My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Kisah Cinta Yang Sulit



"Thank you ya Dit, sudah nganterin gue pulang" ucap Nayla tersenyum simpul.


"Sudah seharusnya kan?" balas Radit menarik ujung bibirnya sesaat menampilkan senyuman tipisnya.


Nayla mengangguk pelan sambil memutar bola matanya dalam diam. Ia menatap lama pria di hadapannya seakan sedang menunggu pria itu mengucapkan sesuatu.


"Hemm" dehem Radit nyaring.


Seketika lamunan Nayla berhamburan. Ia menggelengkan kepala dengan wajah tersipu malu. Bisa-bisanya ia begitu berani menatap pria sedalam itu.


"Oh Sorry. Gue turun ya" ucapnya canggung.


"Iya" sahut Radit singkat.


Radit meninggalkan halaman rumah megah Nayla. Mobilnya melintasi malam yang terlihat masih ramai oleh hiruk pikuk manusia. Jangan heran jika semakin malam, jalanan semakin ramai. Itu hal yang wajar mengingat malam ini adalah malam minggu, waktunya bagi insan muda-mudi memadu kasih.


Radit menambahkan kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai. Seharian ini ia tidak melihat wajah sang adik. Hanya pagi tadi dan itupun tidak lama. Ditambah lagi tadi situasinya tidak terlalu baik. Radit yakin, Jelita kepikiran soal perjodohannya dengan Nayla. Meskipun ada sekat yang sangat lekat tapi Radit yakin, Jelita memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya saja untuk mengutarakan itu tidaklah mudah.


...***...


Jelita tersadar dari lamunannya saat suara guntur memecah telinga. Sepertinya akan turun hujan. Ia pun segera beranjak dan mengintip dari balik tirai jendela begitu mendengar samar mesin mobil. Ia yakin mobil itu milik Radit. Dan benar saja, Raditlah yang keluar dari benda mati beroda empat itu.


Jelita buru-buru mengunci pintu kamarnya. Ia tahu kebiasaan kakaknya itu. Pasti Radit akan menemuinya terlebih dahulu sebelum masuk ke kamarnya sendiri.


Tok! Tok! Tok!


Lagi-lagi dugaan Jelita benar.


"Ta, lo sudah tidur?" seru Radit.


Di dalam kamar, Jelita meringkuk di atas kasur dengan selimut tebal yang menutupi sebagian badannya.


Tok! Tok! Tok!


Radit kembali mengetuk pintu. Barangkali tadi Jelita sedang ada di dalam kamar mandi hingga tidak mendengar panggilannya, pikir Radit.


"Ta, lo beneran sudah tidur?"


Masih tidak ada sahutan dari dalam. Radit melirik arloji di tangannya. Jarum pendek baru menunjukkan pukul 20.45. Jam segini biasanya Jelita belum tidur.


"Ta, gue masuk ya"


Radit menekan handle pintu namun sayangnya pintu dikunci dari dalam. Hal ini semakin membuat Radit keheranan. Tidak biasanya pintu kamar Jelita dikunci.


Pria itu diam sejenak. Kepalanya mencoba menerka. Satu-satu yang masuk akal, Jelita sedang kecewa atau marah padanya. Dan itu pasti karena soal perjodohannya dengan Nayla. Radit pun masuk ke kamarnya. Dan langsung tertidur karena tubuhnya sudah sangat lelah.


"Pagi, ma" sapa Radit sambil menyuap satu potongan telur dadar ke dalam mulutnya.


"Pagi sayang" balas Laura menghampiri.


Radit mengedarkan mata sebentar.


"Papa sama Jelita mana, ma?"


"Mereka jogging"


"Kemana?" tanya Radit lagi.


"Tadi mama gak sempat nanya. Tapi kayaknya mereka jogging ke Taman Pelangi. Kan biasanya juga di situ" ucap Laura tidak begitu yakin.


Sampainya di Taman Pelangi, Radit dibuat tertegun beberapa saat. Ternyata ramai sekali di sini. Minggu ini bahkan lebih ramai dari minggu-minggu sebelumnya. Semuanya ada, mulai dari pedagang asongan yang menjajakan berbagai makanan ringan di pinggiran taman, bapak-bapak, emak-emak, anak kecil, dan tak ketinggalan pasangan kekasih yang bukannya olahraga tapi malah duduk-duduk saja memenuhi taman. Radit sedikit kesusahan mencari keberadaan papanya dan Jelita. Taman Pelangi memang tidak terlalu besar tapi kalau orangnya seramai ini, ya susah juga.


Radit berlari-lari kecil mengikuti jalanan taman sambil sesekali melirik ke kanan dan ke kiri. Dan akhirnya usahanya tidak sia-sia. Dari kejauhan, ia melihat sang papa dan Jelita sedang jalan santai berlawanan arah dengannya. Radit pun mempercepat larinya.


"Pa" nafas Radit tersengal.


"Radit, kapan kamu kesini?" tanya Surya heran.


"Baru pa" jawabnya berbohong. Padahal sudah setengah jam ia berlari seperti orang linglung di sini.


"Kamu sih kesiangan bangunnya. Ini papa sama Jelita mau pulang. Papa sudah gak kuat lari lagi"


Radit tercengang sesaat.


"Tapi aku baru sampai, pa. Masa langsung pulang?"


"Nah gini saja. Papa pulang duluan. Dan kamu Jelita temanin kakak kamu ya" ujar Surya mengutarakan ide terbaiknya.


Tentu saja Jelita keberatan dengan saran itu. Padahal niatnya jogging karena ingin menghindari Radit. Ia sedang tidak ingin bicara apalagi bertatap muka dengan kakaknya itu.


"Gak mau, pa. Jelita ikut pulang sama papa saja" tolaknya dengan bibir mengerucut.


"Gak boleh gitu. Kamu gak kasian sama kakak kamu. Udah pokoknya kamu tetap di sini, temani Radit. Papa pulang duluan ya" Surya berjalan pelan menuju mobilnya yang terparkir di halaman kosong yang telah disediakan pengurus Taman Pelangi.


Selepas Surya pergi, Jelita kembali berlari mengelilingi taman. Ia tidak menghiraukan Radit yang mengikutinya di belakang. Sebisa mungkin gadis itu membuat jarak agar tidak terlalu dekat dengan pria yang ia panggil kakak itu. Jika jarak Radit sudah semeter di belakangnya maka ia akan membuat jarak dua meter ke depan. Jelita tidak peduli meskipun kakinya sudah pegal berlari. Rasa jengkel di dadanya membuatnya tidak ingin berdekatan terlebih dahulu dengan pria itu. Jelita ingin mengontrol perasaannya agar tidak terus menggeroti akal sehatnya dengan cara menghindari Radit.


"Jelita" panggil Radit meraih lengan sang gadis.


Jelita membuang muka memandang ke arah lain. Kening gadis berparas menawan itu tampak berkeringat membuat anak-anak rambutnya basah.


"Lo marah sama gue?" tanya Radit.


"Enggak"


"Tapi muka lo itu lagi marah"


"Memangnya kenapa muka gue? Dari dulu memang gini" Jelita masih enggan menatap lawan bicaranya.


"Lihat gue"


"Malas" sahut Jelita menutup matanya sesaat. Gemuruh di ulu hatinya kian menjadi. Ada rasa yang tidak bisa ia sampaikan. Ada kata yang tidak bisa ia ucapkan.


Gejolak rasa itu sangat menyiksanya sejak semalam. Jika tidak meneguk dua pil obat tidur, mungkin ia tidak bisa memejamkan mata hingga pagi menjelang. Kenyataan jika orangtua yang selama ini ia kasihi ternyata bukan orangtua kandungnya dan sekarang ditambah lagi perasaannya pada Radit yang semakin berbelok ke arah rasa cinta pada seorang pria, semakin membuatnya frustasi dan hampir gila memikirkan itu semua.


"Lihat gue" titah Radit lembut.


Perlahan Jelita memutar kepalanya menatap pria di hadapannya. Matanya kini sudah dipenuhi genangan air yang sejak tadi ditahan.


"Kak, gue...


Radit meraih tubuh Jelita dan memeluknya erat. Tangisan gadis itu pun pecah. Sesak yang memenuhi ruang hatinya, kini tersalurkan dengan airmata yang membasahi pipi.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja" ucap Radit sambil mengelus punggung gadis dalam dekapannya.


Radit berusaha menenangkan gadis malang itu padahal dirinya sendiri juga sedang dilanda kegundahan dan sangat butuh motivasi. Ia sangat mengerti apa yang Jelita rasakan karena ia pun sedang merasakan hal yang sama. Memiliki rasa cinta yang tak bermuara, itu sangat menyakitkan. Mencintai seseorang yang berbeda darah namun terikat dalam satu kartu keluarga, itu sangat menyiksa. Ini bukan kisah cinta yang aneh. Tapi ini kisah cinta yang sulit. Entah karena keadaan atau hati yang terlalu takut untuk saling terbuka, hingga membuat rasa ingin memiliki itu menjadi terlalu sulit.