My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me
Kak Radit



📞 Hallo mbak Jelita. Ada pesanan makanan untuk mbakJelita. Bisa diambil di bawa sekarang.


Jelita merasa ada yang salah. Ia tidak memesan makanan. Lalu siapa yang memesan makanan untuknya?


"Terima kasih ya mbak" ucapnya sambil mengambil kantong plastik putih yang ada di atas meja resepsionis.


"Sama-sama"


Aroma menyengat dari makanan yang ada dalam genggamannya membuat Jelita tidak sabar ingin menyantapnya segera. Namun tibanya di meja kerja, ia menjadi ragu. Apakah tidak apa-apa makan makanan yang entah siapa pengirimnya? Bisa saja makanan itu sudah dicampur sesuatu? Zaman sekarang kejahatan bisa dilakukan dengan media apa saja.


Di tengah keraguan itu, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan masuk di aplikasi hijaunya.


Jangan makan mie lagi. Itu tidak sehat. Makanannya sudah datang kan?


Jelita menghela nafas panjang setelah membaca pesan singkat dari Radit.


"Kak Radit kenapa sih? Kadang galak, kadang baik, kadang perhatian. Sumpah nyebelin banget. Maunya apa sih? Sikapnya yang berubah-ubah gini bikin gue bingung. Sebentar bikin baper, sebentar bikin gue nangis. Dasar manusia plin plan, gengsian, suka banget mainin perasaan orang. Hahh" rasa ragu di hatinya hilang setelah tahu makanan itu dari Radit. Ia pun mulai menyantap makanan dengan lahap.


Ternyata mie instan yang dibuang Radit tadi tidak terlalu membuatnya rugi. Toh sekarang sudah diganti dengan makanan yang jauh lebih enak.


"Jadi gimana pak Radit? Apakah pak Radit bersedia menanamkan saham di perusahaan kami?"


Radit diam sejenak seraya mempertimbangkan tawaran tersebut.


"Kenapa perusahaan anda memilih saya?" tanyanya sambil menutup berkas proposal.


"Sudah menjadi rahasia umum jika pak Radit salah satu pebisnis hebat dalam bidang properti, produksi, bahkan distribusi. Sebagai pemula, kami sangat membutuhkan pengalaman pak Radit agar perusahaan kami semakin berkembang dan bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional. Kami sangat berharap pak Radit mempertimbangkan proposal kami ini pak" tutur pria itu.


Radit merespon dengan anggukan pelan. Ia masih ragu dan belum mengambil keputusan. Baginya semua tawaran yang datang harus dipertimbangkan matang-matang agar tidak ada penyesalan nantinya. Karena jika ia salah mengambil keputusan maka reputasi nama baiknya dipertaruhkan.


"Baik pak. Saya akan pertimbangkan. Nanti orang saya akan telepon ke perusahaan bapak" ucap Radit sembari menyodorkan tangan yang langsung di sambut pria di depannya.


Waktu baru menunjukkan pukul empat sore namun langit terlihat mulai gelap. Jika sesuai prakiraan cuaca maka hari inipun akan turun hujan lagi. Akhir-akhir ini, cuaca memang tidak menentu. Bisa sangat terik di siang hari namun tiba-tiba saja hujan turun tanpa terduga. Apalagi sekarang sudah bulan November yang memang sudah memasuki musim hujan. Jadi wajar saja jika hujan datang setiap hari.


Gemuruh dari langit memecah gendang telinga. Sontak para karyawan tersentak. Beberapa dari mereka panik. Sepertinya hujan akan segera turun.


"Gawat, kayaknya bakalan hujan lagi. Ta, aku pulang sekarang ya" pamit Dian salah satu rekan kerja Jelita di kantor.


"Kayaknya kamu belum bisa pulang sekarang deh. Tu hujan udah turun" balas Jelita sambil mengacungkan telunjuk ke arah dinding kaca.


"Hmm aku tetap bisa pulang dong. Kan ada pacar yang jemput pakai mobil. Ini kan malam minggu" Dian terkekeh kecil. "Bye"


Mendekati malam, situasi di lantai dua semakin sepi. Hanya tinggal dua orang termasuk Jelita. Karyawan yang lain sudah pulang. Ada yang dijemput pacar, suami, ada juga yang memesan taksi online.


"Kak Radit mana sih? Apa dia sudah pulang ya?" Jelita beranjak kemudian memasuki lift dan menekan angka tiga.


Tok! Tok! Tok!


"Gak ada yang nyahut. Apa kak Radit sudah pulang ya? Tapi lampu ruangannya masih nyala. Biasanya kalau dia sudah pulang, lampunya dimatiin"


Tok! Tok! Tok!


Masih tidak ada sahutan dari dalam. Jelita akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam. Kepalanya menyelusup lebih dulu untuk mengecek situasi ruangan CEO nya itu.


Di dalam sana, Jelita melebarkan kaki ke setiap sudut. Sudah hampir lima bulan ia bekerja namun baru sekarang bisa berlama-lama berada dalam ruangan yang paling besar di gedung ini.


Krekkk


Jelita tercengang saat melihat Radit berdiri di ambang pintu. Yang membuatnya terkejut, pria itu sedang menenteng mie instan berkemasan cup.


"Katanya jangan makan mie karena gak sehat" ledek Jelita yang berusaha keras menahan tawanya.


Sial. Kenapa dia ada di sini sih?, batin Radit.


"Mau saya makan mie setiap hari, itu bukan urusan kamu" balas Radit sembari duduk di sofa.


"Kayak pernah dengar kata-kata itu. Kreatif dikit dong. Masa copy paste kata-kata saya" sahut Jelita menghampiri Radit yang sedang menyantap mie.


"Gak usah mulai. Keluar dari sini" usir Radit mendelik ngeri.


Tatapan tajam itu tidak membuat sang gadis kaget. Ia sudah terbiasa dengan sikap Radit yang super dingin.


Radit tidak menanggapi. Ia terlihat begitu menikmati mie instan itu.


"Kamu ngerti bahasa manusia tidak. Sudah berapa kali saya bilang. Saya bukan kakak kamu. Saya atasan kamu, jadi bicaralah yang sopan"


Jelita duduk tepat di sebelah Radit lalu menangkup rahang keras pria itu.


"Kamu mau ngapain?" tanya Radit tidak berniat menyingkirkan tangan yang menangkup wajahnya.


Netra keduanya bertemu, saling menatap salam diam. Mungkin setelah 4 tahun, baru kali ini dua anak manusia yang sempat terlibat hubungan asmara itu saling menatap lekat dan intim. Hati si gadis tentu saja berdebar keras. Tapi tidak tahu apa yang di rasakan Radit. Ekspresi dingin dan datar membuat siapapun sulit menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu.


"Jika sebelumnya kita tidak saling kenal, apa kamu akan jatuh cinta sama saya?" tanya Jelita.


"Saya tidak tahu. Hmm mungkin saja" balas Radit tidak jelas.


Jelita tersenyum tipis. "Tapi sayangnya kita punya hubungan di masa lalu. Kak, perasaan gue masih sama. Dari dulu sampai sekarang. Aku...


Radit menyingkirkan tangan halus itu sebelum sang gadis sempat menyelesaikan ucapannya.


"Pergilah dari sini. Hujan sudah reda. Jadi pulang saja sendiri" Radit berdiri kemudian duduk di kursi kebesarannya.


"Baiklah, gue akan akan pulang. Tapi...


"Tapi apa?" sahut Radit bersuara lantang.


Jelita tertegun. "Kak, gue mau cerita sebentar"


"Sudah saya bilang bicara yang sopan...


"Susah kak. Dari kecil gue manggil lo kak. Itu sudah kebiasaan, gak bisa di rubah secepat kilat" protesnya dengan raut melas.


Gadis itu duduk kembali di sofa.


"Kak, hari itu gue ninggalin semuanya, kemewahan, cinta, kasih sayang...


"Langsung to do point saja. Kamu mau bicara apa?" sambar Radit tidak suka basa-basi.


Jelita membisu. Tiba-tiba ia ragu untuk mengungkap isi hatinya tentang janji 4 tahun yang lalu. Ia takut respon Radit di luar ekspektasinya.


"Gue pulang duluan kak" pamitnya meninggalkan ruangan itu.


Sebenarnya apa yang mau dia bicarakan, batin Radit penasaran.


Cukup lama Jelita hanya berdiri melamun di depan pintu utama gedung. Pandangannya seperti orang kebingunan.


"Kak, apa gue harus menyerah buat dapatin hati lo lagi? Sikap lo membuat gue pesimis. Dan, apa gue harus mengingkari janji yang gue buat sendiri? Seandainya ada mama, pasti dia bisa bantu gue keluar dari masalah ini. Tapi sekarang mama benci banget sama gue" gumamnya lirih seraya memandangi pekatnya malam di ujung sana.


"Mau sampai kapan berdiri di sini?"


Suara berat itu membuyarkan lamunan sang gadis.


"Astaga" pundak Jelita bergedik. Suara yang hadir tiba-tiba itu mengejutkannya. "Kak Radit. Bisa gak sih kalau datang tu gak usah ngejutin. Kayak hantu saja, tiba-tiba ada" lanjutnya sambil mengelus dada.


"Bawel banget" sahut Radit mengalihkan pandangan ke tempat lain.


"Gue lagi bingung kak"


"Bingung terus" timpal Radit. "Kamu kalau kebanyakan bingung, kapan suksesnya? Hiduplah untuk masa depan. Jangan berlebihan memikirkan masa lalu" ujar Radit menasehati.


Sok bilang gue bawel. Padahal sekarang dia terlalu banyak bicara, gerutu Jelita membatin.


Jelita menekuk wajahnya. Tubuhnya sangat lelah. Bukan hanya itu, pikiran dan batinnya merasakan hal yang sama. Sikap Radit selalu dingin padanya. Entah sampai kapan pria itu akan kembali hangat seperti dulu.


"Kak"


"Hmm"


"Gue capek banget. Kak, bisakah lo meluk gue sebentar?"