My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Cinta Tanpa Batas



6 tahun kemudian....


Radit membaringkan pelan-pelan seorang anak laki-laki di atas kasur. Sedangkan Jelita tampak sangat hati-hati meletakkan anak perempuan di kasur yang sama. Setelah itu keduanya melangkah perlahan ke arah pintu namun belum juga sampai ke sana, tiba-tiba anak lak-laki tersebut terbangun.


"Mama" panggilnya parau.


"Aishh" sambung Radit jengkel. Ia langsung berbalik badan menghampiri sang putra. "Tidur ya sayang. Bangunnya nanti saja. Mama sama papa mau pacaran dulu" ucap Radit bercanda sambil menepuk lembut dada putranya yang bernama Rasi.


"Husshh" Jelita mencubit pinggang Radit geram.


"Kenapa? Sejak mereka lahir, kita tidak punya waktu berdua" sela Radit manyun.


"Terus salah mereka?" timpal Jelita sewot.


"Bukan gitu sayang. Tentu saja anak-anak tidak salaj. Tapi jujur aku merindukan waktu kita berdua, hanya berdua. Kamu ngerti kan" tutur Radit mengedipkan mata kanannya.


Jelita tersenyum kecil atas kode yang suaminya berikan. Ia sangat mengerti rasa resah yang suaminya itu rasakan. Ya tapi mau gimana lagi. Sekarang mereka bukan hanya hidup berdua saja. Ada anak-anak yang selama ini mereka nantikan jadi suka tidak suka, waktu mereka banyak dihabiskan untuk dua malaikat kecil itu.


Menit berlalu, Rasi pun sudah tertidur lelap. Dengan tak sabar, Radit mengankat tubuh Jelita yang masih ramping keluar dari kamar.


"Ayo sayang" ucap Radit buru-buru melucuti pakaian yang ia kenakan.


Jelita melakukan hal yang sama. Ia juga tidak sabar. Di atas kasur berukuran jumbo itu, suami istri yang telah dikaruniai dua anak itu melakukan pergulatan panas penuh gairah layaknya pengantin baru. Radit melepaskan segala hasrat dan permainan yang sudah lama tidak ia lakukan. Makhlum saja, pasca sang istri melahirkan dengan cara operasi sesar, ia tidak bisa melakukan aksi kasarnya dalam bercinta. Walaupun tahun telah berlalu namun Radit masih takut fantasi liarnya akan merusak jahitan di bagian perut Jelita.


"Sayang, kali ini agak cepat ya? Kan sudah lama" pinta Radit sangat bersemangat.


"Oke" balas Jelita setuju sambil menyatukan jempol dan jari telunjuk membentuk huruf O.


Dalam hitungan detik, bibir Jelita habis dilahap pria di atasnya. Ia lalu mengatur posisi agar lebih nyaman. Tak lupa juga mengumpulkan segenap tenaga karena malam ini akan menjadi malam yang sangat panas dan panjang.


Setelah aktivitas bercinta itu, dalam balutan satu selimut dan posisi berpelukan, keduanya menikmati angin malam di pinggir balkon.


"Kak"


"Apa?"


"Aku kangen sama mama?"


"Aku juga. Besok kita ke rumah mama. Anak-anak pasti senang bertemu neneknya" ujar Radit mempererat dekapannnya.


Jelita memutar wajahnya 30 derajat lalu mengecup lembut wajah tampan sang suami.


"Thank you" Radit membalas dengan mencium sebentar bibir kenyal istrinya.


...***...


Sekitar lima menit menunggu, akhirnya gerbang tinggi itu terbuka seperempat.


"Nenek" sapa Rasi dan Clara serempak. Keduanya menghambur dalam pelukan Laura.


"Sini sayang-sayang nenek. Wah cucu-cucu nenek sudah mandi ya. Wangi sekali" pujinya tersenyum senang seraya mengecup pipi tembem cucu-cucunya itu.


Sementara itu, Radit dan Jelita tak henti tersenyum lebar melihat kedekatan anak-anak dengan sang mama. Namun sayangnya mereka tidak bisa ikut berpelukan karena kaki yang masih tertahan di perbatasan gerbang.


"Ma, titip anak-anak. Jaga mereka ya ma" pinta Jelita tersenyum hangat.


Mata Laura mengelas seram. Ia melengos tidak ingin melihat orangtua dari cucu-cucunya itu.


"Tidak perlu mengajari saya. Saya lebih mengerti dari kamu" ucap Laura ketus. "Pak Andi tutup gerbangnya. Jangan biarkan mereka masuk" perintahnya ketus.


"I love you, ma" sambar Radit diiringi tawa kecil. Bagi Radit, mamanya itu tetaplah wanita hebat. Dan selalu menganggap, kasih sayang sang mama tidak pernah berkurang untuknya dan Jelita.


Pintu gerbang tertutup kembali. Pasangan suami istri itupun beranjak meninggalkan halaman rumah mewah yang dulu pernah mereka tempati bersama.


"Kak, sekarang kita kemana?"


"Kemanapun asal sama kamu"


"Dasar tukang gombal" cela Jelita tersipu seraya mencubit perut suaminya.


"Tapi kamu suka kan?"


"Tentu saja" timpalnya sangat suka dengan sisi romantis suami yang satu ini.


Pov Jelita,


Hah...


Kita sudah sampai di akhir cerita. Oh bukan, tepatnya ini awal cerita yang baru. Perjalanan cinta aku dan kak Radit benar-benar rumit dan melelahkan. Ikatan kami sebagai adik dan kakak membuat kami tidak bisa mengekspresikan rasa cinta yang tumbuh secara terbuka. Kami saling memberi dan membalas sentuhan dengan perasaan ragu. Namun rasa yang bersemayam di hati kami semakin membumbung. Terutama aku. Aku tidak dapat menahan hasratku lagi setelah tahu kalau kak Radit bukan saudara kandungku. Kami mulai menjalin hubungan layaknya pasangan yang sedang jatuh cinta pada umumnya. Semuanya berjalan manis sampai mama dan papa mengetahui rasa terlarang kami. Aku mengambil keputusan besar untuk meningggalkan kak Radit. Kami berpisah lalu bertemu lagi setelah 4 tahun. Kak Radit sangat marah dan selalu bersikap dingin padaku. Namun aku tidak menyerah untuk meluluhkan hatinya. Meskipun dibentak, dimarah, dicuekin, aku tidak pernah pergi lagi dari sisinya.


Setelah menikah pun masih ada kerikil-kerikil kecil yang kerap kali menjadi bahan pertengkaran kami khususnya tentang anak. Aku yang sangat ingin memberikan kak Radit keturunan. Sedangkan kak Radit selalu terlihat biasa saja. Entah dia memang tidak memikirkan tentang anak atau hanya untuk menjaga perasaanku saja. Tiga tahun pernikahan setelah menjalani berbagai macam pengobatan, akhirnya dokter memberi kabar yang sangat kami nantikan. Aku hamil. Dan yang mengejutkan, di dalam perutku ada dua janin sekaligus. Setelah sembilan bulan lebih, anak yang kami nantikan lahir ke dunia. Mereka kami beri nama, Rasi dan Clara.


Kami sangat menyayangi mereka dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk dua malaikat kecil kami itu. Kini Rasi dan Clara sudah berumur 3 tahun. Mereka tumbuh dengan sangat baik. Setiap weekend, anak-anak selalu main bersama neneknya. Oh iya, tentang mama, meskipun sudah memberi mama cucu tapi sampai sekarang mama belum memberi kami restu. Tidak masalah, kami masih punya banyak waktu. Aku yakin suatu saat, mama akan menerima kami lagi. Yang terpenting, mama menerima cucu-cucunya dengan tangan terbuka. Dan setiap weekend, tentunya aku dan kak Radit jadi remaja lagi. Kami berpacaran layaknya pasangan muda yang lain. Tidak ada anak yang akan menganggu kami saat bercinta. Jadi ada untungnya kan, anak-anak main sama neneknya haha.


Pov end.


"Eh kalian jangan berantem" cegah Laura berusaha melerai Rasi dan Clara yang sedang bergelut.


Laura sedikit kewalahan mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi. Untungnya ada asisten yang turut membantu memisahkan Rasi dan Clara.


"Kalian itu persis seperti Radit dan Jelita. Tidak pernah akur, selalu berantem" ujar Laura terengah.


Dua bocah itu terdiam sambil memandang bingung wajah sang nenek.


"Radit dan Jelita itu siapa nek?" tanya Clara polos.


"Anak-anak kesayangan nenek" jawab Laura sembari mengenang moment Radit dan Laura semasa kecil.


"Terus nenek lebih sayang siapa? Kami atau Radit dan Jelita?" sahut Rasi merasa cemburu.


Laura tertawa renyah. Ia kemudian memeluk cucu-cucunya yang sangat menggemaskan itu. "Tentu saja nenek lebih sayang kalian"


...***...


"Anak-anak jangan jauh-jauh ya mainnya" nasehat Laura dan Agnes serempak.


Keempat bocah itu tidak menggubris. Mereka berlari bebas mengitari halaman. Sementara itu Radit dan Zain terlihat sibuk memanggang daging dan berbagai hewan laut lainnya.


"Kafe kamu gimana?" tanya Radit sembari membalikkan daging stik.


"Semakin membaik. Bulan depan kami akan membuka cabang di kota lain"


"Good. Hati-hati jangan salah pilih partner lagi" ucap Radit mengingatkan.


"Thank's" balas Zain singkat.


Hari ini Radit dan Jelita mengadakan barbeque di rumah dan hanya mengundang satu keluarga saja. Sama seperti pemilik acara, Zain dan Agnes juga sudah dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Anak-anak mereka cukup akrab karena lumayan sering bertemu.


"Kamu hebat, Ta" puji Agnes di sela aktivitasnya menata piring di atas meja.


"Maksudnya?"


"Hebat saja"


"Aneh" sahut Jelita. Keduanya saling memandang sejenak lalu tertawa lepas. Hal itu menarik perhatian Radit dan Zain yang sedang sibuk dengan dunia perpanggangan.


"Mereka aneh bukan?" ucap Zain.


"Sangat" sahut Radit dengan raut datar. Kemudian kedua pria berkharisma itu tertawa kecil melihat tingkah konyol istri-istri mereka.


Hari terus berjalan. Sekarang sudah masuk weekend lagi. Seperti biasa, Rasi dan Clara main sama neneknya. Sedangkan Radit dan Jelita kembali bisa menikmati waktu berdua saja. Kali ini mereka memilih pantai untuk mengisi waktu luang.


Senyum, canda, dan tawa mewarnai kebersamaan itu. Mereka benar-benar sangat bahagia. Seakan ingin mengenang masa lalu, keduanya pun membuat rumah pasir setelah puas bermain air di pinggir pantai.


"Kak, rumahnya sudah jadi. Bagus gak?"


Radit tidak menjawab. Tanpa Jelita sadari, sejak tadi sang suami terus memandang wajahnya tanpa berkedip. Radit menangkup wajah Jelita lalu mencium bibir merah alami itu. Seperti biasa, bukan Radit namanya kalau tidak grasuk grusuk. Rumah pasir itupun hancur oleh kaki Radit yang bergerak liar. Kini tubuh Jelita ditindih lekat oleh sang suami. Matahari yang mulai menyingsing menjadi penonton tanpa suara, menyaksikan adegan mesra sepasang suami istri di bawahnya.


"I love you"


"I love you more" balas Jelita menarik leher Radit agar mengecup bibir lembutnya lagi.


Pov Radit,


Kami terus bercinta sepanjang hari. Untuk mencapai titik ini tidaklah mudah. Perjuangan dan rasa sakit telah kami lalui. Dan kini saatnya menikmati apa yang telah Tuhan berikan untuk kami. Jika ada orang yang mengatakan, cinta tidak harus memiliki maka aku tidak setuju. Cinta tanpa memiliki, hanyalah sebuah rasa yang singgah yang akan pudar jika tidak ada interaksi. Cinta itu harus diperjuangankan agar menetap dan bisa dimiliki. So, nikmati waktumu bersama pasangan. Dan bercintalah tanpa lelah sampai mendapatkan anak hehe.*


Di tempat lain di balik jendela yang terbuka lebar, Laura terlihat sedang berdiri di sana sambil memandang cahaya tamaram yang menerobos kamarnya. Ia menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Pa, Radit dan Jelita sudah menikah. Kita punya cucu sekarang. Namanya Rasi dan Clara. Mereka sangat lucu dan menggemaskan. Pa, anak-anak kita sangat bahagia. Aku juga bahagia meskipun tidak ada kamu di sini" ucap Laura sendu sambil mencium foto suami dan kedua anaknya. "Mama sudah merestui kalian" Laura berbaring di kasurnya lalu tidur dengan damai.


SELESAI


Terima kasih readers supportnya dari awal hingga ending🙏 Kalian luar biasa. Mau tahu dong koment kalian untuk karya ini. Tulis di kolom koment ya😘


Sampai jumpa di novel berikutnya✋