
"Benar kan gue bilang. Bawel lo itu akan berhenti kalau kita sedekat ini. Yakin mau bunuh gue?" kata Radit setengah berbisik seraya menyelusupkan tangan kanannya ke samping pinggang Jelita. Seat belt yang melingkar di tubuh Jelita terlepas.
"Apaan sih lo kak. Minggir" Jelita mendorong Radit agar menjauh. Entah apa yang terjadi? Jelita merasa ada gemuruh di dalam dadanya. Gemuruh itu karena apa? Itu masih menjadi pertanyaan besar baginya.
Jelita menekan gagang pintu. Untung saja pintu bisa dibuka, jika tidak Jelita bisa mengomel lebih panjang lagi.
"Lo mau turun juga?"
"Iya"
"Mau ngapain? Nungguin gue ngampus? Stress lo ya" raut wajah Jelita sangat tidak bersahabat.
"Gue gak segabut itu ya, nungguin lo ngampus. Gue cuman mau mastiin lo masuk ke kelas. Anak zaman sekarang, gak bisa dipercaya. Ngomongnya kuliah. Gak tahunya pacaran" Radit melirik Jelita sekilas.
"Eh gue gak gitu ya"
"Siapa yang nuduh lo" sahut Radit.
"Itu barusan lo lihat gue, matanya gitu banget"
"Jangan terlalu sensitif jadi cewek. Ntar lo sakit sendiri"
Radit berjalan lebih dulu. Sedangkan Jelita masih melamun berusaha mencerna ucapan kakaknya barusan.
"Woy" teriak Radit tepat di depan telinga Jelita.
Pundak Jelita refleks terangkat. "Astaga" ucapnya terkejut.
"Lo mau kuliah atau melamun?"
Kekesalan Jelita sudah di ujung kepala. Jika saja sedang tidak di kampus, ia pasti sudah menendang tubuh kakaknya itu hingga terpental jauh dari kampus.
Ada banyak pasang mata yang mengarah pada Jelita. Lebih tepatnya kepada Radit. Terutama yang cewek-cewek. Mata mereka melotot seakan tidak pernah melihat cowok ganteng saja.
"Selera mereka rendah banget sih. Masa cowok begini ditaksir" gumam Jelita sembari melihat sebentar pria di sampingnya.
Tidak ada rasa risih sedikitpun, Radit sudah terbiasa dengan tatapan para gadis padanya. Namun anehnya dari sekian banyak dari mereka, tak ada satupun yang ngena di hati Radit. Entah Raditnya yang terlalu pemilih atau memang ia belum ingin membuka hati.
"Sudah sampai ya. Ini kelas gue. Mending lo balik sana" usir Jelita sambil melambaikan tangan.
"Ok. Jam berapa lo pulang?"
"Ntar gue telepon"
"Janji?"
"Iya janji" balas Jelita malas.
"Ya mesra dong janjinya. Kalau gak, gue gak balik ni"
Uuhhhh
"Iya janji kakakku sayang" Jelita memberi senyuman semanis mungkin. Dan berharap Radit segera enyah dari hadapannya.
"Nah kalau kalem gini kan cantik" puji Radit mencubit gemas pipi kenyal adiknya. "Jangan lupa nanti telepon gue"
Setelah Radit pergi, seorang gadis muda menghampiri Jelita.
"Hai Nes" sapa Jelita lebih dulu.
"Ta, cowok tadi siapa?"
"Siapa? Kak Radit?"
"Kak? Oh dia kakak lo, yang lo bilang kuliah di New York itu?"
"Iya"
"Ganteng, Ta. Kenalin sama gue dong. Eh tapi kakak lo sudah punya pacar belum" Agnes mencercah Jelita dengan pertanyaan beruntun. Ia cukup penasaran dengan kakak temannya itu.
Jelita memicingkan mata. Bibirnya manyun menggemaskan. Bisa-bisanya Agnes juga suka sama kakaknya. Ternyata selera temannya ini sama saja seperti cewek-cewek tadi. Emang apa sih menariknya Radit? Cuman ganteng doang. Selebihnya? Ya gak ada. Lebih banyak kurangnya malah. Plus nyebelinnya itu yang gak ada tandingannya, pikir Jelita sewot.
"Lo mending lupain deh. Kakak gue itu super nyebelin. Resek banget orangnya"
"Gak papa, Ta. Gue suka kok cowok badboy" sahut Agnes sambil berjalan menuju kelas.
Pukul 14.15, Jelita dan yang lain keluar dari kelas. Mata kuliah terakhirnya hari ini sudah selesai. Dan sekarang waktunya pulang. Saat berjalan di halaman kampus, tak sengaja Jelita berpapasan dengan Zain. Ia sebenarnya ingin kabur tapi keburu Zain memanggil namanya.
"Jelita, bisa kita bicara sebentar"
"Sebentar saja ya. Soalnya kak Radit bentar lagi jemput" Jelita sedikit khawatir, Zain akan dipukul kakaknya lagi jika kembali bertemu.
Zain mengangguk setuju. Mereka melangkah sambil berpegangan tangan menuju taman yang ada di belakang kampus. Kebetulan taman itu jarang dipakai anak-anak kampus karena kurang terurus. Suasana di sana cukup sepi, tidak banyak mahasiswa nongkrong. Jadi buat bicara serius, memang enaknya di sana.
"Ta, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku gak maksud nyakitin kamu. Aku hanya takut, kamu gak benar-benar cinta sama aku. Aku minta maaf, Ta" ucap Zain sungguh-sungguh.
Ada segurat gelisah di benak Zain. Ia takut Jelita akan memutuskan hubungan setelah kejadian kemarin. Saat ini Zain tidak sabar menunggu gadis di depannya bicara.
Di luar dugaan Zain sebelumnya. Tiba-tiba Jelita mengecup singkat bibir kekasihnya itu. Entah apa yang Jelita pikirkan? Ia yang selama ini menolak, sekarang justru memulai lebih dulu.
Di tempat lain di sudut taman yang tidak jauh dari posisi Jelita dan Zain duduk saat ini, tampak Radit menatap lekat sepasang kekasih itu. Tangannya mengepal keras. Ada perasaan tidak rela di hatinya saat Jelita berciuman dengan pria lain. Gerah dengan pemandangan mesra di depannya, Radit pun pergi dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia lupa dengan tujuannya datang ke kampus untuk menjemput Jelita.
Menit berlalu. Waktu juga berlalu. Sudah hampir satu jam Jelita menunggu namun batang hidung Radit tidak terlihat sedikitpun. Bukannya marah tapi Jelita justru khawatir. Tidak seperti biasanya kakaknya itu terlambat. Biasanya selalu on time.
"Kak Radit kenapa ya? Kok belum jemput. Ditelpon gak diangkat. Mana ini sudah sore lagi. Apa gue naik taksi saja ya?"
"Gimana kalau aku antar pulang"
Jelita menoleh. Entah sejak kapan Zain ada di belakangnya. Kekasihnya itu memang selalu muncul tiba-tiba. Namun bukan untuk menganggu seperti Radit, melainkan untuk memecah masalah yang sedang dihadapinya. Inilah yang membuat Jelita berat untuk melepaskan Zain. Apalagi Zain pacar pertamanya.
Mama papa gak akan marah kalau gue pulang diantar sama Zain, batin Jelita yakin.
...***...
Sampainya di rumah, Jelita mengedarkan mata ke segala penjuru. Ia pergi ke ruang TV lalu ke kolam berenang di belakang rumah. Tapi sosok yang dicarinya tidak ada dimana-mana. Jelita pergi ke dapur dan menemukan mamanya di sana yang sedang memasak untuk makan malam.
"Ma, kak Radit mana ya?"
"Ada tu di kamarnya. Baru pulang juga. Tapi kayaknya dia lagi ada masalah. Mama lihat mukanya kusut banget" tutur Laura sambil mengaduk sop buntut di panci.
Mungkin kak Radit pusing mikirin usulan mama buat kerja di perusahaan papa, pikir Jelita.
Tok! Tok! Tok!
"Kak, gue boleh masuk gak?"
Tidak ada sahutan dari dalam.
Tok! Tok! Tok!
"Kak, lo tidur ya? Gue masuk ya"
Jelita menekan handle pintu. Kepalanya menyelusup pertama, coba mengecek keadaan di dalam. Benar saja, Radit sedang berbaring di kasur. Ia masuk dan menutup pintu kembali.
"Kak, lo kenapa? Kok gak jemput gue. Lo sakit?" Jelita menempel telapak tangannya di kening Radit.
Sehat!
"Gue mau istirahat. Mending lo pergi dari kamar gue. Dan bilang sama mama, gue gak ikut makan malam jadi gak usah nungguin gue" Radit menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.
Jelita bingung. Apa yang sebenarnya terjadi sama Radit? Biasanya kakaknya itu selalu punya seribu cara untuk menganggunya. Tapi sekarang pria menyebalkan itu seperti orang yang tidak mempunyai semangat hidup. Sikap Radit yang tiba-tiba berubah membuat Jelita prihatin. Jika Radit seperti ini maka siapa yang akan menganggunya?
"Kak, lo bangun dong. Gangguin gue. Gue janji gak marah. Daripada lihat lo kayak orang stress gini. Mending lo ganggu gue"
Radit langsung menyingkap selimut begitu mendengar ucapan ledekan dari gadis yang duduk di atas kasurnya.
"Lo nyumpahi gue jadi gila gitu?"
"Gak juga"
Radit tersenyum miring.
Apa maksudnya, gak juga?
"Pergi lo sana. Gue malas ngomong sama cewek aneh kayak lo"
Jelita membusungkan dada. Kupingnya panas dengan kata-kata Radit yang menyebut dirinya aneh. Ia mengepalkan tangan. Dan...
Buggg
Kepalan itu menghantam pelipis Radit.
"Aahh" teriak Radit. Kepalanya berdenging.
Radit diam sejenak, menenangkan diri dan mengumpulkan kesadarannya.
"Lo benar-benar ya. Di diamin malah ngelunjak" Radit membanting pelan tubuh Jelita di kasur. Ia lalu mencekik leher adiknya itu.
Jelita menggerakkan tanggannya sembarang. Ia meraih benda apa saja yang ada di dekatkanya saat ini. Nafas Jelita tersengal disertai batuk kecil begitu cekikan di lehernya terlepas.
"Lo gila ya. Lo mau bunuh gue?"
Radit tertawa puas. Akhirnya ia bisa membalas perbuatan Jelita tempo hari.
"Satu sama. Kemarin gue juga hampir mati karena lo"
Segurat senyum tipis menghiasi wajah Jelita. Ia memang kehilangan banyak oksigen tapi sekarang ia lega, kakak nyebelinnya itu sudah kembali
"Kak, turun yuk. Gue lapar"
"Lo saja. Gue belum lapar" Radit berbaring miring lalu memejamkan mata.
Melihat wajah kakaknya sedekat ini membuat Jelita tertegun. Sebenarnya sudah sering. Tapi baru kali ini ia benar-benar memperhatikan wajah Radit. Jelita kagum dengan lekukan hidung kakaknya yang terlihat sempurna. Juga wajah tampan ini. Dan...sorot mata Jelita berhenti tepat di bibir merah muda pria di hadapannya. Setelah mengumpulkan keberanian dan memastikan Radit sudah tidur, Jelita memainkan jari-jarinya di sana.
Kak, sebenarnya gue mau curhat sama lo. Kenapa rasanya berbeda? Gue gak merasakan apa-apa sama Zain tadi, batin Jelita resah.
Tiba-tiba Radit membuka mata. Jelita dengan sigap menarik jarinya. Sekali lagi kakak adik itu membisu sambil menatap satu sama lain.