
4 tahun kemudian.....
Jelita menarik sepasang lengannya ke atas untuk meregangkan persedian tangannya yang terasa sangat kaku. Sejak pagi ia terus bekerja menatap layar komputer. Dan saking sibuknya, ia pun harus melewatkan makan siangnya. Ini bukan yang pertama kali tapi sudah tidak terhitung lagi ia membiarkan perutnya kosong di kala pekerja yang lain menyisihkan waktu untuk santap siang. Ya semenjak naik jabatan tepatnya satu tahun yang lalu, Jelita kini mengemban tugas yang lebih berat. Jika sebelumnya ia hanya fokus ke satu bidang saja. Namun kini merangkup beberapa bidang pekerjaan yang lainnya.
"Aah" helanya sambil menghembus nafas perlahan.
Cukup melelahkan namun gadis itu tetap bersyukur karena memang sudah sangat lama ia bermimpi agar bisa naik jabatan guna memenuhi kebutuhan ekonominya. Dan ia juga suka tantangan. Baginya naik jabatan, berarti mempunyai tantangan baru dalam bekerja dan itu akan membuatnya semakin bersemangat.
"Ta, kamu dipanggil bu Retno tu ke ruangannya" sampai Wulan salah satu rekan Jelita di kantor.
"Oke. Thanks ya Lan" sahutnya dan langsung berjalan ke ruangan Retno.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk" sahut suara dari dalam.
"Silakan duduk Jelita" lanjutnya begitu gadis cantik itu masuk.
"Ada apa ya bu? Kok saya dipanggil? Saya melakukan kesalahan ya bu?" tanya Jelita cemas.
"Tidak. Pekerjaan kamu justru sangat baik. Gini Ta" Retno membenarkan duduknya. "Perusahaan pusat di Jakarta, tadi pagi telepon kesini. Mereka menginginkan satu karyawan dari disini untuk mengisi bagian divisi mereka yang kosong. Kebetulan karyawan sebelumnya sedang cuti hamil dan melahirkan selama 6 bulan. Mereka butuhnya karyawan yang sudah berpengalaman di bidang itu. Jadi saya pikir, kamu yang paling pantas untuk berada di sana" tutur Retno lebih detail.
"Kenapa mereka tidak mencari sendiri bu? Bukankah di Jakarta banyak orang-orang hebat?" tanya Jelita heran.
"Kalau itu saya juga tidak tahu. Mungkin mereka tidak mau repot mencari karyawan baru lagi. Kamu mau kan?"
"Memangnya saya bisa menolak bu?" sahut Jelita bertanya balik.
"Kebetulan kamu harus menerima tawaran ini" balas Retno tersenyum memaksa. Ia merasa tidak enak hati pada salah satu bawahan terbaiknya itu.
Jelita menghela nafas pasrah. Padahal ia lagi suka-sukanya dengan pekerjaannya yang sekarang.
"Kapan saya akan bekerja di sana bu?"
"Dua hari dari sekarang" jawab Retno.
"Secepat itu bu. Tapi pekerjaan saya disini gimana bu?"
"Kamu tidak perlu khawatir. Saya yang akan menghandle semuanya. Kamu cukup rekap saja semua pekerjaan yang sedang kamu kerjakan ataupun yang sudah selesai" ujar Retno memberi jalan keluar terbaik.
"Tapi nanti bu Retno temanin saya kan ke Jakarta. Cuman untuk nganterin saya ke kantor saja bu biar saya gak terlalu canggung di hari pertama kerja di sana" pinta Jelita berharap atasannya itu setuju.
"Tentu saja. Saya kan perlu mengenalkan kamu dulu kepada orang-orang yang memegang jabatan penting di sana" ujar Retno.
Jelita mengangguk pelan. Ia lalu pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sedari pagi hanya di isi sepotong roti tawar dengan toping telur dan segelas teh hangat.
Jakarta!
Kota yang menyimpan sejuta kenangan. Gadis itu duduk tertegun di sudut kantin yang berdekatan dengan dinding kaca. Matanya memandang intens beberapa tanaman hias yang tumbuh subur di luar kantin. Daun yang melekat di tangkai tanaman itu bergerak tak teratur mengikuti arah mata angin berhembus. Seketika pemandangan itu membuat Jelita seperti ditampar kenyataan. Seperti itulah hidupnya saat ini. Berjalan mengikuti arah angin tanpa keluarga dan tanpa cinta.
Semuanya terasa hampa. Keramaian di luaran sana seakan tidak berarti apa-apa baginya. Rasa sepi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Tepatnya 4 tahun yang lalu, saat ia mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
2 hari kemudian....
Sepanjang perjalanan, Jelita tidak melepaskan pandangannya dari pemandangan yang ada di luar mobil. Gedung-gedung pencakar langit dan toko-toko yang berjejer rapi di tepian jalan itu, mengingatkan pada kenangan beberapa tahun silam. Tidak banyak yang berubah namun tentu saja suasananya tidak sama seperti dulu. 4 tahun lamanya, ia meninggalkan kota ini dan sekarang ia kembali. Rasanya tidak asing tapi ini juga sesuatu yang baru baginya.
"Ta, sebentar lagi kita sampai" tegur Retno yang seketika membuyarkan lamunan Jelita.
"Oh iya bu" balasnya tersentak.
Jalan ini kan?, lanjutnya dalam hati.
Kening gadis itu berkerut. Ia tahu jalanan ini. Mobil pun terus melaju yang membuat jantung sang gadis semakin berdebar keras.
"Bu ini beneran jalan menuju perusahaan?" tanya Jelita ingin memastikan apa yang ada di kepalanya.
"Iya bu"
Hah!
Jelita seketika terlonjam saat mobil berhenti tepat di area gedung bertingkat yang sebentar lagi akan menjadi tempat barunya bekerja. Matanya terbelalak tidak percaya.
Gedung ini kan?, batin Jelita semakin bingung.
Jelita dan Retno melangkah berdampingan menuju lantai 3 dimana ruangan CEO berada.
"Oh bu Retno dan mbak Jelita ya?" tanya seorang gadis yang duduk di balik meja berada tepat di depan pintu ruangan CEO.
"Iya" balas Retno singkat.
"Silakan masuk bu. Kalian sudah ditunggu dari tadi" ucap gadis itu seraya mengarahkan tangannya ke daun pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk"
Retno dan Jelita melangkah perlahan setelah diberi izin. Mereka bergerak maju ke arah meja yang berukuran cukup lapang itu. Sementara itu, seorang pria berperawakan tinggi dan berbadan tegap tampak berdiri membelakangi Jelita dan Retno. Pria itu sedang menatap gedung-gedung tinggi dari balik dinding kaca.
"Permisi pak. Kami sudah datang" sapa Retno lembut.
"Silakan duduk" sahut si pria.
Deg!
Suara itu, batin Jelita.
Setelah beberapa saat, CEO itupun berbalik badan.
"Kak Radit" gumam Jelita setengah berbisik begitu melihat wajah sang CEO. Feelingnya tidak salah.
Tidak ada ekspresi terkejut di raut pria itu. Sangat berbeda dengan yang terlihat di wajah Jelita sekarang. Gadis itu terkejut tak percaya. Dan benar, seperti yang Retno katakan di perjalanan tadi, raut sang CEO tampak begitu dingin dan datar.
"Mana yang bernama Jelita?" tanya Radit seraya duduk di kursi kebesarannya.
"Saya Retno dan ini Jelita, pak" balas Retno sambil menoleh sejenak pada gadis yang duduk di sebelahnya.
"Bisa saya lihat data diri kamu?" tanya Radit melirik Jelita sekilas.
Gadis itupun kikuk seketika. Ia tampak kebingunan karena tidak membawa data diri seperti yang Radit minta.
"Hmm maaf pak saya belum mempersiapkan itu. Saya pikir....
"Kamu pikir ini perusahaan sembarangan?" sambar Radit menatap tajam.
"Bukan begitu pak. Tapi bukankah setiap data karyawan sudah ada di sistem perusahaan pak?"
"Kamu mau ngajarin saya?" timpal Radit merasa konyol karena apa yang dikatakan gadis di hadapannya memang benar.
"Gak, bukan gitu pak maksud saya" bantah Jelita.
Retno yang berada di tengah-tengah anak muda itupun hanya bisa menahan tawanya.
"Saya pikir saya tidak perlu menjelaskan lagi apa saja pekerjaan kamu di sini. Mungkin bu Retno sudah memberitahu semuanya. Baiklah saya harus bekerja sekarang" ucap Radit memberi isyarat agar kedua wanita itu segera pergi dari ruangannya.
Hari berangsur sore. Jelita yang baru saja selesai menata barang-barangnya, mengambil waktu sejenak untuk beristirahat. Ini hari pertamanya bekerja di tempat yang baru namun kepalanya sudah mulai disibukkan dengan berbagai pertanyaan. Bukan masalah pekerjaan tapi tentang apa yang terjadi 4 tahun yang lalu? Semuanya berubah.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa perusahaan ini berganti nama? Dan kenapa kak Radit bersikap begitu? Dia seakan tidak mengenalku" Jelita berhenti berpikir sejenak. Ia ingin menikmati kopi instannya dulu.
Hah...jadi dia sudah menikah, lanjutnya membatin sambil tersenyum getir.