My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Waktuku Berjuang



Hari ini Jelita memanjakan diri dengan mengunjungi salah satu mall besar di kota tempatnya tinggal. Ia melangkah perlahan mendatangi setiap toko yang ada dalam mall tersebut. Beberapa barang unig dan lucu menarik perhatiannya. Semua ingin ia beli namun sayang kantong sakunya berteriak saat melihat label harga yang tersangkut di barang-barang mewah itu. Dan yang membuatnya refleks menelan ludah pahit saat melihat harga fantastis dari gelang indah yang sangat membuatnya tertarik. Gelang itu dilengkapi aksen bunga mawar merah kesukaannya. Warna silver mengkilat dan ada juga aksen bulan bintang yang semakin menambah keindahan perhiasan kecil itu.


"Gimana mbak jadi beli?" tanya pelayan toko.


"Ohh...hmm nanti saja ya mbak" ucap Jelita tersenyum tidak enak. Ia pun segera keluar dari toko untuk menghindari tatapan tidak sinis si pelayan. Jangan heran. Itu reaksi yang wajar saat seorang pengunjung tidak jadi membeli barang dari toko mereka.


Gila, harga gelangnya dua juta lima ratus. Itu lebih dari setengah gaji gue sebulan. Aissh kenapa mereka bikin harga begitu sih? Mereka pikir mudah apa cari uang segitu, batinnya kesal sambil menggaruk kepala.


Tak lama setelah Jelita jauh dari toko perhiasan itu, datang seorang pria bertubuh kekar dan langsung membeli gelang yang ingin Jelita beli tadi. Pria itu mengenakan setelan jas hitam dan memakai kacamata bening. Dengan penampilan seperti itu, wajar jika ia membeli gelang tersebut tanpa melihat harga.


"Daripada gue beli gelang yang harganya jutaan, mending duitnya gue beliin makanan, baju, bahkan masih ada sisa buat main. Hah...kok gue jadi kesal sendiri ya? Sumpah tu gelang bikin gue badmood" gerutu Jelita yang sampai detik ini masih tidak habis pikir dengan harga gelang tadi.


Tak terasa sudah hampir tiga jam Jelita mengelilingi mall. Setiap sudut mall sudah ia jelajahi dan beberapa toko yang menjajakan barang unik juga tidak luput dari jangkauannya. Namun aneh tidak ada satu barang yang ia beli bahkan sehelai baju juga tidak ada.


Itu gak aneh sih karena rata-rata wanita memang begitu. Karena terlalu lama berpikir dan pemilih, akhirnya pulang tanpa membeli apapun.


Langkah Jelita berhenti tepat di depan kedai ramen yang cukup ramai pengunjung. Nuansa anak muda dari konsep kedai itu membuat langkah kecilnya tidak tahan untuk masuk dalam sana. Tanpa pikir panjang, Jelita langsung memesan menu utama yaitu Ramen Pedas level tertinggi di kedai itu.


Cepat kembali ke kantor. Di sini banyak kerjaan. Saya tunggu kamu datang sekarang juga.


Hah!


Jelita menghela nafas berat setelah membaca pesan dari Radit yang dikirim tiga jam yang lalu.


"Kak Radit kenapa sih? Gak bisa apa manis dikit kalau chat gue. Dari dulu gak berubah, selalu nyebelin" gerutunya sambil menaruh ponsel di atas meja kemudian kembali menghela nafas.


"Eh tunggu dulu. Kak Radit minta gue balik ke kantor. Berarti dia gak mecat gue dong. Dia kirim pesan, itu artinya dia minta secara khusus. Kira-kira itu permintaan dari pak Radit atau kak Radit ya?" tambahnya menduga-duga.


Jelita menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikirannya sebelum menyantap ramen pedas yang sudah datang beberapa menit yang lalu.


...***...


Keesokan harinya,


"Ma, kan aku sudah bilang gak usah repot-repot nganterin makanan ke sini. Kan mama bisa minta anterin bi Asmi atau pak Sopian" ucap Radit tak ingin mamanya kelelahan.


"Mama juga sudah bilang, mama tidak merasa direpotkan. Lagian mama itu kangen sama anak bujang mama yang tampan dan selalu sibuk ini" ujar Laura tersenyum merayu.


Radit hanya tersenyum tipis menanggapi celoteh wanita yang sangat berharga di depannya. Sementara itu, Laura mulai menata makanan di atas meja.


"Dit, mama semakin tua. Kapan kamu akan menikah?" tanya Laura sembari memindahkan lauk di atas nasi.


Radit beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah Laura.


"Ma, saat ini pekerjaanku banyak banget. Jujur aku tidak pernah berpikir untuk menikah dalam waktu dekat ini. Lagian juga gak ada cewek yang suka sama aku" tutur Radit meraih wadah berisi nasi dan lauk yang sudah disediakan Laura.


Seketika Laura membidik mata kepada sang putra. Ia tidak percaya. Mana mungkin tidak ada gadis yang suka dengan anak tampannya ini. Yang ada mungkin Radit terlalu memilih atau juga belum membuka hati untuk wanita lain.


"Oh ya Dit, tadi di bawah mama ketemu karyawan di sini"


"Siapa ma?" sahut Radit di sela mengunyah makanan.


"Mama gak tahu, gak sempat nanya namanya. Tapi dia pakai masker. Katanya dia lagi flu" ujar Laura.


"Oh...terus kenapa ma? Jangan bilang mama mau jodohin aku sama dia" ujar Radit curiga.


"Ya kalau kamu mau gak papa" sela Laura antusias. "Mama sempat ngobrol sebentar sama karyawan itu. Termasuk ngomongi kamu"


Dahi Radit berkerut. "Kenapa jadi ngomongi aku, ma?"


"Mama heran, kok bisa dia bilang kamu sudah menikah"


Radit terdiam sesaat. Ia menyudahi makan siangnya.


"Terus mama jawab apa?"


"Ya mama bilang saja kamu masih single. Lagian mana mungkin kamu menikah tapi mama gak tahu" tutur Laura.


"Karyawan itu cewek?" tanya Radit menyelidik.


"Iya"


"Ciri-cirinya gimana ma?" tanyanya semakin serius seperti polisi yang sedang menginterogasi penjahat.


"Dia lebih tinggi sedikit dari mama. Rambutnya panjang. Udah gitu aja. Kan dia pakai masker jadi mama gak bisa ngenalin wajahnya"


Apa mungkin itu Jelita?, sambar Radit membatin.


Di tempat lain di lantai paling tinggi, tepatnya di rooftop, seorang gadis terlihat berdiri di tepi pagar pembatas. Sedang memandang gedung-gedung tinggi pencakar langit.


* 1 jam yang lalu...


Hari ini Jelita kembali bekerja dengan memakai masker. Entah kenapa tiba-tiba semalam ia terserang flu. Karena tidak ingin yang lain tertular, ia akhirnya memutuskan untuk memakai masker.


Langkahnya terburu-buru karena harus mengejar waktu. Sambil menenteng beberapa berkas, Jelita berjalan cepat ke arah ruang tunggu tamu. Karena tidak memperhatikan langkahnya, tak sengaja ia menabrak seorang wanita berumur sekitar empat puluhan ke atas.


Brugg


"Maaf bu" ucapnya sambil mengumpulkan berkas yang berserakan di lantai.


"Kamu gak papa?"


Deg!


Itu suara mama, batin Jelita.


Ia mendongak dan ternyata pendengarannya tidak salah. Wanita itu memang mamanya.


"Gak...gak papa ma. Ehmm maksud saya bu" ucapnya gagap. "Maaf bu kalau saya lancang. Ibu mau ketemu siapa?" tambahnya agaknya khawatir. Ia takut wanita itu mengenali wajahnya.


"Saya mau ketemu Radit. Saya mau mengantarkan bekal makan siang ini untuknya. Kasian dia dari kemarin belum pulang. Selain saya, siapa lagi yang mengurusnya" tutur Laura sedikit bercerita.


Kening Jelita spontan berkerut. Ia merasa aneh. Bukankah Radit sudah menikah. Kan ada istri yang akan mengurusnya. Lalu kenapa Laura bicara seakan-akan Radit masih sendiri?


"Maaf bu sekali lagi kalau saya lancang. Tapi bukannya pak Radit sudah menikah?"


Laura tersentak dengan tatapan aneh.


"Sejak kapan dia menikah? Kalau dia menikah, saya pasti tahu. Kan dia putra saya. Lagian saya rasa, Radit itu tidak suka wanita" ujar Laura mengecilkan suaranya.


"Maksudnya bu?"


"Sejak empat tahun yang lalu, saya belum pernah melihatnya membawa seorang gadis ke rumah" jawab Laura setengah berbisik.*


Jelita menarik tangannya ke atas lalu membuang nafas lega. Ingin rasanya ia berteriak dan menari untuk meluapkan rasa bahagianya saat ini. Namun sayangnya, ia sedang berada di kantor. Teriakannya mungkin akan mengundang perhatian karyawan lain. Dan itu bukanlah sesuatu yang membanggakan tapi justru akan membuatnya malu.


"Tapi kenapa orang-orang tahunya kak Radit sudah menikah ya? Apa dia sengaja nyebarin informasi palsu itu? Tapi untuk apa? Oh atau mungkin dia sengaja melakukan itu agar tidak ada cewek yang mendekatinya" Jelita terus mencoba menebak-nebak. Semakin banyak pertanyaan praduga di kepalanya, semakin lebar senyum yang tersemai di wajahnya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk"


"Maaf pak. Ada apa pak Radit memanggil saya?" tanya Jelita deg-degan.


Radit tersenyum miring. "Kamu tidak kerja kemarin dan sekarang tanya ada apa? Kamu tahu gara-gara ulah kamu yang kekanak-kanakan itu, pekerjaan saya jadi terhambat" sahutnya marah.


"Maaf pak" sesal Jelita tertunduk murung.


"Kalau maaf bisa mengembalikan kerugian saya, mungkin saya akan memaafkan kamu" timpal Radit. "Geser kursinya ke sini. Selesaikan masalah yang sudah kamu buat" tambahnya sembari menggeser kursi yang didudukinya ke kanan.


Jelita menurut patuh dan menarik kursi ke samping Radit. Setelah mendapat sedikit arahan dari sang CEO, ia pun mulai mencari solusi dari permasalahan yang ada pada grafik. Matanya melototi laptop berlogo buah apel itu.


"Pak ini maksudnya gimana ya?" tanya Jelita bingung.


"Jangan tanya saya. Cari sendiri jawabannya" jawab Radit acuh.


Sontak gadis itu mendelik kepada pria dingin di sebelahnya.


Kayaknya gue dikerjain lagi, batinnya curiga.


"Pak Radit ngerjain saya ya? Buat apa saya disuruh ngecek grafik gak penting ini"


"Jangan bilang tidak penting. Grafik itu akan menentukan lamanya kamu bekerja di sini?" timpal Radit seraya menyoroti tajam wajah Jelita.


"Iya. Ini grafik laba rugi tahun lalu. Saya kan baru sebulan di sini. Seharusnya jangan minta saya untuk mengecek ini" keluh gadis itu tidak terima diperlakukan tidak adil.


Tiba-tiba Radit menarik kuat kursi yang diduduki Jelita. Sontak sang gadis terdiam. Jantungnya berdetak kencang. Tatapan tajam pria di hadapannya begitu dalam hingga membuatnya semakin berdebar.


"Pergi saja dari sini kalau kamu tidak terima dengan perintah saya" usir Radit kasar dan tegas.


Jangan menyerah, sabar. Sekarang saatnya kamu berjuang untuk mendapatkan cintanya lagi. Jangan pergi dan tetap tinggal di sisinya, batin Jelita menguatkan tekad.


Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut keduanya. Hanya interaksi mata yang saling memandang dalam kebisuan. Namun di satu sisi, Jelita sudah tidak tahan. Ia menangkup raut dingin pria itu dan mendaratkan kecupan dalam di bibir yang sudah lama ia rindukan. Sementara itu, Radit tampak sedikit terkejut.


Jelita mengurai cumbuan lembutnya dan menatap intens sepasang netra coklat itu. "Saya akan tetap di sini dan tidak akan pergi, lagi" ucapnya menekankan kata lagi.


"Kamu yang memulainya. Yang terjadi setelah ini, bukan berarti semuanya membaik" Radit menarik wajah Jelita dan mendaratkan bibirnya di bibir sang gadis dengan tergesa-gesa.