My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Gundah



Satu jam lebih perjalanan, akhirnya mobil Radit berhenti di sebuah area savana hijau. Rerumputan di sana tumbuh dengan rapi dan sejajar. Ada kincir angin dengan tiang yang menjulang tinggi. Ada juga beberapa tanaman bunga dengan macam-macam warna yang semakin menambah keindahan padang savana itu.


"Kak, kok lo ngajak gue ke sini?" tanya Jelita sambil berbaring di rerumputan.


"Semenjak gue pulang dari ke Indonesia, kita belum pernah jalan berdua begini kan? Setelah ini gue bakal sibuk dengan urusan kantor. Gue khawatir saja gak bisa ajak lo jalan-jalan seperti ini" ujar Radit ikut berbaring di sebelah Jelita.


Jelita setengah bangun dan menjadikan tangan kanannya sebagai penopang kepala.


"Kok lo ngomongnya gitu? Kayak lo gak akan ketemu gue lagi. Emangnya hari minggu, lo masih kerja?" tanya Jelita cemberut.


Hah!


Radit menghela nafas panjang. Ia meletakkan tangan kirinya di bawah kepala sebagai bantal.


Untuk beberapa saat Radit tidak bersuara. Matanya fokus memandang langit yang cerah. Di waktu bersamaan, Jelita yang sedang menunggu Radit bicara kini menjadi gelisah. Ia bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi pada kakaknya itu? Akhir-akhir ini pun sikap Radit sangat aneh. Lebih pendiam dan tidak sejahil seperti biasanya.


Jelita kembali berbaring. Tangannya pegal dengan posisi seperti tadi. Radit juga tidak kunjung bicara. Menit demi menit hilang begitu saja tanpa ada sesuatu yang spesial terjadi. Sedikit membosankan.


Jelita memutar kepalanya 30 derajat. Seketika matanya mengelas tajam. Pantas saja Radit membisu, ternyata pria itu sudah tertidur. Jelita membuang nafas dongkol. Ia pikir tujuan Radit mengajaknya keluar untuk bermain atau makan makanan yang enak. Tapi nyatanya hanya untuk menemani pria itu tidur di alam terbuka saja.


"Huhh ni orang emang nyebelin. Ngapain bawah gue kesini kalau dianya malah tidur" Jelita bersiap untuk berdiri.


Dengan sigap Radit mencengkram pergelangan tangan Jelita.


"Mau kemana lo?" tanyanya membuka mata.


"Lo gak tidur, kak?"


"Gimana gue bisa tidur, lo berisik banget" balas Radit ketus.


"Reseh lo ya" Jelita menghempas cengkraman Radit lalu berdiri sambil sesekali merapikan kaos yang ia kenakan agak sedikit lecek.


Radit ikut berdiri dan melangkah ke arah dataran yang sedikit menurun.


"Kak, lo mau kemana?" tanya Jelita sambil mengikuti langkah kaki Radit.


Radit berhenti tepat di bawah tiang kincir angin. Ia menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi dingin sedingin kutub utara, persis seperti model yang sedang bergaya tanpa ekspresi.


"Ta, gue mau jujur sama lo"


"Tentang?" sambar Jelita.


"Tentang lo dan gue. Tentang kita" ucap Radit dengan tatapan teduh.


Radit kembali kaku seperti patung. Hal ini membuat Jelita sedikit kesal. Ia tidak sabar, sebenarnya apa yang ingin Radit katakan?


"Lo mau ngomong apa sih, kak? Lo tu aneh tahu gak. Sebentar diam. Sebentar lagi ngomong terus diam lagi. Jangan bikin gue takut deh, kak" ucap Jelita gundah.


Radit benar-benar sedang dilanda kegundahan yang luar biasa. Ia mengetahui rahasia besar yang tidak bisa ia ungkapkan meskipun hati kecilnya ingin sekali membongkar semuanya. Tepat 8 tahun yang lalu, ia tahu jika Jelita bukan adik kandungnya tapi di hari itu pula, ia sudah mengikat janji pada mamanya untuk tidak menceritakan rahasia ini pada siapapun terutama kepada Jelita.


"Kak, ayo ngomong. Gue nungguin ni" kata Jelita menggugah pundak Radit.


Perlahan Radit merendahkan wajahnya dan kedua tangannya menyentuh bahu Jelita.


Deg!


Jantung Jelita berdetak kencang. Detik berganti membuat wajah Radit semakin dekat padanya. Tepatnya bibir Radit mengarah ke bibirnya. Jelita menyadari apa yang akan terjadi jika ia tidak menghindar. Dengan sedikit dorongan, Jelita berhasil membuat sang kakak menjauh.


"Kak, kita gak boleh melakukan kesalahan itu lagi" ucap Jelita mundur beberapa langkah.


Radit memejamkan mata resah. Dadanya teramat sesak menyimpan rahasia itu. Banyak resiko yang akan terjadi jika ia mengatakan siapa Jelita sebenarnya. Hal yang paling ia takuti ialah keharmonisan keluarganya akan berubah. Dan yang lebih menakutkan ialah tentang perasaannya pada Jelita. Tentu saja, papa mamanya tidak akan bisa menerima perasaannya itu. Itu aib keluarga. Siapapun bahkan semesta tidak akan merestui hubungan terlarang yang akan terjadi antara dirinya dan Jelita nanti.


Malam itu saat cumbuan panas itu, Radit tahu perasaan Jelita untuknya. Hanya saja Jelita masih bersembunyi di balik status kakak adik yang menjadi dinding tebal nan tinggi yang ada di antara mereka.


Kak, gue bingung banget dengan perasaan gue buat lo. Semakin ke sini perasaan gue sama lo itu semakin aneh. Ini benar-benar gila. Lo kakak gue, gumam Jelita berperang dengan batinnya.


Setelah mengantar Jelita ke rumah, Radit langsung pulang ke apartementnya. Keduanyapun kembali berpisah.


...***...


"Pagi ma, pa" sapa Jelita hangat seraya mengambil roti tawar yang telah di olesi selai kacang kesukaannya.


"Pagi sayang" sahut Surya dan Laura serempak.


"Jelita langsung berangkat kuliah ya"


"Duduk dulu. Habisin rotinya. Gak baik makan sambil berdiri" sela Laura mengingatkan.


"Gak sempat, ma. Jelita ada presentasi hari ini. Bye ma pa" seperti biasa Jelita tidak pernah lupa mengecup mesra kedua pipi orangtuanya itu. Setelah itu Jelita berlari ke arah pintu dengan membawah sisa roti tawar miliknya.


"Kamu pergi kuliah naik apa?" pekik Laura.


"Dijemput Zain, ma. Oh ya, Zain titip salam sama papa, mama. Jelita yang suruh Zain gak masuk karena sudah buru-buru. Jadi jangan bilang Zain gak sopan ya, pa. Dahhh" pekik Jelita melambaikan tangan.


Surya tertawa kecil setelah putrinya itu tidak terlihat lagi. Kalimat terakhir Jelita seperti nasehat untuknya. Sekarang putrinya itu sudah bisa menasehatinya. Ternyata waktu cepat sekali berlalu. Putri kecilnya sudah besar.


"Jelita sudah dewasa ya, ma?"


"Ya begitulah, pa. Sekarang anak-anak kita punya kesibukan masing-masing. Jelita sibuk kuliah. Dan Radit sibuk bekerja. Oh ya pa, gimana Radit? Bagus gak kerjanya? Papa jangan keras-keras dong sama anak sendiri"


"Good. Sejauh ini tidak ada keluhan dari pak Toni. Itu artinya Radit bekerja dengan baik" tutur Surya sembari menyeruput sisa teh manis hangatnya.


Meskipun bekerja di perusahaan orangtua sendiri, tak lantas membuat Radit bisa berleha-leha. Ia tetap harus tekun seperti karyawan yang lain. Seperti keinginannya yang ingin memulai karirnya dari nol, kini Radit benar-benar bekerja dari bawah sebagai karyawan dengan posisi yang tidak terlalu penting di perusahaan. Bahkan Radit harus terima disuruh seniornya untuk memoto copy beberapa berkas. Radit tidak keberatan dengan itu dan dengan suka hati menikmati proses yang sedang ia jalani.


"Radit, tolong beli kan saya nasi goreng di depan"


Radit tertegun. Ia belum mengiyakan. Tidak masalah baginya disuruh fotocopy berkas karena memang itu masih berkaitan dengan pekerjaan tapi disuruh beli nasi goreng. Itu beda cerita.


"Maaf pak kalau disuruh beli nasi goreng, saya tidak mau" tolak Radit.


Raut wajah pria yang berumur tidak jauh berbeda dengan Radit itu berubah kecut. Baru kali ini ada anak baru yang menolak perintahnya.


"Hah! Lo berani nolak perintah gue. Lo lupa lo karyawan baru disini. Gue senior lo"


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" sambar pak Toni tidak sengaja melewati meja kerja Radit.


Radit pun menjelaskan perkara yang sebenarnya terjadi. Penjelasan Radit membuat pria bernama Boris itu tersudut.


"Pak, jangan dengerin dia. Justru saya yang disuruh sama dia untuk beli nasi goreng" ucap Boris berbohong demi menyelamatkan diri sendiri.


"Bohong"


Radit dan yang lain menoleh ke pemilik suara itu.


Jelita.


"Dia bohong pak. Saya melihat semuanya. Kak, kok lo diam saja sih? Apa perlu gue kasih tahu papa...


Radit menarik lengan Jelita menjauh sebelum gadis itu menceritakan latar belakang dirinya. Ya, selain papanya dan pak Toni, tidak ada satupun orang-orang di kantor yang tahu jika Radit anak dari pemilik perusahaan. Radit sengaja menyembunyikan statusnya itu agar orang-orang tidak menspesialkan dirinya.


"Kak, lo kenapa sih cuman diam doang? Lo takut sama dia?" tanya Jelita kesal melihat kakaknya difitnah.


"Susttt" desis Radit. "Bisa diam gak lo? Bisa gak jangan ikut campur urusan gue? Gara-gara lo, gue hampir ketahuan kalau gue anak pemilik perusahaan"


"Lo kok nyebelin banget sih, kak. Kenapa lo jadi nyalahin gue? Salah gue bela lo? Ini ambil" Jelita memberi kasar kotak bekal kepada Radit. "Gue gak akan datang kesini lagi" lanjutnya melebarkan kaki pergi.


Radit yang berusaha mencegah Jelita agar jangan pergi tidak dapat berbuat banyak. Tampaknya Jelita marah. Gadis itu melangkah meninggalkan kantor tanpa mengindahkan seruan Radit.