My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Menangislah



Radit mengurai diri dari gadis yang berbaring di sebelahnya. Matanya yang tadinya tertutup rapat, kini terbuka lebar. Ia menatap aneh gadis itu.


"Gue gak salah dengar? Lo nanya gue mau anak berapa?" tanya Radit memastikan pendengarannya tidak salah.


"Lo gak salah dengar kok, kak. Lo mau anak berapa dari gue?" timpal Jelita dengan raut muka manja dengan bibir manyun menggemaskan.


Radit menjadi resah dengan pertanyaan itu. Ia duduk bersandar di ujung kasur. Sementara itu, Jelita sedikit bergerak dan menempelkan wajahnya di dada bidang Radit yang polos tanpa sehelai benangpun. Bola mata indah pria itu berputar perlahan, ia sedang mencerna keinginan gadis yang sedang mendekapnya.


"Tu...tunggu dulu. Buat anak kan harus melakukan itu dulu. Jadi lo sudah siap melakukan itu sekarang?" tanya Radit berharap. Senyum tipis malu-malu merekah di wajah menawannya.


Jelita tidak menjawab. Bibirnya mengerucut dengan wajah tertunduk.


"Terus kenapa lo nanya tentang anak kalau lo belum siap?" cerca Radit yang mengerti atas respon Jelita atas pertanyaannya sebelumnya.


Jelita menarik wajahnya sebentar lalu kembali bergelayut manja di dada berotot dan seksi itu.


"Yah, kita rencanain saja dulu. Bukankah semuanya harus direncanain dulu biar matang" ucapnya sambil membelai leher keras sang pujaan.


"Memangnya buah pakai matang segala" sahut Radit jengkel. Hasratnya yang tadi menggebu, kini kendur perlahan. "Sudah keluar sana, gue mau tidur" Radit kembali berbaring dengan posisi miring membelakangi Jelita.


"Marah ya?" bisik Jelita menggoda sambil mengecup punggung polos yang tersaji di depan matanya.


"Gak usah mancing-mancing. Kalau gue hilang kontrol, lo bisa menjerit" ancam Radit ngeri.


"Wuihh serem banget. Tapi gue gak takut tu" sahut Jelita remeh.


Ucapan Jelita membuat Radit tertantang. Ia pun membanting tubuh gadis itu lalu menindihnya agar tidak bisa kemana-mana. Sontak serangan mendadak itu membuat Jelita tidak punya kesempatan untuk melawan. Kedua tangannyapun kini telah dikunci rapat oleh pria di atasnya. Ia benar-benar tidak bisa berkutik sekarang.


Gadis itu menyesal dengan ucapannya tadi. Harusnya ia tidak mengatakan sesuatu yang dapat membangkitkan jiwa petarung pria itu.


"Sekarang masih tidak takut?" tanya Radit seraya mengigit bibir bawahnya. Sorot matanya tajam menatap gadis di bawahnya.


Jelita menundukkan pandangannya. Ia malu menatap pria di atasnya. Deguban di dadanya bergejolak. Debaran rasa yang bergemuruh memenuhi setiap persendiannya. Ia tidak takut. Dan justru menantikan apa yang akan di lakukan Radit selanjutnya.


"Kak, gue gak takut sama lo. Tapi gue gugup banget sekarang" ujar gadis itu apa adanya.


Perlahan Radit merendahkan wajahnya. "Mau sekarang?" tanyanya setengah berbisik di depan telinga sang gadis.


"Enggak" jawab Jelita lantang.


Hah!


Helaan nafas Radit terdengar berat. Ia kemudian turun dari atas tubuh Jelita dan menelentangkan tubuhnya.


"Kak, gue mau melakukan itu di hari spesial kita nanti. Di malam pertama kita setelah menikah" ucap Jelita berusaha mengobati rasa kecewa kekasihnya itu.


"Baiklah. Gue akan bersabar sebentar lagi" timpal Radit pasrah.


"Tapi ini boleh kok" Jelita tiba-tiba mengecup bibir Radit.


Sikap agresif gadis di sampingnya sontak membuat wajah Radit bersemu merah.


"Oke. Sementara itu, kita begini saja" Radit kembali menindih Jelita. Dalam sekejap dua bibir itu saling memaut satu sama lain. Mengigit dan bertukar saliva, tentu saja menjadi aktivitas tak terlupakan dalam kecupan nikmat yang mengguncang birahi itu. Malam itu Jelita kembali menginap di apartement Radit. Menghabiskan malam yang panjang dalam dekapan pria pujaan.


Keesokan harinya di saat mentari mulai memupuk, Jelita terlihat setengah berbaring sedang memandang Radit yang masih terlelap. Guratan senyum di wajahnya menggambarkan betapa ia bahagia berada di sisi pria itu.


"Pagi" sapanya halus begitu Radit membuka mata.


"Tumben lo bangun duluan" ledek Radit dengan suara parau. Ia memejamkan mata sesaat meresapi kantuk yang tersisa.


"Kak, di kulkas ada bahan apa? Gue mau masak untuk sarapan kita"


"Sejak kapan lo bisa masak?" sahut Radit.


"Gue bisa masak kok. Masak mie, gue bisa. Masak telur dadar kesukaan lo, gue bisa. Buat teh juga bisa" bantah Jelita.


Seketika obrolan mereka terputus saat ponsel Radit berdering.


"Siapa kak?"


"Mama"


📞 Hallo ma.


"Ta, kita pulang sekarang"


"Ada apa kak?" tanyanya mendadak cemas begitu melihat raut muka Radit yang berubah.


Sekitar tiga puluh menit perjalanan, mobil Radit berhenti di area parkir rumah sakit.


Radit tetap diam seperti yang ia lakukan di perjalanan tadi. Pria itu pun berjalan lebih dulu memasuki gedung rumah sakit. Sementara itu Jelita turut masuk dengan sejuta pertanyaan memenuhi kepalanya. Ia tidak berani lagi bertanya setelah melihat wajah dingin Radit yang menakutkan.


Kamar Melati 01


Krekkk


Begitu memasuki kamar, Jelita langsung menutup mulutnya dengan mata melotot. Ia terkejut begitu melihat seorang pria paru bayah yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit di hadapnnya kini.


"Ma, papa kenapa?" tanyanya gemetar sambil berjalan mendekat.


"Papa kamu drop karena kelelahan. Imun tubuhnya turun" jelas Laura singkat. "Papa sempat bangun terus tidur lagi. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Dokter bilang, papa tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat total" lanjutnya lebih detail.


Radit dan Jelita merasa lega setelah mendengar penjelasan Laura. Panik yang sempat menyergap seketika pudar berganti rasa penuh syukur.


"Syukurlah papa tidak apa-apa" gumam Jelita lirih.


"Kalian temanin papa di sini ya. Mama mau pulang sebentar ambil baju. Mau mandi juga"


"Jadi papa masuk rumah sakit dari semalam, ma? Kok baru kasih kabar pagi ini?" tanya Jelita beruntun.


"Tadinya mama mau langsung kabarin kalian. Tapi karena dokter bilang papa baik-baik saja, jadi mama pikir tidak perlu buru-buru. Mama pulang dulu ya" tutur Laura berlalu meninggalkan kamar.


Jelita memandang intens wajah pria yang sedang berbaring itu. Tampak ada kerutan di bagian wajah pria yang sedang berbaring itu, menandakan jika pria tersebut sudah tua. Ia kemudian menajamkan mata, memperhatikan setiap tarikan nafas pria yang terkulai tak berdaya itu. Sementara itu, Radit terlihat bergantian memandang dua manusia yang berada di dekatnya saat ini.


Maafin Jelita pa, batinnya merasa bersalah.


" Kak, aku keluar sebentar ya"


"Mau kemana?" Radit menggengam lengan Jelita.


"Gue mau ke ruangan Zain. Dia juga dirawat di sini"


Radit mengelas malas. Biar bagaimanapun, ia tidak rela gadis yang dicintainya itu pergi menemui pria lain.


Sebenarnya gue mau menenangkan diri sebentar kak. Gue merasa bersalah sama papa. Kita seharusnya tidak sejauh ini kak, sambungnya membatin.


Tatapan gadis itu sendu menusuk kalbu. Entah pergi kemana senyum cerianya pagi tadi. Seakan semua kebahagiaan semalam hingga pagi ini sirna begitu saja. Yang tersisa kini hanyalah rasa sesak memenuhi dada.


"Hai Zain" sapa Jelita diiringi senyuman manis.


"Hai. Aku pikir kamu lagi kuliah" sahut Zain antusias melihat kekasihnya datang menjenguk.


"Papa dirawat di sini juga"


"Om Surya kenapa?" tanya Zain terkejut.


"Papa kelelahan. Tapi kata dokter semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah yang serius"


Kamar yang Zain tempati mendadak senyap. Mata sepasang kekasih itu saling menatap dalam.


"Zain, sebenarnya saat kita makan siang kemarin, ada yang mau aku katakan" kata Jelita tampak begitu hati-hati.


"Apa?" tanya Zain penasaran sembari membenarkan duduknya.


Keadaan kembali hening beberapa saat.


"Kita putus saja"


Deg!


Bagai disambar petir di siang bolong. Kalimat putus yang keluar dari mulut gadis di hadapannya membuat Zain membeku.


Selang beberapa saat, Jelita keluar dengan derai airmata. Ia terduduk lemas bersandar di dinding rumah sakit.


"Aaahh" jerit Jelita tertahan sambil menutupi wajahnya. Ia menangis sejadi-jadinya, tidak peduli dengan pandangan orang yang melintas di depannya.


"Pa, ma, Zain maafin aku" ucapnya terisak pilu.


Tanpa Jelita sadari ada seseorang yang ikut menangis bersamanya. Seorang pria yang bersembunyi di balik dinding, tidak jauh darinya. Pria itu juga sedari tadi memperhatikan gerak-gerik sang gadis, sebelum dan sesudah keluar dari kamar Zain.


"Aahh" jerit Jelita kembali. Jeritan itu terdengar sangat menyayat hati.


"Maafin gue, Ta. Gue yang sudah bawah lo masuk dalam situasi ini. Tunggulah sebentar lagi. Gue akan bawah lo pergi dari sini" gumam Radit menengadahkan kepala dan bersandar tak berdaya di dinding rumah sakit.


Sampai kekasihnya itu menangis semakin menjadi, Radit tetap tidak berlalu dari tempatnya berdiri. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain memperhatikan Jelita dari jauh dan membiarkannya menangis sampai puas.