ia belum siap menceritakan latar belakang dirinya secara gamblang.


"Intinya gue yang salah, Nes. Lo benar, Zain orangnya sabar banget. Dia baik banget sama gue bahkan sama lo juga. Sebenarnya hubungan kami baik-baik saja...


"Ya terus masalahnya dimana?" sambar Agnes semakin ingin tahu. Ia ikutan bingung seperti temannya itu.


Jelita menutupi wajahnya. Selang beberapa saat, pundaknya bergetar disertai isak tangis samar.


"Ta, lo kok nangis?"


"Gue merasa bersalah banget sama Zain. Gue bingung, Nes. Gue kejam banget bahkan terlalu kejam. Gue mutusin Zain pas dia di rumah sakit. Dan lo tahu, dia masuk rumah sakit karena gue" tutur gadis yang sedang berurai airmata mata itu.


Agnes diam keheranan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut temannya itu. Seketika kecewa dan amarah memenuhi ruang dadanya. Tapi entah kenapa ada sedikit rasa lega di ulu hatinya.


"Lo bukan kejam, Ta. Tapi lo gak punya hati" hardik Agnes dengan tatapan tajam menusuk.


Lo sudah menyakiti cowok yang selama ini gue suka, sambung Agnes membatin.


Jelita memandang nanar tubuh Agnes yang perlahan menghilang di balik dinding kampus. Ia tercengang dan tidak menyangka respon Agnes akan seperti itu. Selama ini gadis baik dan sederhana itu selalu ada di pihaknya dalam situasi apapun. Dan selalu mendukung keputusannya. Bukan kata petuah yang mungkin akan sedikit mengurangi bebannya namun justru makian yang ia dapatkan. Tanggapan Agnes benar-benar di luar ekspektasinya.


"Gak tahu diri lo, Ta" kalimat terakhir yang Jelita dengar sebelum Agnes pergi.


Begitu sampai di kamar, Jelita langsung meratakan tubuhnya di atas kasur. Cukup lama ia memandang langit kamarnya. Raganya yang lelah serta pikiran yang sedang berantakan membuat kantuk begitu mudah menyerangnya.


"Kak, gue kangen. Lo dimana?"


"Gue di sini?" sahut Radit yang entah sejak kapan datangnya.


Sontak Jelita membuka mata lebar. Kapan Radit datang? Sejak kapan dia di sini?" Benarkah ini Radit? Atau ini hanya halusinasi saja?


Pertanyaan itu semakin membuat Jelita pusing. Ia mengedipkan mata sambil menggelengkan kepala.


"Ini beneran lo, kak?"


"Bukan, ini hantu"


Jelita tertawa kecil. "Benar, ini lo kak. Hantu gak mungkin ngomongnya nyebelin kayak lo, kak"


Jelita menggeser tubuhnya memberi isyarat kepada Radit agar berbaring di sebelahnya.


"Hari ini lo nangis lagi?" tanya Radit sambil memeluk tubuh gadis pujaannya itu.


"Kok lo tahu?"


"Mata lo sembab. Suara lo kayak orang sakit. Muka lo juga jelek banget"


Gadis yang tidak bisa bergerak kemana-mana itu terkekeh mendengar perkataan pria yang sedang mendekapnya. Meskipun bukan pujian tapi ia suka mendengar kalimat yang terkesan kasar itu.


"Gue capek kak. Gue mau tidur. Lo sudah kunci pintunya?"


"Tidurlah. Selama ada gue, lo tidak perlu takut apapun" ucap Radit yang terdengar sangat meyakinkan.


Pelukan hangat, belaian lembut, serta rasa nyaman membuat Jelita tertidur begitu cepat. Sementara itu, Radit sedikit mengurai diri agar dapat melihat paras cantik yang sedang terlelap di sampingnya. Kecupan penuh cinta mendarat di kening sang gadis, yang Radit semaikan sebelum akhirnya memejamkan mata.