
Siang itu seperti biasa, di saat yang lain lahap menyantap menu enak di kantin, Jelita tetap memilih menghabiskan makan siangnya di rooftop. Tempat paling tinggi itu benar-benar menjadi spot favoritnya di kantor. Bukan hanya udaranya yang sejuk tapi juga suasana di atas sana juga sangat menenangkan jiwa. Anehnya tempat senyaman itu tidak membuat karyawan yang lain tertarik berlama-lama duduk di sana. Bahkan dalam seminggu dapat dihitung siapa-siapa saja yang mampir ke rooftop. Walaupun heran namun Jelita justru sangat bersyukur. Semakin sedikit orang baginya semakin baik. Jujur ia tidak terlalu suka keramaian tapi juga tidak keheningan.
"Hah...tempat ini memang yang terbaik" ucapnya sambil memejamkan mata untuk meresapi angin sejuk yang menyapu wajah. "Mending gue makan sekarang deh. Ntar kalau telat balik kerja, bisa dimarahin gue sama kak Radit" lanjutnya sembari memasukkan makanan ke dalam mulut mungilnya.
Hmmm. Ia berdehem nikmat sangat menikmati makanan hasil masakannya sendiri.
Baru dua sendok makanan itu masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dari arah belakang. Jelita segera berbalik untuk melihat siapa yang datang.
"Kak Radit. Kak, lo kok ada dimana-mana sih. Kemarin di jalan. Sekarang di sini. Lo ngikutin gue ya?" cercanya bawel.
"Jalanan itu untuk semua orang jadi wajar kalau kamu melihat saya di jalan. Dan gedung ini punya saya, jadi terserah saya mau di sini atau dimanapun. Makan apa? Mie lagi?" Radit melangkah menghampiri Jelita.
Dasar sombong. Selalu itu alasannya. Ini kan kantor saya jadi terserah saya, ledek Jelita dalam hati.
"Apa itu?" tanya Radit penasaran dengan makanan yang ada dalam kotak bekal Jelita.
"Nasi, telur dadar, sambal" jawab Jelita sambil mengaduk nasi dan sambal menjadi satu.
Mendengar telur dadar seketika membuat Radit ingin mencicipi makanan itu. Sejak dulu telur dadar memang menjadi lauk favoritnya. Saking sukanya makanan itu, ia tidak pernah ketinggalan memesan menu telur dadar jika makan di rumah makan padang.
Hemm...hemm
Radit mengelus tenggorokannya dan pura-pura batuk.
"Buatin kopi untuk saya" pintanya yang tiba-tiba ingin minum kopi.
Hah!
Jelita mendelik aneh.
"Lo kan batuk, kak. Harusnya minum air putih. Kenapa malah minta buatin kopi?" kelah Jelita menatap curiga. Ia merasa Radit sedang menyusun rencana licik untuk membuatnya kesal atau naik pitam.
"Lo gue, lo gue. Pak, ini masih di kantor. Sudah jangan banyak tanya. Buatkan saja kopinya" titah Radit memaksa. "Atau kamu saya...
"Pecat" sambar Jelita seraya berdiri. "Basi banget ancaman lo, kak" sambungnya menyeringai sinis.
Setelah Jelita turun, Radit pun segera menyantap bekal makan siang Jelita. Ia tampak lahap dan sangat bersemangat menghabiskan makanan itu hingga tidak tersisa sebiji nasi pun.
"Jelita sudah dewasa. Sekarang dia bisa masak dan rasanya cukup enak" puji Radit yang sama sekali tidak merasa takut setelah menghabiskan makan siang orang lain.
Radit melirik arloji di tangannya, tinggal 30 menit lagi untuk kembali bekerja. Sembari menunggu Jelita datang, tiba-tiba ada seekor kucing yang lewat. Ia terpikirkan sesuatu yang mungkin akan membuatnya terhindar dari amukan Jelita.
"Ini pak kopinya" Jelita menyodorkan kopi instan ke depan wajah Radit.
Mata melotot bulat sempurna begitu melihat bangku yang ia duduki tadi telah bersih. Dimana makan sianganya?
"Loh makanan saya mana pak?"
"Ya mana saya tahu. Jangan nuduh saya yang makan ya" ucap Radit menimpali.
"Siapa yang nuduh sih pak? Saya cuman nanya. Tadi kotak bekal saya ada di sini. Kok tiba-tiba hilang. Pak Radit kan di sini nungguin saya. Masa gak lihat siapa yang ambil?" tanyanya terheran-heran.
Radit mengankat pundaknya, pura-pura tidak tahu apa-apa. Kemudian matanya mengedar seperti sedang mencari sesuatu.
"Nah itu kotak bekal kamu kan? Wah berarti kucing yang maling makanan kamu" ucap Radit pura-pura terkejut. Padahal ini bagian dari rencananya.
Jelita menatap tajam wajah pria sok polos itu. Baginya kejadian ini terlalu tidak masuk akal. Mana bisa kucing menyeret kotak bekal berisi makanan sejauh satu meter lebih. Apalagi tidak ada tumpahan nasi, tidak mungkin kucing bisa serapi itu. Harusnya ada nasi yang berserakan di lantai mengingat kotak bekalnya ada di atas bangku. Pasti saat kucing menariknya ke bawah akan ada nasi yang jatuh.
"Pak Radit kalau mau makanan saya, harusnya bilang. Saya pasti gak bakal bagiin kok"
"Gak salah kok. Saya memang tidak ada niat bagiin makanan saya ke pak Radit. Sudahlah saya malas debat" Jelita mengambil kotak bekalnya yang sedang dijilati kucing, kemudian berbalik arah ingin meninggalkan rooftop.
Dengan sigap, Radit menarik lengan sang gadis.
"Saya sudah pesan makanan di kantin. Sebentar lagi datang. Jadi tetap di sini" ucap Radit lembut dengan tatapan teduh.
Lagi-lagi hati Jelita luluh dengan mudah. Entah kemana amarahnya beberapa menit yang lalu? Bahkan hanya dengan tatapan lekat, Radit telah membuatnya melayang-layang ke nirwana.
Aishh...kenapa gue lemah banget sih di depan kak Radit?, batinnya mencela diri sendiri.
"Kak, lo ingat kan dua hari yang lalu, gue bilang mau cerita sesuatu" Jelita menghela nafas sejenak. "Hari itu setelah memutuskan untuk membatalkan pernikahan, gue sudah berjanji sama diri gue sendiri kak. Jika kita bertemu lagi, gue janji akan memperjuangkan lo kak. Gue akan perjuangin cinta kita. Gue akan selalu ada di sisi lo apapun yang terjadi. Gue gak akan nyerah lagi kak. Dan gue gak akan biarin lo pergi lagi" timpalnya sembari meraih kedua tangan Radit.
Sementara gadis di depannya terus berbicara, Radit tetap diam mendengarkan.
"Kak, lo mau kan berjuang sama gue. Kita berjuang sama-sama buat dapatin restu papa sama mama. Kita buktiin sama mereka kalau cinta kita itu gak salah" Jelita berhenti sejenak. "Kak, kok lo gak ngomong sih? Lo mau kan kita berjuang bersama-sama?" sambung sang gadis berusaha meyakinkan pria pujaan hatinya itu.
Papa sudah tidak ada, Ta. Dan itu yang membuat semuanya semakin sulit. Mama tidak akan merestui kita, sahut Radit dalam hati.
"Permisi pak Radit"
Keduanya segera mengurai diri begitu ada orang lain datang.
"Makanannya sudah datang. Makanlah" ucap Radit setelah pengantar makanan pergi.
"Lo mau kemana kak?" cegah Jelita sambil meraih tangan Radit kembali.
"Saya masih ada urusan" jawabnya berlalu.
...***...
Next part,
"Kak Radit. Tumben nelpon gue malam-malam"
📞 Ya kak.
📞 Kamu dimana?
📞 Di apartement lo kak.
📞 Tunggu saya di sana. Jangan kemana-mana.
Tok! Tok! Tok!
Krekkk
"Kak, kok lo ketuk pintu? Kan lo bisa langsung...
Radit tidak membiarkan gadis di hadapannya berbicara lebih lama. Ia menyerobot masuk dan langsung memautkan bibirnya di bibir merona sang gadis. Pergerakan Radit yang grasak grusuk dan dominan membuat tubuh Jelita hampir jatuh namun untungnya Radit dengan sigap menangkap tubuh ramping itu. Hawa sejuk dari pendingin ruangan disertai udara dingin dari luar membuat pautan bibir keduanya tak terlepaskan.
Radit melucuti jas dan kemeja putih yang dikenakannya tak sabar tanpa melepaskan pautan bibirnya di bibir sang gadis.
"Ayo kita berjuang mendapatkan restu mama" ucap Radit dengan nafas tersengal.
Senyum Jelita merekah indah. Tangannya bergerak aktif menarik tengkuk sang pria agar lebih dekat padanya.