
Pagi itu suasana di meja makan tampak hening. Hanya dentingan bunyi piring dan sendok yang saling bersahutan. Mereka tidak saling bicara juga tidak memandang. Tampak bukan seperti keluarga bila dilihat dari jauh. Lebih terlihat layaknya empat sekawan yang sedang terlibat konflik lalu tidak bertegur sapa saat bertemu ketika duduk dalam satu meja makan yang sama.
Entah kemana perginya keharmonisan itu. Tidak ada canda, tawa, dan guyonan yang mengocok perut seperti dulu. Situasi ini cukup membosankan. Surya pun buru-buru menyudahi makannya. Hatinya masih tidak bisa menerima saat mengingat foto-foto tidak pantas yang tersebar di ruang rapat beberapa hari yang lalu. Mengingat itu membuat dadanya bergojolak. Ingin rasanya ia marah sekeras mungkin kepada kedua anaknya itu atas semua kekacauan ini. Amarah di dadanya semakin diperparah dengan tidak adanya permintaan maaf secara tulus yang diucapkan oleh sepasang mida mudi yang sudah menyebabkan masalah itu.
"Hmmm" dehem Surya sengaja sesaat setelah mereguh segelas air putih.
Pria paruh baya itu berdiri dengan raut sinis dan tatapan membara.
"Pa, ada yang mau Jelita omongi" cegah gadis belia itu sebelum Surya meninggalkan ruang makan.
Surya kembali duduk.
"Apa?"
Jelita diam sejenak untuk mengumpulkan keberanian sebelum bicara. Jauh di lubuk hatinya, ia ingin sekali memandang pria yang duduk di sebelahnya, namun sorot mata Laura dan Surya tidak memungkinkan baginya untuk melakukan itu.
"Pa, Ma, pertunangannya ditiadakan saja. Jelita mau langsung menikah" ucapnya lantang tanpa keraguan.
Gadis itu menurunkan kedua tangannya yang gemetar ke pangkuan. Ia mengepal buku-buku tangan dengan erat agar tangis yang saat ini mati-matian ia tahan tidah meledak.
Sementara itu, Radit tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya atas keputusan Jelita yang lagi-lagi membuatnya serasa disambar petir di siang bolong. Berbeda dengan Jelita yang tidak punya keberanian untuk menoleh, saat ini Radit terang-terangan menatap intens gadis di sebelahnya meskipun ada sosok orangtua yang melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Radit" seru Laura nyaring yang seketika mengalihkan pandangan sang putra.
"Cukup ma, pa"
"Apa maksud kamu?" sahut Surya dengan sorot mata tajam seperti pisau yang baru diasah.
Radit berdiri dan menarik paksa lengan gadis di sampingnya. "Ikut denganku. Kita pergi dari sini" ajaknya memaksa.
Jelita melotot kaget. Ia tidak tahu apa yang akan Radit lakukan. Kenapa pria itu begitu berani?
"Kak, lo apaan sih? Lepasin tangan gue" tolak Jelita saat Radit berusaha membawanya pergi.
Radit tak bergeming. Ia semakin kuat mencengkram tangan gadis di belakangnya. Sementara itu, Surya dan Laura segera bangkit dari duduknya dan menghampiri anak-anak mereka.
"Radit hentikan" suara Surya menggema memenuhi ruangan.
Plakk
Refleks Jelita menutup mulutnya. Bunyi tamparan itu begitu nyaring.
"Ini kan yang mau papa lakukan dari kemarin? Pukul pa sampai papa puas. Tapi apapun yang papa lakukan tidak akan mengubah apapun. Kami saling memcintai. Aku mencintai Jelita. Dan Jelita juga.....
Plakkk
Tamparan yang tidak kala keras kembali mendarat di wajah pria yang sedang memberontak itu.
"Cukup kak. Kakak tidak pantas bicara keras seperti itu sama papa. Kak Radit bilang apa? Kita saling mencintai? Hahh" Jelita tersenyum sinis. "Coba diingat, pernah gue kasih sesuatu yang sangat kak Radit inginkan? Gak kan? Jika yang kak Radit katakan benar, gue pasti memberikannya. Sadarlah kak. Pria yang gue cintai itu Zain dan gue hanya akan menikah dengannya. Pa, tolong persiapkan pernikahannya secepat mungkin" Jelita mengakhiri perbincangan panas itu. Ia berlari menuju kamarnya.
Di dalam kamar, ia kembali melakukan kebiasaannya. Meringkuk di atas kasur kemudian menangis perih dengan tatapan kosong. Menyesal? Tentu saja. Membohongi perasaan tidak hanya menyakiti pria yang sangat ia cintai tapi juga menyakiti diri sendiri.
Tapi gadis itu tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin melihat orangtua yang sudah merawatnya dari kecil itu menangis lagi. Ini bukan hanya sebatas balas budi tapi ini bukti kasih sayangnya kepada mereka yang walaupu bukan orangtua kandungnya namun dengan ikhlas telah menerima kehadirannya dan memenuhi segala kebutuhannya.
"Aaahhh" Jelita menutup mulutnya dengan bantal lalu berteriak histeris. Hatinya teramat sakit mengingat binar airmata di bola mata Radit tadi.
1 minggu kemudian..
Persiapan pernikahan Jelita dan Zain hampir 80% rampung. Berbagai pernak pernik pernikahan mulai menghiasi dinding-dinding rumah. Tak terkecuali gaun pengantin yang sedang Jelita kenakan untuk menguji apakah gaun sudah pas di badannya.
"Kamu cantik sekali. Gaunnya cocok banget sama kamu" puji desaigner yang merancang gaun pengantin.
Jelita hanya membalas dengan senyuman tipis.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk"
"Maaf non, ada bunga dari nak Zain" ucap bi Asmi seraya memyodorkan bunga.
"Makasih bi"
"Oh ya non, nak Zain ada di bawah. Dia bilang mau bicara sebentar"
Setelah bi Asmi pergi, Jelita pun melucuti gaun pengantin setelah memastikan jika gaun sudah pas di tubuhnya dan sudah siap dipakai untuk acara akad nikah minggu depan.
"Hai Zain" sapa Jelita lembut.
"Hai. Are you okay?"
"Kok nanyanya gitu?" timpal Jelita heran sembari mensejajarkan berdirinya dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Jelita pikir Zain bisa melihatnya sendiri, ia baik-baik saja.
Lengan panjang Zain meraih kedua sisi pundak Jelita dan menuntun calon istrinya itu untuk berhadapan dengannya.
"Kenapa tiba-tiba kamu mau menikah denganku? Aku tahu kamu tidak mencintaiku" ucap Zain menyoroti netra indah di depannya.
Jelita tidak menjawab. Ia berdiri mematung membalas tatapan sang pria. Ternyata ia terlalu payah. Bahkan bersandiwara untuk pura-pura mencintai Zain saja ia tidak mampu. Apakah semua tertulis jelas di bola matanya hingga siapapun dapat menyimpulkan dengan mudah?
"Aku akan belajar mencintai kamu, Zain" ucap Jelita tidak yakin apakah bisa melakukan itu.
"Kamu yakin?"
"Hmm" angguknya pelan.
Tak disangka obrolan calon pengantin itu, tidak sengaja terlihat oleh Radit yang melintas di sekitar area taman belakang rumah. Tentu saja ia cemburu. Bukan hanya itu, ia sangat marah. Sampai saat ini, ia tidak percaya jika Jelita benar-benar tidak memiliki perasaan cinta padanya.
Sudah sejauh ini. Apa itu artinya, lo memang tidak mencintaiku? Lalu semua yang terjadi diantara kita apa? Benarkah lo tidak merasakan apa-apa saat kita bersentuhan?, batin Radit lirih.
Semakin mendekati hari pernikahan, Radit dan Jelita semakin minim berbicara. Keduanya bahkan jarang bertemu karena Radit memutuskan kembali tinggal di apartement. Sedangkan Jelita, tidak mungkin baginya menemui pria yang bersemayam di hatinya itu, mengingat hari pernikahannya sudah semakin dekat. Dan lagi pula, jika ia berbicara dengan pria itu sekarang maka keputusannya mungkin akan goyah. Kemudian semuanya akan hancur.
"Jahat lo, Ta. Tega lo sama gue. Setelah lo tahu perasaan gue sama Zain. Terus lo mutusin Zain lalu kembali dan ingin menikah dengannya di saat gue mulai menaruh harapan sama Zain. Gue mulai dekat dengannya, Ta. Tapi lo datang dan lagi-lagi lo merampas cowok yang gue suka. Kejam lo, Ta. Berapa banyak lagi hati yang akan lo sakiti?" tutur Agnes tak habis pikir dengan jalan pikiran mantan temannya itu.
"Nes, tolong ngertiin posisi gue. Gue harus menikah sama Zain. Kalau gak, keluarga gue akan hancur...
"Gue tu gak ngerti sama lo. Kenapa keluarga lo akan hancur kalau lo gak nikah sama Zain? Memangnya tidak ada cowok lain selain Zain?" cerca Agnes.
"Karena Zain mencintai gue"
Deg!
Agnes tersentak. Bagaimana bisa Jelita berbicara seperti itu? Sebenarnya pernikahan seperti apa yang akan Jelita jalani?
"Jadi lo cuman manfaatin Zain?"
Entahlah, gadis belia itu juga tidak tahu. Mungkin saja Agnes benar. Karena saat ini bukan Zain yang ada di dalam hatinya. Namun untuk keutuhan keluarga, ia harus melakukan pernikahan ini meskipun tanpa cinta.
"Gue gak tahu Nes. Gue bingung. Duduklah disini. Gue akan cerita semuanya" ucap Jelita sendu sambil menepuk ruang kosong bangku yang ia duduki, memberi isyarat agar Agnes duduk di sebelahnya.
Jelita mulai bercerita secara detail tanpa melewatkan bagian apapun. Termasuk hubungan peliknya dengan Radit.
Menganga tidak percaya. Itulah respon pertama Agnes setelah Jelita selesai bercerita. Ia bahkan kehabisan kata untuk menggambarkan keterkejutannya. Ia kemudian meraih tubuh Jelita yang sedang berurai airmata dan memeluknya erat.
"Maafin gue, Ta" sesal Agnes atas perkataan dan makiannya selama ini. Ia sudah salah sangka. Ternyata temannya itu sedang memikul beban yang teramat berat.
Pelukan Agnes membuat tangisan Jelita semakin menjadi. Keduanyapun mengeratkan pelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.
...***...
Hari itu, sekitar pukul 10.00 matahari baru terlihat karena hujan yang tidak kunjung berhenti dari pagi tadi. Radit yang sudah rapi dengan setelan sportynya mulai menyusuri jalanan yang masih basah. Mobil hitam bermerk itu melintas melewati padatnya jalanan ibukota.
Hampir 45 menit lamanya, mobil yang Radit tumpangi berhenti di depan pintu masuk bandara untuk penerbangan internasional. Matanya mengedar sesaat sebelum memasuki gedung bandara. Seketika kenangan indah kebersamaan serta kemesraannya dengan Jelita melayang-layang di kepalanya. Kenangan itu terlalu menyakitkan hingga membuat Radit ingin sekali membuangnya.
"Besok lo akan menikah dengan pria lain. Sekarang sudah saatnya gue menghilang. Gue akan selalu berdoa agar lo selalu bahagia, Jelita" gumam Radit pilu sembari melangkah masuk sambil menenteng koper berukuran sedang.
Sementara itu, di kamarnya yang sudah dipenuhi bunga warna warni, Jelita tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat tahu pria yang ia cintai, sekali lagi akan pergi jauh meninggalkan Indonesia. Namun lagi-lagi ia hanya bisa menekankan bantal untuk menyumpal mulutnya agar raungan menyayat hati itu tidak terdengar.
"Aaahhhh" jeritnya panjang. Mungkin siapapun yang melihat kondisi gadis malang itu saat ini akan meneteskan airmata kasihan.
Keesokan harinya,
"Saya terima nikah dan kawinnya Jelita Aliska Wiratan....
4 tahun kemudian