
Radit dan Jelita segera keluar dari kedai tersebut setelah menghabiskan menu makan malam mereka. Saat menuruni tangga, Jelita berusaha menggapai lengan pria di depannya namun niatnya itu langsung di gagalkan. Radit dengan sigap menarik lengannya. Sontak gadis cantik itu merengut kecewa.
"Kak, lo cuek banget sih? Hmm gimana kalau kita tidur bareng?" tawar Jelita ceplas ceplos.
Radit menanggapi dengan senyuman miris. Ia membuat jarak beberapa jengkal dari gadis itu. Udara malam yang dingin membuatnya refleks memasukkan tangan ke dalam saku hoodie yang dikenakannya.
"Jelita, saya akan mengatakan sesuatu. Dan mungkin ini cukup panjang" ucap Radit dengan tatapan serius.
"Apa? Katakan semuanya. Gue pendengar yang baik kok" sahut gadis itu antusias.
Radit memalingkan wajah sejenak sambil mengulum bibir.
"Jangan salah paham dengan kebaikan saya malam ini. Mungkin kamu lupa, hubungan kita sudah berakhir empat tahun yang lalu. Tepatnya saat kamu memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Kita....
"Tapi gue gak jadi nikah. Lo sudah tahu kan kak" sambar Jelita memotong ucapan pria di hadapannya.
Pria bertubuh tegap itu menghela nafas panjang.
"Mungkin bagi kamu pernikahan hanya permainan. Jadi kamu bisa membatalkannya kapan saja....
"Bukan itu maksud gue kak. Gue yakin lo tahu alasan gue membatalkan pernikahan. Lo juga tahu kan alasan gue setuju untuk menikah. Itu demi mama sama papa, kak" Jelita tercekat. Matanya mulai berbinar.
"Kamu bukan hanya punya satu pilihan. Kamu punya pilihan yang lain. Memperjuangkan cinta kita. Saat itu ada saya. Tapi kamu tetap menyerah. Dan sejak saat itu hubungan kita berakhir. Tidak ada lagi yang tersisa. Saya akan memperjelaskannya lagi. Hubungan kita saat ini sebatas rekan kerja. Di luar itu kita tetap orang asing" tutur Radit lugas.
"Kak, sekarang masalahnya apa sih? Gue single, lo single. Kita bisa memulainya lagi kak. Kita kembali bersama seperti dulu" harap Jelita sambil menyeka airmatanya.
"Saya tidak bisa melanjutkan hubungan yang sudah hancur. Berhubungan dengan orang yang sama, berarti mengulang cerita yang sama. Mulai sekarang, jalani hidup kamu sesuai dengan pilihan kamu di masa lalu. Itu hukuman yang pantas" Radit berbalik badan lalu melebarkan kaki menjauh dari gadis bertubuh ramping itu.
"Jadi maksudnya, lo rela gue tidur dengan laki-laki lain?" seru Jelita nyaring agar pria yang membuat jarak dengannya itu mendengar.
Langkah Radit terhenti. Ia tidak menjawab dan hanya berdiri seperti patung. Tak lama ia pun mengikuti kembali langkah kakinya. Dan menghilang dalam kelamnya malam.
"Kenapa lo gak jawab kak? Kenapa lo gak jawab? Sikap lo gini bikin gue bingung" tanya Jelita lirih dengan wajah ditekuk.
...***...
Laura dengan gaya elegantnya berjalan sambil menyebar senyum anggun kepada para karyawan yang melintas di sekitarnya. Para pekerja pun dengan lembut membalas senyuman itu. Bukan hanya segan namun beberapa dari mereka terutama karyawan wanita sedang berusaha menarik perhatian Laura dan berharap bisa dijodohkan dengan Radit, si CEO galak tapi penuh wibawa.
Seraya menyebar senyum, Laura terus berjalan ke arah lift. Ia menunggu lift terbuka dengan sabar sambil bersenandung kecil agar tidak bosan. Betapa terkejutnya ia saat kotak besi itu terbuka. Gadis tadi malam yang ia temui di jalan, kini ada di hadapannya lagi.
Mama, sapa Jelita dalam hati.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Laura dengan raut muka tak ramah.
"Jelita kerja di sini, ma" jawabnya agak takut. Ia masih bisa merasakan betapa kerasnya tamparan yang hinggap di wajahnya semalam.
Laura melotot terkejut. Sejak kapan Jelita kerja di sini? Dan kenapa Radit tidak memberitahunya?
"Sudah saya bilang, kamu tidak pantas menyebut nama itu. Saya tidak sudi dipanggil mama oleh anak tidak tahu diri seperti kamu" hardik Laura sambil mengacungkan jari telunjuk.
Sontak sikap Laura memancing perhatian karyawan lain yang kebetulan lewat di situ.
"Ma" sapa Radit yang entah sejak kapan datangnya.
"Radit, sekarang jelaskan. Kenapa dia ada di sini?"
"Mereka sedang memperhatikan mama" sahut Radit sambil melirik sebentar orang-orang itu.
"Mama tidak peduli. Jelaskan" ucap Laura acuh dengan tatapan-tatapan aneh yang di arahkan kepadanya.
"Aku akan jelaskan tapi tidak di sini. Kita bicara di ruanganku saja, ma" ujar Radit bijaksana seraya masuk ke dalam lift, yang kemudian di ikuti Laura.
Sedangkan Jelita, ia langsung melangkah ke luar gedung untuk membeli beberapa keperluan kantor guna menunjang pekerjaannya.
Begitu sampai di toko yang menjual peralatan kantor, Jelita mulai mencari barang yang ia butuhkan. Namun kondisi pikiran yang sedang kusut seperti benang jahit membuatnya tidak fokus memilah barang. Ia bahkan tidak menyadari jika notebook kecil dengan warna putih polos yang dicari tergantung tidak jauh dari posisi tangannya.
"Kamu cari ini?"
Deg!
Meskipun lupa-lupa ingat namun suara berat itu milik Zain jika feelingnya tidak salah.
"Hmmm Zain" ucapnya canggung.
"Hai. Apa kabar?" sapa Zain tersenyum hangat.
"Baik. Kamu?" tanyanya gagap.
"Sama. Kamu kerja dimana?"
Keduanya tampak sangat canggung dan salah tingkah terutama Jelita. Ia seperti orang linglung karena pertemuan tiba-tiba ini. Seketika rasa bersalah pada pria di depannya kembali memenuhi dada. Zain salah satu korban yang mungkin paling kasihan karena keputusan besar gadis itu. Di hari pernikahannya, Zain dipermalukan karena ketiadaan calon pengantin wanita. Bukan hanya diri sendiri tapi seluruh keluarganya dibuat malu.
"Zain, maaf aku harus balik ke kantor sekarang. Kita bicara nanti saja" Jelita meraih notebook itu. Setelah membayar, ia langsung meninggalkan toko tersebut.
Di meja kerjanya, Jelita semakin tidak fokus bekerja. Hari ini banyak pertemuan yang terjadi tiba-tiba. Semuanya sangat mengejutkan dan membuat mentalnya benar-benar diuji.
Kak Radit, gue butuh lo. Gue capek banget, batinnya lelah.
...***...
"Jadi sudah hampir dua bulan dia kerja di sini dan kamu tidak memberitahu mama sama sekali" ucap Laura tidak habis pikir.
"Ma, aku juga tidak tahu kalau karyawan yang rekrut itu Jelita. Tapi dia kompeten ma dan pantas ada di bidang itu. Sesuai dengan kebutuhan perusahaan" tutur Radit menjelaskan perlahan.
"Mama tidak peduli, dia mau sehebat apapun. Yang mama mau, kamu pecat dia sekarang juga. Masih banyak kok orang-orang hebat yang mau bekerja di sini" tuntut Laura menuntut.
Radit membuang nafas pendek lalu berdiri menghampiri Laura yang duduk di sofa.
"Mama ingat apa yang selalu papa katakan. Jangan mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan"
"Kamu ingat dengan nasehat papa. Tapi kamu lupa, siapa yang sudah membuat papa kamu mati" sahut Laura dengan tatapan menusuk.
Radit tertegun dan tidak lagi bicara. Ingatan atas kematian Surya kembali menguras pikirannya, memenuhi setiap bagian isi kepala.
"Sekarang mama pulang dulu. Aku harus kembali bekerja, ma" pinta Radit halus. Ia tidak bermaksud mengusir wanita yang melahirkannya itu namun saat ini, ia memang sedang disibukkan dengan berbagai dokumen yang harus segera dicek.
Menjelang siang, para karyawan berhamburan ke kantin untuk mengisi perut. Keadaan di lantai dua sudah kosong dan hanya menyisakan Jelita seorang. Anehnya, saat yang lain memanfaatkan waktu istirahat untuk makan siang, gadis itu tetap bekerja dan tidak memperdulikan rengekan yang berasal dari perutnya.
"Bodoh lo, Ta. Lo bekerja sekeras ini tapi ujung-ujungnya tetap kena marah. Sadarlah Jelita, serajin apapun, gaji kamu tetap segitu-gitu aja" batinnya mengasihani diri sendiri.
"Mending sekarang gue ke rooftop" Jelita menyeduh air panas terlebih dahulu ke dalam mie cup yang nantinya akan ia makan di rooftot, spot favoritnya di kantor.
Tak butuh waktu lama, gadis itu sampai di tingkat gedung paling tinggi. Namun sepertinya ia memang tidak diberi ketenangan sebentar saja oleh Tuhan. Lagi-lagi pertemuan tanpa terencana terjadi.
"Kak Radit" ucapnya pelan.
Radit menoleh. Matanya membidik benda yang terbuat dari gabus, berwarna hijau yang ada di tangan Jelita.
"Makan mie lagi?" tanyanya mendekat.
"Terserah saya pak. Saya mau makan mie setiap hari juga, itu bukan urusan pak Radit" balas Jelita malas melihat pria di depannya.
Tanpa basa-basi, Radit merebut paksa mie cup itu lalu membuangnya ke tong sampah.
Jelita melotot sempurna.
"Pak Radit apaan sih? Kurang ajar banget buang makanan orang" protesnya dengan warna mata mulai memerah.
Ia pun berjalan ke arah tong sampah dan memungut mie cup yang dibuang Radit. Sebuah pemandangan miris yang membuat pria dingin itu semakin marah.
"Kamu sengaja memungutnya agar saya kasihan, hah?" tanyanya sambil menarik kasar tangan sang gadis.
Mie yang yang sempat dipungut Jelita tadi kembali masuk ke dalam tong sampah.
Plakkk
Tamparan keras melayang di wajah pria lancang itu.
"Brengsek" maki Jelita. Airmatanya yang ditahan sejak tadi mengalir tak terbendung.