
Mentari pagi menyapa dan menyulusup menembus dinding kaca. Sinarnya memantul langsung menyoroti wajah sepasang anak manusia yang berlainan jenis yang sedang terlelap itu. Radit membuka matanya perlahan. Pupilnya refleks mengecil berlindung dari cahaya terang itu. Ia meraih ponsel untuk melihat petunjuk waktu di sana. Lima menit lagi jam delapan. Dengan rasa malas pria itu bangun lebih dulu.
Radit melenturkan pesendiannya yang kaku dengan melakukan gerakan kecil. Senyumnya melengkung indah takkala melihat gadis cantik yang semalam menemaninya tidur. Setelah merasa nyawanya sudah berkumpul seratus persen, Radit berdiri dan menyingkap horden yang menutupi jendela. Seketika cahaya dari luar masuk lebih leluasa. Kamar menjadi terang benderang.
Hal itu membuat Jelita terbangun. Tubuhnya menggeliat malas. Ia berusaha melebarkan pupil namun hanya satu matanya yang terbuka. Cahaya yang terlalu terang membuat matanya silau. Jelita kembali menutup rapat netra indahnya.
"Kak, tutup lagi hordennya dong" pintanya sambil menarik selimut.
"Sudah siang. Bangun. Lo gak kuliah?" tanya Radit mendekat lalu membelai wajah sang gadis.
"Gue gak ada kelas hari ini. Tapi ada acara pergantian ketua Bem di kampus. Gue malas datang" jawab Jelita parau. "Lo sendiri gak kerja, kak?"
Pria yang memiliki body proposional seperti model itu diam sesaat. Ia menatap dalam gadis yang sedang bermalas-malasan di atas kasurnya.
"Gue ambil cuti"
"Bohong. Lo pikir gue bodoh banget ya, kak. Setahu gue untuk karyawan baru, minimal satu tahun masa kerja, baru boleh ambil cuti. Lo kan baru 5 bulan kerja" Jelita duduk sambil merapikan rambutnya.
"Gue pengeculian karena gue anak pemilik perusahaan" ujar Radit duduk menghadap Jelita.
"Kemaren lo marah-marah sama gue gara-gara gue hampir bongkar rahasia lo. Sekarang dengan bangganya lo ngaku anak pemilik perusahaan. Itu namanya KKN, kak" keluhnya manyun.
Perhatian Jelita mendadak teralihkan kepada kuku tangannya yang mulai panjang. Ia tidak tahan untuk menggigit kukunya itu. Ini salah satu sifat buruk Jelita yang sulit dirubah. Karena itu Jelita selalu rutin memotong kukunya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah sekalipun memiliki kuku panjang seperti beberapa temannya di kampus.
"Kukunya jangan digigit" ucap Radit geram sendiri.
"Iya, nanggung dikit lagi"
Radit menggelengkan kepala. Kebiasaan sejak kecil Jelita ternyata belum berubah. Sulit sekali menyadarkan adiknya itu jika ice cream lebih enak daripada kuku.
"Berhenti gak?"
"Iya dikit lagi" sahut Jelita masih menggerogoti kuku bersihnya.
Radit menarik tangan Jelita dan memasukkan jari tengah gadis itu ke dalam mulutnya. Sontak mulut Jelita menganga dan matanya melotot. Salivanya ia telan susah payah. Gerakan erotis mulut Radit yang sedang menghisap jarinya membuat darahnya berdesir ngilu.
"Kak?" dengan sigap Jelita buru-buru menarik jarinya. "Jangan mancing gue deh" sambungnya membuang muka sambil melepas nafas sangat pelan agar Radit tidak melihat. Ia gugup sekali.
Radit pun tertawa tertahan. Gadis polos di depannya membuatnya tidak tahan. Jika saja Jelita tidak memperingatinya, mungkin semalam sekujur tubuh gadis itu, akan ada tanda bibirnya.
"Gimana kalau hari ini kita jalan?" tawar Radit.
"Kemana?"
"Kemana saja asal sama lo" ucap Radit dengan suara desis menggoda.
Deg!
Gerakan Radit yang tiba-tiba membuat Jelita terkejut. Jantungnya berdetak kencang sekarang. Siapapun yang ada di posisi Jelita saat ini pasti merasakan hal yang sama. Hanya berselang dua jari yang menjadi sekat antara bibirnya dari bibir pria itu.
"Kak, kalau lo mau cium gue, lakukan saja. Jangan bikin gue deg-degan gini" ucap Jelita semakin gugup.
Mendengar itu sontak membuat Radit tersenyum simpul yang mempesona. "Apa lo selalu jujur seperti ini?" tanyanya sambil mengelus halus dagu Jelita. "Sama semua orang, apa lo sejujur ini? Hmm" lanjutnya.
"Gak. Gue jujur tentang perasaan gue sama lo doang, kak" kata Jelita sambil menutupi wajahnya yang bersemu merah.
"Itu bagus" Radit menarik kedua kaki Jelita hingga tubuh gadis itu berbaring telentang di kasur.
"Kak, lo mau ngapain?" Jelita tidak bisa bergerak kemana-mana dengan Radit ada di atasnya.
Jemari keras Radit membelai lembut area pelipis gadis di bawahnya. Telunjuknya yang panjang dengan mudah menjangkau setiap inci wajah gadis dalam tindihannya itu.
"Apa yang lo rasain kalau gue nyentuh lo begini?" tanya Radit dengan tatapan menusuk.
Jelita memutar bola matanya. Ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu. Jujur dirinya tidak pandai merangkai kata. Ia hanya mengatakan apa yang ada di kepalanya saat itu saja. Ceplas ceplos sudah menjadi ciri khasnya dan jika ditanya begitu, jujur ia bingung bagaimana menjawabnya.
"Gue gak tahu, kak" jawabnya terbata-bata. "Tapi coba lo tebak saja sendiri. Kalau gue begini, gimana?" Jelita mengeluarkan gerakan taekwondo yang pernah ia pelajari. Ia membanting pria di atasnya. Kini posisi berbalik, Radit ada di bawahnya.
Satu kecupan singkat mematikan berhasil mendarat di bibir Radit. Belum puas, Jelita mengecup bibir itu sekali lagi. Tak mendapatkan balasan yang diinginkan, gadis itu pun menghujam cumbuan berulang di setiap bagian wajah Radit.
"Reseh lo, kak" ucapnya langsung berdiri dan kabur ke kamar mandi. "Gue mandi duluan" pekik Jelita dari dalam.
...***...
Di perjalanan, Jelita terlihat gelisah. Matanya sering tertuju kepada layar ponselnya. Jelita mengabaikan panggilan yang masuk dengan harapan Zain tidak lagi menelponnya. Tapi justru ponselnya tidak berhenti menyala. Zain semakin intens menelpon. Sepertinya mantan kekasihnya itu tidak akan menyerah.
"Siapa? Kenapa tidak diangkat?" tanya Radit penasaran. Meskipun ponsel Jelita memakai mode getar namun ia tahu ada panggilan yang masuk yang sedikit membuatnya terganggu.
Jelita terkesiap. Pundaknya sedikit terangkat.
"Ohh..bukan..bukan siapa-siapa" ucapnya gagap.
Radit melirik Jelita sekilas. Sepertinya ia tahu siapa yang menelpon. Jika bukan Zain, gadis di sebelahnya tidak akan gelisah seperti ini. Radit meraih ponselnya dari saku celana lalu menekan lama tombol yang ada di bagian kanan. Selang beberapa detik, alat komunikasi itu mati total.
"HP gue susah mati" ucap Radit memasukkan ponselnya ke tempat semula.
"Kalau mama atau papa telepon gimana?" tanya Jelita ragu mengikuti apa yang Radit lakukan.
"Gue sudah telepon mereka. Tidak perlu khawatir. Tapi kalau lo keberatan, jangan ikuti gue. Jawab saja panggilannya" ucap Radit dengan mimik datarnya.
"Cemburu ya?" ledek Jelita.
"Iya"
"Issh jujur banget" tanpa ragu Jelita juga mematikan ponselnya. "Oke, let's go" teriaknya antusias dan tidak sabar sampai ke pantai yang pernah ia kunjungi bersama Radit semasa remaja.
Radit menambah kecepatan laju mobil. Mendekati pantai, suasana alam semakin asri dengan dedaunan hijau dan pepohonan besar. Tampak pula pohon kelapa yang berjejer rapi di pinggiran jalan. Ini menandakan mereka tidak lama lagi sampai.
"Aaaahhh" teriak Jelita menghambur ke pinggir pantai. Tangannya terbentang lebar seakan ingin meraup lautan ke dalam dekapannya.
"Kak, sudah lama banget kita tidak ke sini. Terakhir, kalau gak salah sebelum lo kuliah di New York"
"Ingatan lo bagus juga" sahut Radit mendekat, mensejajarkan berdirinya dengan Jelita.
"Iyalah. Gini-gini gue gak kalah pintar dari lo kak" sahut Jelita bangga.
"Termasuk pintar banting gue tadi" timpal Radit tersenyum seksi menggoda.
Seketika mata Jelita melotot sempurna. Sikap agresifnya di apartement pagi tadi membuat Radit punya bahan untuk meledeknya. Kalau diingat-ingat, tindakannya itu sangat memalukan. Seakan-akan ia selalu mendambakan sentuhan dari pria yang saat ini berdiri di sampingnya.
"Terserah lo deh kak, mau meledek gue gimana. Yang penting gue senang banget bisa kesini lagi" ucapnya pura-pura tidak peduli.
Senyum ceria gadis itu tersemai indah di wajahnya yang menawan. Ia berlari mendekati bibir pantai kemudian memercikkan air asin itu ke tubuh Radit. Sontak sang pria tidak tinggal diam, ia menangkup air dan melemparnya ke muka sang gadis. Gelak tawa, canda bahagia mengiringi kebersamaan mereka. Yang terjadi saat ini hampir sama dengan kenangan semasa mereka masih berumur belasan. Hanya saja sekarang rasanya berbeda. Bukan sekedar rasa sayang antara kakak dan adik tapi bertambah menjadi rasa cinta antara laki-laki dan perempuan.
Tak terasa hari berangsur petang. Matahari mulai menyingsing berganti cahaya tamaram. Senja setia telah datang, tentu saja bersama sinar kuning kemerahannya. Dan sepasang insan yang sedang kasmaran itu duduk di bawahnya menghadap lautan luas.
"Pemandangannya indah banget kak" puji Jelita sembari menikmati sunset di tengah lautan.
"Lo juga indah" sahut Radit memuji.
"Lo gombal terus, kak. Pasti di New York, pacar lo banyak banget ya?"
"Gimana gue mau punya pacar. Gue aja mikirin lo terus"
Senyum pun mengembang lepas di wajah Jelita. Mendadak wajahnya terasa panas padahal saat ini matahari semakin tenggelam. Apalagi angin pantai bertiup kencang, ia seharusnya kedinginan bukan kepanasan. Mungkin inilah rasanya jatuh cinta?
"Sejak kapan lo suka sama gue, kak?"
"Saat lo nangis karena jatuh dari motor. Gue sampai bosan menghapus airmata lo. Saat itu gue sadar, gue punya perasaan berbeda sama lo" tutur Radit sambil mengingat kejadian dimana untuk pertama kalinya ia jatuh cinta pada sang gadis.
"Wah berarti sudah lama banget dong. Itu artinya pas pertama kali lo cium gue, lo sudah ada rasa sama gue" ucap Jelita mengangguk mengerti.
"Jangan berikan ini pada siapapun" Radit menangkup dan mengecup singkat bibir gadis di sampingnya.
Jelita mengangguk pelan. Kepalanya bersandar manja di bahu lebar pria pujaannya itu. Suasana pun hening seketika. Mereka meresapi dan menikmati panorama alam yang tersaji di depan mata. Tidak perlu memikirkan apapun untuk saat ini. Itu janji yang telah disepakati keduanya. Dan meskipun sadar akan ada badai besar yang akan menghantam hubungan mereka nantinya. Namun Radit dan Jelita sudah berjanji untuk menghadapi itu bersama-sama.
"Ta, jangan lepaskan genggaman ini apapun yang terjadi" pinta Radit menatap dengan penuh harapan seraya mengeratkan jemarinya di sela jari gadis di sampingnya.
Lagi-lagi Jelita mengangguk patuh dengan tatapan sendu. Harapan Radit juga harapannya. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Saat ini ia hanya ingin bersama Radit, pria yang ia cintai.
Gue gak peduli kak. Sekalipun harapan kita hanya harapan semu, gue akan tetap di sisi lo. _Jelita_