My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Jadikan Gue Alasan



Setelah mengetahui rahasia tentang dirinya yang ternyata bukan anak kandung dari Laura dan Surya, Jelita pun melarikan diri dari rumah melewati gelapnya malam. Ia pergi tanpa membawah apapun. Hanya membawah baju yang melekat di badan. Jelita tidak tahu kemana langkah kecilnya akan membawahnya pergi. Yang ia inginkan saat ini hanyalah menyendiri di suatu tempat dimana keluarganya tidak akan menemukannya. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan memahami semuanya. Ini terlalu berat dan pahit untuknya. Dua orang yang teramat penting dalam hidupnya tega membohongi dirinya dan menyembunyikan fakta sebesar ini.


Di tempat lain Surya dan Laura dibuat gelisah dan khawatir setelah putri kesayangan mereka pergi dari rumah begitu saja. Surya yang sempat mengejar tidak mampu mencegah Jelita. Faktor umur tentu saja membuatnya kalah cepat dari gadis muda seperti Jelita. Surya tertinggal di belakang dan hanya bisa menatap nanar tubuh putrinya menghilang ditelan malam gulita.


Surya dan Laura panik. Mereka seperti orangtua kehilangan arah yang tidak tahu keberadaan anaknya. Laura pun baru teringat dengan Radit. Saking paniknya ia sampai lupa menelpon Radit untuk memberitahu situasi genting saat ini.


📞 Iya, ma ada apa?"


📞 Dit, Jelita sudah tahu semuanya.


Radit tersentak seraya bangun dari pembaringan nyamannya. Ia langsung mengerti maksud sang mama.


📞 Terus sekarang Jelita dimana?


📞 Mama gak tahu, Dit. Jelita langsung pergi begitu saja.


Radit mengecek waktu di layar ponselnya. Sekarang sudah jam 23.15. Kemana Jelita pergi selarut ini? Terlalu bahaya jika gadis muda belia seperti Jelita berada di luar rumah malam-malam.


Tak ingin membuang waktu, Radit segera bergegas meninggalkan apartementnya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang sambil sesekali melirik keluar mobil. Barangkali Jelita melintas di trotoar jalan. Namun sayangnya hanya sedikit pejalan kaki yang lewat dan tidak ada Jelita diantara mereka. Ini wajar mengingat waktu memang sudah terlalu malam.


"Jelita kamu kemana?" tanya Radit bingung. Pikirannya benar-benar buntu. Jelita tidak membawah ponselnya, tentu saja sulit bagi Radit untuk mengetahui keberadaan gadis itu.


Radit sempat menelpon Agnes dan Zain selaku teman karib dan kekasi Jelita namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Mereka juga tidak tahu dimana Jelita berada saat ini.


Di sisi jalan yang lain, Zain juga takkala khawatir setelah mendapat telepon dari Radit jika Jelita kabur dari rumah. Ia mengunjungi beberapa tempat yang biasa ia datangi bersama Jelita tapi seperti dugaannya, kekasihnya itu tidak mungkin pergi ke sana. Namanya juga orang kabur, mereka tentu saja akan mencari tempat persembunyian yang seminim mungkin tidak diketahui orang lain apalagi orang terdekat.


Sama halnya seperti Radit dan Zain, setelah luntang lantung beberapa jam di jalanan, ia akhirnya menemukan sebuah kontrakan sederhana yang ada di tengah kota. Jelita yang tidak punya apa-apa saat ini terpaksa menggadaikan kalung pemberian Radit untuk membayar uang sewa di muka. Ia sebenarnya berat melepaskan kalung emas putih itu dari lehernya. Tentu saja karena itu pemberian Radit sebagai kado untuk ulang tahunnya tiga minggu yang lalu. Bahkan saking berharganya kalung itu tidak pernah sekalipun lepas dari lehernya walaupun sedang mandi sekalipun. Ia takut benda indah itu akan hilang.


Jelita sempat lama berdebat dengan batinnya tapi pada akhirnya ia mengalah dengan keadaan. Saat ini ia butuh uang untuk menyewa tempat tinggal, setidaknya untuk malam ini.


"Hah! Gue janji kak, gue akan tebus kalung itu secepatnya" ucap Jelita lirih sembari merebahkan diri di atas kasur tipis.


Di kamar kecil ini, Jelita larut dalam lautan perasaan yang ia ciptakan sendiri. Sampai saat ini ia masih sulit percaya jika ternyata dirinya hanyalah anak adopsi. Pikirannya mulai kemana-mana bahkan menyerempet ke prasangka buruk. Sempat terbersit dibenaknya jika semua kasih sayang yang ia dapatkan selama ini hanyalah pura-pura atau kasihan belaka.


"Gak...gak Jelita. Lo gak boleh berpikiran seperti itu" gumamnya sambil menggelengkan kepala. "Lo sudah merasakan sendiri kan, cinta mereka itu murni" lanjutnya membuang segala pikiran buruk itu. "Papa dan mama sayang sama gue. Kasih sayang mereka tulus sama gue" tak terasa airmatanya mengalir begitu saja seakan ada sayatan luka di kelopak matanya hingga membuatnya tiba-tiba menangis.


Radit akhirnya pulang ke rumah dengan perasaan bersalah. Jika saja ia memberitahu Jelita lebih dulu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin saja Jelita akan bisa menerima kenyataan ini. Sekarang apa yang harus ia katakan kepada orangtuanya? Ia pulang dengan tangan kosong. Sebagai anak laki-laki, Radit merasa tidak cukup berguna karena tidak mampu menjaga keharmonisan keluarganya.


"Dit, adik kamu mana?" tanya Laura tercekat. Matanya tampak sembab karena sejak Jelita pergi, ia tidak berhenti menangis. Ia sangat khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan putri kesayangannya itu.


Radit hanya menggelengkan kepala dengan tatapan sendu. Seketika Surya dan Laura terduduk lemas. Surya sampai tidak kuat menegakkan kepalanya karena merasa telah gagal sebagai pemimpin keluarga.


...***...


Pagi ini tidak seperti biasanya. Jelita tidak bangun dari kasur empuk dan tebal miliknya. Tidak juga bangun di tempat yang nyaman dengan fasilitas pendingin ruangan. Jelita duduk dan termenung sesaat. Ia terpikirkan sesuatu. Mungkinkah keluarga aslinya hidup sederhana seperti dirinya saat ini?


Jelita pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan setelah memakai pakaian semalam, ia pergi meninggalkan kontrakan. Lagi-lagi ia tidak tahu kemana kaki akan membawahnya. Namun tiba-tiba ia teringat sebuah tempat. Dengan sisa uang dari kalung yang ia gadaikan semalam, Jelita menuju tempat itu.


Hampir satu jam lamanya, akhirnya ia sampai di tempat yang dituju. Jelita cukup lega ternyata ingatannya masih kuat. Ia ingat semua jalurnya meskipun baru sekali ke tempat ini.


Kakinya melangkah melintasi jalan setapak yang menanjak. Sampainya di pusat lokasi, Jelita berjalan sedikit lagi dan berdiri tidak jauh dari tiang kincir angin yang menjulang tinggi di depannya. Ya, ini tempat yang pernah ia kunjungi bersama Radit. Ia tahu tempat ini dari kakak nyebelinnya itu. Setelah puas memandang kincir angin yang berputar karena dorongan angin, Jelita merebahkan diri di atas rerumputan hijau yang tertata rapi seperti lapangan sepakbola.


"Kak, gue kangen sama lo" ungkapnya sambil memejamkan mata.


Tempat yang adem dan bersih serta tidak ada orang selain dirinya membuat Jelita tidak ragu tidur di tempat itu. Dengan lengan kanan sebagai bantal, Jelita terlihat nyaman dan lelap di bawah bentangan birunya langit dan empuknya bumi.


"Dasar cewek aneh. Dia bisa tidur dimana saja" ucap Radit tersenyum tipis.


Dengan jiwa penuh kasihnya, Radit menggantikan lengannya sebagai alas kepala Jelita kemudian melingkarkan lengan satunya lagi di pinggang ramping sang adik. Ia pun ikut tertidur sambil memeluk Jelita hangat.


Waktu berangsur siang. Terik matahari mulai menyengat. Sinar dari atas menerpa mata Jelita dan membuatnya terbangun.


"Kak Radit" ucapnya terbelalak.


Jelita menyingkirkan lengan Radit dari pinggangnya namun tak lama tubuhnya kembali ke dalam dekapan Radit secepat kilat.


"Kak, lo sudah bangun?" tanyanya terkejut.


"Belum"


"Apaan sih, gak lucu" sahut Jelita cemberut.


Radit membuka matanya perlahan.


"Semalam lo kemana? Kalau mau pergi tu bawah HP biar gak bikin orang khawatir"


"Mending lo pergi deh kalau cuman mau marahin gue. Lo sudah tahu kan kenapa gue pergi?" Jelita duduk sambil menyapu rumput kecil dari bajunya.


Mata Jelita mengawan jauh. Dadanya kembali sesak mengingat kenyataan pahit itu lagi. Ia membisu dalam desiran angin. Matanya basah oleh genangan air.


"Gue bukan adik lo, kak" ujar Jelita terisak pilu.


"Gue sudah tahu" sambar Radit keceplosan.


Sontak Jelita menoleh kepada Radit dengan sorot mata tajam.


"Apa? Jadi lo sudah tahu juga?" Jelita berdiri.


"Ta, dengerin penjelasan gue dulu. Apapun itu, lo tetap adik gue. Putri kesayangan papa dan mama"


"Bukan itu yang mau gue dengar. Gue tanya, lo sebenarnya juga sudah tahu kan?" tanya Jelita berharap Radit bisa lebih tegas.


Radit mengangguk pelan.


Plakkkk


Tangan Jelita melayang keras ke wajah Radit. Kemudian menyeka airmatanya sebentar.


"Lo orang yang paling gue percaya, kak. Gue pikir lo gak akan menyimpan apapun dari gue. Jangan pernah temui gue lagi"


"Lo mau kemana?" Radit mencengkram kuat tangan Jelita.


"Lepasin gue" pinta Jelita melotot.


"Gue sengaja melakukan ini untuk keutuhan keluarga kita. Mama sama papa sayang banget sama lo, Ta. Setidaknya lo pikirin mereka. Papa sama mama sampai gak tidur semalam karena khawatir sama lo" ucap Radit berusaha membujuk Jelita.


"Gue gak peduli. Kalian semua jahat" Jelita tidak menyerah dengan terus menggerakkan tangannya sembarang agar lepas dari cengkraman Radit.


Radit menarik pinggang Jelita dan mengunci rapat tubuh itu. Tangannya menyelusup di balik tengkuk Jelita kemudian menarik dengan satu hentakan. Tepat di saat bibirnya berada di muara bibir gadis yang kini dalam belenggunya, Radit berhenti sejenak.


"Berhenti melawan dan dengerin gue. Kalau lo sayang sama gue, pulang ke rumah. Biarkan gue menjadi alasan lo kembali" tutur Radit dengan suara berat dan nafas menderu.


Lo gak perlu minta, kak. Karena memang alasan gue kembali untuk lo, batin Jelita lirih.