
Jelita memalingkan wajah. Tak lama ia melebarkan kaki namun dalam sekejap tubuhnya kembali ke belakang. Tangannya ditarik begitu kuat oleh pria berbadan tegap itu. Tatapan sang pria yang tajam itu seakan menusuk hingga ke ulu hati membuatnya tidak berani memandang lama-lama.
"Kak, lepasin gue" pinta Jelita berusaha melepaskan diri dari cengkraman sang pria.
Pria itu tak bergeming sedikitpun. Ia membisu dengan sorot mata semakin tajam pada gadis yang terus memberontak itu.
"Kak, tangan gue sakit. Lepasin gue" mohon Jelita seraya mendorong dada pria yang diam seperti patung itu. Namun perlawanannya menjadi sia-sia. Cengkraman di tangannya justru semakin erat menahannya tidak bisa kemana-mana.
Tatapan ngeri itu membuat Jelita sedikit ketakutan. Ada kilatan amarah dalam netra dengan bulatan coklat di tengah mata sang pria. Jelita tidak menyerah, ia semakin gencar melakukan perlawanan. Gerakan kecil yang tidak terarah terus ia lesatkan agar bisa melepaskan diri.
"Kak, tangan gue beneran sakit" ucap Jelita meringis.
"Mungkin tangan lo akan putus jika terus melawan" balas Radit akhirnya bersuara.
Gadis itu membuang nafas pendek. Wajahnya tertunduk layu layaknya bunga yang dipajang di bawah terik matahari. Tak ada lagi perlawanan seperti tadi. Perlahan cengkraman di tangannya melemah. Tatapan membunuh beberapa saat yang lalu itu, kini mulai sendu berganti tatapan penuh cinta dan kelembutan.
"Apa yang lo lakuin?" tanya Radit mengutarakan pertanyaan terbesarnya yang sejak kemarin belum sempat ia ucap. "Hati gue sakit, Ta" lanjutnya tercekat. Berbagai pertanyaan yang bersarang di kepalanya membuat dadanya teramat sesak.
Kali ini lo harus keras Ta, ucap Jelita pada dirinya sendiri.
Hah!
Jelita mengambil nafas sejenak.
"Lo kok lemah banget sih kak"
Kening Radit sontak berkerut. Kalimat itu membuatnya menganga.
"Lemah?" sahut Radit tidak mengerti.
"Iya, lemah. Sepertinya kita sudah cukup deh kak main-mainnya"
"Bicara yang jelas" sambar Radit.
"Hah! Baiklah. Gini ya kak, setelah gue berpikir semalaman, ternyata perasaan gue sama lo itu salah. Tadinya gue pikir gue cinta sama lo. Tapi ternyata enggak. Gue cuman nyaman doang sama lo kak. Kenapa begitu? Ya karena dari kecil kita selalu sama-sama. Kemanapun lo pergi gue ikut, kecuali pas lo kuliah ke New York" gadis itu berhenti sejenak sambil terkekeh kecil.
"Lo selalu ada buat gue. Kapanpun gue butuh, lo selalu datang lebih cepat. Lo selalu penuhin semua kebutuhan gue. Gimana gue gak merasa nyaman coba? Jadi intinya gue cuman nyaman doang kak sama lo. Dan itu bukan cinta. Lagiankan lo kakak gue. Masa gue suka sama kakak sendiri" Jelita tertawa lepas hingga pundaknya ikut terangkat setelah selesai bicara.
Sementara itu, Radit yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik tampak tersenyum sinis sambil menenteng tangan di pinggang. Ia menggelengkan kepala dengan tatapan devil menakutkan.
"Kenapa lo senyum kak?" tanyanya aneh.
"Lo pikir gue percaya" timpal Radit dengan segurat garis lengkungan di rahang kerasnya. "Gue gak percaya semua yang lo katakan" sambungnya menekankan setiap kata-kata yang terucap.
"Ya itu terserah lo, mau percaya atau tidak. Yang penting gue sudah kasih tahu tentang perasaan gue yang sebenarnya. Hmm...gak ada yang mau lo bicarakan lagi kan. Gue pulang duluan" pamit Jelita berusaha tetap tenang. Ia harus menahan gejolak rasa di dadanya sebentar lagi lalu setelahnya menangis sejadi-jadinya. Ternyata membohongi perasaan diri sendiri itu tidak enak!
Saat Jelita baru saja berjalan beberapa langkah, lagi-lagi tangannya ditarik dengan kuat. Tubuhnya di dorong ke dinding lalu dihimpit begitu rapat. Kedua tangannya diangkat ke atas dan wajahnya ditangkup oleh pria yang menjadi lawan bicaranya tadi. Dalam hitungan detik bibirnya menghilang masuk sepenuhnya ke dalam mulut pria itu.
"Kak" ucap Jelita terengah.
Belum sempat ia mengambil nafas sebanyak mungkin, bibirnya kembali dilahap rakus. Sementara itu di tengah penolakan saat bibirnya dikecup secara paksa, Radit semakin kesetanan mencicipi bibir berwarna merah alami itu. Pemberontakan gadis dalam kurungannya membuat Radit semakin panas dan tidak ingin melepaskan sang gadis. Ia ingin tahu sejauh mana, wanitanya itu bisa bertahan dengan sentuhan demi sentuhan yang terus ia hujam.
Jelita terpana, hatinya luluh. Ia kembali memejamkan mata dan mulai membalas sentuhan hangat di bibirnya. Detik berikutnya, cumbuan itu berlangsung panas tanpa ada paksaan. Jelita melingkarkan tangan di leher Radit sesaat setelah tangannya dibebaskan. Gigitan kecil serta lidah yang saling bersambut, menciptakan bunyi khas dari penyatuan sepasang daging kenyal mereka. Wajah keduanya berputar mengikuti gerakan cumbuan yang semakin menggairahkan dan membangkitkan hasrat birahi itu.
Ha...hah...hah
Suara lenguhan keduanya menggema.
"Bibir lo gak bisa bohong" ucap Radit tersengal. Jari telunjuk dan jempolnya menari bersamaan di atas bibir memabukkan itu. "Bibir lo gak bisa bohong. Lo sangat mencintai gue, Ta" lanjutnya mengulangi kalimat yang sama.
Sang gadis belum bisa menanggapi. Nafasnya belum teratur. Ia masih berusaha mengendalikan diri dan mengatur nafas.
Tak lama setelah Jelita terlihat lebih tenang, Radit kembali mengecup singkat bibir candunya itu. Kening keduanya menempel lekat.
"Ikutlah denganku" ajak Radit sambil membelai lembut pipi mulus wanitanya.
Jangan buat papa kamu tidak bisa menegakkan kepalanya di depan banyak orang.
Deg!
Kalimat itu sontak membuat Jelita segera menjauh. Ia menggelengkan kepala sambil bergerak mundur. Matanya berbinar dengan bulir bening di dalamnya.
"Maafin gue kak. Gue gak bisa" tolaknya perih.
Gadis itu berlari kencang dengan berurai air mata. Sedangkan Radit tetap terpaku di tempatnya sambil memandang sang kekasih yang semakin jauh.
Gue tidak akan membiarkan lo berkorban sendirian. Jika lo tetap memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Maka gua akan menghilang, batin Radit sendu.
...***...
Sampainya di rumah, Jelita tidak melihat orang lain selain bi Asmi dan pak Sopian. Ia pun melangkah menuju ruang kerja Surya. Barangkali papanya ada di sana.
"Kok pintunya kebuka" gumam Jelita heran. Tidak biasanya ruangan yang tidak boleh dimasukin sembarang orang itu terbuka.
Jelita memicingkan mata mencoba mengintip keadaan di dalam.
"Oh ternyata ada papa sama mama disini" ucapnya pelan sambil menyelusup masuk.
Tiba-tiba langkahnya terhenti begitu mendengar percakapan serius sepasang suami istri itu.
"Aku malu ma. Mereka memang tidak bicara apa-apa tapi tatapan mereka menjelaskan semuanya. Papa yakin, mereka menganggap papa tidak bisa mendidik anak. Papa sudah gagal ma menjadi kepala keluarga yang baik. Papa tidak berhasil mendidik anak-anak kita" tutur Surya pilu sambil membenamkan wajahnya di pundak sang istri.
Mendengar keluh kesah Surya membuat Jelita down kembali. Hatinya bagai tersayat saat melihat pria yang tadinya sangat kokoh, kini rapuh seperti tumpukan kertas lama. Ia pun pergi diam-diam dari ruangan itu.
Di kamar yang berukuran lumayan besar ini, tubuh lelahnya meringkuk di atas kasur. Dua bola mata sayupnya memandang intens foto yang ada di layar ponsel.
"Kak, kenapa harus lo yang ada disini?" tanya Jelita sembari menyentuh dadanya dan menangis terisak.
...***...
"Pa, pertunangannya ditiadakan saja. Jelita mau langsung menikah"