My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Perutku Sakit



Cuaca tiba-tiba mendung saat Jelita baru saja turun dari angkutan umum. Ia pun segera berlari kencang menyusuri gang kecil menuju kontrakannya. Di tengah perjalanan, hujan akhirnya turun tak terkendali. Karena tinggal beberapa meter lagi, Jelita pun nekad menerobos derasnya hujan. Sampainya di kontrakan, tubuh gadis itu menggigil kedinginan. Bibir dan telapak tangannya pucat seperti benda yang lama terendam air.


"Huuuh dingin banget" keluhnya sambil masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, tubuhnya semakin menggigil disertai bersin-bersin.


"Hah...gawat. Kayaknya gue bakalan demam ni" ucapnya menyadari kondisi tubuhnya yang melemah. "Mana besok kak Radit ngajak fitting baju lagi. Aduh please Jelita jangan sakit dong" Jelita meraih selimut tebal lalu membungkus rapat tubuhnya dengan kain lembut itu.


Jelita meringkuk seperti kucing di atas kasur. Kini ia sedikit menyesal dengan sifat cerobohnya yang nekad menerobos hujan tadi. Tak berselang lama, tiba-tiba ia termenung begitu menyadari tidak ada siapapun di sisinya saat ini. Ia bangkit dan bersandar di ujung kasur. Matanya mengedar ke segala sudut. Rasa sepi kembali menyergap batinnya dalam kesendirian itu.


Tak ingin larut dalam dunia sepi itu, Jelita segera merogoh ponsel di dalam mini bagnya.


Kak, lo sudah di Jakarta belum? Gue tadi kehujanan dan sekarang gue demam.


Setelah mengirim pesan singkat, Jelita berjalan ke arah dapur. Di sana ia memanaskan air. Sekitar delapan menit, segelas kopi dan mie cup sudah jadi dan siap disantap. Ia membawa dua menu itu ke dalam kamar.


"Kayaknya gue gak jadi demam deh" ucapnya setelah menyeruput kopi panas.


Jelita meraih kembali ponselnya.


Kak, gue gak jadi demam.


Begitu pesan kedua terkirim, Jelita segera menyambung acara makan malamnya yang sempat tertunda. Di sela makan itu, tiba-tiba ia mengeluh sakit perut.


"Aww. Kok perut gue tiba-tiba sakit" ucapnya meringis sambil melirik tanggal yang tertera di layar depan ponselnya.


"Ini baru pertengahan bulan. Gue kena biasa di tanggal tua. Dan biasanya perut gue sakit gini pas datang bulan. Apa karena gue keseringan makan mie instan kali ya?" tambahnya menduga-duga.


Radit yang baru turun dari pesawat, dengan tak sabar menghidupkan ponsel. Ada beberapa pesan masuk namun nama yang ia cari pertama, tentu saja sang kekasih hati. Senyumnya merekah indah begitu membaca pesan lucu dari gadis yang sangat ia rindukan itu. Ia pun mendial nama tersebut.


📞 Dimana kamu sekarang?


📞 Di kontrakanlah. Memangnya dimana lagi. Lo sudah di Jakarta ya kak?


📞 Iya, baru sampai. Tadi pesawatnya delay.


Di ujung telepon, Jelita berusaha menahan rasa sakit yang menjalar di perutnya yang kian menjadi.


"Aww" ucapnya sangat pelan seperti orang berbisik.


📞 Suara kamu kenapa?


📞 Gak papa. Kak, gue tutup dulu ya. Mau ke kamar mandi bentar.


Radit menjadi khawatir dengan kondisi Jelita. Walaupun samar-samar tapi ia yakin tadi itu suara ringisan seperti orang kesakitan. Tidak ingin didera kecemasan sepanjang malam, Radit akhirnya memutar arah laju mobilnya menuju kontrakan Jelita.


Tok! Tok! Tok!


"Kak Radit" sapanya dengan suara lemah.


Radit menjadi prihatin saat melihat wajah Jelita yang sangat pucat.


"Kamu sakit kan?" Radit menangkup wajah Jelita dengan perasaan cemas. "Kita ke rumah sakit sekarang"


"Gak usah kak. Gue gak papa. Lagian besok kan kita mau fitting baju. Gue cuman butuh istirahat doang kok" tolaknya sembari mengenggam tangan keras Radit.


"Iya. Aww" rasa seperti ditekan-tekan kembali merayap di perut Jelita. "Kak, perut gue...


Tubuh ramping sang gadis akhirnya ambruk. Untungnya Radit dengan sigap menangkap raga tak berdaya itu dan langsung membawanya ke rumah sakit. Sampainya di sana, Jelita langsung mendapatkan pertolongan pertama. Sekitar satu jam lamanya, dokter dan suster akhirnya keluar.


"Gimana keadaan Jelita, dok?"


"Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan kurang istirahat" jawab dokter dengan segurat senyum simpul yang menenangkan batin


"Tapi sebelum pingsan, dia mengeluh sakit di perutnya. Beneran gak papa dok?" tanya Radit belum puas dengan jawaban dokter yang pertama.


"Oh itu karena dia telat makan. Tapi untungnya lambungnya masih berfungsi dengan baik" tutur dokter segera pamit setelah menjawab semua rasa penasaran Radit.


Radit menatap nanar punggung dokter itu. Ia masih belum puas dengan jawaban tadi. Namun sekarang bukan saatnya menyelidiki ketidakpuasannya itu. Ia harus memastikan kesehatan Jelita dulu.


Krekkk


Di pinggir ranjang, Radit berdiri kaku menatap gadis yang belum sadarkan diri itu. Ia merasa bersalah. Jika saja pesawatnya tidak delay, mungkin ia masih sempat menjemput Jelita dan mengantarnya pulang. Dengan begitu, kekasihnya itupun tidak harus kehujanan dan sakit seperti sekarang.


"Cepatlah sembuh agar kita bisa segera menikah? Bukankah itu yang kamu mau?" Radit mencium dalam kening Jelita sambil membelai halus pipi lembut kekasihnya itu.


Keesokan harinya, Radit pulang sebentar ke rumah. Ia ingin menemui mamanya karena semalam belum sempat memberi kabar.


"Kamu kemana saja? Semalam mama telepon gak diangkat" ucap Laura sambil menyodorkan teh hangat ke depan Radit.


Radit tidak menjawab. Matanya fokus memperhatikan Laura yang sedang sibuk menyiapkan makan pagi.


"Ma, Jelita sedang dirawat di rumah sakit"


Deg!


Seketika kaki wanita paruh baya itu tampak goyah. Matannya mengelas panas. Ia khawatir namun berusaha menyembunyikan perasaan pedulinya itu.


"Apapun yang terjadi padanya, bukan urusan mama" ucap Laura dengan suara bergetar.


Radit hanya bisa tertunduk tak berdaya. Selamanya, ia akan berada di tengah-tengah dua wanita yang sangat penting dalam hidupnya itu. Tidak akan lebih berat ke salah satunya. Cinta dan kasih sayangnya tetap penuh untuk mereka.


"Ma, aku akan ke rumah sakit lagi. Jelita membutuhkan aku saat ini. Dia hanya punya kita berdua, ma. Jadi aku mohon jangan cegah aku kembali padanya" ucap Radit lembut. Ia mengecup sejenak kening sang mama kemudian berlalu pergi.


Sementara itu, Jelita yang baru saja siuman setengah jam yang lalu, terlihat sedang duduk santai di taman rumah sakit. Kepalanya menengadah ke langit sambil memejamkan mata. Udara di taman sangat segar dan menyejukkan kalbu. "Pantas saja banyak yang duduk di sini terutama pagi-pagi begini. Di sini memang sangat nyaman" gumam Jelita tersenyum tipis.


"Kak Radit, cepatlah kembali" sambungnya sambil mengenang wajah tampan kekasihnya itu.


"Permisi mbak Jelita" sapa seorang suster yang seketika membuyarkan lamunan sang gadis.


"Iya sus, ada apa?"


Tubuh Jelita berjalan gontai begitu keluar dari ruangan dokter. Bahkan ia hampir jatuh jika saja tidak berpegang di dinding rumah sakit. Airmatanya mengalir tak terbendung. Ia melangkah tidak terarah menuju tamam tadi. Sampainya di sana, Jelita memilih sudut yang paling sepi.


"Aahhh" jeritnya histeris sambil memukul-mukul perut. "Percuma...percuma semuanya" tambahnya hilang kendali.


"Kak Radit maafin gue. Maafin gue...aahh" Jelita kembali menjerit menyayat hati. "Apa yang harus gue lakuin sekarang? Apa?" tanyanya frustasi.