
"Kak, mau lo apa sih?" Jelita berbalik.
"Lo yang maunya apa? Sikap lo buat gue bingung" Radit mengertakkan giginya dengan ekspresi dingin.
Radit mencengkram kuat bahu Jelita dan mendorongnya ke dinding dengan sekali dorongan. Sontak Jelita meringis kesakitan di area pundaknya.
"Kak, sakit" Jelita menggerakkan bahunya ke sembarang arah agar Radit segera melepaskan cengkraman itu.
Radit tidak bergeming sedikitpun. Matanya menyoroti tajam mimik ketakutan gadis di hadapannya. Wajah bringas san tatapan tajam menusuk sang kakak serta tekanan menyentak di tubuhnya, tentu saja sangat membuat Jelita ketakutan. Ia berpikir apa kesalahan yang telah Ia perbuat hingga membuat kakaknya memperlihatkan sisi murka begitu.
"Gak kebalik. Sikap lo yang buat gue bingung. Lo peluk gue, lo cium gue, lo sentuh gue. Lo yang aneh bukan gue, kak" racau Jelita menggebu.
Jelita diam sejenak seraya membuang nafas berat.
"Gue tanya kenapa lo cium gue, lo gak mau jawab. Lo bilang gak usah dibahas. Lo bilang ciuman itu biasa saja karena waktu kecil kita sering melakukannya. Hah! Lo pikir gue bodoh apa? Lo pikir gue gak ngerti? Gue ngerti, lo dengar gue, hah? Hah" tanya Jelita berapi-api.
"Terus kenapa gak nolak?" tanya Radit dengan bibir bergetar.
Jelita refleks memejamkan mata saat Radit menghantam dinding tepat di sebelah telinganya. Bunyi denging itu terasa di panca indera pendengarannya.
Nafas keduanya memburu tak teratur.
"Lo juga menikmatinya kan? Jadi jangan sok jadi korban" sambungnya kasar.
Plakkk
Mata Jelita terasa panas setelah melayangkan tamparan keras di wajah Radit. Bulir di netranya tidak bisa diajak kompromi. Air bening dan panas itu mengalir begitu saja. Ucapan Radit membuat hatinya sakit. Sakit yang datang tiba-tiba tanpa ada obat penawar. Bisa-bisa Radit bicara seperti itu setelah membuatnya bingung setengah mati.
"Kenapa lo nangis?" tanyanya tanpa rasa bersalah. Radit bermaksud menghapus airmata di pipi Jelita namun tangannya ditepis kasar.
"Jangan sentuh gue" larang Jelita membelalak.
Jelita merasa kepalanya teramat pusing. Ia menghardik dirinya sendiri karena lagi-lagi ia hanya bisa diam seribu bahasa atas pertanyaan yang Radit sampaikan. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa malam itu dirinya terbuai dengan cumbuan Radit dan begitu menikmatinya. Ia tidak sakit hati untuk pertanyaan Radit sebelumnya karena pada kenyataannya, ia memang menikmati. Hanya saja, ia merasa begitu murah dan tidak tahu adab. Berulang kali ia menekankan jika Radit adalah kakaknya, tentu saja tidak pantas menikmati sentuhan dari pria yang memiliki aliran darah yang sama dengannya.
"Kak, kita berdua adik kakak. Jadi aku mau ini jangan dibahas lagi. Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. Lo kakak gue dan gue adik lo. Itu yang harus kita ingat" Jelita pergi meninggalkan kamar sembari menyeka airmatanya.
Lo memang adik gue, Ta. Tapi kita tidak memiliki darah yang sama, batin Radit dengan tatapan sendu.
* 8 tahun yang lalu
Tepatnya saat Jelita baru memasukki sekolah menengah atas, Radit tidak sengaja mendengar percakapan kedua orangtuanya. Hari itu ia tahu segalanya. Rahasia besar yang selama ini disimpan kedua orangtuanya. Rahasia yang membuatnya hatinya hancur dalam sekejab.
"Dit, mama mohon jangan beritahu Jelita" pinta Laura penuh harap.
"Papa sama mama tega bohongi kita berdua. Jelita pasti sakit banget kalau dia tahu papa mama bukan orangtua kandungnya" ujar Radit.
"Dit, kecilkan suara kamu. Jelita bisa dengar" sambar Surya. "Kenyataan ini tidak akan merubah apapun. Jelita tetap anak mama sama papa. Jelita juga tetap adik kamu. Tidak akan ada yang berubah sedikit pun dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Mulai sekarang, ini tidak boleh dibahas lagi. Ngerti" tegas Surya menganggukkan cepat kepalanya.
Wajah Radit masih tertunduk sedih. Kecewa? Itu sudah pasti. Kenyataan jika Jelita bukan adiknya, terlalu sulit untuk dipercaya.
"Lalu dimana adik kandung Radit, pa?*
...***...
Hoamm
Jelita menguap lebar.
Tidak seperti seperti biasanya, Jelita menyambut pagi ini dengan perasaan kacau. Jika saja tidak minum obat tidur, mungkin ia tidak akan bisa tidur semalaman. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya seberat apapun masalahnya, ia masih bisa tidur walaupun cuman beberapa jam. Tapi semalam, pikirannya benar-benar kusut seperti benang jahit.
"Jelita"
"Itu suara mama. Berarti mama sudah pulang dong" dengan raut ceria, Jelita langsung berlari ke bawah.
Aww
Saking semangatnya, Jelita sengaja menabrak sebuah kursi di bawahnya. Refleks Radit berdiri namun selang beberapa detik ia kembali duduk.
Kak Radit kok duduk lagi? Biasanya dia selalu sigap nolongi gue, gumam Jelita heran.
"Hati-hati. Kenapa harus lari-lari sih?" tanya Laura cemas.
Jelita duduk, ikut bergabung di meja makan.
"Mama sama papa kapan pulangnya?" tanya Jelita antusias sembari memindahkan beberapa sendok nasi goreng ke dalam piring.
"Semalam jam satu pagi" sahut Surya.
"Oh pantes Jelita tidak tahu. Jam segitu Jelita sudah tidur"
Jelita melirik Radit sekilas sebelum menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Di seberangnya, Radit hanya diam dengan mimik datar. Lagi-lagi sikap Radit saat ini membuat Jelita bingung. Pria itu sekarang seperti memiliki dua kepribadian. Bisa sangat ganas lalu menjadi super nyebelin seperti semalam. Dan bisa sangat pendiam juga dingin seperti sekarang ini.
"Hmm ma pa, ada yang mau aku katakan" ucap Radit serius setelah menghabiskan sarapannya.
"Apa?" sahut Surya.
Radit membenarkan duduknya terlebih dahulu agar lebih tegap.
"Aku setuju untuk bekerja di perusahaan papa tapi dengan satu syarat"
"Kok pakai syarat segala?" timpal Laura dengan tatapan aneh.
Surya mengangkat tangannya setengah, memberi tanda pada sang istri untuk diam.
"Lanjutkan" ucap Surya bijaksana.
"Aku akan bekerja di perusahaan papa, tapi aku akan tinggal di apartement"
"Loh kok gitu? Memangnya rumah ini kurang besar sampai kamu harus tinggal di apartement?" Laura tidak tahan untuk bicara.
"Aku mau mandiri, ma. Aku mau mempelajari manajemen perusahaan papa sendiri. Kalau aku tinggal di sini, papa pasti bantu aku. Kalau aku terus dibantu, aku sulit berkembang, ma" jelas Radit cukup masuk akal. Radit tahu betul sifat papanya yang tidak akan membiarkannya kesusahan dalam mempelajari hal baru.
Surya mengangguk setuju. Apa yang Radit katakan ada benarnya. Jika ingin mandiri, maka memang harus memulai semuanya sendiri. Dan agar kesuksesan itu lebih membanggakan, memang segalanya harus dimulai dari nol.
"Papa setuju?" tanya Laura.
"Iya, papa setuju. Kapan kamu akan pindah?"
"Besok pa" sahut Radit.
Jelita hanya menjadi pendengar yang baik. Ia sama sekali tidak masuk dalam percakapan mereka. Namun sepanjang obrolan itu, dadanya terasa sesak dan berdebar keras. Jika Radit tinggal di apartement maka ia akan jarang bertemu dengan kakaknya itu. Lalu apa yang akan terjadi? Apa hidupnya akan menjadi sepi kembali?
Tidak ada yang tahu termasuk kedua orangtuanya jika selama Radit kuliah di New York, Jelita merasa kesepian. Meskipun wajah dan tingkahnya selalu memancarkan keceriaan tapi kerinduan pada sang kakak telah merenggut keramaian dalam hidupnya. Menjelang malam rasa sepi itu semakin bergelayut di ulu hatinya. Rasa rindu pada sang kakak yang tidak dapat ia sentuh itu semakin menjadi-jadi ketika malam tiba.
Setelah makan, Jelita mengurungkan dirinya di kamar. Ajakan sang mama untuk menyiapkan kepindahan Radit, tak dihiraukan. Tubuhnya meringkuk di atas kasur dengan tatapan kosong ke arah jendela yang terbuka.
"Kenapa lo jahat banget sih, kak? Gue tahu, itu cuman alasan lo doang. Lo marah kan sama gue?" ucapnya lirih. "Baiklah. Pergi saja lo sana. Gue gak butuh sama lo. Gue gak akan nangis lagi kalau lo pergi" lanjutnya sesak. Tak terasa airmata yang ia tahan sejak di meja makan tadi, lolos juga dari pelupuk matanya.
Di kamarnya, Radit merenung dalam waktu yang cukup lama. Matanya menatap intens cincin yang ada di atas telapak tangannya. Cincin yang terbuat dari akar pohon, kado ulang tahun dari Jelita beberapa tahun silam. Kado paling murah namun sangat berarti baginya.
"Maafin gue, Ta. Ini yang terbaik untuk kita. Gue harus buang perasaan gue sama lo. Gue gak mau buat lo semakin bingung. Jika kita terus bertemu, gue takut gak bisa ngontrol perasaan gue"